Foto Kenangan

1895 Words
“Kalau sudah ngantuk tidur saja sayang,” ucap Tristan sambil memeluk Fanie di sofa.   “Hmmm, sebentar lagi. Aku masih ingin peluk kamu,” ucap Fanie manja.   Tristan semakin mengeratkan pelukannya. Ia sendiri pun tidak rela jika harus cepat berpisah. Padahal di dalam hatinya pun ia merasa sangat takut sekali. Takut jika nanti ia ketahuan masuk secara diam-diam ke dalam kamar ini.   Satu jam kemudian.   Tristan memindahkan Fanie ke ranjang tidurnya. Ia melihat jam yang sudah sangat larut. Tristan mencium dahi Fanie lalu ia mencium perut buncit Fanie dengan mesra.   Tristan langsung keluar dari kamar Fanie dengan hati-hati. Ia mengendap dan mengintip di mana para pengawal itu pada berjaga.   Tristan mulai turun dengan sangat cepat. Ia sudah terbiasa dengan semua ini. Jadi ia bisa melakukan semua gerakan dengan cepat.   Tristan langsung berbafas dengan lega saat berhasil meloloskan diri. Ia langsung menuju mobil yang sudah disembunyikan agar tidak mendapatkan kecurigaan.   Tristan langsung melajukan mobilnya. Ia sudah mencengkram dengan erat stir mobil yang dikemudikannya. Tristan sedang berpikir, seharusnya memang sejak awal ia terus menunggu di depan rumah Fanie. Dengan begitu Steve pasti akan merestuinya.   Tristan sampai di hotel. Ia langsung menuju kamar mandi dan membilas tubuhnya dengan air dingin. Pikirannya benar-benar sangat kacau sekali. Tristan sangat kesal karena ia terlalu lama mengambil keputusan.   Esok hari.   Aktifitas Fanie di pagi hari selalu ia gunakan untuk berjemur di balkon. Ia duduk di bangku yang ada di balkon kamarnya sambil menikmati sekotak s**u hamil kemasan yang ada di dalam lemari pendingin yang berada di dalam kamarnya.   Cahaya matahari yang sangat menghangatkan. Fanie pun mengukir senyumnya dengan bahagia. Ia mengangkat wajahnya ke arah awan sambil memejamkan kedua matanya. Membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam tubuhnya.   “Fanie sayang, sudah bangun?” tanya Shasha sambil membawakan sarapan untuk putrinya.   Fanie membuka matanya perlahan-lahan lalu tersenyum.   “Mama, padahal aku bisa sarapan di bawah lho.”   “Tidak masalah. Mama tahu kamu pasti malas turun. Apa hari ini harus ke butik?”   “Hmm, hari ini mau bertemu beberapa klien. Fanie mau selesaikan sebelum melahirkan. Ada apa Mah?”   “Mama sudah tahu soal pertemuan kamu dengan pria pilihan Papa. Mama sudah bicara dengan Papa. Tapi …, kamu tahu kan Papa kamu seperti apa. Pasti sangat berat bagi kamu.”   Fanie tersenyum. “Tidak masalah Mah. Lagi pula siapa yang mau sama wanita hamil seperti ini?”   “Kamu jangan salah. Bukannya mereka tidak mau. Tapi yang Mama pikirkan itu justru bukan itu. Mereka mungkin mau saja menerima tawaran ini demi bisnis. Itu yang Mama tidak suka dengan perjodohan.”   Fanie tersenyum tipis. Lalu ia menatap mamanya. “Lalu aku bisa apa Mah?”   “Kamu pasti tahu caranya. Mama akan dukung kamu. Jika kamu ingin menolaknya, maka katakanlah padanya. Jangan sampai dia tersinggung juga. Perasaan pria kadang sulit ditebak.”   Fanie mengangguk, ia langsung memeluk mamanya. “Terima kasih Mah.”   “Ya sudah, ini kamu habiskan lalu bersiaplah. Mama sama Papa ma uke rumah Oma kamu. Katanya Opa kamu sedang sakit.”   “Benarkah? Apa Fanie harus ke sana sekarang juga?”   “Tidak apa-apa. Selesaikan saja pekerjaan kamu. Tidak masalah.”   Fanie mengangguk. Ia jadi merasa bersalah. Padahal ia hanya punya janji dengan datu klien dan klien yang lainnya adalah Tristan. Makanya Fanie ingin bertemu dengan klien itu pagi-pagi sekali.   “Mama keluar dulu. Mau jalan dari pagi juga. Soalnya habis itu mau ketemu sama adik kamu.”   Fanie mengangguk. “Salam untuk mereka semuanya ya.”   Shasha menganggukkan kepalanya dan ia langsung meninggalkan putrinya sendirian.   Fanie merasa aman, jadi ia bisa bertemu dengan Tristan hari ini. Maaf ya Mah, karena hari ini saja aku ingin bahagia, batin Fanie lalu ia menikmati sarapan yang dibawakan oleh mamanya.   Di hotel.   Tristan sedang menyiapkan apa yang ada di kepalanya. Ia menghias kamar hotel dengan balon-balon dan foto-foto saat ia bersama dengan Fanie. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Hanya saja, Tristan ingin mengenang masa-masa indah mereka saat melihat foto-foto yang masih disimpannya.   Tristan juga sudah meminta restoran hotel untuk menyiapkan makanan yang diinginkannya termasuk strawberi cake kesukaan Fanie.   Sudah lama Tristan tidak memberikan kejutan seperti ini untuk Fanie. Dulu ia sering kali memberikan banyak kejutan setiap kaliada waktu untuk bertemu. Sebenarnya beberapa bulan tidak bertemu membuat Tristan memikirkan banyak hal. Tindakan apa yang harus ia lakukan nantinya.   Tristan juga sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Fanie. Semoga saja, dengan banyaknya hadiah yang ia berikan. Bisa mengobati sedikit luka yang sudah membuat Fanie tersiksa selama ini.   Usai mendekorasi kamar. Tristan langsung membersihkan diri. Dan hal yang sama seperti kemarin juga terjadi lagi saat ini. Tristan bingung ingin pakai baju apa. Apa lagi nanti malam ia juga ingin menemani Fanie ke salah satu restoran.   Tristan melihat pakaiannya yang ada di lemari. Ia merasa tidak puas dengan pakaian yang dibawanya.   “Kenapa semuanya serba hitam sih? kenapa nggak ada yang cerah gitu. Dulu Fanie selalu memberikan pakaian yang aneh-aneh. Sekarang seperti orang berduka saja,” gerutu Tristan.   Tristan menghembuskan nafasnya panjang. Mau tak mau ia menggunakan pakaian serba hitam itu. Dan sepertinya besok-besok ia harus membawa pakaian yang sedikit lebih cerah lagi.   Tristan sedang memakai pakiaannya lalu tiba-tiba terdengar suara bel pintu.   Tristan langsung buru-buru memakai celananya, sampai akhirnya ia terjatuh ke lantai.   “Ouucchhh shiitt, kenapa aku sebodooh ini sih!!!” ucap Tristan yang terus menerus merutuki dirinya sendiri.   Tristan langsung membuka pintunya dan ia tidak menyangka jika Fanie sudah datang lebih awal.   “Sa-sayang,” ucap Tristan kaget.   Fanie mengernyit. “Kamu kenapa? Kok seperti orang kelelahan. Atau jangan-jangan?” ucap Fanie sambil membulatkan kedua matanya. Ia pun bergegas masuk sambil menyingkirkan tubuh kekar Tristan.   Fanie mengecek ke lemari pakaian, ia membukanya lalu menutupnya. Fanie juga menuju kamar mandi dan balkon yang ternyata tidak ada siapa-siapa.   Tristan yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia juga memerhatikan setiap pergerakan yang Fanie lakukan.   Satu hal yang menjadi pusat perhatian Fanie adalah balon. Di mana banyak foto yang menggantung di tali balon itu. Ia melihat foto-foto dirinya bersama dengan Tristan. Foto dari jaman mereka masih duduk di bangku sekolah.   Fanie tersenyum, ia juga melihat foto di mana mereka melakukan perpisahan sekolah. Dan setiap foto yang ada di sana adalah moment di mana mereka menjalin hubungan jarak jauh.   Fanie tidak menyangka jika Tristan menyimpan ini semua. Bahkan ada foto Fanie yang sangat lucu, Fanie yang sedang tertidur di mobil karena kelelahan. Bahkan wanita itu terlihat membuka mulutnya lebar.   Fanie menarik satu foto itu lalu menatap tajam ke arah Tristan.   “Kapan kamu memotret aku yang seperti ini?” protes Fanie yang tidak percaya jika kekasihnya ini sungguh keterlaluan sekali.   Tristan tertawa. “Itu sangat lucu. Aku suka melihatnya. Jadi sebelum tidur pasti aku akan mencium foto itu. Jangan kamu buang ya.”   “Tidak mau, bikin malu saja.”   “Jangan sayang. Semua ini ada kenangannya. Tapi aku masih simpan duplikatnya sih,” ucap Tristan yang langsung membuat Fanie membulatkan kedua matanya.   “Di mana? Cepat hapus.”   “Ra-ha-sia.”   Fanie langsung mendengkus dengan kesal. Ia memerhatikan fotonya lagi dan merasa sangat malu. Kenapa kelakuan Tristan selalu saja di luar dugaannya.   “Aaahhh,” ucap Fanie sambil memegang perutnya.   Tristan langsung cemas. “Kamu tidak apa-apa?”   “Tidak, tapi kenapa sakit sekali ya. Ini bukan waktunya melahirkan kok. Masih tiga minggu lagi.”   “Kita ke rumah sakit saja gimana?”   Fanie yang melihat Tristan sangat mencemaskannya lantas langsung tertawa terbahak-bahak.   “Aku baik-baik saja. Tadi dia menendang kencang sekali. Aku jadi merasa kesakitan.”   Tristan langsung memicingkan kedua matanya. Ia menatap Fanie dengan tatapan tidak senangnya.   Tristan langsung menjewer telinga Fanie. “Kamu itu ya, orang lagi serius malah bercanda. Kalau kamu kenapa-kenapa kan aku jadi merasa bersalah!”   “Bersalah gimana? Aku sangat merindukan kamu,” ucap Fanie yang langsung memeluk manja tubuh kekar Tristan.   “Jangan bercanda seperti ini lagi. Aku takut jika sampai terjadi sesuatu ddengan kamu.”   “Maaf, habis aku kesal kamu meotret aku yang jelek seperti ini.”   Tristan tersenyum. “Justru itu, aku ingin foto yang berbeda. Kalau semua cantik kan nggak seru. Jadi harus ada yang berbeda biar aku semakin rindu!”   “Hmm, baiklah. Ini, akua da bawakan beberapa pakaian untuk kamu. Sudah lama aku tidak memberikannya ke kamu. Dan kali ini semua desain, hasil rancangan aku sendiri.”   Tristan langsung melebarkan senyumannya. “Benarkah? Aku juga punya sesuatu untuk kamu. Tunggu sebentar,” ucap Tristan yang langsung menuju lemari pakaiannya dan ia memberikan beberapa paper bag untuk Fanie.   “Jadi, kita sedang tukeran kado?” tanya Fanie dan mereka berdua langsung tertawa.   Tristan membuka paper bag yang diberikan Fanie. Benar saja Fanie akan selalu memberikan pakaian cerah. Kali ini Fanie membawakan kemeja berwarna orange, setelan jas berwarna hijau army dan beberapa kaos berwarna cerah.   “Tetap ya kasih aku warna cerah, dan selalu ada warna pink yang jadi pilihan kamu.”   Fanie memperlihatkan deretan giginya. Ia langsung membuka hadiah dari Tristan.   Fanie jadi tersenyum senang karena Tristan masih mengingat selera yang disukainya. Selain pakaian seksi. Fanie memang suka menggunakan top. Koleksi top yang dimilikinya juga sangat banyak sekali.   “Makasih ya, aku akan memakainya setelah melahirkan.”   “Aku juga akan memakai kemeja biru ini untuk nanti malam, birunya bagus.”   “Kenapa enggak yang orange saja? aku nanti mau pakai gaun warna orange.”   Tristan mengernyit. “Tapi ini cocoknya sama jasnya pas army sama orange,” ucap Tristan asal.   “Tidak masalah, kamu bisa menggunakan rompinya. Kan ada tadi aku bawa,” ucap Fanie dengan santai.   Kedua mata Fanie langsung berbinar saat ia melihat ada satu set perhiasan yang sangat ia cantik. Dan Fanie sangat menyukainya.   “Terima kasih ya. Kamu tahu saja, aku lagi ingin beli perhiasan seperti ini.”   Tristan tersenyum. “Kalau gitu biar aku belikan setiap hari, gimana?”   “Pemborosan,” ucap Fanie dan tiba-tiba terdengar suara perut Fanie yang bunyi dengan kencang.   Tristan tertawa. “Aku sudah pesan makan, tapi kok belum di antar ya. Coba aku telepon dulu.”   Fanie memperlihatkan deretan giginya. “Porsinya yang banyak ya. Aku sekarang makannya banyak soalnya.”   Tristan mengangguk. Ia mengambil telepon kamar hotelnya dan langsung menghubungi pihak restoran.   Fanie berdiri dari duduknya. Ia melihat lagi foto-foto dirinya bersama dengan Tristan. Memang banyak kenangan yang sudah mereka buat. Tapi siapa sangka, untuk mencapai semua ini mereka sudah melewati banyak rintangan. Termasuk rintangan yang sedang mereka hadapi kali ini.   Setelah menunggu lama, akhirnya makanan yang dipesan datang juga. Fanie dan Tristan menikmatinya bersama-sama sambil suap menyuap.   “Kira-kira aku harus bilang apa ya sama pria itu.”   “Mmmm, apa ya? biasanya kamu kalau nggak suka sama seseorang suka main tinju.”   Fanie tertawa. “Kamu tuh ngada-ngada, bisa dilaporin aku kalau asal tinju. Biasanya kan aku lakuin di ring tinju. Eh, tapi sudah lama juga aku nggak naik.”   “Enak saja, sudah nggak pantas. Ingat tuh yang di dalam perut! Bisa di protes kamu!” ucap Fanie hingga membuat Tristan tertawa.   Malam hari.   Fanie jadi merasa tegang sendiri. Ia sudah merias wajahnya di depan cermin. Fanie sedang membayangkan apa yang akan terjadi nanti di restoran. Ucapan apa yang harus ia ungkapkan ke pria pilihan ayahnya itu.   Fanie sangat takut, ia takut jika pria itu nekat atau mengadu ke Steve soal Tristan. Biar bagaimana pun. Hubungan mereka sempat terekspose ke public dulu. Fani sangat cemas sekali. Kedua tangannya sudah terasa sangat dingin sekali.   Fanie mencoba mengatur nafasnya dan ia semakin berdebar saat mendengar pintu kamarnya terdengar sebuah ketukan.   Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD