Bertemu Dengan Tristan

1514 Words
Hamil tanpa seorang suami jelas membuat Fanie menjadi bahan gossip. Sempat bertemu dengan beberapa wartawan, Fanie hanya bisa pasrah jika berita tentang kehamilannya muncul di public.   Menjadi omongan sudah jelas ia dengar dari beberapa teman-temannya yang sempat bertemu dengannya tanpa sengaja. Menyebar luas? Sudah pasti namanya bibir seorang wanita tidak pernah luput dari ocehan yang enggak penting.   Fanie hanya bisa menangis setiap kali ada temannya yang menghubunginya hanya untuk menghinanya. Tapi Fanie adalah seorang wanita yang cukup tegar dan kuat. Ia tetap berhasil melewati semua ini dengan dukungan keluarga yang tidak pernah menyudutkannya. Tutup telinga adalah kunci utamanya.   Fanie membuka matanya. Ia langsung melihat keselilingnya saat mengingat tadi malam ada Tristan di sini. Fanie mencoba untuk duduk. Ia langsung mencari ke arah balkon dan ternyata sudah tidak ada siapa-siapa di sana.   Fanie jadi kembali sedih. Padahal ia berharap jika dirinya bisa bertemu dengan Tristan. Bisa tinggal dan hidup bersama dengan Tristan. Rasa sedih kembali menyelimuti dirinya yang sudah tak bisa ia tahan lagi. Fanie jelas sangat menginginkan Tristan ada di dalam kehidupannya.   Fanie coba mengambil ponselnya. Untung saja saat ini papanya tidak pernah curiga. Jadi Fanie bisa menghubungi Tristan kapan saja, tapi saat tidak berada di rumah.   Fanie melihat tidak ada pesan masuk atau pun telepon dari Tristan. Fanie coba mengirimkan pesan.   Di sisi lain.   Tristan sedang melebarkan senyumannya. Ia sedang menikmati paginya dengan secangkir kopi di balkon kamar hotelnya.   Tristan melihat ponselnya yang berdering. Ia membaca pesan dari wanita yang paling berharga di hidupnya.   Tristan tersenyum, ia langsung membalasnya.   [Aku sudah di hotel sayang. Mana mungkin aku bermalam di sana. Yang ada tinggal nama nanti. Aku sengaja tidak menghubungi kamu. Takut pesannya nanti dibaca Mama atau Papa kamu. Maaf ya, bukannya enggak gentle. Aku masih ingat pesan kamu.] balas Tristan.   [Hotel yang kemarin? Aku hari ini pergi ke butik. Mau ketemu?] balas Fanie.   Tristan semakin tersenyum lebar. [Tentu saja sayang. Kirim saja lokasinya dan aku akan pergi ke sana.] balas Tristan.   [Ok, aku mau bersiap-siap dulu ya. Sampai ketemu nanti sayang. Aku mencintai kamu.] balas Fanie.   [Aku juga mencintai kamu sayang.] balas Tristan yang langsung berdiri dan mempersiapkan dirinya.   Tristan membersihkan diri dengan cepat. Ia langsung mengeluarkan semua pakaiannya. Tristan sudah seperti ABG yang hendak kencan untuk pertama kalinya. Bingung dengan pakaian yang akan digunakannya.   “Huuufffttt, kenapa pakaian yang aku bawa semuanya seperti ini?” ucap Tristan sambil mengacak rambutnya sendiri.   Tristan akhirnya mengambil pakaian serba biru, kemeja jeans biru dan celana jeans biru. Ia memakainya lalu menggulung lengan kemejanya yang panjang itu sampai sesiku tangannya. Tristan juga memakai parfum yang disukai Fanie. Ia menyemprotkannya lalu tak lupa topi hitam akan selalu ia gunakan.   Tristan langsung mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Sambil menunggu Fanie menghubunginya. Lebih baik ia mencari sesuatu yang bisa diberikan untuk Fanie. Karena datang terburu-buru membuat Tristan tidak terpikirkan membawa sesuatu untuk Fanie.   Tristan berpikir, jia ia memberikan bunga. Pasti anak buah papanya akan mengetahuinya. Tristan memilih untuk mencari toko perhiasan terdekat saja.   “Mall belum buka. Di mana ya?” gumam Tristan sambil memerhatikan bangunan-bangunan yang ada di sekelilingnya.   Tristan terus menelusuri jalanannya. Seingatnya ia pernah melihat ada toko perhiasan di daerah sini. Tristan mengecek ponselnya lagi yang belum ada tanda-tanda dari Fanie.   Tristan melihat di depan sana ada toko perhiasan, ia memarkirkan mobilnya lalu langsung turun dari dalam mobil.   Tristan masuk ke dalam toko perhiasan itu. Staff yang berjaga menyambut kedatangannya dengan sangat ramah.   Tristan hanya mengangguk dan ia memerhatikan satu buah kalung yang langsung menarik perhatian kedua matanya.   Satu buah kalung berliontinkan bamboo panjang menjadi pilihan Tristan. Ia tersenyum saat mengamati kalung tersebut. Tristan hanya berpikir jika liontin ini sama kokohnya dengan cinta mereka berdua. Tidak mudah diterjang begitu saja.   “Fanie pasti menyukainya,” ucap Tristan di dalam hatinya.   “Saya mau yang ini,” ucap Tristan.   Tristan membayarnya dan ia langsung masuk ke dalam mobil. Tristan melihat ponselnya lagi.   [Aku sudah di butik. Nanti jam sebelas ya sayang. Aku mau urus sedikit pekerjaan dulu. Alamatnya sudah aku kirim lokasinya ya. Sampai ketemu di sana.]   Tristan tersenyum. Ia langsung mencari lokasi yang menjadi pilihan Fanie. Tristan langsung melajukan mobilnya mengikuti GPS yang ada di dalam mobilnya.   Tristan tiba lebih dulu, ia mencari tempat duduk yang aman. Tristan memesan minuman dan juga cake untuk mengisi perutnya yang belum terisi apa-apa sejak tadi pagi.   Tristan melihat jam. Ia jadi merasa berdebar sendiri saat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas kurang.   Tristan mengirimkan pesan ke Fanie. [Aku sudah sampai, duduk di pojok di bawah tangga ya sayang.]   Fanie yang masih dalam perjalanan menuju cafe langsung membaca pesan dari Tristan dan ia membalasnya.   [Ok, sebentar lagi aku sampai. Pesankan aku ya seperti biasa.]   Tristan yang membacanya langsung memesan apa yang diinginkan Fanie termasuk makan siang mereka. Tristan tidak tahu Fanie menyukainya atau tidak yang jelas ia sudah memesankannya. Tristan tidak ingin membuang waktu. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.   Tak lama Fanie datang dengan wajah yang berseri. Tristan terpana melihat penampilan Fanie yang terlihat semakin cantik. Rambut panjangnya yang diurai, gaun biru terang yang ia gunakan juga sangat cocok dengan kulit putih Fanie.   Fanie tersenyum dan ia duduk di samping Tristan. “Ada apa? Kenapa melamun?” tanya Fanie sambil menatap wajah Tristan. Ia memerhatikan penampilan pria yang ada di hadapannya ini. Tristan terlihat lebih tampan. Rahangnya yang bersih, alisnya yang tebal dan senyumnya yang selalu membuat Fanie terhipnotis sudah.   “Hah? Nggak kok. Kamu cantik banget sih. Aku jadi semakin takut.”   Fanie mengernyitkan dahinya. “Takut kenapa?” lalu Fanie mengambil minumnya dan ia meminumnya.   “Takut kehilangan kamu,” ucap Tristan lalu ia mencium pipi Fanie dengan mesra.   Fanie tersipu malu. Ia sungguh sangat malu sekali. Sudah lama tidak mendengarkan pujian secara langsung dari Tristan jelas membuat dirinya merasa terbang melayang.   “Kenapa? Kok pipinya jadi merah?” tanya Tristan sambil terus menatap wanita yang ada di sampingnya.   “Tidak apa-apa. Ayo makan,” ajak Fanie yang entah kenapa jadi canggung seperti ini. Fanie merasa jika dirinya seperti baru pertama kali bertemu dengan Tristan.   Tristan masih menatap Fanie. Ia merasa ingin sekali rasanya membawa Fanie pulang ke hotel. Tristan sudah tidak sabar sama sekali. Ia sangat ingin hidup dengan Fanie.   “Apa dia nakal?” tanya Tristan sambil mengusap perut buncit Fanie. Melihat kehamilan Fanie yang sangat besar seperti ini membuat dirinya semakin sedih.   Fanie tersenyum. “Dia sangat pintar. Waktu awal-awal, dia sering mengerjai aku. Bangun tengah malam dan ingin memakan makanan aneh. Terakhir aku ingin onde-onde. Tapi belum kesampaian sampai saat ini.”   Fanie mengambil potongan brokoli lalu menyuapinya ke Tristan.   Tristan terkekeh. “Mana ada onde-onde di sini. Ada-ada saja. Nanti ya kalau sudah pulang ke Jakarta.”   Fanie mengangguk dan ia kembali menyuapi Tristan lagi.   Tristan jelas rindu masa-masa seperti ini. Sudah lama sekali mereka tidak makan bersama. Duduk bersama dan sudah lama mereka tidak sedekat ini.   Tristan menitikan air matanya. Ia merasa jika dirinya benar-benar merasa sangat gagal.   Fanie yang sejak tadi sedang serius makan langsung menoleh ke arah Tristan.   Fanie tersenyum teduh. Ia menangkup kedua pipi Tristan lalu mengusap lembut pipi kekasihnya itu.   “Aku baik-baik saja. Jadi aku harap kamu juga baik-baik saja. Sebentar lagi waktunya lahiran. Aku sebenarnya sangat takut. Tapi …”   “Aku tahu, kamu pasti sangat ingin ada di sisi aku bukan? Bagaimana jika aku datang saat kamu lahiran?”   Fanie masih diam. Ia juga ingin ditemani oleh pria yang merupakan sosok ayah dari anaknya ini. Tapi, Fanie kembali berpikir. Apa mungkin papanya akan mengizinkannya.   Fanie langsung tersenyum. “Aku tidak pernah melarang kamu untuk datang, tapi rasa takut jelas ada. Tristan, kamu tahu kan kalau Papa aku sangat keras sekali orangnya.”   Usai menghabiskan makanan. Tristan mengeluarkan kotak beludru berwarna biru gelap itu. Ia memberikannya ke Fanie.   “Untuk kamu, orang yang paling spesial.”   Fanie tersenyum. “Terima kasih. Aku malah tidak memberikan apa-apa ke kamu.”   “Tidak masalah, bisa bertemu saja. Aku sudah bahagia. Buka sayang.”   Fanie membukanya. Sebuah kalung yang berliontin bamboo terlihat sangat lucu. Fanie tersenyum lagi.   “Bagus.”   “Kamu tahu kenapa aku pilih yang ini?” tanya Tristan dan Fanie menggelengkan kepalanya.   “Karena cinta kita sama kuatnya dan sama kokohnya seperti bamboo ini.”   Fanie tersenyum. Ia melihat liontin yang jika digerakkan akan mengeluarkan suara.   “Kamu benar. Tristan, terima kasih karena tidak pernah menyerah.”   Tristan memakaikan kalung itu ke leher Fanie. Lalu ia mencium tengkuk Fanie hingga membuat Fanie merasa merinding.   “Sampai mati pun, aku tidak akan menyerah sayang. Aku tahu gimana sulitnya kamu, semua ucapan yang kamu dengar, semua rasa sakit yang kamu alami, aku juga merasakannya. Walau jauh, aku juga tak bisa berhenti untuk tidak memikirkan kamu. Aku selalu mencemaskan kamu. Pasti kamu ingin manja di saat hamil seperti iini. Maafkan aku, ini semua karena kesalahan aku.”   Fanie langsung memeluk erat tubuh kekar yang sangat dirindukannya itu. Fanie benar-benar merasa sangat bersyukur, karena ia masih diberikan kesempatan untuk bertemu sedekat ini dengan pria yang sangat ia cintai.   Fanie juga merasakan apa yang dirasakan oleh Tristan. Batin mereka selalu terhubung. Rasa yang ada di hati mereka berdua seolah benar-benar menyatu walau ada jarak di antara mereka.   Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD