“Emang ya kehebatan Eksekutor Penyerang Kaustra gak bisa dianggap remeh.” Seperti biasa, Rakala akan memberikan sebotol air mineral sebagai penutup setiap mereka selesai berlatih seperti hari ini.
Melatih Keelan tidak begitu sulit seperti bayangan Rakala. Keelan anak yang mudah untuk menyerap suatu hal baru yang ia lihat, bahkan dalam beberapa waktu saja Keelan mampu membuat gerakan yang Rakala berikan dengan sedikit variasi baru. Bahkan Keelan juga mampu membuat Rakala cukup kesulitan dalam mengimbangi dirinya.
“Habis ini mau ke mana?”
Rakala memasukan kedua tangannya pada saku celananya. “Pulang, tapi gue mau mampir dulu.”
“Ke mana?”
“Bunda, gue gak ada kegiatan. Jadi rencana mau mampir setelah makan.”
“Mau makan apa?”
“Rencana sih ramen. Ada toko yang baru buka, kelihatannya enak karena ya ramai. Jadi gue pikir gue juga perlu cobain.” Keelan kembali mengangguk-angguk sebagai jawaban. “Kenapa, Kee? Mau ikut juga?”
Tawaran meluncur begitu saja dari bibir Rakala. Perempuan itu berucap tanpa sadar.
“Boleh, gue juga lapar.”
Benar saja, tempat makan yang Rakala maksud benar-benar ramai. Bahkan keduanya nyaris tidak mendapatkan kursi. Hanya saja para pramusaji itu melihat dua anak orang terpenting di kota langsung mencarikan tempat, bahkan keduanya mendapatkan tempat yang cukup mewah.
“Ada untungnya juga ya punya orang tua yang dikenal banyak orang.” Ucap Rakala lagi.
Keelan tidak banyak bicara. Laki-laki itu hanya menanggapi beberapa obrolan Rakala hingga pesanan keduanya tiba. Seperti perempuan pada umumnya, Rakala akan memfoto makanan itu terlebih dahulu sebelum menyantapnya. Hanya saja yang membuat Keelan sedikit takjub, Rakala tidak memposting hasil bidikannya tadi.
“Gue cuma ngefoto aja buat koleksi pribadi. Biar gue ingat gue pernah makan apa aja selama hidup gue.” Jelas Rakala.
Selain memfoto makanan sebelum dimakan, kepala Rakala ikut bergoyang-goyang kecil begitu merasakan rasa ramen itu.
“Rakala.” Yang terpanggil menoleh. “Kenapa lo mau jadi mentor gue?”
Rakala meletakan kedua sumpitnya. “Kita latihan udah hampir 1 bulan bahkan turnamen udah di depan mata dan lo baru tanya itu sekarang?”
“Jawab aja.”
“Apa ya, Kee. Gue gak punya alasan khusus, cuma selama gue menjabat sebagai Ketua OSIS, cuma lo orang yang gak bisa gue urus. Lo selalu keluar dari jalur yang udah gue buat, keluhan demi keluhan udah sering gue dengar tentang lo. Selain karena gue bekasan SMANDA dan dengan gue setuju maju sebagai mentor turnamen, gue bisa bawa kemenangan lagi untuk Cakrawala.”
“Alasan lainnya, karena gue mau, ditahun gue, gue melakukan semua tanggung jawab gue dengan baik. Gue mau pastiin kalau ditahun gue, gak akan ada yang bisa ngulang lagi. Dengan gue bisa nanganin lo, secara tidak langsung, gue maupun seluruh OSIS merasa berhasil karena ngebuat anak nakal Cakrawala kembali masuk jalur yang udah dibuat.”
Keelan cukup takjub mendengar jawaban jujur Rakala. Memang benar, hanya Keelan satu-satunya orang yang terus mencari masalah disetiap harinya. Jika saja Keelan bukan anak pemilik sekolah dan juga kecerdasan Keelan masih dibutuhkan, mungkin para petinggi itu akan meluluskan Keelan dengan cepat supaya mereka tidak perlu menghadapi Keelan Jaegar itu.
“Lo kenapa sih Kee cari masalah terus? Kesepian? Atau apa?”
“Kenapa punya pemikiran begitu?”
“Ya, gue nebak aja sih. Orang itu macam-macam, Keelan. Kayak Levi contohnya, dia kesepian. Orang tuanya sibuk kerja dan dia dituntut oleh kedua orang tuanya untuk menjadi yang bisa diandalkan apapun kondisinya. Levi memilih menyibukan diri dengan berbagai macam kegiatan yang dia ikutin biar rasa kesepiannya hilang.”
“Lo udah kenal Levi dengan baik ya?”
“Nebak Levi itu gak sesusah itu. Levi anak yang emang gak banyak bicara dan terkesan susah untuk ditebak. Tapi itu semua bisa dilihat dari semua tingkah Levi.”
Keelan mengangguk setuju. Karena pada saat Levi bersamanya pun, Keelan dengan mudah menebak apa yang sedang dirasakan Levi.
“Gue emang gak tau banyak soal Kaustra. Tapi menurut yang gue dengar, hampir semua isi Kaustra itu anak tunggal. Iya, emang gak semua bisa disamaratakan, tapi gak menutup kemungkinan alasan apa yang kalian perbuat sejauh ini karena masalah yang sama, 'kan? Kesepian?”
“Gak ada bedanya dong sama lo?”
Rakala mengernyit heran.
“Lo mungkin benar soal isi Kaustra anak tunggal. Tapi lo salah kalau lo bilang gue kesepian. Lo sama Levi itu sama, Kal. Sama-sama mau ngewujudin ekspetasi orang yang ditaruh ke diri lo.”
“Kenapa bisa bilang lo gak kesepian?”
“Meskipun mama papa gue sibuk, sejauh ini mereka gak ngebiarin gue sendiri. Kesepian atau enggak, menurut gue itu dari mana cara lo menanggapi aja. Kalau lo punya pemikiran orang tua lo kerja buat lo, gue rasa lo gak akan pernah punya rasa kesepian dalam hidup lo.”
Rakala mengangguk. “Terus, kalau begitu, apa alasan atas semua kelakuan lo selama ini?”
“Penasaran. Itu semua hal lumrah yang terjadi di masa remaja, apalagi untuk kategori cowok kayak gue. Pasti akan ada masanya orang merasa dirinya jagoan atau apapun itu, namanya juga lagi proses pencarian jati diri. Yang gue lakuin itu, murni atas keinginan gue sendiri. Mungkin lo bisa bilang gak seharusnya gue bertingkah begitu apalagi gue menyandang nama Jaegar.”
“Gue sadar gue bagian dari Jaegar. Gue juga sadar kalau gue satu-satunya harapan yang papa mama gue punya, sama kayak Kaustra ataupun lo. Pasti akan ada masanya buat lo berhenti cari sensasi atau apapun yang gue lakukan sekarang. Yang gue lakuin menikmati masa remaja yang gak akan datang dua kali sebelum gue melangkah menuju jenjang yang lebih serius.”
Untuk pertama kalinya, Keelan mau menjelaskan panjang lebar mengenai hal yang tidak perlu ia jelaskan.
Setelah acara makan itu selesai, Rakala kembali menggiring Keelan untuk pulang. “Langsung pulang aja, Kee.”
Keelan tidak menjawab. Keduanya menaiki motor masing-masing. Rakala mulai membiasakan diri dengan semua perlakuan Keelan Jaegar, laki-laki itu tidak menyalipnya, bahkan Keelan tetap berada di belakang, seolah sedang mengawalnya.
Manik karamelnya kembali terkejut dalam diam begitu Keelan dengan tenang memarkirkan Winter di samping motornya. Rakala pikir, Keelan sudah pulang karena tsdi ia sempat tidak melihat Keelan berada di belakangnya.
“Gue bilang apa soal pulang?” Keelan tidak menjawab. Ia memilih untuk melihat berbagai macam bunga yang cukup menyejukan mata. “Lo mau beli bunga juga? Cari bunga apa?”
“Bagusnya apa?”
“Tergantung konteksnya, Kee. Kalau buat pacar, biasanya mawar atau lili?”
“Menurut lo bagusnya apa?”
“Karena gue suka bunga mawar, jadi gue pilih mawar. Tapi ya gak tau orang yang mau lo kasih ini sukanya apa, kesukaan orang beda-beda, kayak bunda gue contohnya, bunda suka bunga matahari bahkan setiap lihat bunga matahari, bunda pasti kelihatan senang. Kata bunda, bunga matahari melambangkan harapan, gue gak tau apa harapan bunda, tapi gue selalu berdoa pada Tuhan supaya apapun harapan bunda gue terkabul.”
Setelah 30 menit berkutat di toko bunga. Hari juga sudah semakin sore, Rakala kembali membawa motornya menuju tujuan terakhir, tempat Adira.
Perempuan itu melirik Keelan yang lagi-lagi berada di belakangnya. “Apalagi kali ini, Kee?”
“Gue mau mastiin kalau lo sampai dengan selamat.”
Rakala menghembuskan napas panjang. Keelan benar-benar orang yang sulit untuk ditebak. Hingga tidak lama, Rakala kembali dibuat terkejut dengan Keelan yang tiba-tiba melemparkan bungkusan bunga yang tadi dia beli kepadanya.
Beruntung saja, Rakala punya reflek menangkap dengan bagus. “Apa?”
“Buat lo.”
“Konteksnya?”
“Mau kasih aja.”
Rakala kembali melabuhkan pandangannya pada bunga mawar kesukaannya. Bunga itu terlihat sangat cantik dengan warna merah dan putih yang menghiasi penuh bucket yang ia pegang.
“Lo kenapa?”
“Gak suka?”
“Suka.” Jawab Rakala cepat. “Tapi maksud gue, kenapa? Kenapa tiba-tiba kasih gue bunga?”
“Cowok lo marah kalau gue kasih bunga?”
Rakala menggeleng. “Gue mana pernah pacaran, Kee. Lo orang pertama yang kasih gue bunga.” Nada bicara Rakala pelan, sangat pelan.
Keelan menyukai itu, bahkan tanpa Rakala sadari sudut bibir Keelan terangkat, senyuman tipis terbit pada bibir Jaegar Tunggal itu, sangat tipis.
“Bagus. Kalau begitu sana masuk. Mau ketemu bunda lo, 'kan?”
“Lo langsung pulang?”
“Kenapa mau gue antar juga sampai ke dalam?”
Rakala mendengkus malas. Hatinya sedikit bergemuruh mendapatkan perlakuan yang sebelumnya tidak pernah Rakala dapatkan. Bahkan dalam otak Rakala tidak pernah ada satupun pemikiran seperti ini, Rakala cukup mengerti orang-orang takut pada dirinya dengan semua hal yang sudah terjadi. Hanya saja, Keelan Jaegar, orang yang tidak menatapnya dengan tatapan penuh penghakiman seperti yang orang-orang lakukan kepadanya.