Tutup Mata Kamu!

1729 Words
Fanie jadi cemas saat mendengar Tristan ingin datang. Apa lagi di luar para pengawal masih pada berjaga.   Fanie berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memegang ponselnya. Dan ia mencoba menghubungi Tristan yang tidak mengangkat teleponnya sama sekali.   “Bodooohhh, kenapa aku harus berbicara seperti itu padanya. Sudah tahu dia pria yang tidak mengenal rasa takut sama sekali,” ucap Fanie sambil terus merutuki dirinya sendiri.   Tok Tok Tok.   Jantung Fanie langsung berdegup dengan sangat cepat sekali. Ia langsung melempar ponselnya ke atas ranjang tidur.   Fanie membuka pintu kamarnya lalu ia tersenyum saat melihat mamanya datang.   “s**u,” ucap Shasha sambil menunjukkan gelas susunya.   Fanie mengangguk dan mengambilnya. “Terima kasih Mah.”   Shasha masuk ke dalam kamar putrinya. “Kamu belum tidur?”   “Belum, masih panas. Mau mandi dulu.” Lalu Fanie meminum susunya.   “Iya, kalau hamilnya sudah besar seperti ini memang begitu. Pasti yang dirasainnya tuh panas, mudah lelah dan emosi juga enggak stabil,” ucap Shasha lembut lalu ia menatap putrinya yang sudah menghabiskan susunya.   “Anak pintar. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu. Mama harap kamu bisa mengontrol emosi kamu ya. Sejauh ini kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik. Mama semakin bangga memiliki putri seperti kamu.”   Fanie tersenyum dan ia langsung memeluk manja mamanya.   “Kalau bukan karena Mama yang selalu ada di sisi aku. Mana mungkin aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih Mama. Fanie belum bisa membalas apa-apa. Malah Fanie hanya bisa menyusahkan Mama saja.”   “Tidak sayang, kamu sama sekali tidak merepotkan. Lagi pula Mama sudah tua. Dan dengan adanya kamu di sisi Mama, Mama tidak merasa sendirian. Kedua adik kamu lihat saja, mereka kuliah di sini. Tapi mereka juga sangat sibuk dan jarang pulang. Hari-hari Mama, selalu Mama habiskan bersama dengan Papa berdua saja. Jadi dari pada sepi, Mama sama Papa memang lebih memilih menghabiskan hari tua dengan jalan-jalan. Sesuai dengan rencana yang sudah dibuat saat kita masih muda dulu.”   Shasha tersenyum dan mencoba mengenang masa-masa mudanya dulu.   Fanie jadi merasa cemas. Seharusnya Tristan sudah sampai. Tapi mamanya masih berada di dalam kamarnya.   “Ok, kamu mandi terus istirahat. Apa kamu ingin memakan sesuatu?”   Fanie menggelengkan kepalanya. “Tidak Mah, aku masih kenyang.”   “Ya sudah, istirahat ya sayang. Mama keluar dulu. Nanti Papa kamu enggak ngoceh lagi. Pusing Mama sama Papa kamu. Sekarang makin cerewet saja,” ucap Shasha kesal dan Fanie hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan mamanya.   Fanie mengintip ke arah balkon dan ia melihat tidak ada siapa-siapa. Fanie akhirnya memutuskan untuk mandi lebih dulu.   Tristan mungkin kali ini beruntung. Pria ini kembali berhasil menembus cctv dan anak buah Steve yang tidak memerhatikan keberadaannya.   Tristan naik melalui dinding seperti sebelumnya dan ia berhasil masuk ke dalam kamar Fanie.   Tristan mengernyit, ia tidak melihat siapa-siapa di dalam kamar Fanie. Tapi Tristan melihat ada ponsel Fanie.   Tak lama Tristan mendengar suara percikan air. Ia pun langsung mengecek pintu kamarnya apa sudah di kunci atau belum.   Tirtan duduk di sofa, ia menyalakan televisi lalu menunggu Fanie keluar dari dalam kamar mandi.   Di dalam kamar mandi.   Fanie baru saja selesai mandi. Ia mengeringkan tubuhnya dengan menggunakan handuk lalu melilitkan handuk itu di bagian dadaanya.   Fanie keluar dari dalam kamar dan kedua matanya langsung membulat saat melihat Tristan ada di sana.   “Tristan,” ucap Fanie.   DEG!   Tristan menelan salivanya saat melihat tubuh kekasihnya yang terekspose. Pahanya yang putih dan mulus, perut buncitnya yang terlihat besar dan bagian dadaanya yang terlihat semakin membesar.   Tristan memang pernah melihat Fanie memakai pakaian seksi seperti ini. Tapi kali ini benar-benar berbeda. Aroma s**u dari tubuh Fanie sangat tercium membuat Tristan semakin sulit bernafas. Tristan tidak menyangka jika ia harus di hadapakan dengan hal seperti ini. Seketika celananya langsung terasa sangat sempit sekali.   “Tutup mata kamu,” ucap Fanie tegas.   Tristan langsung tersenyum. “Bukankah aku sudah menyentuhnya dan melihatnya kenapa harus malu?” goda Tristan hingga membuat pipi Fanie semakin merona merah.   “Tutup mata kamu Tristan! Saat itu aku tidak sadarkan diri. Dan kali ini aku sadar, sesadar-sadarnya!”   Tristan berdiri. Ia mendekati Fanie lalu perlahan-lahan Fanie memundurkan langkah kakinya.   “Ma-mau apa kamu?!”   Fanie merasa jantungnya semakin berdegup dengan cepat. Ia tidak menyangka jika Tristan akan sampai dengan cepat. Ia pikir Tristan akan masuk ke dalam rumahnya saat tengah malam nanti.   Tubuh Fanie sudah tidak bisa ke mana-mana lagi saat di belakangnya sudah ada dinding besar.   Tristan mengunci tubuh Fanie dengan kedua tangannya. Pandangan mereka begitu dekat. Fanie bahkan bisa merasakan hangatnya nafas pria yang ada di hadapannya ini.   Jantung Fanie semakin berdegup dengan cepat, ia semakin merasa sesak dan rasanya ingin sekali kabur detik ini juga.   Tristan mendekati wajahnya ke telinga Fanie. Dan Fanie justru malah memejamkan kedua matanya dengan pasrah. Hembusan nafas Tristan benar-benar membuat sekujur tubuhnya merinding.   Tristan justru semakin melebarkan senyumannya, ia pun berbisik. “Aku sebenarnya bisa saja menyentuhmu. Tapi aku tahu kamu pasti belum siap. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab jika milikku sudah menegang seperti ini.”   Fanie langsung membulatkan kedua matanya. Mata yang tadi tertutup rapat langsung terbuka dengan sangat lebar sekali.   Fanie langsung mendorong tubuh Tristan dan ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.   Fanie menutup pintunya dengan kencang dan ia menguncinya sambil mengatur nafasnya.   Fanie menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi sambil memegang dadaanya.   “Sial, kenapa aku tidak membawa pakaian ganti tadi!” gerutu Fanie kesal.   Tristan masih saja tersenyum-senyum. Ia memang suka sekali menggoda Fanie sejak dahulu. Tristan langsung kembali ke sofa. Ia duduh dengan santai sambil menyandarkan punggungnya ke sofa empuuk itu. ia akan menunggu Fanie keluar lagi dan kali ini Tristan yakinkan jika wanita hamil itu tidak akan selamat.   Di dalam kamar mandi Fanie masih memutar otaknya. Bagaimana ia bisa keluar jika hanya menggunakan handuk saja. Fanie jadi kesal sendiri. Kenapa ia jadi seperti orang bodooh.   Fanie mengambil pakaiannya yang tadi sudah dimasukkan ke dalam keranjang, ia terpaksa memakai pakaian yang tadi digunakan.   Fanie keluar dari dalam kamar mandi dan Tristan yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.   Dengan langkah kaki yang cepat. Fanie mengambil pakaian gantinya dan ia langsung masuk ke dalam kamar mandi lagi sebelum pria yang sedang duduk itu mengganggunya lagi.   Usai mengganti pakaian Fanie keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang masih setengah basah. Ia sudah memicingkan kedua matanya dengan kesal.   Fanie langsung duduk di samping Tristan dan tanpa aba-aba, Fanie langsung menggigit tangan Tristan hingga meninggalkan bekas gigitannya.   “Aaaaa …,” teriak Tristan kaget. Ia langsung menutup mulutnya takut ada yang mendengarnya.   “Sakit sayang! Kamu tuh ya, bener-bener deh enggak pernah berubah. Dari dulu seneng banget gigit lengan aku!”   Fanie memperlihatkan deretan giginya. Ia langsung memeluk manja pria yang sangat-sangat dirindukannya. Walau tadi sudah berjumpa. Tetap saja, rasa rindu ini masih tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.   Tidak mau kalah dari sang kekasih. Tristan membalas apa yang dilakukan Fanie. Ia pun menggigit tangan Fanie.   Fanie yang merasa kesakitan mencoba menahan teriakannya. Ia menggigit lagi tangan Tristan.   Usai menggigit mereka berdua sama-sama tertawa dan sama-sama saling memeluk.   “Tunggu sebentar, aku ingin foto ini biar jadi kenang-kenangan.”   Tristan terkekeh. Ia menggelengkan kepalanya dan membiarkan apa yang dilakukan Fanie. Asal itu bisa membuat wanitanya tersenyum. Maka Tristan tidak akan pernah melarangnya.   Tristan memberikan tangannya yang di gigit itu. Ia mensejajarkan gigitan yang ada di tangannya dengan gigitan yang ada di tangan Fanie.   Tristan senang akhirnya bisa melihat Fanie tersenyum. Tidak seperti saat di video call tadi. Wajah wanita yang ada di hadapannya itu jauh lebih cerah saat dirinya hadir. Tristan yang tadi niat bertanya lantas mengurungkan niatnya itu. Ia memilih diam dan berharap jika Fanie akan menceritakan apa yang terjadi nanti.   “Kamu mau minum apa?”   “Tidak usah, aku sudah minum tadi.”   Fanie mengangguk, ia langsung menyandarkan kepalanya di bahu Tristan dan menautkan jari-jari lentiknya ke jari-jari Tristan.   “Apa ada yang kurang untuk persalinan nanti? Biar aku siapkan kekurangannya.”   Fanie mengerucutkan bibirnya. “Ada sih, tapi aku tidak mau berharap banyak.”   Tristan mengernyit. “Memangnya apa? Kok bicaranya seperti itu?”   “Aku ingin ada kamu. Tapi rasanya mustahil melihat sifat Papa yang sangat keras.”   Tristan mengangguk paham, ia sebenarnya sedih. Tapi ia berusaha untuk menghapus sejenak rasa sedih itu.   “Ah, aku lupa tadi ingin memberikannya ke kamu,” ucap Tristan yang langsung mengeluarkan dompetnya.   Tristan membelikan black card ke Fanie. “Untuk apa?” tanya Fanie bingung.   “Kebutuhan kamu sama anak kita. Kamu pakai saja. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk saat ini sebagai rasa tanggung jawab aku ke kamu. Besok usai bertemu, aku akan coba bicara dengan Papa kamu lagi.”   “Tapi—”   “Sssttt, sudah. Kamu tenang saja. Aku tidak mungkin mati di tangan Papa kamu,” ucap Tristan sambil menutup mulut Fanie dengan jari telunjuknya.   Fanie menganggukkan kepalanya. “Sayang …”   “Hmmm, aku boleh bertanya?”   “Apa?”   “Jika ada pria yang ingin bertemu denganku, apa yang akan kamu lakukan?”   Tristan mengernyit. “Kenapa bicara seperti itu? apa kamu ingin bertemu dengan pria lain?”   Fanie mengangguk. “Papa terus memaksaku untuk menemui pria pilihannya. Dan pikirku, jika aku terus menolaknya. Maka Papa akan semakin gigih untuk terus memberikan banyak pertemuan dengan banyak pria yang berbeda. Jadi aku pikir, lebih baik aku temui. Lagi pula aku sedang hamil besar seperti ini, jadi aku pikir. Pria itu pasti akan menolaknya.”   Tristan sebenarnya merasa sakit saat mendengar ucapan Fanie. Tapi apa yang dikatakan Fanie ada benarnya juga. lebih baik jika Fanie menemuinya dan dia ada di sana saat Fanie bertemu pria itu. Jadi setidaknya ia bisa mengawasinya.   “Temuilah.”   Fanie kaget, kenapa Tristan malah mengizinkannya. Bahkan saat tahu bertemu dengan klien laki-laki saja, ia sudah sangat emosi. Tapi kenapa kali ini terlihat sangat tenang?   “Kamu yakin?” tanya Fanie meyakinkan.   Tristan mengangguk. “Iya, benar apa yang kamu bilang. Kapan kalian akan bertemu.”   “Besok, jam delapan malam di restoran hotel.”   “Ok, aku akan datang ke sana juga besok malam.”   Fanie menganggukkan kepalanya. Ternyata apa yang ia rencanakan juga bisa dibaca oleh Tristan, pantas saja dulu waktu sekolah mereka selalu mendapatkan julukan couple goals.   Fanie yakin jika besok. Pria yang akan ditemuinya akan mundur dengan begitu saja. Kecuali, jika pria itu memiliki tujuan lain, maka Fanie sudah yakin kalau pria itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Fanie akan meyakinkannya besok dan ia merasa tenang karena Tristan akan mengawasinya.   Bersambung  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD