Hampir dua jam Fanie dan Tristan berada di dalam cafe. Tidak ada yang curiga dengan gerak gerik Fanie di dalam sana.
Pikir anak buah Steve. Fanie sedang bertemu dengan klien yang akan memesan pakaian dari butik.
Fanie memang seorang pekerja keras. Walau sedang hamil, ia tidak putus asa sama sekali. Sering kali Fanie bertemu klien di luar butik. Entah itu hanya untuk mengukur tubuh seseorang atau ia sendiri yang akan mengantarkan pakaian yang sudah di pesan sebelumnya.
Memang kadang Fanie sering menghabiskan waktu lama seperti ini hanya untuk melepas kepenatannya. Kadang ia tersenyum miris mengingat hidupnya yang harus hamil sendirian tanpa seorang suami.
Jika mengingat masa sulitnya. Fanie sudah hampir menyerah untuk kedua kalinya. Hanya saja, ia ingat jika di dalam rahimnya. Ada janin yang tak berdosa.
Kalau bukan sang Mama yang terus mensupport dirinya. Fanie sudah pasti menyerah di awal. Di tambah papanya yang masih suka labil. Sebentar baik dan manis dan sebentar akan emosi jika mengingat soal Jacob. Biar bagaimana juga, janin yang ada di dalam perut putrinya masih mengalir darah Jacob. Laki-laki brengseek yang benar-benar tidak tahu diri itu.
“Sayang kenapa melamun? Besok kita bertemu di hotel saja. Biar aku bisa peluk kamu dengan bebas.”
Fanie membuyarkan lamunannya. “Aku akan memberi kamu kabar besok. Aku harus pergi sayang.”
“Secepat ini? Tidak bisakah tinggal lebih lama?”
Fanie mengerucutkan bibirnya. “Aku juga inginnya lama. Tapi bagaimana bisa, aku takut mereka curiga. Biasa aku bertemu klien hanya butuh waktu 1-2 jam tergantung permintaan mereka serumit apa.”
“Jadi kamu sering bertemu dengan klien di luar?” tanya Tristan sambil memicingkan kedua matanya.
“Hmmm, ada apa dengan wajahmu? Apa kamu cemburu?”
“Ya, aku cemburu. Bagaimana jika klien itu laki-laki?” ucap Tristan sambil menautkan jari-jarinya ke jari-jari lentik Fanie.
“Selama ini sih aku belum pernah terima klien laki-laki. Mereka lebih sering datang langsung ke butik. Kebanyakan wanita yang aku handle. Makanya bisa lama karena kita juga membicarakan soal model pakaiannya maunya seperti apa. Gitu!”
“Hmmm, bawakan aku pakaian besok. Aku akan membayarnya. Dengan begitu, kamu memiliki kesempatan bertemu dengan aku lebih lama lagi. Sayang kapan Papa kamu bisa luluh?” ucap Tristan lalu ia menjatuhkan keningnya di bahu kecil Fanie.
“Aku akan mencoba membicarakannya lagi dengan Papa.”
“Bukan kamu. Tapi aku, aku yang harus bertemu dengan Papa kamu!”
“Jangan, aku takut kamu kenapa-kenapa.”
“Besok kita bicarakan lagi. Sekarang pulanglah. Aku akan menghubungi kamu nanti.”
Fanie mengangguk. Lalu mereka berdua saling berpelukan dan saling bertautan bibir. Rasa tak rela berpisah menyelimuti tubuh mereka berdua. Ciuman hangat ini tak mampu mereka lepaskan begitu saja. Tidak peduli dengan orang sekitar yang melihatnya. Mereka sebenarnya saling membutuhkan satu sama lainnya.
Tristan melepaskan ciumannya dan ia menyatukan keningnya dengan kening Fanie. Sama-sama memburu nafas dan sama-sama saling menyalurkan cinta dan rindu yang tak mampu mereka hapuskan.
Apa yang sudah menyatu, tak dapat dipisahkan begitu saja. Kecuali di antara mereka berdua ada yang berkhianat. Itu akan beda halnya.
Dengan berat hati. Fanie berdiri dan meninggalkan cafe. Mobil miliknya sudah menunggunya di depan cafe. Seorang pengawal membuka pintu untuk Fanie masuk ke dalam mobil.
Tristan hanya bisa melihat dari dalam cafe. Ia menunggu mobil yang Fanie tumpangi pergi menjauh dari cafe ini.
Tristan membuang nafasnya dengan kasar, mengusap wajahnya dengan kasar dan ia juga mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Urat-urat di tangan putihnya terlihat dengan jelas.
Tristan tidak ingin mundur. Dia akan mencoba menemui Steve lagi setelah besok bertemu dengan Fanie. Setidaknya, ia ingin melepas rindu. Ingin menikmati momen berdua bersama dengan Fanie.
Tristan langsung keluar dari dalam cafe setelah membayar semua pesanannya. Tristan akan mampir ke mall. Ia ingin sekali membeli banyak barang untuk Fanie. Entah apa saja, ia ingin membelikannya mulai dari tas, pakaian, sepatu dan perhiasan. Walau Fanie sudah memiliki segalanya. Ia tetap ingin membelikannya.
Tristan langsung menuju mall. Ia sudah tidak sabar lagi ingin memborong apa saja yang ada di mall hanya untuk Fanie. Termasuk bunga dan kue favoritnya.
Fanie kembali ke butik. Ia masuk ke dalam ruang kerjanya dan melihat kertas-kertas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Begitulah Fanie. Jika sedang bekerja, ia akan sangat serius dan semua gambar serta pensil yang digunakan akan berserakan di mana-mana. Tidak ada yang berani merapihkannya, semua masih sama seperti saat Fanie meninggalkannya.
“Bu, tadi Nyonya ke sini,” ucap salah satu staff.
“Mama? Kok nggak nungguin. Sudah lama?” tanya Fanie sambil menikmati air mineral yang ada di atas meja.
“Tidak sih, hanya antar makanan saja.”
Fanie menganggukkan kepalanya. “Ok, makasih ya.”
Fanie melihat ke arah meja kecil yang biasa ia gunakan untuk makan bersama dengan mamanya. Fanie tersenyum. Ia langsung berdiri dan mendekati makanannya. Walau sudah kenyang, Fanie akan tetap memakan makanan buatan mamanya.
Fanie mengambil ponselnya lalu ia menghubungi mamanya.
“Halo Mah, makasih ya. Makanannya enak sekali.”
“Ok, dimakan sayang. Habiskan ya. Kamu mau dibuatin apa nanti malam?”
“Apa saja, terserah Mama.”
“Ya sudah habiskan dulu dan jangan terlalu lelah ya.”
“Hmmm, makasih ya Mah.”
Fanie mematikan sambungan teleponnya. Ia melihat makanannya yang sangat banyak sekali.
***
“Fanie, bisa bicara sebentar?” tanya Steve begitu ia melihat putrinya pulang.
Fanie mengangguk lalu ia mengikuti Langkah kaki papanya.
Steve mengajak putrinya menuju ruang kerjanya. Steve tersenyum getir menatap putrinya.
Fanie terlihat sangat tegang sekali. Ia agak sedikit takut. Apa mungkin … Pikiran Fanie sudah ke mana-mana. Ia benar-benar sangat takut sekali.
“Bagaimana pekerjaan kamu? Papa lihat kamu semakin sibuk. Apa kamu tidak lelah? Sebentar lagi sudah waktunya melahirkan.”
“Tidak masalah Pah. Lagi pula dari pada Fanie di rumah tidak ada kegiatan. Lebih baik Fanie di butik. Ada banyak hal yang bisa Fanie kerjakan.”
“Apa kamu masih memikirkannya?”
DEG!
Jelas Fanie masih memikirkannya. Tristan bukan hanya cinta pertamanya. Tapi Tristan juga pria yang mampu mengimbangi sikap manjanya. Belum tentu dengan pria lain, ia bisa mendapatkan apa yang ada di dalam diri Tristan.
“Kenapa melamun?”
“Papa, sebelumnya kita sudah pernah membahas soal ini. Kalau tujuan Papa untuk menjodohkan aku dengan pria lain. Aku sangat menolaknya. Papa biar bagaimana juga di dalam Rahim aku mengalir darah Tristan.”
Steve memejamkan kedua matanya. Ia mencoba mengatur emosinya agar tidak menyakiti putrinya. Fanie bisa melihat rahang papanya yang sudah mulai mengeras.
“Papa sudah memiliki calon untuk kamu. Dia tahu kondisi kamu yang sebenarnya. Dan pria ini juga mau menerima kamu apa adanya.” Steve menjeda menarik nafasnya sambil memerhatikan reaksi putrinya.
“Fanie tidak ingin menikah. Maaf Pah, Fanie terpaksa menolaknya. Mungkin saja yang dia inginkan hanya harta Papa saja. Tidak akan pernah ada pria yang mau menikahi wanita yang sedang hamil di luar nikah.”
Fanie mencoba menahan air matanya. Ini bukan yang pertama dan bukan yang kedua papanya terus ingin menjodohkannya dengan seorang pria.
“Temuilah dulu besok. Papa sudah mengatur jadwal pertemuan kalian.”
“Ta—”
“Papa tidak terima alasan. Kamu bisa menemuinya dan menilai sendiri bagaimana pria itu. Jika memang kamu tidak tertarik maka Papa juga tidak memaksa. Setidaknya kamu harus berusaha.”
“Tidak Pah, Fanie tidak akan datang. Maaf Pah. Fanie capek, Fanie mau istirahat.”
Fanie langsung berdiri dan meninggalkan ruang kerja papanya. Ia pikir setelah berbulan-bulan masalah Tristan berlalu Steve bisa melupakan segalanya. Tapi nyatanya tidak. Steve masih belum bisa menerima kehadiran Tristan.
Fanie melewati mamanya begitu saja. Dan jelas itu menimbulkan tanya.
Shasha melihat suaminya yang masih berada di dalam ruang kerja. Ia pun masuk ke dalam.
Shasha duduk di pangkuan suaminya. Ia mencium lembut bibir suaminya.
“Aku harap kamu bisa lebih bijak. Aku tahu ini sangat berat. Steve, tidak bisakah kamu memberikan kebahagiaan untuk putri kita. Dia sudah sangat menderita selama ini. Dan aku tidak ingin putri kita menderita terus menerus. Pikirkanlah, sebentar lagi dia akan melahirkan. Dia butuh Tristan ada di sisinya.”
Steve masih diam, ia menarik tengkuk istrinya dan mencium bibir istrinya, sedikit kasar. Dan Shasha tahu jika suaminya pasti sedang kesal dan marah.
Di kamar Fanie.
Fanie menaruh tasnya di atas sofa. Ia duduk sambil melamun. Fanie mengusap perut buncitnya yang terus memberikan pergerakan.
Fanie memejamkan kedua matanya. Ia langsung menitikan air matanya. Fanie sebenarnya tidak ingin menangis. Tapi …, dia hanyalah wanita lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Fanie membuka matanya perlahan-lahan dan ia melihat ponselnya yang bergetar. Fanie membaca pesan masuk dari Tristan lalu ia tersenyum tipis sambil mengusap pipinya yang basah.
[Lagi apa sayang? Sudah sampai, aku semakin rindu.]
[Aku juga rindu, kita bertemu besok ya. Aku juga sudah sangat rindu. Tristan, bisakah kamu bawa aku pergi dari sini?] balas Fanie.
Tristan kaget. Jantungnya langsung berdebar. [Apa ada masalah? Aku akan membawa kamu pergi dengan restu Papa kamu sayang. Aku tidak bisa menculik kamu. Atau selamanya kita tidak akan pernah bersama jika hal itu harus aku lakukan.] balas Tristan.
Fanie memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar merasa sangat tak berdaya.
Fanie akan membuat rencana. Ia akan menemui pria pilihan Steve besok. Fanie akan menemuinya dan Fanie akan menolaknya secara langsung.
Fanie langsung mengangkat telepon dari Tristan saat ponselnya terus bergetar sejak tadi.
On phone call.
Tristan – Fanie.
“Hmmm.”
“Ada apa?” Tristan bisa mendengar suara Fanie yang bergetar dan sangat berat.
“Tidak ada apa-apa.” Fanie mencoba menahan isakan tangisnya lalu mengusap buliran air mata yang kembali membasahi pipinya.
“Kamu menangis, aku yakin kamu menangis.” Tristan langsung mengalihkan sambungan teleponnya menjadi sambungan videoa call. Tristam sudah tidak peduli jika ketahuan oleh orang tua Fanie. Ia akan mengatasinya nanti.
“Apa? Aku baru sampai. Lelah sekali hari ini.” Fanie terpaksa berbohong, ia tidak ingin hati Tristan semakin terluka. Biarkan saja ini menjadi masalahnya sendiri.
Tristan menyipitkan kedua matanya. “Tapi mata kamu merah.”
“Aku sedikit mengantuk sayang. Biasanya jam segini aku suka tidur dan sekarang baru sampai rumah.”
Tristan memasang wajah merajuk. “Aku tidak percaya. Apa kamu pikir aku baru mengenal kamu satu atau dua hari? Kamu bisa menipu pria lain, tapi tidak dengan aku!”
Benar kata Tristan, dia memang bisa menipu pria lain. Tapi tidak dengan pria yang sedang menghubunginya saat ini.
Fanie tersenyum. “Aku rindu, aku ingin peluk kamu, aku ingin cium kamu, aku … Aku ingin ada di sisi kamu,” ucap Fanie yang akhirnya pecah juga tangisannya.
Melihat air mata Fanie seperti ini jelas membuat hati Tristan terluka. Bahkan ia tidak bisa menuruti apa yang diinginkan Fanie.
“Aku akan pergi ke sana. Tunggu aku.”
Tristan langsung mematikan sambungan teleponnya dan Fanie jadi cemas. Ia mencoba menghubungi Tristan tapi tidak diangkat. Fanie langsung memijat keningnya. Ia jadi sakit kepala sendiri.
Bersambung