Bertemu Diam-diam

2190 Words
Tristan sudah sampai di hotel. Ia langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya.   Tristan memejamkan kedua matanya di bawah air yang mengalir ke tubuh kekarnya.   Tristan sedang memikirkan cara, bagaimana ia bisa meluluhkan hati Steve.   Tristan jadi rindu. Ia rindu melihat senyum di wajah kekasihnya.   Tristan mematikan air showernya. Ia langsung mengambil handuk dan melilitnya ke pinggulnya.   Tristan masuk ke dalam kamar. Ia mengambil pakaiannya lalu memakainya dengan cepat.   Tristan mengambil laptop miliknya. Ia coba mengirimkan chat di akun sosial media milik kekasih hatinya.   Di rumah Fanie.   Fanie masih syok saat mendengar siapa pelaku dari kecelakaan disengaja yang terjadi beberapa tahun silam.   Fanie membuka kedua matanya. Ia melihat sosok wanita yang selalu ada di sampingnya setiap kali ia merasa rapuh.   “Kamu sudah bangun sayang?” tanya Shasha dan Fanie menganggukkan kepalanya.   Fanie memegang keningnya yang terasa sangat sakit. Ia juga memegang kepalanya yang terasa pusing.   Fanie juga merasa mual. Ia langsung turun dari ranjang tidur lalu berlari menuju kamar mandi.   Fanie melewati papanya yang juga masih berada di dalam kamarnya.   Shasha menyusulnya. Ia sangat mencemaskan keadaan putrinya. Mungkin saat ini hanya Shasha yang mengerti keadaan putrinya.   Fanie merasa beruntung. Walau ia sudah berdosa. Ia tetap masih merasa nyaman karena ada mamanya yang selalu berdiri di sisinya.   Fanie langsung memeluk mamanya.   “Terima kasih Mama, terima kasih karena sudah sabar dengan aku.”   Shasha tersenyum. Ia menangkup kedua pipi putrinya. “Jangan bicara seperti itu sayang. Mama sangat menyayangi kamu. Jadi apa pun yang terjadi dengan putri Mama. Mama akan tetap menjadi orang pertama yang akan melindungi kamu!”   Fanie tersenyum. Betapa beruntungnya ia memiliki seorang ibu yang sangat pengertian. Cinta dan kasih sayangnya yang tulus. Membuat Fanie jadi merasa harus bisa lebih kuat lagi. Fanie mulai meyakinkan hatinya. Jika memang Tuhan menghendaki perjuangan cintanya dengan Tristan. Maka mereka berdua pasti akan bisa bersatu.   Fanie merasa mual lagi, ia kembali muntah.   Fanie masuk ke dalam kamar. Ia melihat papanya ada di dalam kamarnya.   Steve tidak melihat wajah putrinya. Ia membiarkan putrinya melewati dirinya begitu saja.   Steve berdiri. Ia berjalan lalu berhenti di depan ranjang tidur putrinya.   “Pastikan dia tidak keluar dari rumah ini!” ucap Steve yang langsung pergi meninggalkan kamar putrinya.   “Sudah jangan didengarkan. Papa kamu masih emosi. Nanti juga diam lagi kalau keadaan sudah membaik.”   Fanie menganggukkan kepalanya. Ia melihat makanan yang ada di atas meja nakas.   “Ini Mama yang buat?”   “Hmmm, makan dulu. Kamu pasti sangat lapar. Apa lagi kamu habis muntah-muntah.”   Fanie tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.   Shasha mengambil makanannya lalu ia menyuapinya.   Fanie menerima suapan demi suapan dari mamanya. Ia merasa bahagia walau hatinya juga terluka.   Di dalam lubuk hatinya. Ia juga bertanya. Apa yang sedang dilakukan oleh Tristan. Apa dia sudah tahu kenyataan ini. Lalu aku harus apa? Apakah aku harus menjauhinya? Apakah aku harus melupakannya?   ***   Tristan sudah bersiap dengan penampilan casualnya. Ia juga memakai topi untuk menutupi setengah wajahnya.   Tristan langsung menuju rumah Fanie dengan menggunakan mobil yang disewanya selama ia berada di sana.   Tristan melajukan mobilnya dengan bermodalkan GPS yang ada di dalam mobil. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tristan tidak boleh tergesa-gesa. Ia sendiri masih bingung harus menemui Fanie secara langsung atau memang harus menemuinya secara tersembunyi.   Tristan menepikan mobilnya. Ia memerhatikan rumah mewah kediaman Danner yang sudah dijaga ketat.   Tristan menghembuskan nafasnya Panjang. Ia sedang memikirkan apa ia akan kembali hidup-hidup, atau hanya tinggal nama saja.   Tristan mengambil ponselnya. Ia mencoba mengirimkan pesan ke kekasihnya melalui email dan akun social media.   Stefanie sedang menikmati udara pagi di balkon kamarnya. Ia juga membawa laptop miliknya. Fanie menyalakan music dari laptopnya sambil melakukan olahraga ringan.   Mungkin dengan melakukan hal positive, ia bisa jadi lebih baik lagi.   Dari kejauhan Tristan bisa melihat dengan jelas jika kekasihnya baik-baik saja.   Melihat perut Fanie yang kelihatan saat wanitanya itu sedang mengangkat kedua tangannya membuat Tristan tersenyum. Ia sedang membayangkan jika perut Fanie membuncit dan ia ada di sana, mengusapnya lalu mengecupnya.   Fanie menyudahi olahraganya. Ia mengambil air minum lalu meminumnya.   Beberapa pesan muncul di notifikasi laptopnya. Fanie melihatnya. Ia membaca beberapa pesan dari Tristan.   [Sayang, aku jalan dulu ya. Sampai jumpa di London.]   [Sayang, aku baru sampai. Aku akan tinggal di hotel yang tidak jauh dari rumah kamu ya.]   [Sayang, aku ke rumah kamu ya. Boleh kan?]   [Sayang kamu cantik sekali pagi ini. Aku jadi semakin merindukan kamu.]   DEG!   Fanie langsung berdiri. Ia melihat sekelilingnya dan memerhatikan apa mungkin Tristan ada di sini. Akan sangat membahayakan dirinya jika Tristan nekat masuk ke dalam rumahnya.   Fanie melihat ada sebuah mobil di ujung jalan. Ia memerhatikannya apa mungkin itu Tristan.   Tristan turun dari mobil, ia berdiri lalu mengangkat wajahnya. Fanie yang melihatnya jelas mengenali siapa yang ada di hadapannya itu.   Fanie menggelengkan kepalanya. Ia langsung membalas pesan dari Tristan dengan cepat sebelum ketahuan kedua orang tuanya.   [Kamu jangan ke sini. Papa memberi banyak pengawal di bawah sana. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu. Tristan pergilah, ini demi keselamatan kamu.]   Tristan kembali masuk ke dalam mobil saat melihat Fanie menghilang dari pandangannya. Ia melihat ponselnya dan membaca pesan dari kekasihnya.   [Jika aku diam saja, bagaimana dengan hubungan kita? Aku ingin menikah dengan kamu Fanie. Aku juga harus bisa meluluhkan hati Papa kamu.] balas Tristan.   Fanie membacanya dan ia langsung membalasnya.   [Pergilah, aku akan mencoba mencari cara agar bisa keluar dari sini. Tapi aku tidak memiliki ponsel. Bagaimana bisa menghubungi kamu?]   [Temui aku di cafe depan saja. Aku akan menunggu kamu sampai datang. Aku akan memberikan ponsel untuk kamu nanti.] balas Tristan.   Fanie melihat mamanya datang. Ia langsung mengeluarkan semua akses yang bisa tersambung dengan Tristan. Fanie kembali mendengarkan music yang belum ia matikan sejak tadi.   “Anak Mama sudah bangun?”   “Hmmm, habis olahraga ringan tadi. Lumayan buat nyegerin tubuh.”   Shasha tersenyum. “Kalau gitu ayo kita sarapan sayang. Kamu juga harus meminum vitamin kan.”   Fanie mengangguk sambil tersenyum. Ia jadi memiliki ide cemerlang. Semoga saja ini berhasil.   “Mah, aku akan bosan jika di rumah terus. Dan Papa juga tidak mengizinkan aku keluar. Bagaimana kalau kita ke cafe depan sana. Sama Mama, mungkin Papa akan mengizinkannya.”   Shasha masih diam. Ia juga merasa kasihan jika melihat putrinya di kurung terus menerus. Berada di rumah terus juga sangat tidak enak.   “Lihat saja nanti. Mama akan coba bicarakan dengan Papa kamu. Dia masih emosi. Dan butuh waktu lama untuk meluluhkan hatinya. Sekarang kamu makan dulu dan habis itu mandi. Mama akan kabari kamu nanti.”   Fanie menganggukkan kepalanya. Ia berharap jika rencana ini berhasil. Fanie akan menemui Tristan. Apa pun keputusannya, ia akan membicarakannya.   Fanie memang sangat mencintai Tristan, bertahun-tahun merajut kasih jelas membuatnya merasa sangat hancur jika sampai harus berpisah.   Yang Fanie tahu, Tristan memang tidak ada sangkut paut kisah masa lalu ini dengan kedua orang tuanya. Tapi biar bagaimana juga Tristan adalah anak dari orang yang sudah berusaha melukai papanya saat itu.   Fanie menuju ruang makan dengan wajah yang masih agak sedikit pucat. Di ruang makan ia melihat ada papanya yang sedang menikmati sarapannya.   Fanie mengatur nafasnya dan ia langsung duduk. Fanie mencoba menikmati pagi ini tanpa melihat adanya masalah yang sedang terjadi.   Fanie menikmati sarapannya seperti biasanya. Ia memilih memandangi makanannya saja dan tidak memerhatikan apa yang terjadi di hadapannya.   Kedua orang tuanya saling memandang dan Shasha hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh.   Usai makan, Fanie langsung menuju kamarnya. Ia langsung membersihkan diri.   “Semoga saja ada kabar baik dari Mama.”   Fanie masih berusaha bersikap positive walau sebenarnya hatinya juga ragu. Apa ia sanggup menjelaskan ini semuanya ke Tristan. Dan kenapa Tristan tidak tahu soal ini.   Di ruang tamu.   Shasha melihat suaminya. Ia mencoba melihat suasana hati suaminya lebih dulu dari pada nanti jadi bertengkar.   “Steve …”   “Hmmm.”   “Apa aku boleh ajak Panpan ke cafe depan. Aku ingin sekali membeli minuman di sana.”   “Suruh saja orang untuk membelikannya. Sama saja bukan.”   “Steve, aku memang sengaja ingin mengajak Panpan keluar dari rumah. Tidak jauh, hanya ke cafe saja. Habis itu pulang,” ucap Shasha dan Steve tidak menjawabnya.   Shasha menghembuskan nafasnya Panjang. “Aku hanya tidak ingin hal yang dia lakukan kemarin terjadi lagi. Jika kamu mengurungnya. Dia akan semakin merasa hidupnya sudah tidak indah lagi. Dan apa kamu mau jika dia melakukan hal yang lebih parah dari kemarin.”   Steve melirik istrinya dan melihat wajah istrinya yang sangat memohon sekali.   Steve berdiri dan Shasha terus memerhatikan suaminya.   “Pergilah, hanya tiga puluh menit dan ajak beberapa pengawal. Jika kamu pulang terlambat. Kamu akan tahu apa konsekuensinya,” ucap Steve yang langsung pergi meninggalkan istrinya.   Shasha masih diam mematung. Di dalam hatinya ia tersenyum dengan Bahagia. Karena akhirnya ia bisa mengajak putrinya ke cafe.   Shasha langsung menuju kamar putrinya. Ia mengetuk pintu kamarnya lebih dulu baru membukanya setelah mendapatkan jawaban dari putrinya.   “Mama, ada apa?” tanya Fanie yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.   “Bersiaplah, kita akan ke cafe. Cucu Mama memangnya mau minum apa sih di sana?” tanya Shasha sambil tersenyum.   “Mau minum caramel macchiato Oma,” ucap Fanie yang langsung memeluk mamanya.   “Terima kasih Mama.”   “Sudah cepat, Papa hanya memberikan izin tiga puluh menit.”   Fanie mengangguk. Ia akan berbicara secepat mungkin nanti dengan Tristan. Semoga saja setelah ini mereka berdua memiliki titik terang untuk masa depan mereka berdua.   Fanie langsung bersiap-siap. Ia hanya memakai sweater hoddie berwarna putih dan celana pendek berwarna putih. Fanie juga mengikat rambutnya menjadi satu ke belakang.   Fanie langsung keluar dari dalam kamar. Dan ia melihat mamanya yang sudah menunggunya.   Mereka berdua keluar dan beberapa pengawal langsung mengikutinya.   Fanie sebenarnya merasa risih. Tapi ia sudah terbiasa hidup seperti ini. Hanya saja, hari ini ia merasa berbeda. Ia harus bertemu dengan Tristan di cafe yang tidak terlalu luas itu.   Tristan sudah menunggu di cafe. Ia duduk di pojokkan, di mana tidak ada yang bisa melihatnya dengan jelas.   Tak lama Tristan melihat Fanie yang baru saja turun dari mobil bersama dengan mamanya. Dan beberapa pengawal juga berjaga di sekitarnya.   Tristan hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi hari ini.   Kedua mata Fanie langsung menelusuri tiap sudut cafe ini. Ia mencari keberadaan Tristan.   “Kamu mau pesan caramel sayang?”   “Iya Ma, Fanie ke toilet dulu ya,” ucap Fanie dan Shasha menganggukkan kepalanya.   Tristan langsung menghampiri kekasihnya. Mereka berdua masuk ke dalam toilet yang bersebelahan.   Tristan naik ke atas toilet dan turun ke toilet di mana Fanie berada.   Mereka berdua saling memeluk satu sama lain. Dan Tristan juga mencium bibir kekasihnya dengan mesra. Rasa rindu yang menggebu membuat mereka larut dalam kecupan hangat ini.   “Aku sangat merindukan kamu.”   “Tristan, waktu aku tidak banyak.”   “Katakan, apa yang kamu ketahui.”   Fanie menghembuskan nafasnya. Menatap kekasihnya dengan penuh haru.   “Apa kamu ingat kalau dulu Papa aku pernah koma saat kita masih sekolah?” tanya Fanie dan Tristan menganggukkan kepalanya.   “Di mana orang tua kamu saat itu?”   Tristan mencoba mengingatnya. “Di luar negeri.”   “Tidak, mereka ada di penjara. Apa kamu tahu penyebab Papa aku koma?” tanya Fanie dan Tristan menggelengkan kepalanya.   “Papa kamu berusaha mencelakai Papa aku. Dan disinilah Papa sangat marah.”   Tristan kaget. Kedua matanya sudah merah dan rahangnya sudah mengeras.   “I-ini tidak mungkin kan? Kamu pasti bohong kan?”   “Tristan, aku sendiri tidak percaya. Tapi aku juga yakin kalau Papa tidak mungkin berbohong. Tristan, aku tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus menggugurkan anak kita?”   “Tidak, jangan. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Dan anak yang ada di dalam kandungan kamu sama sekali tidak bersalah.”   “Tapi untuk apa? Untuk apa aku melahirkannya jika tidak bersama dengan kamu. Jujur aku juga sedih, kecewa dan kesal saat tahu Papa kamu sangat jahat. Tapi aku coba berfikir positive lagi. Kamu tidak ada hubungannya dengan semua ini. Dan aku yang aku tahu, Papa kamu minta kasus ini di tutup dari public.”   “Ini tidak mungkin, aku akan bicara dengan Papa nanti kalau sudah di Jakarta.”   “Pulanglah Tristan. Aku tidak bisa berbuat banyak. Papa masih sangat emosi,” ucap Fanie lirih.   Di sisi lain.   “Fanie ke mana? Kenapa lama sekali,” ucap Shasha yang masih berdiri di depan kasir sambil menunggu minumannya.   “Tristan, aku harus keluar sekarang,” ucap Fanie yang merasa takut jika ketahuan nanti.   Tristan mengangguk. “Ini ponselnya. Aku sudah masukkan nomor aku di dalam sana.”   Fanie mengangguk dan ia langsung menyembunyikan ponselnya. Fanie langsung memeluk Tristan sejenak setelah itu Fanie bergegas keluar dari dalam kamar mandi.   Fanie memerhatikan sekeliling. Semoga saja anak buah papanya tidak ada yang melihatnya.   “Sayang, kamu lama sekali. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Shasha hingga membuat Fanie kaget.   “Ah, iya Mah. Tadi mendadak sakit perut. Minumannya sudah jadi?” tanya Fanie.   “Sudah, ayo kita pulang sebelum Papa kamu marah.”   Fanie mengangguk dan ia langsung memeluk lengan mamanya. Mereka berdua keluar dan tidak ada yang curiga sama sekali dengan apa yang dilakukan Fanie di dalam sana. Termasuk anak buah Steve yang berjaga.   Fanie merasa lega karena tidak ada yang mencurigainya. Dan ia juga harus bisa menyembunyikan ponselnya. Jangan sampai orang-orang mengetahuinya. Atau semuanya rencananya bisa gagal.   Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD