Apartemen Kaiser akan selalu menjadi tempat tujuan persinggahan semua teman-temannya. Tempat ini diberikan oleh Issac, ayahnya karena ia berusia legal sebagai hadiah ulang tahun.
Tempat ini juga sebagai tempat pelarian untuk Levi dan Jovian yang selalu ditekan oleh kedua orang tuanya untuk menjadi nomer satu dalam dunia pendidikan.
Sama seperti saat ini, tempat yang semula rapi dan bersih kini sudah kacau balau. 3 laki-laki sedang asik mengacau tempat Kaiser. Sang pemilik juga nampak belum menunjukan batang hidungnya.
"Lama banget, tai." Keluh Jovian begitu pintu apartemen Kaiser terbuka. Disana, Kaiser Sadega datang dengan menenteng sebuah makanan cepat saji dan juga soft drink.
"Oh sogokan." Ucap Levi.
Kaiser tertawa kecil, "Sorry, habis antar cewek gue pulang dulu."
“Emang boleh se diklaim itu? Belum juga jadi pacar udah bilang cewek gue cewek gue aja.” Ledek Jovian.
“Loh, 'kan prinsipnya, si cantik milik si pemberani.” Jawab Kaiser santai.
“Siapa lagi kali ini?” tanya Keelan.
“Adipsy Maddie. Anak kelas sebelah, bendahara OSIS sama anak karate dia itu, Lan.” Jawab Levi.
“Yang kata lo galak kayak preman kalau lagi nagih uang?”
Levi mengangguk. “Cinta lokasi dia.”
Keelan tertawa, “Mana nih yang kemarin bilang harusnya di dalam organisasi gak boleh ada yang cinta-cintaan, tapi sekarang malah jilat ludah sendiri.”
“Lho, Lan. Apapun makanannya minuman yang enak, 'kan ludah sendiri.” Jawab Kaiser.
“Emang Kaiser, K-nya kocak.” Sanggah Jovian. 4 sekawan itu tertawa. Memang benar, Kaiser adalah orang yang sering mengatakan bahwa seharusnya di dalam organisasi tidak diperbolehkan adanya hubungan asmara karena bisa berimbas dalam kinerja. Tapi kini, justru Kaiser sendiri yang melanggarnya.
“Perasaan kemarin bukan sama yang itu, beda lagi?” ucap Keelan.
Kaiser mengangguk. “Yang kemarin kurang menantang, nah gue mau cobain sama yang galak. Gimana rasanya sama cewek galak.”
“Jadi lo kejar Adip karena dia galak?” tanya Jovian.
“Yang paling utama karena Maddie cantik.” Jawaban template yang selalu Kaiser katakan. “Cantik itu poin utama, itu juga jadi penilaian yang sering terjadi di kota-kota besar.”
“Jadi, udah jadian?” tanya Keelan.
Kaiser menyandarkan tubuhnya setelah meletakan minuman bersoda. “Nanti, jangan sekarang. Pelan-pelan aja.”
“Kacau banget emang cowok gemini.”
“Eh, cancer yang gampang nerima orang terus seolah nunjukin kalau punya rasa sebesar dunia tapi aslinya enggak jangan ikutan ya.”
Levi menarik napas kesal. Kaiser dan Keelan tidak ada bedanya jika digambarkan.
“Terus selain cantik. Gue rasa lo gak akan kejar kalau cuma cantik doang.” Ucap Jovian.
“Maddie itu lugu. Apalagi kalau misalnya lagi latihan dan dia gak bisa ngikutin gerakan-gerakan yang seniornya contohin. Muka dia kelihatan makin gemas.”
“Awal lo bisa suka sama dia kenapa?”
“Karena apa ya? Oh, dia bikin instastory galau-galau gitu. Gue reply awalnya, terus selang beberapa minggu, dia lebih aktif buat instastory lagi, gue juga iseng reply dia. Akhirnya, kita ngobrol, banyak hal random. Kadang juga dia ngeluh ke gue entah soal karate ataupun OSIS.”
“OSIS kenapa?” tanya Levi.
Kaiser meliriknya, “Dia kasihan sama lo sama Rakala. Rakala yang harusnya ada sama mereka jadi harus bagi fokus karena Elan. Terus lo jadi kerja double deh backup Rakala yang tugas.”
“Oh, pantas aja tiba-tiba ini anak lebih aktif di grup angkatan. Bahkan dia mau nimbrung kalau lihat Adip muncul.”
“Iya, 'kan ceritanya lagi tertarik. Wajar kalau gue tiba-tiba muncul.” Jawab Kaiser.
“Oh, jadi akhir-akhir ini gue sering ditangkap Rakala dengan mudah itu karena bocoran informasi lo?” Kaiser menyengir. “Lo berdua kekurangan topik ya sampai ngejadiin informasi gue ada dimana ke Rakala sebagai topik?”
“Ya, 'kan gue kasihan aja, Lan. Tiap hari keluhannya pasti ada nama lo. Keelan hari ini beginilah, Keelan hari itu begitulah.”
Keelan mengedarkan pandangannya kemudian meletakan stik PS yang ia tadi mainkan bersama Jovian. “Gue berguna, 'kan? Selain karena gue bisa bantu lo biar topik kalian gak berhenti. Gue juga cukup berguna sebagai penghibur, dengan ngurusin gue dia bisa refreshing dari tugas yang bikin dia gila.”
“Iya, sehat-sehat ya lelaki penghibur.” Sahut Kaiser.
“Lo sama dia ada apa? Akhir-akhir ini gue sering lihat lo berdua interaksi lebih dekat, bahkan Rakala juga orang pertama yang debut di instastory lo malam itu. Itu track rekor yang luar biasa semenjak gue berteman sama lo, Lan.” Ungkap Jovian.
Keelan sebenarnya bisa menebak jika teman-temannya akan bertanya hal ini. Ia sendiri juga tidak tau kenapa ia akhir-akhir ini memilih untuk sering mencari masalah dan berakhir bersama Rakala.
Keelan hanya merasakan hal-hal lama yang belum selesai kini bisa ia selesaikan, Ishara Saveena.
Memang Rakala bukan Ishara, bahkan sifat keduanya nyaris berbeda walaupun ada beberapa hal yang sedikit sama. Hanya saja, Rakala mampu membuat Keelan untuk bersikap sebagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap. Rakala membiarkan dirinya mendominasi, sedangkan saat bersama Ishara, baik Keelan maupun Ishara, keduanya selalu berusaha menunjukan jikalau keduanya sama-sama ingin mendominasi.
“Biasa aja.”
“Jangan bohong begitu, karyawan.”
“Gue gak tau kenapa tiba-tiba dekat. Tapi bukannya bagus ya? Gue jadi gak perlu usaha lebih kalau bisa dekat dengan sendirinya.”
3 sekawan itu tau maksud Keelan. Kaiser mendengkus. “Lo masih aja kepengaruh sama omongan Levi.”
“Kenapa? Gak rela kalau Rakala milih gue?”
Kaiser mendecih. “Gue emang pernah ditolak Rakala, tapi gak menjamin lo juga gak akan ditolak ya, Lan. Jangan percaya diri dulu, sobat.”
“Gue selalu dapatin apa yang gue mau Sel, kalau lo lupa.”
Levi melirik Keelan tanpa suara. Sebagai pencetus ucapan yang membuat Keelan bergerak sejauh ini, Levi mengatakan itu bukan tanpa sebab. Ia justru ingin Keelan untuk tetap hidup dan melupakan Ishara.
Keelan memang bukan orang yang secara gamblang bisa berbicara mengenai isi hatinya, Keelan anak yang sering mengurus apapun sendirian dan terkesan tidak memiliki satupun masalah atau beban hidup. Dan Levi tidak ingin Keelan terus-terusan seperti itu. Dengan adanya Rakala, Levi berharap perempuan itu mampu menemani Keelan untuk berproses menjadi lebih baik.
“Tapi lo gak masalah gitu Lan, Rakala jadi mentor lo? Maksud gue dengan background dia yang begitu?”
“Gue gak peduli apapun soal Rakala. Mau dia jadi mentor gue atau enggak, gue jelas tau apa yang harus gue lakuin untuk menang.”
Jovian kembali mengangguk. Ia tentu tau bagaimana kehebatan Eksekutor Penyerang Kaustra itu. Keelan bisa menjadi sangat berbahaya jika ia ingin, hanya saja selama ini, Keelan tidak pernah terlihat serius. Dalam kondisi tenang dan sering bercanda saja Keelan tetap berbahaya, bagaimana jika ia sedang dalam kondisi serius?
“Lo tenang aja, Rakala punya basic bertarung yang gak bisa dianggap sepele.” Ucap Kaiser. Sebagai ketua Karate dan juga tangan kanan Levi sebagai otak penyerang. Kaiser jelas tau skema pertarungan. “Seperti yang udah kalian dengar, nama Rakala sempat menjadi kandidat turnamen SMANDA, meskipun pada akhirnya tetap Sastra.”
“Dengan begitu, secara tidak langsung Rakala bisa dikatakan sebagai orang yang mampu mengimbangi gaya bertarung Sastra yang terkesan keras dan cepat.”
Kaiser kembali melirik satu persatu teman-temannya. “Menurut informasi dari Irene kemarin. Alasan kenapa Rakala yang maju sebagai mentor Keelan bukan gue ataupun Abelia dari anak karate yang menjadi mentor. Karena itu tadi, mereka mau gunain otak penyerang Rakala dan Eksekutor Penyerang Kaustra sebagai bentuk pertahanan kemenangan yang gue bawa.”
“Rakala pasti tau kurang lebihnya bagaimana skema permainan SMANDA.”
Jovian menarik napas. “Apapun alasan itu, lo harus lebih hati-hati, Lan. Sastra pasti dalam waktu dekat ngerusuh lagi. Mungkin iya, untuk saat ini belum. Tapi gak ada yang tau kedepannya.”
Keelan cukup bangga akan dirinya sendiri. Pertarungannya dengan Sastra hari itu benar-benar tidak tercium. Ia selalu memastikan untuk membersihkan area permainan, Keelan tidak akan pernah membiarkan siapapun bisa mengendus tingkah lakunya. Terbukti, teman-temannya tidak mengetahui bahwa Sastra sudah bertemu bahkan keduanya sudah bertarung.
Keelan memang anak yang nyaris jarang terlibat perkelahian walaupun ia ingin. Kaiser selalu bisa mengurus itu untuknya, Kaiser mengatakan untuk tidak membuang tenaga melawan orang-orang yang tidak sepadan.
“Jangan sampai terlibat kayak biasanya, Lan.”
“Gue mana sempat terlibat kalau medan perangnya lo kuasai, Sel.”
Levi dan yang lain mengangguk setuju. Hanya saja tidak dengan Keelan. Laki-laki itu memang menyetujui permintaan teman-temannya untuk tidak terlibat dalam apapun hal yang berkaitan dengan Kasastra Mangkudewa, hanya saja jika Sastra sendiri yang datang menyatakan perang, maka dengan senang hati, Keelan akan meladeninya. Entah Kaustra ikut menahan dirinya untuk tidak menyerang atau Kaustra sendiri yang akan ikut terjun dalam pertarungan itu.
Yang jelas, Keelan bersumpah akan membalas Sastra apapun caranya. Entah sebelum atau sesudah turnamen sekalipun. Terlebih, pelipisnya sempat berdarah, meskipun ia tidak tau siapa pelaku yang membuat pelipisnya luka, yang terpenting, baik Sastra maupun seluruh gerombolannya akan bertanggung jawab atas hal itu.