Tristan sedang membereskan kamarnya. Ia akan pergi meninggalkan London hari ini.
Ucapan Fanie masih terus terngiang dibenaknya.
“Tapi aku harus datang. Bagaimana aku bisa meluluhkan hati Papa kamu kalau terus seperti ini?!” ucap Tristan yang jadi frustasi sendiri.
Tristan memakai ransel yang dibawanya dan ia mengambil kunci mobil dan ponselnya. Tristan langsung pergi meninggalkan kamarnya. Ia akan memakai sopir kali ini.
Tristan meminta sopirnya mengantarkannya ke rumah Fanie.
Tristan sendiri masih ragu, apa ia lebih baik mendengarkan ucapan kekasihnya itu.
Tristan mencoba mengirimkan pesan ke Fanie. Setidaknya ia bisa melihat Fanie dari jauh.
Fanie yang sejak tadi sudah sampai di rumah memang agak sedikit takut. Ia takut jika Tristan datang ke rumah.
Fanie mencoba keluar dari kamarnya, ia menuju balkon kamarnya dan melihat ada mobil yang berhenti di ujung jalan. Fanie jelas mengenalinya.
Tristan turun dari mobil. Ia menatap kekasihnya dan Fanie memberikan kode ke Tristan agar pergi dari sana. Ia juga memberikan kode jika papanya akan segera kembali. Fanie tidak ingin Tristan ketahuan.
Fanie langsung berlari masuk ke dalam. Ia mengambil ponselnya lalu menuju balkon lagi.
Tristan mengangkatnya. Mereka masih saling memandang dengan jarak yang cukup jauh.
“Tristan, aku mohon pergilah. Jangan sampai papaku tahu kamu ada di sana. Dia sedang di luar dan sebentar lagi akan kembali,” ucap Fanie cemas.
“Aku akan pergi. Tunggu aku kembali dan membawa kamu pergi,” ucap Tristan.
“Iya Tristan, sekarang masuklah ke dalam mobil Tristan, di belakang ada mobil Papa. Aku matikan ya. Bye sayang. Hati-hati,” ucap Fanie yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tristan langsung masuk ke dalam mobil. Dan untung saja ia berhentinya dipertigaan jalan, jadi mobil yang ia tumpangi bisa berlawanan arah dengan mobil Steve yang baru saja sampai di pertigaan jalan itu.
Tristan langsung membaca pesan dari Fanie dan ia membalasnya. Fanie langsung mematikan ponselnya dan menyembunyikannya di tempat yang sangat aman.
Fanie memilih menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya. Ia sudah sangat lelah sekali.
***
Beberapa hari sudah Fanie dan Tristan berpisah. Mereka berdua sama-sama menyibukkan diri.
Fanie sibuk dengan butik omanya yang kini sudah menjadi hak miliknya.
Fanie sedang berada di butik. Ia sedang memerhatikan desain ruangannya yang ingin sekali ia ubah.
Walau terlihat lemah dan sedikit pucat akibat kehamilannya. Tidak membuat Fanie patah semangat. Ia tetap turun tangan sendiri untuk mengurus butiknya.
Butik yang sudah berdiri sebelum Fanie lahir ini memang sudah memiliki banyak customer berkat kerja keras sang Oma. Fanie yang menyukai fashion lantas ingin mengikuti trend masa kini.
Fanie menggeser beberapa pilarnya sendirian. Beberapa pegawai yang melihatnya langsung membantunya. Fanie senang karena mereka semua sangat bersemangat sekali.
Shasha datang membawakan makan siang untuk putrinya. Tidak ada Tristan di sisi putrinya membuat Shasha harus turun tangan sendiri untuk mensupport putrinya.
“Sayang, kenapa kamu banyak bergerak seperti ini?” tanya Shasha dan Fanie tersenyum.
“Tidak apa-apa Mah. Kan nggak capek juga,” ucap Fanie.
“Ayo makan dulu, jangan capek-capek,” ajak Shasha yang langsung merangkul lengan putrinya.
“Mama, kan tanggung.”
“Tidak ada tanggung-tanggung. Cepat makan, atau cucu mama yang ada di dalam perut kamu akan kelaparan!”
Fanie tersenyum, ia langsung memeluk manja mamanya dan ia pun luluh dengan ucapan mamanya yang selalu saja perhatian dengannya.
Shasha membuka beberapakotak makan yang dibawanya. Fanie jelas sangat menyukai menu masakan mamanya yang benar-benar sangat lezat.
“Hmmm, lezatnya. Masakan rumah memang tetap nomor satu. Apa lagi masakan mama aku yang paling cantik ini,” ucap Fanie.
“Berhentilah mengoceh! Cepat habiskan, jangan sampai kamu sakit!”
“Iya iya Mamaku yang super cerewet,” ucap Fanie yang langsung melahapnya.
Di sisi lain.
Tristan sibuk dengan pekerjaannya. Ia bahkan jarang pulang ke rumah sejak kembali dari London.
Tristan sudah bicara dengan ayahnya. Tapi rasanya tidak ada artinya sama sekali. Ayahnya justru meminta Tristan mencari wanita lain saja. Kalau tahu wanita pilihan putranya adalah anak dari keluarga Danner. Jelas ia memilih bersembunyi dan membiarkan pernikahan ini terjadi. Dengan begitu kekayaan yang dimilikinya makin bertambah pesat.
Tristan jelas emosi dan marah. Ia menikahi Fanie murni bukan karena harta melainkan karena cinta. Mereka berdua benar-benar memiliki cinta yang tulus.
Tristan gila kerja. Ia tidur di kantor setiap harinya. Dan emnghabiskan malam dengan mabuk-mabukkan di dalam kantor, sendirian.
Tristan juga masih sering mengirimkan email atau pesan ke kekasihnya itu. Dan mereka juga sudah mulai sering telepon-teleponan. Fanie akan melakukannya di luar butik dan tidak ada yang tahu jika ia menghubungi Tristan.
Tristan terus menghindari ayahnya. Ia lebih memilih bertemu dengan mamanya. Mamanya sangat prihatin melihat keadaan putranya yang benar-benar membuat Letysia jadi sering sakit-sakitan.
Di London.
Fanie sudah pulang ke rumah bersama mamanya. Sehabis makan siang, ia sempat menyelesaikan pekerjaannya sedikit lalu ia kembali.
Fanie sedang duduk di tepi kolam renang. Ia sedang melamun sambil merendamkan kedua kakinya ke dalam air kolam renang.
Steve yang melihatnya langsung menghampiri putrinya sambil membawakan jus untuk Fanie.
Steve berdiri di samping putrinya. Ia mengulurkan gelas yang berisi jus itu sambil tersenyum.
“Sudah hampir petang. Kenapa masih di sini?”
“Iya, sebentar lagi Pah.”
“Apa kamu masih memikirkannya?”
DEG!
Fanie masih diam. Apa salah jika ia jujur pada papanya sendiri bagaimana perasaannya?
“Kamu masih muda dan cantik. Papa bisa saja mencarikan pria untuk menjadi ayah dari bayi yang ada di dalam kandungan kamu.”
Fanie merasa hatinya tersayat. Tidak mingkin papanya masih sebeku ini. Padahal sudah beberapa hari mereka berada di London. Dan papanya masih belum bisa luluh juga.
Miris, benar-benar sangat miris sekali. Fanie mencoba menahan tangisnya.
“Aku tidak membutuhkannya. Jika Papa tidak menginginkan aku menikah dengan Tristan, aku akan menurutinya. Hanya saja, tolong jangan halangi aku dan Tristan untuk membesarkan anak ini bersama-sama. Aku tidak akan menikah, lebih baik aku sendiri dari pada harus menikah dengan pria yang tidak aku cintai. Tolong jangan paksa aku Pah.”
Steve diam. Ia mendengarkan ucapan putrinya. Ia tidak menjawab ucapan putrinya.
“Kalian di sini rupanya? Sudah waktunya makan malam. Ayo kita makan. Mama sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua. Katanya Ley dan Shofia juga akan datang,” ucap Shasha.
Fanie tersenyum. Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan kedua orang tuanya, hingga menimbulkan pertanyaan di hati Shasha.
“Apa yang sudah kamu lakukan Steve?” tanya Shasha dengan tatapan yang penuh curiga.
“Tidak ada,” jawab Steve yang langsung meninggalkan istrinya.
Fanie melihat kedua adik kembarnya datang. Mereka bertiga saling berpelukkan dan saling melepaskan rindu.
Stenly dan Shofia terlihat sangat sedih melihat keadaan kakak perempuannya ini. Biasanya Fanie selalu ceria dan selalu ada saja ide untuk membuat mereka tertawa dan bercanda.
“Ayo makan dulu, nanti baru kalian berbincang lagi,” ucap Shasha yang membuat ketiga anaknya langsung duduk dengan manis di kursi makan mereka masing-masing.
Tidak banyak pembicaraan di antara mereka. Hanya ada keheningan dan rasanya mereka yang ada di sana merasa sangat asing sekali.
Sesekali Steve melirik putrinya yang masih memilih diam. Bahkan Fanie hanya fokus dengan sendok dan garpunya saja. Ia memakan makanan yang ada di atas piringnya dalam diam. Walau kedua adiknya memberikan tambahan makanan, Fanie tidak protes. Ia akan tetap memakannya.
Stenly dan Shofia saling menatap. Mereka berdua juga saling mengangkat kedua bahunya dengan acuh. Banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya tapi mereka memilih diam saja.
“Ada apa dengan Fanie sebenarnya?”
Bersambung