Rapuh

1707 Words
Di pesawat, Fanie memilih duduk menyendiri. Memberikan jarak antara dirinya dengan kedua orang tuanya.   Fanie menatap keluar jendela. Ia memerhatikan pesawat pribadi milik papanya yang sudah mulai mengudara.   Shasha mencoba mendekati anak perempuannya sambil membawakan minuman hangat. Ia duduk di samping putrinya sambil tersenyum.   “Ini Mama buatkan minuman hangat untuk kamu. Naik pesawat seperti ini kadang suka bikin mual.”   Fanie melirik cangkir yang ada di tangan mamanya lalu ia mengambilnya.   “Terima kasih Ma.”   Shasha mengangguk. Ia mengusap puncak kepala putrinya. Putri kecil yang dulu sangat ia manjakan, kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.   “Kalau kamu membutuhkan sesuatu, panggil Mama saja ya,” ucap Shasha dan Fanie menganggukkan kepalanya.   Fanie menangkup minuman hangat itu, ia memang merasa mual sejak tadi. Hanya saja, Fanie mencoba menahannya. Ia sangat lelah juga hari ini, di tambah hati dan pikirannya sangat kacau sekali.   Fanie yang merasa mual langsung meletakkan cangkirnya, ia bergegas berlari sambil menutup mulutnya.   Shasha melihat anak perempuannya. Ia jadi cemas. Tapi tidak dengan ayahnya yang terlihat sangat acuh.   Fanie merasa sedih, ia harus mengalami masa sulit ini sendirian. Padahal, ia selalu mengharapkan cinta yang sempurna dan pernikahan yang indah. Bukan ini yang ia inginkan, di tambah tadi papanya sangat cuek.   Ini bukan Papa yang ia kenal. Bahkan saat Steve belum tahu dirinya hamil. Mereka masih begitu dekat, sangat dekat. Sampai ada nyamuk yang menggigitnya saja Steve akan marah dan mengobati bentol-bentol akibat gigitan nyamuk.   Oowweekkk, hhhkkkk, wweeekkkk. Fanie muntah, rasanya sungguh tidak enak, sangat menyiksa dan semakin membuatnya merasa sedih.   Shasha menghampiri putrinya. Ia membantu mengambilkan handuk bersih.   Fanie mencuci wajahnya dan Shasha masih sangat perhatian dengan putrinya. Walau sebenarnya hatinya juga terluka, Shasha tetap mencoba untuk tenang.   Shasha mengeringkan wajah putrinya. Kalau bukan dirinya, siapa lagi yang akan memberikannya kasih sayang?   “Terima kasih Ma,” ucap Fanie dengan mata yang sudah memerah.   “Istirahatlah, apa kamu lapar?” tanya Shasha dan Fanie menggelengkan kepalanya.   Di sisi lain.   Pesawat yang Tristan tumpangi baru saja mengudara. Ia memilih memejamkan kedua matanya sambil mendengarkan musik.   Tristan mencoba menenangkan hatinya sendiri. Ia juga memikirkan bagaimana cara meluluhkan hati papanya Fanie.   “Kamu harus berjuang Tristan, jangan biarkan Fanie sendiri dan jangan biarkan Fanie terus menangis. Berjuanglah demi cinta kamu. Karena aku harus yakin jika Fanie akan kembali ke dalam pelukkan kamu. Sekuat apa pun mereka melarang, maka semakin besar cinta yang akan kita tunjukkan ke Papa kamu sayang,” ucap Tristan di dalam hatinya.   ***   Fanie sudah tiba di bandara. Mereka langsung menuju rumah kediaman Danner. Ya Fanie memiliki Oma dan Opa yang sudah tua di sana. Sudah lama sekali mereka tinggal di sana. Bahkan kedua orang tuanya juga memiliki rumah di sana. Termasuk Fanie, ia juga memiliki rumah di sana yang ia dapatkan dari sang kakek yang sangat memanjakannya.   Keluarga Fanie memang penuh dengan kasih sayang, sangat hangat. Dan bahkan banyak yang iri dengan keharmonisan keluarga mereka.   Kedua orang tuanya cukup terpandang tapi siapa sangka kedua anak kesayangannya justru sudah membuat hati Steve dan Shasha terluka.   Namanya juga perjalanan hidup, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Dan kita hanya bisa melewatinya dengan doa dan usaha.   Seperti cinta Fanie yang sedang diuji ini. Maka mereka berdua juga harus berusaha memperjuangkannya. Jika jodoh maka tak akan lari ke mana-mana.   “Kita langsung ke rumah saja,” perintah Steve ke sopir mereka. (Anggap saja mereka berbicara Bahasa Inggris ya.)   “Baik Tuan,” jawab sopir.   Fanie masih memilih diam seribu Bahasa. Ia sama sekali tidak tahu apa yang akan ia lakukan di sini.   Fanie mengingat masa kecilnya saat ia berada di sini. Keluarganya selalu penuh dengan canda dan tawa. Tidak seperti saat ini hanya ada keheningan saja di sini dalam diam seribu Bahasa.   Fanie kaget saat mereka sudah berada di depan rumah. Anak buah papanya sangat banyak sekali. Biasanya hanya ada beberapa saja. Fanie sedang memikirkan bagaimana Tristan bisa ke sini jika pengawalan di rumah ini sangat ketat sekali.   Fanie melihat sekeliling sambil menatap tajam pria-pria bersetelan jas hitam itu.   Fanie semakin kesal saja. Ia benar-benar seperti di kurung saja. Kehidupannya seakan tak bisa sebebas dulu.   Fanie langsung turun dari mobil. Ia langsung menuju kamarnya.   Fanie membanting pintu kamarnya. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang tidur.   Fanie memeluk boneka yang ada di atas ranjang tidurnya. Ia terus menangis, meluapkan segala kekesalannya.   Shasha ingin mengejarnya namun suaminya menahannya.   “Biarkan dia sendiri. Jika dia sudah dewasa, dia tahu apa yang harus dilakukan.”   “Kamu yang membuatnya seperti ini Steve.”   “Aku? kau tahu kalau orang tuanya Tristan sempat ingin membunuhku? Seorang pembunuh tidak akan bisa masuk ke keluarga Danner!”   “Tapi Tristan anak yang baik. Bukankah dia tidak tahu soal hal ini? bisakah kita bicarakan baik-baik saja. Mencari solusi yang lain!”   “Tidak! Aku akan mencarikan pria untuk putriku. Banyak yang ingin bersanding dengannya!”   “Tidak, mereka hanya menginginkan harta kita saja! aku tidak menyetujuinya!”   “Apa kamu sekarang tidak mendukung keputusan aku?”   “Dia putriku, aku yang melahirkannya. Aku tahu di mana batasannya. Aku tahu, aku salah karena mengizinkannya pergi. Tapi ini murni bukan kesalahannya, melainkan teman-temannya yang sudah membuatnya seperti ini! dia terjebak Steve!”   “Aku tetap tidak akan menikahkan Fanie dengan Tristan, kecuali kau memilih untuk membunuhku. Dia masih bisa bahagia tanpa Tristan.”   “Tapi biar bagaimana juga anak itu adalah anak Tristan!” teriak Shasha.   Perdebatan Steve dan Shasha jelas di dengar oleh Fanie. Ia sempat membuka pintu kamarnya sedikit untuk mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya. Hatinya semakin terasa sangat sakit dan ia benar-benar sangat terluka.   “Ini semua salah aku, Mama dan Papa jadi bertengkar. Kalau saja semua ini tidak terjadi, maka mereka tidak akan bertengkar.”   Fanie mengunci pintu kamarnya. Ia langsung menuju kamar mandi. Fanie berdiri di bawah air pancur yang dingin. Ia dengan sengaja membasahi tubuhnya dengan air dingin itu.   Dua jam kemudian.   Shasha yang merasa cemas lantas mencoba membawakan makanan dan minuman untuk putrinya.   “Panpan sayang, buka pintunya Nak. Ini Mama sayang,” ucap Shasha sambil mengetuk pintunya berkali-kali.   “Fanie sayang, Panpan sayang buka pintunya Nak, kamu lagi apa?” tanya Shasha yang sudah mulai cemas.   Tidak mendapatkan jawaban membuat Shasha memanggil suaminya.   “Steve …, Steve …”   Steve masih diam saat mendengar istrinya terus berteriak, ia sedang bersantai menonton televisi.   “Steve, cepat buka pintu kamar Fanie. Dia tidak membukanya sejak tadi. Aku sangat mencemaskannya.”   Steve langsung berdiri, ia bergegas menuju kamar putrinya.   Steve membukanya tapi tidak bisa. “Minggir,” ucap Steve yang berusaha mendobrak pintu kamar putrinya.   BRAAKKK!!!   Begitu pintu terbuka. Steve dan Shasha masuk. Mereka berdua mencari keberadaan Fanie.   Steve langsung menuju kamar mandi. Ia membuka pintunya dengan kasar.   Steve dan Shasha sama-sama membulatkan kedua mata mereka.   “Fanieeeee,” teriak Shasha.   Steve langsung mematikan air yang mengalir dan ia menggendong putrinya yang meringkuk pingsan di bawah air pancur dingin itu.   Steve membawanya masuk ke dalam kamar. “Siapkan pakaian gantinya. Aku akan menghubungi dokter.”   Steve menidurkan putrinya di atas ranjang tidur lalu ia menyerahkannya ke istrinya.   Steve langsung menghubungi dokter pribadi mereka yang ada di London.   Steve sudah menggelapkan kedua matanya saat melihat wajah pucat putrinya. Entah terbuat dari apa hati Steve itu.   Shasha mencoba menahan tangisnya. Walau Steve bisa mendengar suara nafas istrinya yang begitu cepat.   Dokter datang dan langsung memeriksa Fanie. Tidak ada pembicaraan selama Fanie di periksa. Dokter hanya menjelaskan sedikit dan memberikan resep obat untuk Fanie.   Shasha menemani putrinya dan Steve mengantar dokter keluar dari dalam kamar.   Steve meminta anak buahnya untuk membelikan obat dan meminta mereka untuk berjaga dengan ketat.   Tristan baru saja tiba di bandara. Ia langsung menuju hotel yang sudah ia sewa selama berada di sana.   Tristan melihat ponselnya. Ia ingin sekali menghubungi Fanie. Tapi ia lupa jika ponsel Fanie di sita.   Tristan memasukkan ponselnya lagi. Ia memilih untuk ke hotel lebih dulu. Besok ia akan melihat situasi di rumah Fanie.   Bagaimana jika Tristan tahu apa yang dilakukan Fanie. Apa ia akan kecewa? Atau ia akan nekat untuk menerobos masuk ke dalam rumah Fanie?   Esok hari.   Fanie mulai membuka kedua matanya. Ia melihat atap-atap langit yang ada di dalam kamarnya.   “Sudah bangun? Hal bodoh apa lagi yang akan kamu lakukan setelah ini?” ucap Steve tanpa melihat putrinya. Pandangannya tertuju ke arah luar jendela kamar.   Fanie kaget. Ia merasa tubuhnya sangat panas dan menggigil. Fanie mencoba mengingat apa yang ia lakukan tadi malam. Padahal ia hanya berniat mendinginkan otaknya yang terasa panas sekali. Tapi Fanie tidak menyangka akan berakhir seperti ini.   “Jika kamu lakukan hal bodoh seperti ini. Papa tidak akan segan-segan memberikan kamu pengasuh di dalam kamar ini. Dan jangan coba-coba berani keluar rumah tanpa pengawasan! Sekalinya kamu mencoba melarikan diri. Papa tidak akan segan untuk mencoret nama kamu dari kartu keluarga. Papa masih bisa membesarkan cucu Papa tanpa pria itu!”   Fanie mencoba untuk bangun. Ia memberanikan diri untuk mendekati papanya.   “Apa yang membuat Papa membatalkan pertunangan ini?” tanya Fanie dengan nada yang begitu lirih.   Steve masih diam. Lalu ia menghembuskan nafasnya panjang.   “Apa kamu sudah siap mendengarkan fakta nyatanya?”   Fanie ragu, tapi ia harus tahu. Mungkin ini alasan yang membuat papanya bersih keras membatalkan pertunangan ini.   Steve melihat wajah putrinya yang pucat. Sorot matanya sangat tajam dan serius.   “Ayahnya Tristan …, dia pernah berusaha untuk membunuh Papa. Apa kamu ingat saat Papa kecelakaan dulu? Papa koma dan Mama kamu mengurus semua ini sendirian? Pelakunya adalah ayahnya Tristan. Jacob Corner,” ucap Steve sambil mencoba membuka luka lama yang sudah ia lupakan. Dan mungkin ini adalah saatnya yang tepat agar putrinya mengetahui kenyataannya.   DEG!!!   Jantung Fanie langsung berdegup dengan sangat cepat. Ia tidak menyangka jika kecelakaan dulu itu bukan murni kecelakaan melainkan disengaja. Betapa rapuhnya hati Fanie setelah mendengar ucapan ayahnya.   Fanie memundurkan langkah kakinya. Tiba-tiba ia merasa lemas, pandangannya mulai memudar dan ia langsung terjatuh pingsan.   Dengan gerakan cepat, Steve langsung menarik tangan putrinya hingga tubuhnya ke Tarik ke dalam dekapannya.   Steve langsung menggendong putrinya dan membawanya ke ranjang tidurnya.   Shasha yang baru saja datang ingin mengantar makanan untuk putrinya langsung kaget.   “Steve, apa yang kamu lakukan pada putriku? Kenapa dia bisa jadi seperti ini? steve apa kamu tidak puas sudah membuatnya terluka? Sekarang kamu malah membuat putriku seperti ini!!!” ucap Shasha kesal. Ia benar-benar sangat emosi sekali.   Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD