Kamu Mau Apa?

1992 Words
Shasha mencari keberadaan anak perempuannya. Ia melihat anak gadisnya yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu sambil tersenyum teduh.   Shasha mendekati putrinya sambil membawakan jus strawberi yang menjadi minuman favorit mereka berdua.   “Jus sayang,” ucap Shasha, membuat Fanie membuyarkan lamunannya.   Shasha duduk di samping anaknya. Ia mengikuti cara duduk anaknya dengan memasukkan kedua kakinya ke dalam air.   “Terima kasih Ma.”   “Jadi, sebenarnya bagaimana semua ini bisa terjadi?”   Fanie menatap mamanya yang memang dengan sengaja tidak ingin melihat wajah putrinya. Shasha melakukan ini semua karena ia merasa tak mampu menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya.   Fanie memejamkan kedua matanya sejenak. Ia meyakinkan hatinya dalam-dalam. Dan mungkin memang ini waktunya untuk dia menceritakan semuanya ke mamanya. Orang yang selalu menjadi teman curhat untuknya.   Jadi saat itu …   Flasback on.   Dulu Fanie dan Tristan masih sering berkomunikasi. Mereka masih melanjutkan kisah cinta mereka yang sudah terjalin sejak masa sekolah.   Long distance tidak membuat keduanya mempermasalahkan hubungan mereka yang masih terus terjalin.   Jakarta - Jepangg atau kadang Jakarta – Singapura menjadi jarak antara Stefanie dan Tristan.   Kebetulan saat itu mereka berdua berjumpa di Jakarta. Teman-teman sekolah mereka mengadakan reuni. Saat itu yang kebetulan mereka berdua sedang berada di Jakarta pun akhirnya memutuskan untuk hadir.   Tristan memang sudah kenal dengan kedua orang tua kekasihnya. Hanya saja memang Papa Steve sedikit dingin jika putri kesayangannya didekati oleh seorang pria yang memang belum waktunya mereka memiliki sebuah hubungan.   Tristan datang ke rumah untuk menjemput kekasihnya.   “Papa tidak setuju kamu menghadiri acara reuni seperti ini!” ucap Steve.   “Sayang, mereka kan tidak pernah mengikuti acara ini. Biarkan saja anak kamu bertemu dengan teman-teman sekolahnya,” ucap Shasha membela putrinya.   “Tapi ini sudah mau malam. Rentan baginya pergi malam-malam. Dia seorang anak perempuan. Dia bukan Steffan yang bisa dengan bebas pergi di malam hari!” ucap Steve dengan nada marah.   Fanie terlihat menangis. Ia ingin sekali pergi. Apa lagi Tristan sudah menjemputnya. Pria itu mendengar perdebatan keluarga kekasihnya dari balik dinding di dekat pintu masuk rumah mereka.   Steffan – kakak Stefanie keluar dari kamarnya. Kebetulan dia sedang berkunjung ke sini karena ada barang yang sedang ingin diambilnya.    “Ada apa? Kenapa nangis?” tanta Steffan.   “Ini Papa kamu tidak izinkan adik kamu pergi,” ucap Shasha sambil duduk dengan kesal. Di dalam hatinya terus merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya saat ini suaminya membentaknya, memarahinya hanya karena anak kesayangannya. Padahal sebelumnya sama sekali tidak pernah membentak istrinya sama sekali.   “Tidak apa-apa Pah, hanya sebentar. Perginya sama siapa? Ada Tristan nggak?” tanya Steffan dan Fanie mengangguk.   “Sama Tristan, nggak apa-apa Pah, aku kenal baik kok sama dia,” ucap Steffan.   “Pria itu laki-laki, mau jalan dengan putriku?” ucap Steve angkuh.   “Pria memang laki-laki Pah. Sudah sana pergi, hapus air mata kamu. Jangan menangis, kamu terlihat jelek sekali. Bahkan mirip seperti monyett!” goda Steffan.   Fanie tertawa. “Kakak, jahat banget sih. Masa aku dibilang monyett!” ucap Fanie manja yang langsung memeluk kakaknya.   Ya, Fanie dan kakak laki-lakinya ini memang sangat dekat. Bahkan di saat mereka jalan bersama, mereka berdua justru disangka sepasang kekasih. Padahal bukan.   Fanie melirik papanya yang masih diam saja. “Pergilah, tidak lewat dari jam dua belas malam,” ucap Steve tanpa melihat anaknya dan ia pergi meninggalkan ruang keluarga.   Shasha san Steffan langsung tersenyum senang. Fanie bergegas meninggalkan rumah dan mendapati kekasihnya yang sudah berdiri menunggunya di samping mobilnya.   “Hei, maaf lama,” ucap Fanie yang merasa tidak enak karena sudah membiarkan Tristan menunggu lama.   Tristan dan Fanie menuju lokasi di mana acara reuni diadakan.   Sebuah ballroom yang mereka sewa untuk acara reuni ini dibuat semeriah mungkin. Dan di dalam sana terlihat agak sedikit gelap dan terdengar alunan musik DJ dari dalam sana.   “Mereka buat seperti club malam saja!”   “Dari pada ke club malam ya lebih baik di sini lebih aman!”   “Iya juga sih,” ucap Steffanie yang langsung masuk dengan kekasihnya.   Mereka semua saling menyapa, berbincang sambil berteriak karena musiknya yang sangat keras membuat mereka agak sulit berkomunikasi.   Salah satu teman Fanie memberikan sebuah minuman wine. Mereka yang ada di sana hanya meminum wine, tidak ada minuman beralkohol yang kadar alkoholnya lebih tinggi dari wine ini kecuali bir.   “Kesukaan loe nih,” ucap wanita yang pernah dekat dengan Fanie dulu saat di sekolah.   Fanie pun meminumnya. Ia tidak tahu kalau teman-temannya sedang mengerjainya.   Dan Tristan juga sempat menenggak wine dan juga ia sempat meminum dua gelas bir dengan ukuran gelas yang cukup besar. Sudah lama Tristan tidak meminum minuman seperti ini.   Tiga puluh menit kemudian.   Fanie merasa tidak enak, ia merasa tubuhnya panas dan gatal-gatal.   “Tristan ayo pulang sekarang.”   Tristan yang setengah mabuk akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak ingin celaka di perjalanan nanti.   “Kamu kenapa?” tanya Tristan saat melihat Fanie ingin membuka bajunya.   “Panas, aku panas,” ucap Fanie sambil mencoba membuka gaun yang dikenakannya.   “Jangan di sini. Banyak orang.”   Fanie yang setengah sadar langsung memesan hotel yang kebetulan menjadi satu dengan ballroom ini.   “Kamu mau apa?”   “Mandi, aku panas. Tubuhku juga tidak enak. Rasanya ingin disentuh. Tristan sentuh aku. Cepat!” ucap Fanie dan Tristan mencoba membuyarkan lamunannya. Ia menutupi tubuh kekasihnya yang sudah setengah terbuka itu dengan jas casual yang dikenakannya.   Tristan ingin mengajak Fanie pulang tapi Fanie tidak mau, ia tetap kekeh ingin mandi dulu karena panas dan rasa panasnya berubah jadi rasa hasrat yang begitu membara.   Fanie malah mencium rakus bibir kekasihnya saat mereka berada di dalam lift. Hilang kendali sudah saat seorang pria mendapatkan sebuah rangsangan yang hebat.   Begitu masuk ke kamar hotel. Fanie mendorong kekasihnya ke atas ranjang.   “Sayang jangan, cepat pakai baju kamu,” ucap Tristan yang coba menahan dirinya.   “Apa kamu tidak menginginkan aku? apa kamu tidak mencintai aku?” tanya Fanie yang langsung membungkam bibir kekasihnya dan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan pun terjadi.    Tristan yang sudah berusaha menahannya dan berusaha untuk mencoba mengingatkan kekasihnya pun tak kuasa. Ia juga laki-laki normal dan tentu saja ia juga sangat menginginkan sentuhan ini hanya dengan Stefanie. Sudah lama ia mencoba menahannya, sebisa mungkin ia ingin melakukannya setelah menikah nanti. Tapi apa yang bisa mereka lakukan, malam ini sangat indah dan tidak mungkin mereka melewatinya begitu saja.   Keesokannya.   Fanie terbangun dengan tubuh yang sangat sakit. Ia memegang keningnya yang terasa sakit. Fanie kaget melihat kekasihnya yang ada di sampingnya sambil bertelanjaang dadaa. Fanie membuka selimutnya.   Fanie berteriak saat melihat tubuh polosnya dan ia juga melihat ada bercak darah di atas ranjang tidur.   “Aaaaaa …,” teriak Fanie.   Tristan kaget, ia langsung terbangun dan melihat tubuh kekasihnya yang terlihat dengan jelas.   Tristan juga melihat ada darah di atas ranjang tidur mereka.   Fanie yang sadar langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.   Tubuh Tristan semakin terlihat dengan jelas. Fanie semakin menangis histeris kala ia menyadari area kewanitaannyaa itu terasa perih.   Tristan langsung memeluk kekasihnya. “Maaf, maafkan aku. tadi malam aku sudah berusaha menahannya. Tapi …”   “Bagaimana ini? papa pasti akan menghukum aku! Tristan aku takut. Aku harus apa?”   “Aku akan selalu ada di sisi kamu. Kamu jangan cemas.”   Tristan mencoba memeluk kekasihnya. Ia mencoba menenangkannya sampai akhirnya mereka berdua sama-sama tenang.   Flashback off.   “Dan setelah itu, Tristan kembali ke Singapura karena dia harus urus pekerjaan di sana. Lalu saat aku tahu belakangan ini merasa tidak enak, aku coba membeli alat tes kehamilan lalu aku meminta bertemu dan dia datang.”   Fanie menangis. Ia mencoba menahannya sejak tadi tapi sama sekali tidak bisa, air matanya terus mengalir.   Shasha memeluk putrinya. “Ini bukan salah kamu. Tapi ini murni dari minuman yang sudah kamu minum itu. Pasti teman kamu sudah mencampur sesuatu di dalamnya.”   “Aku juga memikirkan hal yang sama. Kalau saja aku menyadarinya saat itu, mungkin aku akan mengecek gelas dan sisa minumannya. Tapi sayangnya semua sudah berlalu. Maafin Panpan Mama. Panpan sudah mengecewakan Mama.”   “Kamu tidak salah, anak Mama sudah tumbuh besar. Mama sangat senang karena kamu sudah semakin dewasa.”   “Ok, sudah jangan menangis lagi. Sekarang kamu mandi. Kita ke rumah sakit ya.”   “Tapi aku takut Ma.”   “Mama akan menemani kamu. Cepat mandi, Mama akan hubungi rumah sakit dulu biar tidak mengantri.”   Fanie menurut dan mereka berdua langsung bersiap menuju rumah sakit.   Di rumah sakit.   Fanie sudah berada di ruang dokter. Ia sedang melakukan pemeriksaan.   Hasil USG menunjukkan jika usia kandungan Fanie sudah berjalan enam minggu.   Fanie mencoba menahan tangisnya. Tidak mungkin ia menangis di hadapan dokter wanita ini.   Fanie tidak mengerti dengan perasaannya yang hancur. Ia tidak mungkin menyakiti anak ini juga. Ini semuanya salah dirinya. Seandainya ia mendengarkan ucapan papanya malam itu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Dan hubungannya dengan papanya juga tidak akan serenggang ini.   Usai memeriksakan kondisi janin yang ada di dalam kandungannya. Shasha mengajak putrinya ke sebuah toko ice cream favorit mereka berdua.   Shasha tahu kalau wanita hamil pasti akan sangat menyukai makanan yang manis dan dingin seperti ini.   Kondisi Fanie jauh lebih baik setelah mendapatkan perhatian dari sang Mama.   Ponsel Fanie bergetar. Ia melihat kekasihnya mengirimkan pesan kepadanya. Ia pun membuka dan membacanya.   [Lagi apa? Nanti aku ke rumah. Kamu mau dibawakan apa?”]   [Baru pulang dari rumah sakit. Mama ajak periksa. Sekarang lagi makan ice cream di toko ice cream kemarin.] balas Fanie.   [Enaknya. Pasti anak daddy senang tuh makan ice cream.] balas Tristan.   Fanie tersenyum. [Sangat enak Dad.] balas Fanie.   [Ok, nanti kabarin ya mau dibawain apaan. Aku mau jalan lagi sama Mama.] balas Tristan lalu ia juga mengirim foto jika sedang berdua dengan mamanya.   Fanie tersenyum. Ia percaya jika calon suaminya itu sangat setia.   Fanie pulang bersama dengan mamanya. Dan sesampainya di rumah. Ia melihat papanya yang sedang duduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.   “Kamu masuk kamar ya. Biar Mama temani Papa,” ucap Shasha pelan dan Fanie mengangguk.   Fanie menuju kamarnya. Ia langsung menidurkan tubuhnya di atas ranjang tidur.   Fanie menatap langit-langit. Ia sedang membayangkan bagaimana acara pertunangan besok. Apa yang harus ia lakukan di depan kedua orang tua Tristan. Mereka bahkan belum pernah bertemu sama sekali.   Fanie tersenyum. Mungkin ini memang sudah menjadi garis takdirnya. Ia harus tetap bersyukur. Mungkin dengan cara seperti ini yang membuat jarak di antara mereka menjadi semakin dekat dan lebih dekat lagi.   Fanie langsung mengeluarkan ponselnya. Ia akan mencoba menghubungi kekasihnya. Entah kenapa ia merasa rindu mendengar suara kekasihnya itu.   On phone call.   Fanie – Tristan.   “Ya sayang, ada apa?”   “Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menelepon kamu saja.”   “Sudah rindu ya? sabar ya, aku lagi di gedung buat acara besok. Aku akan bawakan gaun untuk kamu. Tadi aku sudah membelinya sama Mama. Pasti kamu sangat menyukainya.”   “Benarkah? Terima kasih sayang. Kamu manis sekali.”   “Hmmm, apa kamu baru tahu kalau aku manis?”   “Iya, biasanya jarak selalu memisahkan kita dan kini kita tidak akan terpisahkan lagi.”   “Kamu benar. Jadi mau dibawakan apa?”   “Aku ingin makan ceker mercoon saja.”   “Makanan itu tidak pernah berubah dari masa sekolah.”   “Enak tahu, tapi kamu harus beli yang di sekolah ya. Aku nggak mau kalau di tempat lain!”   Tristan tertawa. “Kamu yang benar saja. Memangnya abang yang jualan masih ada? Sudah lama sekali.”   “Nggak tahu, pokoknya cari saja. Kalau enggak dapat, kamu taruh saja gaunnya di pintu!”   “Ngambek nih yeee. Ya sudah aku lihat. Mana sempat juga, pasti sudah tutup. Kamu benar-benar mau ngerjain aku ya?”   “Enggak, ini anak kamu yang minta. Pokoknya harus dapat ok, bye,” ucap Fanie yang langsung mematikan sambungan teleponnya.   GLEK!!!   Trisrtan menatap layar teleponnya. “Kalau sudah seperti ini, kamu bisa apa Tristan,” ucap Tristan pelan. Ia tahu bagaimana sikap kekasihnya yang super manja itu. Kalau tidak terpenuhi maka wanita yang dicintainya itu akan merajuk tujuh hari tujuh malam. Tristan tidak mau itu terjadi. Rasanya akan terasa sangat hampa sekali.   Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD