Pelukkan Hangat

1610 Words
Tristan yang baru saja selesai mandi keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Tubuh kekarnya terlihat dengan sempurna. Perutnya yang kotak-kotak itu sudah jelas membuat para wanita akan kagum jika melihat pria sempurna seperti Tristan.   Dengan rambut basah yang masih menetes ke bagian dadaanya. Tristan mengambil ponselnya. Ia melihat pesan balasan dari kekasih hatinya.   Tristan membukanya dan senyum di wajahnya langsung mengembang dengan sempurna. Ia nampak bahagia melihat wanita yang paling dicintainya itu terlihat sangat cantik.   Perut buncitnya yang menjadi pandangan utama Tristan, terlihat dari pancaran kedua bola matanya ada rasa sedih dan juga bahagia. Ia bahagia karena bisa melihat Fanie yang sangat cantik dan ia semakin terlihat seksi dengan perut yang sudah membesar itu. Sedihnya Tristan merasa tidak berguna. Sebagai lelaki yang juga ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Fanie. Ia tidak bisa menemani wanita yang dicintainya itu di masa-masa sulitnya Fanie.   Tristan berjanji, jika Tuhan menyatukan cintanya kembali. Ia akan menebus semua kesalahannya dan ia tidak akan membiarkan Fanie jauh lagi. Ia akan memberikan banyak cinta untuk anak dan istrinya nanti.   Tristan berharap kehadirannya kali ini tidak sia-sia. Semoga saja Steve – papanya Fanie bisa luluh dengan kehadirannya yang masih tulus ini.   “Kamu cantik sekali sayang,” puji Tristan sambil melihat wajah cantik Fanie. Tristan mencium ponselnya. Ia jadi semakin tidak sabar ada di mana Fanie sebenarnya. Tapi ia juga tidak mungkin menemuinya saat ini. Pasti orang-orang suruhan papanya masih berjaga dengan ketat. Tristan harus bisa mencari celah agar bisa bertemu dengan Fanie.   Tristan langsung membalas pesan Fanie. Ia benar-benar sudah rindu. Tapi Tristan memilih untuk istirahat lebih dulu agar nanti ia bisa bertemu dengan Fanie.   Di mall.   Tak terasa trolly dorong yang Fanie dorong sudah terisi penuh. Ia tidak menyangka jika akan memborong sebanyak ini. Padahal, ia bisa saja mendesain secara khusus pakaian untuk calon anaknya.   “Sayang, kamu pasti lelah. Duduk dulu. Ini minum dulu, tadi Mama minta belikan sama pengawal yang mengikuti kita,” ucap Shasha dan Fanie langsung tersenyum.   “Terima kasih Mah,” ucap Fanie lalu ia mengambilnya dan meminumnya. Ice cokelat yang sangat menyegarkan. Perut yang ada di dalam kandungannya langsung memberikan pergerakan yang hebat. Fanie merasa geli, ia tertawa sambil mengusap perutnya.   “Ada apa? Apa dia nakal di dalam sana?” tanya Shasha sambil mengusap perut buncit putrinya.   “Dia sepertinya sangat suka ice cokelat ini Mah,” ucap Fanie sambil menunjukkan gelas minumannya.   “Ah, dia haus berarti. Apa sudah selesai? Kita cari tempat istirahat dulu. Kaki kamu sudah mulai membengkak,” ucap Shasha dan Fanie mengangguk.   “Aku bayar dulu ya,” ucap Fanie dan Shasha mengangguk. Ia pun menemani putrinya menuju kasir.   Fanie bisa bernafas dengan lega karena semua kebutuhan anaknya dan kebutuhan untuk ia melahirkan sudah dibeli semuanya.   Fanie merasa sangat bersyukur karena selama hamil, mamanya selalu ada di sisinya. Dan Shasha selalu siaga dua puluh empat jam demi putri kesayangannya.   Usai membayar, anak buah Steve membawa semua belanjaannya.   “Kita makan saja ya, kamu belum makan lagi kan? Sudah lapar belum?” tanya Shasha.   “Sedikit sih, makan apa ya Mah?” tanya Fanie sambil melihat beberapa restoran yang ada di mall tersebut.   “Terserah kamu mau makan apa?”   “Pingin onde-onde deh.”   “Ngaco saja kamu! Mana ada onde-onde di sini!”   Fanie memperlihatkan deretan giginya. “Terus kalau anak aku ileran gimana Mah?”   “Enggak akan ileran. Hanya mitos saja.”   Fanie mengerucutkan bibirnya. Ia langsung mengecek ponselnya lalu entah kenapa ia ingin sekali mengirimi pesan ke Tristan. Fanie ingin sekali mengadu jika ia ingin memakan onde-onde.   [Sayang, di Jakarta masih ada yang jual onde-onde kan ya? Huufftt, aku ingin sekali memakannya.]   “Sudah dikirim. Enak sekali jika bisa memakannya,” ucap Fanie di dalam hatinya.   Fanie dan Shasha memasuki salah satu restoran. Mereka berdua akan memanjakan perut mereka setelah lelah mencari keperluan Fanie dan calon anaknya.   Di hotel.   Tristan belum membaca pesan dari Fanie. Pria itu terlihat sangat lelap sekali tidur di atas ranjang tidur yang luas itu. Sudah lama Tristan tidak tidur dengan nyenyak seperti ini.   ***   Tristan membaca pesan dari Fanie. Ia tertawa sendiri membaca pesannya. Tristan langsung membalas pesan dari Fanie dan setelah itu ia langsung bersiap-siap.   Setelah membersihkan diri Tristan mengambil pakaian serba hitamnya. Ia memakainya dan tak lupa ia juga memakai topi hitam favoritnya.   Tristan sedang mengawasi rumah Fanie. Ia memerhatikan beberapa pengawal. Untung saja Tristan sempat bertanya di mana saja letak cctv yang ada di rumah mewah kediaman Danner itu.   Semakin lama cuaca di luar semakin dingin, Tristan masih menunggu di dalam mobil sambil mengawasi kediaman Danner.   Tristan memerhatikan beberapa pengawal masih berjaga di halaman depan rumah Fanie. Ia masih sabar menunggu sampai para pengawal itu pergi dari sana.   Tristan melihat jam yang menunjukkan pukul satu malam.   “Fanie pasti sudah tidur,” gumam Tristan lalu ia turun dari mobil dan mulai berjalan pelan mendekati rumah mewah milik kekasihnya itu.   Tristan bersembunyi dibalik pohon saat melihat ada seseorang keluar dari pagar besar itu. Tristan melihat anak buah Steve yang sedang bertelepon.   Tristan mengintipnya kembali. Ia memerhatikannya dan begitu tidak ada seseorang ia langsung melangkahkan kakinya dengan sangat cepat.   Tristan mencari cara agar bisa memanjat dinding tinggi ini. Ia juga harus mencari cara agar tidak terlihat oleh cctv yang ada di sana. Bagus tidak ada anjiing besar seperti di film-film.   Tristan muali memanjat. Ia memerhatikan sekelilingnya dan Tristan langsung melompat lalu bersembunyi di balik ayunan.   Tristan mengatur nafasnya, ia mencoba mengendap dan mendari cara agar bisa naik ke atas, di mana kamar Fanie berada.   Tristan kembali berjalan dengan cepat dan ia langsung bersembunyi dibalik pilar.   Kini Tristan berada di bawah kamar Fanie. Ia sedang mencari cara agar bisa naik ke atas. Tristan berusaha memanjat pilar itu, walau agak sulit. Tristan tidak putus semangat. Ia terus memanjatnya dan berhasil. Kini ia ada di balkon kamar Fanie.   Tristan mencoba membuka pintu balkon itu.   Fanie merasa ada suara yang membuatnya terusik. Ia bangun dan kaget saat melihat ada seseorang di pintu kaca menuju balkon kamarnya.   “Tidak, siapa orang itu? masa iya maling bisa masuk,” ucap Fanie di dalam hatinya. Jantungnya sudah berdebar dengan hebat.   Fanie mengambil tongkat baseball yang ada di dalam kamarnya. Untung saja ia punya benda keras ini. Fanie bersembunyi dan ia sudah siap ingin memukul pria asing itu.   Begitu pintu terbuka. Fanie kaget saat melihat siapa yang datang. Walau menggunakan topi. Fanie bisa mengenalinya.   “Tristan,” ucap Fanie hingga membuat Tristan menoleh ke arah sumber suara.   “Sayang,” ucap Tristan yang langsung memeluk erat tubuh Fanie.   “Aku sangat merindukan kamu, maaf …, maafkan aku,” ucap Tristan lirih.   Fanie menangis, ia begitu bahagia dan ia pun sangat merindukan ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya.   Tristan menangkup kedua pipi Fanie dan ia langsung mencium bibir manis yang sudah dirindukannya itu.   “Aku sangat merindukan kamu. Bagaimana keadaan kamu? Lihat perut kamu sudah sangat besar. Pasti kamu sangat menderita melewati ini sendirian. Maafkan aku sayang, aku benar-benar minta maaf,” ucap Tristan tulus.   Fanie mengangguk, air mata bahagianya sudah tak bisa ia tahan lagi. Fanie terus tersenyum sambil menatap pria yang ada di hadapannya itu.   Tristan sudah mensejajarkan wajahnya dengan perut buncit Fanie. Ia mengusapnya, merasakan kehadiran anaknya di dalam sana. Tristan sangat bersyukur masih bisa dipertemukan dengan Fanie.   Tristan merasakan perut Fanie yang memberikan pergerakan.   “Dia bergerak, dia sungguh bergerak?” ucap Tristan pelan dan wajahnya memancarkan banyak kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata lagi.   “Sepertinya dia bisa merasakan kehadiran papanya. Tristan, bagaimana bisa kamu ada di sini? Aku sudah bilang padamu untuk tidak datang ke sini bukan?”   “Aku merindukan kamu. Kenapa kamu melarang aku? apa kamu memiliki seseorang yang ada di hati kamu? Jadi kamu lebih memilih aku tidak datang?”   “Bukan begitu. Setiap hari kita selalu komunikasi. Mana ada pria lain di hati aku. Aku hanya takut jika Papa akan menyakiti kamu lagi. Aku tidak ingin itu terjadi.”   “Lalu mau sampai kapan kita terus bersembunyi. Sebentar lagi anak ini lahir dan aku tidak ada di sisi kamu. Bagaimana tanggung jawab aku sebagai ayah? Dia juga membutuhkan sosok ayah nantinya,” ucap Tristan sambil menatap kedua bola mata Fanie dengan lekat.   Tersirat banyak rasa rindu yang tak bisa mereka tahan. Rasa rindu ini begitu mendalam.   Tristan kembali memeluk Fanie. “Aku jadi mengganggu tidur kamu.”   “Tidak apa-apa, aku yang jadi mencemaskan kamu.”   Tristan tersenyum sambil menarik hidung Fanie dengan gemas.   “Tidak masalah, asal bisa bertemu denganmu. Aku sudah cukup bahagia, kamu juga tahu selama ini aku sudah berusaha ke sini tapi selalu saja gagal. Di saat ada kesempatan, aku tidak ingin melewatinya. Ayo duduk jangan berdiri terus. Kamu pasti lelah.”   Fanie dan Tristan duduk di sofa. Mereka berdua saling memeluk satu sama lain. Fanie sangat bahagia, ia akhirnya bisa bertemu dengan Tristan lagi.   Mereka berdua saling berbincang dan bercanda bersama-sama. Trisntan dan Fanie sama-sama mengecilkan suara mereka agar tidak ketahuan oleh siapa-siapa. Dan pelukkan hangat tidak terlepas sejak tadi.   Tidak terasa dua jam berlalu dan Fanie tertidur dengan lelap di dalam dekapan Tristan.   Tirstan langsung memindahkannya, ia menggendong Fanie dan membawanya ke ranjang tidur. Tristan menurunkannya dengan hati-hati. Lalu ia mengecup perut buncit Fanie dan menyelimutinya.   Tristan juga mengecup dahi Fanie. Ia tersenyum tipis lalu Tristan memilih keluar dari sini sebelum matahari terbit.   Dengan hati-hati dan sorot mata yang tajam, Tristan memerhatikan sekeliling sebelum ia turun dari lantai dua rumah ini.   Tristan berhasil bersembunyi dari cctv dan para pengawal. Kali ini ia bisa masuk dan keluar dari kediaman Danner dengan selamat. Tapi entah suatu saat nanti. Apa mungkin ia bisa seperti sekarang ini.   Tristan kembali dengan senyum bahagia. Besok ia harus merencanakan cara agar bisa bertemu dengan Fanie lagi.   Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD