“Mom, aku anter pulang dulu ya. Aku mau ke sekolah sebentar,” ucap Tristan saat ia ingin meninggalkan ballroom untuk acara besok.
“Mau apa ke sekolah? Bukannya sudah tutup?” ucap Letysia – ibunya Tristan.
“Calon mantu Mama ngidam minta ceker mercon yang di sekolah.”
“Mama buatin saja di rumah mau?”
“Aku enggak yakin sih. Tapi kalau mama mau buatin tidak apa-apa. Takut nggak ada juga nanti di sana.”
Letysia mengangguk. “Kalau gitu kita mampir supermarket sebentar. Beli cekernya. Terus kamu ke sekolah cari di sana sambil menunggu masakan mama matang. Gimana?”
“Boleh Mah, makasih ya Mah,” ucap Tristan dan Letysia mengangguk.
Tristan langsung mengantar mamanya lebih dulu dan setelah itu ia langsung menuju sekolah.
Tristan melihat jam di tangannya. “Jam tiga, sudah tutup juga sekolahnya,” ucap Tristan sambil memerhatikan gedung sekolahnya yang sudah sepi.
Tristan menghentikan mobilnya lebih dulu lalu ia turun dari mobil.
Tristan melihat ada security yang berjaga di sekolah.
“Pak mau tanya, bang dul masih jualan ceker mercon nggak ya?” tanya Tristan.
“Bang dul kan sudah lama nggak jualan. Terakhir denger sih dia sakit. Habis itu enggak pernah denger kabarnya lagi gimana-gimananya,” ucap security itu.
“Rumahnya di mana ya? bapak tahu nggak?”
“Di belakang sekolah ini. Masuk gang. Tapi mobil nggak bisa masuk.”
“Antarkan saya Pak ke sana,” ucap Tristan dan security itu menganggukkan kepalanya.
“Iya boleh, mobilnya masukin dulu saja ke sekolah. Sudah lama nggak datang kok malah cari bang dul?”
“Iya istri saya ngidam mau makan ceker mercon buatan bang dul.”
“Istri? Jadi sana Non Fanie?” tanya security dan Tristan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Tristan melihat rumah bang dul yang sepi. Security itu bertanya dengan seseorang jika bang dul sudah tidak tinggal sana.
Tristan nampak kecewa. Dan ia terlihat sangat sedih. Tapi mau gimana lagi kalau sudah tidak ada.
Tristan dan security itu kembali ke sekolah.
Tristan mengeluarkan uang untuk ia berikan ke security itu lalu ia pergi meninggalkan sekolah.
“Terima kasih ya Pak.”
“Iya sama-sama,” ucap security itu sambil melihat kepergian mobil Tristan.
Tristan kembali ke rumah. Lalu ia menemui mamanya yang masih berada di dapur.
“Hai sayang, sudah pulang? Gimana? Ada nggak?” tanya Letysia dan Tristan menggelengkan kepalanya.
Letysia menatap anak lelakinya yang terlihat sangat sedih.
“Jangan sedih, ini sudah matang. Kamu tinggal bawa nanti.”
Tristan mengangguk. “Aku ke kamar dulu Mah, mau mandi terus jalan lagi.”
“Minum ini dulu biar tubuh kamu lebih enak. Kamu belum istirahat dan besok sudah menjadi hari yang kamu tunggu-tunggu.”
Tristan mengangguk dan ia meminum minuman segar yang diberikan oleh mamanya.
Tristan ke kamar. Ia menyiapkan gaun yang akan diberikan oleh kekasihnya. Tristan melihat gaun berwarna merah yang sangat cantik itu. Ia sedang membayangkan jika Fanie memakai gaun itu pasti akan terlihat sangat cantik.
Tristan mandi dan ia bergegas bersiap-siap. Banyak pakaian yang ia keluarkan dari dalam lemari hanya untuk ia gunakan apa ini cocok atau tidak sama sekali.
Tristan akhirnya mengambilnya dengan asal. Ia bergegas menuju rumah kekasihnya sambil membawa gaun dan ceker merconnya.
Tristan berpamitan dengan kedua orang tuanya. Ia langsung masuk ke dalam mobil.
Di rumah Fanie.
“Tristan mana sih? kenapa lama sekali perginya!” ucap Fanie pelan.
Fanie sejak tadi sudah menunggu Tristan datang. Ia merasa bosan karena sejak pulang dari rumah sakit, ia hanya berada di dalam kamar saja.
Tristan datang. Orang yang ia temui pertama kali adalah Steve.
“Om, Fanienya ada?” tanya Tristan sambil mencoba tersenyum dan mengatur nafasnya yang terus berpacu dengan sangat cepat.
“Ada perlu apa? Mau apa kamu ke sini setiap hari?” ucap Steve ketus.
Shasha yang mendengar ada suara yang ia kenal langsung menghampiri suaminya.
“Tristan, ayo masuk. Nanti Tante panggilkan Fanienya,” ucap Shasha.
“Biarkan dia di sini. Fanie sudah tidak sakit bukan?” ucap Steve sambil menatap tajam ke arah Tristan.
“Ta—” ucapan Shasha terpotong saat Tristan sudah berbicara.
“Tidak masalah Tante. Aku juga nggak lama kok,” ucap Tristan sambil tersenyum.
Shasha mengangguk. “Sebentar ya, Tante panggilkan dulu,” ucap Shasha yang langsung masuk ke dalam rumah.
Tristan tersenyum. Ia sadar diri. Biar bagaimana juga, ini ia juga salah karena telah menghamili anak kesayangan calon mertuanya.
Tristan tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar, dan terus berusaha agar calon ayah mertuanya bisa luluh.
Tristan menunggu sambil menatap matahari yang sudah mulai tenggelam.
“Tristan, kenapa kamu tidak masuk ke dalam?” tanya Fanie dan Tristan langsung membalikan tubuhnya. Ia tersenyum sambil melihat kekasihnya.
“Di sini saja. Udaranya enak.”
Fanie memeluk kekasihnya dan Tristan membalas pelukkan itu.
“Ini gaunnya. Nanti coba ya.”
Fanie menganggukkan kepalanya. Dan mengambil paper bag dari calon suaminya.
“Terus mana pesenan aku.”
Tristan terlihat murung. Ia menundukkan kepalanya sambil melihat paper bag yang masih ada di tangannya.
Fanie melihat wajah kekasihnya yang terlihat sedih. “Apa tidak ada?”
Tristan memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.
“Tadi aku ke rumahnya juga. Katanya bang dul sudah enggak jualan lagi dan sudah tidak tinggal di sana juga. Terus ini aku bawain ceker mercon. Tapi bukan buatan bang dul, melainkan buatan Mama,” ucap Tristan ragu.
Tristan bisa melihat betapa kecewanya kekasihnya itu. Tapi ia mengernyit saat melihat Fanie malah tersenyum.
Fanie mengambil paper bag dari tangan Tristan, lalu ia menggenggam tangan kekasihnya dan mengajak Tristan untuk duduk di bangku yang ada di depan rumahnya.
Fanie membukanya. Ia melihat ceker mercon yang menggoda itu.
Fanie tersenyum lalu ia memakannya dengan sangat lahap sekali.
“Apa tidak pedas?”
“Tidak, enak kok. Ini cobain deh,” ucap Fanie sambil memberikan satu potong ceker mercon itu dengan menggunakan tangannya.
Tristan ragu. “Cepat, enak lho.”
Tristan melihatnya sejenak lalu ia memakannya.
“Haaahhh, pedes. Kamu yang benar saja. Kamu kan lagi hamil, masa makan yang pedes seperti ini?!”
“Nggak, ini karena kamu tidak terlalu menyukai pedas. Jadi pedas segini saja, kamu sudah merasakan sangat-sangat pedas sekali.”
Fanie memakannya dengan sangat lahap. Tanpa mereka berdua sadari Steve memerhatikan mereka berdua dari dalam rumah. Steve melihat anak gadisnya yang sedang tertawa bahagia. Tawa yang sering ia lihat dulu kini seolah telah sirna.
“Jika kamu menyayanginya, maka lepaskanlah dia. Cepat atau lambat. Dan terjadi atau tidaknya kejadian ini. Dia tetap akan pergi dari rumah ini. Biar bagaimana juga, aku ingin dia bahagia. Kalau kamu terus-terusan membencinya. Maka dia tidak akan pernah merasa bahagia sama sekali,” ucap Shasha yang langsung berdiri di samping suaminya.
Steve tidak berkomentar, ia juga tidak memberikan ekspresi apa-apa sama sekali. Steve langsung pergi meninggalkan istrinya. Sebagai seorang ayah, jelas ia merasa sedih dan kecewa. Bertahun-tahun ia menjaga putrinya dari para lelaki, kini putri kecilnya sudah tak sama seperti dulu lagi.
Fanie merasa senang sekali karena kekasihnya selalu tahu bagaimana caranya bisa membuat dirinya tersenyum. Dengan aneka ragam cara Tristan lakukan untuk membuat senyum manis itu kembali bersinar di wajah imut sang kekasih.
***
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Fanie sedang di rias secantik mungkin oleh penata rias yang ia panggil datang ke rumah.
Gaun merah yang terbalut di tubuh mungilnya terlihat sangat pas, cantik dan juga sangat seksi.
Fanie suka gaun pilihan kekasihnya itu. Ia tidak menyangka jika ukurannya juga sangat pas di tubuhnya.
Lipstick merah yang melekat di bibir mungilnya juga semakin memperlihatkan aura seksi yang membara.
“Tristan, aku pastikan kamu tidak akan mengedipkan kedua mata kamu nanti,” ucap Fanie di dalam hatinya.
Shasha masuk ke dalam kamar putrinya. Ia tersenyum melihat putrinya sangat cantik sekali.
Shasha tersenyum. “Apa kamu sudah siap?” tanya Shasha.
“Sudah Mah. Aku merasa sangat gugup sekali,” ucap Fanie sambil memegang dadaanya.
Shasha tersenyum sambil memegang kedua bahu putrinya.
“Tidak apa-apa. Hanya sebentar saja juga acaranya. Kamu tidak menggunakan hak tinggi kan? Pakai yang sedikit lebih pendek saja, tidak masalah. Demi kenyamanan kamu.”
“Iya Mah, Fanie hanya pakai yang tingginya tiga senti saja kok.”
“Ok, mau jalan sekarang? Apa Tristan juga sudah siap di sana?”
“Aku tidak tahu Mah. Dia belum menghubungi aku. Sebentar aku hubungi dia dulu.”
“Tidak usah, biarkan saja. Kita juga akan bertemu di sana,” ucap Shasha dan Fanie menganggukkan kepalanya.
Fanie dan Shasha langsung keluar dari dalam kamar.
Steve sudah menunggu di mobil lebih dulu.
Shasha langsung menuju mobil. Ia melihat suaminya yang masih diam seribu Bahasa.
Fanie dan ayahnya terlihat sangat canggung. Shasha yang menggenggam anak perempuannya lantas tersenyum sambil mengusap punggung tangan anak perempuannya.
Sesampainya di hotel. Stefanie dan kedua orang tuanya langsung menuju ballroom di mana acara diadakan.
Fanie kaget karena kakak kesayangannya datang bersama istrinya. Mereka saling menyapa. Dan yang lebih mengejutkannya lagi. Kedua adik kembarnya juga hadir di sana.
Ya, Fanie itu empat bersaudara. Dia anak nomor dua dan kedua adiknya kembar.
Sudah lama tak jumpa membuat Fanie sangat bahagia. Mereka saling memeluk, saling melapas rindu dan saling melemparkan senyuman.
Steve san Shasha menyapa tamu mereka. Mereka sedang menunggu pihak laki-laki datang.
“Kenapa lama sekali? biasanya juga pihak wanita yang datang belakangan. Kenapa dia yang seenak jidadnya saja!” ucap Steve kesal dan istrinya bisa mendengarnya dengan jelas.
“Sabar sayang, kenapa kamu semakin tua jadi semakin lebih sering emosi hmmm?” ucap Shasha sambil melemparkan senyuman ke orang-orang yang menyapa mereka.
“Aku tidak akan pernah sabar. Emosi juga ada batasnya!” ucap Steve lalu ia menatap istrinya. Istri yang paling dicintainya.
“Aku mengerti,” ucap Shasha.
Tak lama. Semua tatapan para tamu undangan tertuju ke arah pintu samping di mana Tristan dan keluarganya datang.
Steve yang mendengar sedikit kericuhan langsung membalikkan tubuhnya.
Ia menatap calon besannya lalu berteriak. “Pertunangan ini dibatalkan!”
DEG!
Bersambung