Tristan Rindu

1736 Words
Fanie dan kedua adik kembarnya sedang berada di dalam kamar miliknya. Fanie menidurkan tubuhnya di atas ranjang tidur dan menyandarkan kepalanya di atas paha adik perempuannya.   “Apa Kakak Tristan sudah ke sini?” tanya Stenly memecahkan suasana.   “Sudah dan Papa mengusirnya. Bahkan Papa memukulnya sampai terluka,” ucap Fanie sedih.   Stenly menidurkan tubuhnya di tepi ranjang. Mereka bertiga sama-sama menghembuskan nafasnya panjang.   “Kenapa Papa keras sekali. Bukankah selama ini Papa begitu lembut?” ujar Shofia.   “Entahlah, ini semua karena luka di masa lalu,” ucap Fanie sambil memejamkan kedua matanya.   “Maksud Kakak?” tanya Stenly penasaran. Ia langsung duduk dan menatap kakak perempuannya yang justru memilih bungkam.   “Entahlah, aku jadi mual,” ucap Fanie yang langsung membuka matanya. Membuat kedua adiknya kaget.   Fanie berlari menuju kamar mandi. Ia mual dan memuntahkan semua makanan yang dimakannya tadi.   Shofia dan Stenly saling menatap. Lalu tak lama mereka berdua langsung menyusul ke dalam kamar mandi.   “Apa Kakak baik-baik saja? Aku panggilkan dokter ya,” ucap Shofia cemas.   “Iya benar, biar aku telepon sekarang,” ucap Stenly lalu ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.   “Tidak usah, aku sudah biasa seperti ini. Sepertinya keponakan kalian tidak ingin membicarakan soal masa lalu. Jadi biarkan saja aku pendam sendirian,” ucap Fanie.   Fanie bukannya tak mau menceritakannya. Tapi mungkin, suatu saat nanti mereka semua juga akan tahu dengan sendirinya kenapa pertunangan itu dibatalkan.   ***   Beberapa bulan sudah berlalu. Perut Fanie semakin membesar dan ia berhasil melewati masa-masa sulit itu sendirian. Tanpa Tristan.   Kalau ditanya soal komunikasi. Mereka masih berkomunikasi di saat waktu senggang, di jam yang sudah di tentukan.   Fanie pergi ke sebuah restoran. Semenjak perutnya semakin membesar. Steve dan Shasha memberikan sopir untuk putrinya. Mereka tidak ingin anak perempuannya kelelahan.   Fanie duduk di pojokan agar tidak terlihat dengan siapa-siapa. Dan tak lama setelah memesan makanan ponselnya pun berdering.   Kini Fanie sudah boleh memakai ponselnya kembali. Steve sudah mengembalikannya.   Fanie melakukan panggilan video call. Tentu saja dengan Tristan. Betapa ia sangat merindukan pria yang masih saja memberikan senyuman manisnya itu.   “Hai sayang, mau makan siang ya?” tanya Tristan yang terlihat sedang ada di ruang kerjanya.   “Hmmm, kamu jangan lupa makan. Kenapa wajah kamu jelek sekali?” tanya Fanie sambil mengerutkan keningnya.   Tristan tertawa. Ia tidak membantah ucapan wanita yang sangat dicintainya itu.   “Biar enggak ada yang lirik aku. Anak aku lagi apa? Apa dia menyusahkan kamu? Pasti sangat berat untuk kamu melewatinya sendirian.”   Wajah yang tadinya ceria kini kembali murung. Tapi dengan cepat Fanie mengubah ekspresi wajahnya lagi. Ia tersenyum getir.   “Tidak masalah, aku sudah berhasil melewatinya.”   Mendengar ucapan Fanie jelas membuat hati Tristan. Bukan satu atau dua kali ia diusir karena tidak bisa menemui Fanie.   “Kali ini aku harus berhasil.”   “Jangan sekarang. Aku sedang hamil besar. Jangan buat aku stress. Aku pasti akan sangat mencemaskan kamu.”   “Aku akan mencari cara agar bisa memeluk kamu. Aku sangat merindukan kamu. Aku benar-benar rindu. Apa kamu tidak merindukan aku hmmm?”   Jangan tanya soal rindu. Fanie jelas sangat merindukan sosok pria yang sudah mampu membuatnya jadi seperti ini. Walau terpisah jarak di antara mereka berdua. Tak membuat Tristan patah semangat. Karena ia yakin, jika suatu saat nanti Steve akan merestui hubungan mereka berdua.   “Apa aku harus mengutarakannya? Jelas aku sangat merindukan kamu. Sudah lama aku tak menggigit kamu.”   “Kamu masih saja menyeramkan sayang.”   “Hmmm, itu harus, biar para lelaki tahu aku ini seperti apa,” ucap Fanie lalu ia melihat staff yang mengantarkan pesanan makanannya sambil tersenyum.   Tristan dan Fanie masih melakukan sambungan video call selama mereka menikmati makan siang mereka bersama-sama.   Fanie lebih banyak cerianya saat ini. Selain mendapatkan kehangatan dari orang-orang yang mencintainya. Ia bersyukur karena Tristan masih menjaganya walau dari jarak yang sangat jauh.   Beberapa hari sudah setelah melakukan panggilan video call, Fanie mulai lebih sering berada di rumah. Ia mulai menyiapkan kamar untuk calon anaknya. Fanie mendesainnya sendiri semua yang ia inginkan. Mulai dari ranjang tidur, box bayi dan lemari serta hiasan-hiasan kamar anaknya yang sudah ia bayangkan sebelumnya.   Fanie sibuk di balkon kamarnya. Tempat ini sudah jadi tempat kerja kedua Fanie sejak ia berada di London.   Fanie bahkan menghias balkon kamarnya dengan tanaman sejuk yang menghangatkan jika ia melihat warna warninya bunga yang mulai bermekaran.   “Sayang, lagi apa? Sibuk sekali kelihatannya. Sampai lupa ya kalau sudah lewat jam makan siang,” ucap Shasha sambil membawakan makanan untuk putrinya.   Fanie tersenyum. “Aku lagi buat desain kamar anak aku. Aku berencana memesannya saja Ma. Lebih puas dari pada langsung membelinya di toko.”   Shasha tersenyum, ia meletakkan makanan yang dibawanya lalu melihat ke arah kertas coretan yang dibuat oleh anak perempuannya yang memiliki otak cerdas ini.   “Bagus, tapi kamu belum beritahu Mama, anaknya laki-laki atau perempuan?”   Fanie tertawa. “Rahasia, Mah. Besok antarkan aku cari pakaian bayi ya. Nanti untuk perlengkapan kamarnya aku akan meminta tolong sama orang kepercayaan Papa saja.”   Shasha menganggukkan kepalanya. “Bagus sekali, coba dulu Mama sepintar kamu seperti ini ya. Pasti Kamar anak Mama juga sangat bagus.”   “Tapi di foto aku lihat kamar aku juga bagus kok. Mama pintar memilihnya.”   Shasha tersenyum. “Ya, Mama memilihnya bersama dengan Papa kamu.”   Ucapan Shasha jelas membuat raut wajah putrinya berubah. Tapi Fanie berusaha untuk tersenyum.   “Ya sudah, ini disingkirkan dulu. Dan kamu harus makan. Jangan sampai kamu sakit, besok akan jadi hari melelahkan untuk kamu. Mama akan menemani kamu besok. Ok.”   Fanie mengangguk sambil tersenyum. Berkat support mamanya ini lah yang membuat dirinya masih bisa berdiri tegak seperti ini. Kalau bukan karena buah kesabaran mamanya. Sudah pasti Fanie lebih memilih bunuh diri saja.   Berita tentang Fanie untung saja tidak terekspose. Kehamilannya benar-benar di tutup dengan rapat. Tidak ada media yang berani menerbitkan berita tentang keluarga Danner. Peran kedua orang tuanya cukup kuat. Mereka tidak akan berani dengan lancangnya mencari masalah dengan keluarga Danner.   Esok hari.   Fanie sedang bersiap. Ia melihat penampilannya di cermin. Wajahnya mulai terlihat lebih tembem dan perutnya juga tidak terlihat sangat besar. Dari belakang tidak terlihat jika Fanie sedang hamil.   Hidung mancungnya, mata birunya dan riasan natural yang ada di wajahnya membuat Fanie terlihat sangat cantik dan manis. Ia tidak terlihat seperti seorang calon ibu yang sebentar lagi akan melahirkan seorang anak.   Gaun berwarna kuning bermotif bunga-bunga itu juga memperlihatkan aura kecantikan dari diri Fanie. Ia memang terlihat sangat sempurna. Sayangnya, kehidupannya belum sempurna lantaran hubungannya dengan Tristan masih butuh perjuangan ekstra.   Fanie keluar dari dalam kamar setelah melihat dirinya begitu sempurna.   Steve melihat putrinya dengan perut yang sudah membesar. Ada tersirat rasa sedih dari raut wajah tampannya yang sudah semakin menua itu.   Andai saja kalau Tristan bukan anak dari pria yang sudah berusaha membunuhnya. Mungkin ia tidak akan setega ini dengan anaknya. Apa lagi Steve sejak dulu paling anti membuat wanita menangis. Jika ia membuat anak dan istrinya menangis. Maka ia akan merasa gagal menjadi seorang suami dan juga seorang ayah.   “Papa tidak ikut?” tanya Fanie.   “Tidak, Papa di rumah saja. Kalian bersenang-senanglah. Ah, ya. Soal desain kamar calon cucu Papa. Semua sudah Papa serahkan ke Mike,” ucap Steve.   “Paman Mike masih betah saja ngikutin Papa ke mana saja,” ucap Fanie.   “Entahlah, padahal Papa sudah mengusirnya. Tapi dia akan tetap kembali,” ucap Steve.   Fanie terkekeh. “Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Papa jangan macam-macam di rumah,” ucap Fanie dan Shasha yang mendengar ucapan putrinya langsung menatap tajam suaminya.   “Kenapa kalian melihat aku seperti itu? apa aku pernah berbuat mesuum?” ucap Steve sambil menggelengkan kepalanya. Kenapa semakin tua, anak dan istrinya semakin sering mencurigainya karena lebih sering berada di rumah dari pada mengikuti mereka berbelanja.   “Awas saja kamu Steve, aku akan mencincang daging kamu kalau sampai macam-macam,” ancam Shasha.   Steve berdiri meninggalkan anak dan istrinya begitu saja sambil berucap. “Aku di kamar saja, kalian pergilah. Berisik sekali!”   Di sisi lain.   Tristan baru saja turun dari pesawat. Ia menggunakan style favoritnya. Apa lagi kalau bukan celana panjang jeans sobek, kaos putih dan jaket kulit berwarna hitam yang selalu melekat di tubuh kekarnya.   Penampilannya kali ini tidak buruk, Tristan sudah mencukur jenggot dan rambutnya yang tempo hari acak-acakkan. Bahkan Tristan mengubah style rambutnya dan pria yang memiliki wajah rupawan ini terlihat semakin mempesona.   Tristan melangkahkan kakinya dengan yakin. Ia menatap lurus ke arah depan dengan menggunakan kacamata hitamnya.   Tristan langsung mencari taksi dan ia langsung menuju hotel di mana ia pernah tempati beberapa waktu lalu.   “Aku datang sayang. Aku sangat rindu,” ucapnya pelan sambil menatap indahnya kota London.   Tristan memang tidak memberikan kabar ke Fanie jika ia akan mengunjunginya. Tristan tahu, jika ia bicara dengan kekasihnya itu. Sudah pasti jelas akan melarangnya.   Tristan memilih untuk diam dan memang sejak kemarin Tristan sengaja tidak mengubungi Fanie. Ia tidak ingin kekasihnya bertanya-tanya karena melihat penampilannya yang semakin membuat Fanie takut jika Tristan berpaling dengannya.   Sesampainya di hotel ada beberapa wanita yang menatap kagum ke arahnya. Tristan tidak peduli. Ia bersikap acuh dan mencoba memperlihatkan aura dinginnya.   Tristan mengambil kunci kamar hotelnya, ia bergegas masuk ke dalam kamarnya, Tristan meletakkan tas ranselnya di atas sofa. Ia langsung mengambil minuman yang ada di atas meja, lalu ia menenggaknya hingga tak tersisa.   Tristan menatap keluar jendela. Ia memerhatikan indahnya pemandangan kota London ini dari ketinggian kamar hotel yang akan ia tempati beberapa hari ini.   Tristan mengeluarkan sebuah gelang yang ia beli waktu di Jakarta. Gelang yang akan ia berikan ke Fanie nanti. Biarkan gelang ini menjadi teman tidurnya Fanie di saat ia tidak ada di sisinya.   Tristan tersenyum. Ia mencengkram dengan erat gelang itu lalu Tristan langsung mengeluarkan ponselnya. Tristan sangat rindu.   [Lagi apa sayang? Maaf kalau kemarin tidak memberikan kamu kabar. Aku sangat sibuk sekali. Bagaimana dengan anak kita?]   Tristan meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Ia langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya lebih dulu.   Fanie yang sedang asik memilih pakaian bayi langsung mengambil ponselnya saat mendengar nada suara pesan dari benda pipih berwarna putih itu.   Fanie melihatnya dan ia membacanya sambil tersenyum. Fanie melihat sebuah cermin, ia pun memotret tubuhnya sambil memperlihatkan perut buncitnya dan di sebelah tangannya Fanie memegang pakaian bayi yang sangat lucu.   Fanie mengirimkan foto itu ke Tristan. Ia sudah bisa membayangkan wajah Tristan yang sudah pasti sangat bahagia melihat dirinya yang juga bahagia. Jadi sebisa mungkin Fanie akan selalu menutupi kesedihannya dan membiarkan hanya ia yang memiliki kesedihan itu sendiri.   Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD