SEPULUH : RUANG TENGAH JAEGAR

1350 Words
Baru saja menutup pintu utama. Manik kelam Keelan menatap ruang tengah kediamannya yang nampak ramai. Di sana ada Nazeera dan Issac, ayah ibu Kaiser. Dan juga Saras dan Kasaga, ayah ibu Levi, serta kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Kaiser dan Levi yang sudah rapi disana. "Baru pulang, Lan?" tanya Kaleesha. Anggukan kepala Keelan berikan sebagai jawaban. "Yaudah, mandi dulu, habis itu turun, Mama mau tanya sesuatu." Keelan mengecup pelipis Kaleesha. "Buat Mama, " sambungnya sambil memberikan bunga yang ia beli tadi. “Dalam rangka apa?” Kaleesha jelas menanyakan hal itu, karena Keelan memang jarang sekali membeli hal-hal seperti ini, Keelan adalah duplikat Jaegar yang lebih memilih untuk mengantarkan Kaleesha jika menginginkan sesuatu atau memberi uang. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Jaegar Tunggal itu menyelesaikan acara mandinya dan kembali menemui mereka seperti permintaan Kaleesha. "Jadi, Papa mau tanya soal kejadian tempo hari, Sastra." Ucap Jaegar. To the point, itu yang menurun pada Keelan. Jaegar sudah melihat rekaman CCTV yang berada pada setiap penjuru Cakrawala, rekaman rusak itu membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Hanya saja, Jaegar juga ingin mengetahui jelas alasan yang putranya lakukan. "Itu kamu? Kenapa bersama Rakala? Benar namanya Rakala, 'kan? Kaiser bilang namanya Rakala." Ucap Jaegar lagi. "Iya." "Kenapa gak kasih tau?" kali ini Levi yang angkat suara. Rahang laki-laki itu mengeras marah. Ia tidak suka jika Keelan selalu menghadapi apapun sendirian. Bukan satu atau dua kali Keelan bertingkah seperti ini, membuat orang kesal, hanya saja Keelan selalu melakukan itu walaupun jelas dia tau resiko yang akan ia terima. "Sengaja." Jawab Keelan. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada sofa single yang ia duduki. "Tadinya emang gak mau bilang siapapun, taunya kecium juga ya." Butuh waktu 3 minggu bagi Nazeera untuk menemukan ini semua. Keelan benar-benar Kaleesha kedua, permainan laki-laki itu benar-benar rapi sehingga Nazeera cukup kesulitan untuk menemukan titik terang. “Kenapa ditutupi?” "Harusnya dihabisi?" "Jangan gila, Keelan." Sanggah Kasaga. Respon itu membuat Keelan tertawa sejenak, "Bercanda. Jangan serius gitu dong." "Lo tuh ya, anak orang pakai penyangga leher gara-gara lo." Ucapan kesal Kaiser itu membuat Keelan mengeluarkan mimik wajah yang menyebalkan. Terlihat dengan jelas bahwa dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya, seolah itu bukan masalah besar. "Gak sengaja itu." "Gak sengaja gimana?" tanya Issac. Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. "Gak sengaja lewat area itu, terus lihat ada yang lagi tawuran." "Dan kamu tertarik untuk nyamperin?" tebak Kaleesha. Keelan tertawa dan mengangguk, "Seru, Ma. Jadi penasaran siapa. Ternyata Rakala.” "Who's her?" tanya Jaegar. "Siswi pindahan SMANDA 6 bulan lalu. Perempuan yang menyandang 12 kasus kekerasan. Hampir gak ada satu sekolah pun yang mau nerima dia begitu di drop out." Jelas Nazeera. Wanita berambut pirang itu menatap satu persatu orang yang ada di ruangan ini. "Mereka semua takut akreditasi sekolah mereka menurun begitu mereka menerima Rakala." "Dia Ketua OSIS Cakrawala sekarang, 'kan?" tanya Kasaga. "Rakala cukup ngasih gebrakan luar biasa. Dengan 3 bulan dia bisa membersihkan namanya bahkan baru kemarin dia kembali terlibat masalah." Jawab Nazeera lagi. "Dia mentor Keelan selama turnamen bukan?" tanya Saras. "Iya, Bun. Rakala mentor Elan, " jawab Levi. "Jadi gimana soal turnamen kamu?" Keelan menatap sang mama dengan lekat, "Pasti menang, gak perlu khawatir." "Rakala mentor yang tepat ya?" Keelan memberikan senyuman simpul atas pertanyaan sang papa. Jaegar jelas yakin atas kemampuan putranya. Jaegar dan Kaleesha adalah dua orang yang mempunyai masa jaya pada masanya. Semua orang tau siapa Jaegar Sankara dan juga Kaleesha Arkhava Biantara. Dua orang dengan latar belakang bengis yang hampir membuat satu kota ketakutan. Dan hal itu kini diteruskan oleh putranya, hanya saja Keelan sama sekali tidak pernah dan tidak mau menunggangi nama kedua orang tuanya. Keelan selalu membuat orang mengenal dirinya karena itu Keelan Jaegar sendiri. “Terus kenapa tiba-tiba minta Keelan maju sebagai perwakilan, Lee? Apa itu gak beresiko?” Kaleesha melirik kakak sulungnya. “Gak ada gunanya juga ditutupin, Bang. Mereka semua udah tau siapa Keelan dengan segala julukan yang dia punya.” “Bukan dengan begini, mereka semakin bisa melihat bahwa Cakrawala memiliki banyak unggulan?” “Kenapa gak langsung pakai Rakala yang lebih jelas bekas murid SMANDA?” tanya Saras. “Memakai SMANDA untuk melawan SMANDA, bukan pilihan yang tepat.” “Bukan pilihan yang tepat bagaimana?” tanya Kasaga lagi. “Banyak orang yang menganggap kita licik dengan menggunakan Rakala sebagai perwakilan. Pasti akan ada yang punya pemikiran seperti itu. Kita gunakan Keelan dengan otak serangan Rakala bukannya itu pilihan yang jauh lebih aman?” “Tapi, anakmu bisa jadi umpan untuk mereka lebih banyak bergerak, Lee.” Sahut Issac. Issac sebagai wali Keelan jika Kaleesha dan Jaegar tidak ada ditempat tau Sastra dan apa yang diperbuat laki-laki itu, mengingat Kaiser adalah anak yang selalu bercerita tentang apa yang ia atau teman-temannya alami. "Sastra gak akan berani bergerak lebih dari ini, semua tradisi tahunan yang Sastra lakuin cuma gertakan biasa. Hal itu cuma mereka lakuin karena mau validasi orang-orang kalau mereka ditakuti." Ucap Keelan pada Issac. "Tapi tahun Sastra yang lebih banyak makan korban, Lan." Sanggah Levi. Kaiser menatap Keelan yang sepertinya memikirkan sesuatu. Keelan bisa menjadi sangat tenang bahkan lebih tenang daripada Levi. Namun bahaya yang Keelan berikan tidak bisa dibendung oleh siapapun. Menahan amarah Keelan bukan suatu hal yang mudah. "Sastra gak akan berani bergerak lebih dari ini." Ulang Keelan. Ucapan itu benar-benar lugas, tidak ada keraguan disana. Bahkan dari sorot mata laki-laki itu sudah tergambar jelas. Keelan bisa memastikan Cakrawala akan tetap aman dalam naungannya. Jaegar Tunggal itu adalah orang yang akan selalu berada di garda depan untuk Cakrawala ataupun Kaustra. Cakrawala adalah wilayah kekuasaan Keelan Jaegar, bersama dengan Kaustra. Terlebih, Kaustra siap bertarung kapanpun dan pada siapapun untuk Cakrawala. 4 sekawan itu sudah tau posisi dan apa yang perlu dilakukan. “Gue tau lo anak yang bisa berantem. Tapi apa alasan lo, Lan? Sastra pasti akan balas kekalahan beberapa waktu lalu, terlebih hampir sebagian pasukan dia habis." Ucap Kaiser. "Dan karena Rakala ada sama lo waktu itu, bisa jadi Rakala yang akan jadi umpan untuk pancing lo keluar.” "Jadi kata kuncinya Sastra?" tanya Kaleesha. "Menghabisi Sastra bukan sebuah penyelesaian, Alee. Jangan bertindak gegabah. Kita pikirkan cara mengatasi ini tanpa harus melibatkan pertarungan." Cegah Kasaga. Persis seperti Levi, naif. "Mereka datang untuk bertarung Om." Kasaga menatap duplikat Jaegar dengan tingkah Kaleesha itu. "Kalau terus begitu, gak akan ada ujungnya Elan. Yang ada balas dendam itu terus berkelanjutan." "Kalau sakit hati dibalas kata maaf, gak adil Om." Kali ini Kaiser ikut menimpali. "Tradisi tahunan itu untuk apa?" tanya Saras. "Itu tawuran." Jawab Levi. "Tradisi tahunan hanya sebuah kata untuk menyebut tawuran yang selalu dilakukan SMANDA. Dan yang mereka lakukan, selalu mengincar orang-orang yang berpotensi mampu menghancurkan SMANDA." "Hal itu sudah terjadi sejak kapan, Lev?" tanya Jaegar. "Gak ada yang tau Om. Bahkan awal permasalahannya juga gak jelas. Gak ada satupun yang tau siapa dan awalnya seperti apa. Keduanya sama-sama mau terlihat benar, Cakrawala bilang SMANDA duluan, begitu juga sebaliknya." "Hal itu sudah terjadi sejak 5 tahun terakhir dan 2 tahun ini, tahun-tahun paling kacau. 2 tahun ini, Sastra sebagai kepala serangan." "Jadi, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Issac. Kasaga menoleh, melirik suami Nazeera yang dengan mudah mengatakan hal itu. Sedangkan Kasaga disini sedang berusaha untuk membendung amarah anak-anaknya. “Benar kata Alee, Gar. Gak ada gunanya ditahan. Kita juga pernah muda dan yang gue tangkap, apa yang dilakukan Keelan dan yang lain semata-mata hanya untuk melindungi apa yang mereka perlu lindungi.” Seperti biasa, Issac akan berdiri dibelakang Kaustra. Mendukung penuh apa yang Keelan dan teman-temannya lakukan. Meskipun satu dunia menentang itu, Issac Sadega, orang yang akan selalu berpihak pada Kaustra. Keelan tersenyum tipis. “Aku akan menghindar.” Semua mata melihatnya, memberikan atensi penuh. “Seperti permintaan Levi dan om Kasa. Aku tidak akan terlibat apapun, tapi aku tidak akan menahan diri. Aku akan menganggap masalah kemarin sudah selesai. Tapi, jika Sastra emang masih belum puas dan melakukan hal yang sama, aku yang akan membersihkannya.” Manik kelam Keelan terlihat serius. Ucapan laki-laki itu paten. Dan hal itu tidak bisa untuk diubah. Satu hal yang bisa dilakukan adalah Kaustra, terutama Kaiser yang akan bergerak lebih dahulu sebelum Eksekutor Penyerang Kaustra yang akan menghabisi seluruhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD