Steve menarik tangan putrinya setelah ia membatalkan pertunangan ini.
Sedih, kecewa, hancur dan terluka sudah hati Fanie.
Shasha dan yang lainnya pun ikut menyusul. Mereka belum sempat melihat seperti apa rupa dari calon besannya itu.
“Papa kenapa Papa membatalkan pertunangan ini? Papa tahu kan aku sedang mengandung anak Tristan. Kenapa Papa sangat jahat? Kenapa Papa melakukan ini padaku? Apa karena Papa tidak mencintai aku lagi?” ucap Fanie lirih. Ia sudah tak bisa menahan air matanya lagi.
Steve menarik tubuh putrinya sampai akhirnya tubuh Fanie tersungkur ke tanah. Pusat perhatian langsung tertuju pada mereka. Untung saja tidak ada wartawan di sana. Tapi bukti cctv bisa menjadi bahan rebutan para wartawan jika mereka tahu akan hal ini.
Steve menatap tajam putrinya. Dan Fanie jelas merasa takut. Sorot mata papanya begitu tajam. Bukan Papa yang ia kenal. Steve yang ia kenal selama ini selalu memanjakannya, Selalu menyayanginya dengan sepenuh hati. Tidak pernah membentak dan tidak pernah sekadar ini
Tristan ikut berlari mengejar calon tunangannya yang tiba-tiba dibawa pergi.
“Om ...,” ucap Tristan.
Steve menatap tajam ke arah Tristan.
“Pergi kamu dari sini. Kamu tidak layak bersanding dengan putriku. Dan jangan pernah kau mencari putriku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!” ucap Steve dengan nada yang begitu mendominasi.
Steve menarik putrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Dan ini untuk pertama kalinya Shasha melihat suaminya sangat kejam. Ini bukan Steve yang ia kenal.
Shasha melihat Tristan yang diam membeku.
“Tristan maafin suami Tante. Tante akan coba bicara. Ada apa sebenarnya ini?!” ucap Shasha yang langsung masuk ke dalam mobil.
Keadaan di ballroom juga sangat kacau. Para tamu undangan pun jadi membicarakan pertunangan ini.
Walau tidak terlalu banyak yang diundang. Yang namanya bibir pasti tidak bisa diam.
Kedua orang tuanya Tristan keluar. Mereka mencari anak lelakinya.
“Ada apa sebenarnya? Siapa mereka bisa membatalkan pertunangan ini? Apa mereka dari keluarga terpandang? Sehebat apa mereka sebenarnya?” ucap Jacob.
Tristan mengepalkan kedua tangannya. Ia menatap ayahnya dengan penuh tanya.
“Dia keluarga Danner. Orang hebat nomor satu di dunia. Orang yang sangat terpandang. Fanie adalah kekasih Tristan sejak masih di sekolah. Kenapa dia bisa membatalkan ini? Apa Papa pernah menyakiti mereka?” tanya Tristan.
DEG!
Jantung Jacob dan Letysia langsung berdebar. Ia kaget saat mendengar nama sang penguasa. Sang rajanya bisnis adalah calon besannya.
Jacob dan Letysia saling memandang. Tristan menatap ada yang aneh dengan semua ini.
Tanpa bicara lagi. Tristan langsung pergi menyusul ke rumah Fanie. Ia tidak peduli jika harus mati. Yang terpenting ia sudah memperjuangkan cintanya.
Di dalam mobil Fanie terus menangis. Shasha mencoba menenangkan putrinya.
Shasha juga menatap penuh tanya ke arah suaminya.
Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya suaminya seperti ini kalau bukan karena ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Fanie merasa hidupnya telah dipermainkan. Papanya yang dulu sangat mencintainya kini tak peduli sudah.
Fanie tidak menyangka jika di hari spesialnya, ia justru mendapatkan rasa malu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Begitu tiba di rumah. Mereka semua turun dari mobil.
“Bereskan semua pakaian kamu. Kita akan pergi ke London!” perintah Steve yang langsung masuk ke dalam rumah.
Semua yang ada di sana langsung mendekati Fanie. Mereka semua memeluk Fanie.
“Mama akan bicara dengan Papa. Kalian masuk ya,” ucap Shasha.
Ketiga saudara Fanie mencoba mengajak Fanie masuk. Mereka mencoba menenangkan Fanie. Gadis yang biasanya ceria dengan sejuta akal yang ada di otak cerdasnya.
Shasha membuka pintu dengan sedikit membanting.
“Ada apa? Kenapa kamu tega melakukan ini? Steve jelaskan padaku? Kenapa kamu membuat putriku menangis? Bukankah kamu tidak pernah bisa melihat air mata yang mengalir dari mata putri kamu?!”
Steve masih diam. Ia membereskan pakaian yang akan di bawa ke London. Tidak banyak. Hanya saja, ia tidak ingin istrinya terus bertanya-tanya.
“Steve jawab pertanyaan aku dan tatap kedua mata aku,” ucap Shasha yang langsung menghentikan aktivitas suaminya. Shasha sungguh tersulut emosi. Tidak mengerti dengan sikap suaminya yang sedikit berubah belakangan ini.
Steve menatap istrinya. Ia juga sebenarnya tidak ingin seperti ini. Tapi Steve harus melakukannya.
Di kamar Fanie.
“Kak, jangan nangis dong. Kami kan juga di London. Nanti kita bisa sama-sama. Mungkin Papa punya alasan. Yakin saja kalau Papa akan menjelaskan apa yang terjadi,” ucap Shofia – adik Fanie yang paling kecil.
“Fanie ...,” panggil Tristan dari jendela kamar.
Fanie kaget. Ia yang sedang menangis langsung berlari mendekati kekasihnya. Fanie memeluk erat tubuh kekasihnya.
Mereka berdua sama-sama tidak tahu apa yang terjadi. Tristan hanya bisa memberikan ketenangan untuk kekasihnya itu.
“Jangan nangis lagi. Aku di sini,” ucap Tristan lembut. Ia sendiri sebenarnya juga ingin menangis. Hatinya mungkin jauh lebih terluka karena tidak bisa bersama dengan kekasihnya.
“Tristan apa aku bisa hidup tanpa kamu? Bagaimana dengan anak kita? Tristan aku takut, Papa minta aku pergi ke London,” ucapnya lirih.
“London?” ucap Tristan dan Fanie langsung menganggukkan kepalanya.
“Aku akan siapkan tiket untuk pergi ke sana. Kirim alamat kamu di sana,” ucap Tristan dan Fanie mengangguk.
“Tristan cepat pergi. Papa sedang berjalan menuju ke sini,” ucap Shofia yang memantau keadaan di luar kamar.
Tristan mengangguk. “Aku pergi. Kamu jangan menangis lagi. Ingat aku akan perjuangkan cinta kita. Tunggu aku, aku janji akan datang,” ucap Tristan lalu ia mengecup bibir kekasih hati yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Fanie menatap kepergian kekasihnya. Ia kembali menangis.
Fanie menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Hatinya sungguh hancur, benar-benar hancur.
Apa yang harus ia lakukan saat ini? Bagaimana ia bisa menjalani hidup tanpa Tristan.
Steve masuk ke dalam kamar putrinya.
Ia menyita semua akses milik putrinya. Mulai dari ponsel dan kartu kredit atas nama putrinya yang bisa dilacak oleh Tristan nanti.
“Papa tunggu tiga puluh menit. Kalian yang ada di sini boleh ikut dan boleh tidak ikut. Dan kamu Fanie. Lupakan saja pria itu. Papa akan mencarikan pria lain untuk kamu!” ucap Steve tegas.
Fanie memejamkan kedua matanya. Dan buliran kristal kembali membasahi pipi mulusnya.
Fanie merasa hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Apa lebih baik ia mati saja? Dengan begitu semua urusan selesai. Tapi bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungannya? Ia sama sekali tidak berdosa.
Fanie membereskan semua pakaiannya. Ia membawa semua kenangan tentang dirinya dan Tristan.
Fanie sedih. Ia kembali menangis saat melihat foto saat bersama dengan Tristan.
Adik dan kakaknya yang masih di sana terus berusaha menghibur adiknya. Walau mereka tahu ini sangat menyakitkan. Tapi mereka juga tidak ingin melihat Fanie terus menangis.
“Aku akan bicara dengan Tristan. Aku akan memberikan alamat di sana yang bisa ia kunjungi,” ucap Steffan.
“Tapi pasti Papa memiliki sejuta cara untuk menjauhkan aku dengannya,” ucap Fanie.
“Kamu jangan khawatir, Tristan pasti akan memikirkan cara untuk menemui kamu. Dia tidak akan meninggalkan kamu. Percayalah. Kakak sudah mengenalnya sejak lama juga bukan? Dan kakak akan mencari orang yang sudah membuat kamu jadi seperti ini,” ucap Steffan.
Fanie langsung memeluk kakaknya sambil menangis. “Kakaaakkk, maaf. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi adik yang baik. Maafkan aku sudah membuat malu keluarga kita,” ucap Stefanie.
Kedua adik kembarnya pun turut memeluk kakaknya yang sedang bersedih.
Di mobil.
Steve dan Shasha sudah menunggu putri mereka. Shasha memejamkan kedua matanya. Sebagai seorang ibu, jelas ia merasa terluka melihat anak yang dicintainya mengalami kesulitan seperti ini. Di tambah, masa lalu membuatnya tak bisa berkutik.
Stefanie keluar dari rumah. Ia berpamitan dengan kakaknya.
“Kak, maafin aku ya,” ucap Stefanie lalu memeluk kakaknya lagi.
“Semuanya akan baik-baik saja. Ada kami di sini yang akan selalu melindungi dan menyayangi kamu. Apa pun yang terjadi. Kamu harus tetap kuat! Kamu wanita hebat,” ucap Steffan sambil mencoba menahan tangisnya.
Fanie menatap kedua adik kembarnya lalu memeluknya juga.
“Aku akan menyusul besok. Sampai jumpa Kak. Kakak hati-hati ya,” ucap Shofia.
Fanie masuk ke dalam mobil. Wajahnya sudah terlihat sangat buruk, kedua matanya sembab, hidungnya merah. Bagian bawah matanya juga sudah terlihat bengkak.
Fanie masuk ke dalam mobil tanpa melihat kedua orang tua yang ada di bangku belakang. Ia memilih menatap keluar jendela. Melihat kota Jakarta untuk terakhir kalinya. Kota yang penuh dengan kenangan.
Fanie kembali menangis, air matanya mengalir dan ia terus berusaha untuk tidak mengeluarkan suara isak tangis yang tidak mungkin akan di dengar oleh kedua orang tuanya.
Tristan sudah ada di bandara. Ia sedang menunggu kedatangan kekasihnya. Setidaknya ia bisa melihat Fanie dari kejauhan.
Fanie tiba di bandara. Ia menatap sekeliling bandara ini dan matanya langsung tertuju ke salah satu cafe di mana ia sering menghabiskan waktu bersama dengan Tristan.
“Aku ingin membeli minum dulu,” ucap Fanie yang langsung masuk ke dalam cafe.
Steve ingin menyusul putrinya, tapi Shasha menahannya.
“Dia hanya membeli minum, jangan kamu kekang lagi!” ucap Shasha dengan hati yang penuh luka.
Fanie masuk ke dalam dan ia melihat sosok yang dikenalnya. Fanie langsung mendekatinya dan pria yang memakai topi itu langsung mengangkat wajahnya.
Fanie langsung memeluk pria itu. “Tristan …”
Tristan masuk membalas pelukkan kekasihnya. “Aku sudah siapkan tiket. Kamu pergilah, ini aku tadi sengaja membeli minuman kesukaan kamu. Dan aku tidak menyangka kamu akan masuk ke sini.”
“Papa menyita ponsel aku.”
“Hubungi aku via email atau apa saja yang kamu ingat. Ini kartu nama aku, kalau kamu lupa nomor ponsel aku. Pergilah, sebelum mereka curiga. Aku berangkat sekitar tiga puluh menit lagi,” ucap Tristan sambil menangkup kedua pipi Fanie.
Tristan mencium sesaat bibir kekasihnya sebelum perpisahan ini terjadi.
“Pergilah, jangan menangis. Aku akan berusaha memperjuangkan cinta kita dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jaga anak kita, aku percayakan sama kamu. Kamu bisa dan kamu kuat sayang, aku sangat mencintai kamu,” ucap Tristan lalu ia mengecup bibir kekasihnya lagi dan memeluk Fanie dengan erat.
Tristan melepaskan pelukannya. “Pergilah, nanti Papa kamu curiga.”
Fanie mengangguk dan ia mengambil minuman favoritnya. Dengan berat hari, Fanie meninggalkan kekasihnya. Ia merasa sangat takut dan sangat sakit.
Steve yang baru saja ingin masuk menatap putrinya yang ada di hadapannya.
Steve memerhatikan dalam cafe itu, memastikan apa yang ada di kepalanya memang benar-benar tidak ada.
Fanie melewati papanya. Ia berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam bandara.
Fanie menangis, ia tak bisa menghentikan tangis ini. Kenapa hidupnya terlalu rumit dan kenapa perpisahan ini sangat menyakitkan. Akankah cintanya bisa Bersatu dengan Tristan. Pria yang sudah mampu meluluhkan hatinya selama ini.
Dalam diam Fanie terus menelusuri Lorong bandara yang sepi ini. Jalur VIP ia lalui sendirian.
Tristan melihat kedua orang tua Fanie sudah tidak ada. Ia langsung masuk ke dalam bandara. Tristan berjanji akan berusaha memperjuangkan cintanya. Ia akan membawa kekasihnya dengan restu yang sudah diharapkannya selama ini.
“Tunggu aku sayang, tunggu aku akan datang. Aku sudah mendapatkan alamat kamu di sana. Semoga saja papa kamu bisa luluh. Aku akan menjemput kamu sayang, akan aku perjuangkan dengan segala cara,” ucap Tristan di dalam hatinya.
Bersambung