“Gak perlu mikir apa-apa, Kal. Ada gue.”
Tolakan itu kembali terdengar. Keelan yang sudah rapi dengan kemeja hitam yang membalut tubuhnya membuat pesona laki-laki itu semakin ketara dan Rakala terbius.
“Apa yang lo pikirin?”
Rakala menarik napas. “Gue gak pernah tau rasanya makan sama keluarga. Bahkan gue udah lupa gimana rasanya?”
“Buang jauh-jauh pikiran lo itu. Selama ada gue, lo gak perlu khawatir apapun soal itu.”
“Kenapa?”
“Karena itu gue. Lo cuma perlu simpan selama ada Keelan Jaegar, itu aja.”
Rakala kembali terbius. Tidak ada bantahan, perempuan itu kembali menaiki motor Keelan yang dengan cepat membelah jalanan. Hingga motor itu berhenti pada sebuah rumah megah milik Saga Dewangga.
Acara makan malam itu berlangsung pada kediaman Saga Dewangga. Sepertinya lelaki itu sedang membuat pesta kecil-kecilan.
“Rakala?” Rakala yang baru saja turun dari motor Keelan menoleh. Saga, papanya berdiri bersama Tamara, seolah menyambut kedatangannya. “Keelan?”
Dengan senyuman tampan turunan Jaegar Sankara, Keelan berjalan mendekat, mengamit tangan Keelan.
“Malam, Om. Apa kabar?”
“Malam, baik, Lan. Kamu apa kabar? Sudah besar ya kamu ternyata.” Ucap Saga sambil tertawa. Ia menoleh ke arah istrinya. “Ini Keelan, Sayang. Anak Alee.”
“Lho? Kamu anak Kaleesha ternyata.”
Keelan tersenyum. “Saya Keelan, Tante, salam kenal.”
“Salam kenal juga ya Keelan. Aduh gak nyangka bisa ketemu anak Alee di sini. Teman Kala ya?”
Keelan lagi-lagi tersenyum. Rakala sedikit takjub dengan Keelan yang begitu urakan bisa menjadi sangat sopan di depan kedua orang tuanya. Bahkan Saga terlihat sangat senang dengan kehadiran Keelan malam ini.
“Ganteng ya, Keelan. Jaegar benar-benar kasih semuanya ke Keelan.” Puji Tamara lagi.
“Iya, wajah Jaegar semua, Kaleesha cuma dapat matanya aja.”
Keelan tertawa kecil mendengar ucapan keduanya. Saga kemudian menggiring masuk keduanya, Rakala mengekori, tidak mengeluarkan suara apapun.
Manik kelam Keelan menatap 2 laki-laki, Nakula, kakak Rakala dan seorang yang Keelan sepertinya pernah temui. Rakala yang menyadari Keelan meliriknya berbisik lirih. “Itu kakak gue, kak Nakula sama Madhava, anak tante Tamara.”
“Lho, Elan? Ngapain di sini? Kaiser mana, Lan?” tanya Nakula.
Rakala kembali dibuat terkejut dengan Nakula yang ternyata sudah mengenal Keelan Jaegar. Lantas mengapa laki-laki itu tadi meliriknya.
“Di rumah kayaknya, Bang.”
“Masih doyan berantem?”
“Kaiser alergi kalau gak berantem.”
Nakula tertawa. Kemudian melirik Rakala. “Apa kabar Ala? Lama banget gak ke sini. Gak kangen Abang?”
“Baik kok, Bang. Abang kelihatan baik-baik aja.”
Nakula tersenyum. “Abang selalu baik-baik aja, Ala. Kamu sering main-main ke sini dong. Jangan di rumah sana aja, gak bosan apa?”
“Nanti kalau udah bisa bagi waktu Ala pasti sering-sering ke sini, Bang.”
Keelan bisa melihat interaksi kaku, Rakala. Perempuan dengan kemeja biru kelasi yang dipadukan dengan celana kain hitam panjang serta rambut sebahu yang sedikit curly pada bagian ujungnya membuat Rakala terlihat sangat cantik.
Acara makan malam itu berlangsung dengan baik. Keelan dengan mudah masuk dalam setiap obrolan yang Tamara, Saga, dan Nakula berikan. Sesekali ia membalas obrolan yang mereka buat dalam setiap obrolan itu, Keelan selalu mendorong Rakala terlibat di dalamnya, hal kecil yang cukup memberikan afeksi luar biasa terhadap Rakala.
“Iya, Om pasti. Cuma, 'kan akhir-akhir ini, Rakala juga disibukin masalah OSIS, sebentar lagi, 'kan serah terima jabatan.” Jawab Keelan lagi.
“Karena lo kali, lo, 'kan yang sering bikin ulah.” Timpal Nakula.
Keelan tertawa. “Namanya masih muda, Bang.”
“Kamu itu duplikat Alee. Wajah aja duplikat Jaegar, tapi kelakuan benar-benar Kaleesha. Mamamu dulu itu sering bikin papamu emosi, kerja dua kali. Waktu Jaegar habis cuma ngurusin Alee doang.”
“Itu papa aja yang sumbu pendek.” Jawab Keelan sambil tertawa. “Lagian papa juga kurang kerjaan ngurusin mama terus.”
Saga kembali tertawa jika mengingat tingkah Kaleesha dan Jaegar pada masa itu. Keelan yang terlihat menikmati setiap obrolan yang dibuat keluarga Rakala memegang pergelangan tangan Rakala, mengusapnya lembut, memberikan ketenangan untuk Rakala.
Rakala melirik sekilas, laki-laki ini kembali bisa membuatnya benar-benar merasa baik-baik saja. Keelan menepati semua ucapannya.
Setelah makan malam selesai, Keelan nyatanya tidak langsung membawa Rakala pulang. Justru Keelan mengajak Rakala berkeliling kota dengan motor putih kesayangannya.
“Mau ke mana?” ucap Rakala sedikit berteriak. Kepala perempuan itu berada dibahu Keelan, guna agar Keelan mendengarnya. Namun laki-laki itu sama sekali tidak merespon. Ia hanya melirik sekilas.
Kemudian keduanya berhenti pada sebuah taman kota. Taman yang selalu menjadi tempat yang tidak pernah sepi, selain karena hawanya yang sejuk, pemandangan di sini juga sangat cantik, sayang untuk dilewatkan.
“Ngapain ke sini?” tanya Rakala lagi.
“Lo udah dandan cantik, sayang kalau langsung pulang. Seenggaknya perlu untuk dipamerin.”
“Gue emang cantik, Kee. Lo gak perlu puji.”
Keelan mengangguk setuju. “Tapi malam ini lo lebih cantik, Rakala.” Ucapnya, jarak keduanya cukup dekat. Hingga dengan cepat Rakala memundurkan diri, membuat jarak.
“Lo gak berencana cium gue, 'kan?”
Keelan tersenyum, “Kenapa enggak? Sayang udah cantik kalau gak di cium.”
“Gue hajar lo.”
“Gapapa kalau lo hajar, asal bisa ciuman aja.”
Rakala mendecih. Hal itu membuat Keelan kembali tertawa. Mengusili Rakala sepertinya akan laki-laki itu masukan dalam kegiatan wajib yang perlu ia lakukan setelah ini.
Sementara perempuan itu, ia sedikit gugup atas tatapan Keelan. Ini pertama kalinya Rakala ditatap secara intens dalam jarak dekat oleh seorang laki-laki. Sejauh ini tidak ada yang berani menatapnya seperti Keelan menatapnya sekarang karena mereka semua takut.
“Gue dandan itu bukan buat elo. Karena gue mau ikut acara makan malam ini ya meskipun itu atas paksaan lo juga.”
“Gue gak maksa, gue cuma mau kasih tau ke elo, kalau itu semua gak semenakutkan seperti gambaran yang ada di otak lo.”
“Tau dari mana?”
“Nebak, berarti tebakan gue benar.”
“Sejak kapan lo jadi tukang menebak orang, Kee?”
Keelan tertawa kecil. “Kalau cuma nebak lo, itu sepele, Kal.”
“Apa maksud lo?”
“Lo gak sadar kalau lo orang yang gampang untuk ditebak?”
“Oh ya? Coba tebak gue kalau begitu, gue mau dengar.”
Keelan menyeringai. “Dapat apa gue, kalau gue tebak elo?”
“Cih, tadi bilang bisa nebak.”
“Rugi kalau gue gak dapat apa-apa.” Jawab Keelan. “Karena lo cantik malam ini, gue anggap itu sebagai bayaran gue.”
“Rakala Shafira Dewangga. Anak kedua dari dua bersaudara, lahir pada 6 september. Suka makan pedas dan juga jago ngeracik kopi. Orang yang suka lihat senja dan benci hujan.”
“Itu doang semua orang juga tau, Kee.”
“Orang yang selalu berusaha ngewujudin ekspetasi orang-orang dan rela ngebunuh karakternya sendiri kalau ekspetasi itu gagal. Orang yang cukup keras ke dirinya sendiri. Orang yang selalu mau mengatasi semua masalah seorang diri.”
Rakala menatap manik Keelan yang semakin dalam menatapnya. Rakala ingin berhenti menatap mata itu, tapi mata itu juga yang membuat Rakala tidak bisa mengalihkan pandangannya.
“K-kenapa?”
“Harusnya gue yang tanya, kenapa?” tubuh Keelan sedikit membungkuk, menyamakan tingginya dengan Rakala. “Kenapa sekeras itu ke diri lo sendiri, Kal?”
Rakala bungkam. Bibirnya mendadak bisu, ia tidak menyangka Keelan bisa menebak semuanya dengan cepat dan benar hanya dari beberapa pertemuan intens saja. Memang selama ini Rakala yang mengurus Keelan, bertanggung jawab penuh atas semua hal yang laki-laki itu buat, hanya saja, hubungan keduanya hanya sebatas Ketua OSIS dan berandal sekolah saja.
Alasan Rakala melakukan semua itu karena Rakala lelah, Rakala tidak ingin orang memandangnya seperti monster. Rakala hanya ingin hidup tenang dan menikmati masa remaja yang begitu indah dengan hal yang dipenuhi oleh kisah romansa, keluarga cemara, ataupun pertemanan yang supportive.
Hanya saja, Rakala terlalu takut. Karena ketakutan itulah, Rakala menjadi sosok lain, menyingkirkan sosoknya yang lama. Dan hal itu cukup membuahkan hasil, setidaknya ada beberapa hal dari impiannya terwujud, meskipun harus membunuh karakternya.
“Jangan terlalu keras, Rakala.”
“Gue cuma gak mau dipandang sebagai monster, Keelan.”
“Gak ada monster secantik lo, Kal.” Jawab Keelan. Ia masih tetap menatap binar mata Rakala. Binar mata yang Keelan rindukan. “Lo bukan monster, lo Rakala Shafira Dewangga.”
“Jadi, Rakala. Berhenti untuk bersikap keras sama diri lo sendiri. Berhenti membunuh karakter lo dan jadi Rakala Shafira Dewangga. Lo, harus berterima kasih ke diri lo sendiri karena bisa bertahan sejauh ini dan gue bangga atas hal itu Rakala.”
Malam ini benar-benar malam indah bagi seorang Rakala Shafira Dewangga yang tidak pernah mendapatkan apresiasi sejak kecil, malam ini, Rakala mendapatkannya.