Bel pulang sekolah berbunyi sejak 20 menit yang lalu. Suasana sekolah megah ini juga sudah tidak seramai tadi, seluruh siswa dan siswinya sudah meninggalkan area sekolah, hanya tersisa beberapa yang sedang menunggu jemputan ataupun melaksanakan ekstrakurikuler.
Sama seperti Keelan yang baru saja keluar kelas. Laki-laki itu nampaknya tertidur dari jam terakhir sampai saat ini. Setelah meregangkan tubuhnya, Keelan mulai menarik Winter keluar dari parkiran.
Ia sama sekali tidak menggubris orang-orang yang meneriaki kecil namanya. Tidak ada satupun yang berani mendekati Keelan, karena menurut Kaiser, jika Keelan dalam kondisi baru bangun lebih baik untuk dijauhi kecuali ingin berhadapan dengan Hades.
Manik kelam Keelan menangkap sebuah tawuran yang terlihat dari arah selatan Cakrawala. Jaegar Tunggal itu merasa cukup tertarik kemudian ia memarkirkan motornya dan melihat siapa yang sedang terlibat disana.
Rakala Shafira Dewangga, gadis cantik dengan 12 kasus yang melekat pada dirinya itu terlibat perkelahian dengan Sastra, anak SMANDA. Keelan cukup takjub, dalam kondisi parah dan kalah jumlah, Rakala nampak mampu mengimbangi Sastra dan kawanannya yang membabi buta.
"Eksekutor Penyerang Kaustra." Ucapan Sastra membuat Rakala menoleh. Gadis itu berdiri, mengusap kasar darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“Reunian?" ucap Keelan.
“Menurut lo?” balas Rakala kesal.
Sudut bibir Keelan terangkat. “Lo kacau." Keelan bisa melihat wajah Rakala dari dekat. Cantik, Keelan mengakui kecantikan Rakala, persis seperti yang dikatakan teman-temannya. Rakala berantakan akibat pertarungan ini.
“Apa?" tanya Rakala.
Manik kelam Jaegar Tunggal itu masih terus menatap Rakala. Kali ini tatapan Keelan cukup dalam. "Lo kewalahan ngelawan rombongan sirkus?"
"Siapa yang lo sebut rombongan sirkus?!" sahut Sastra.
Ucapan Sastra yang berapi membuat Keelan menatapnya kemudian menyeringai, "Menurut lo siapa? Kalau lo sama kawanan lo ini gak merasa rombongan sirkus, ngapain nyolot begitu? Atau emang sadar kalau gak jauh beda sama rombongan sirkus?” balas Keelan tenang.
“Mereka bukan rombongan sirkus.” Ucap Rakala. Sastra tersenyum mendengar ucapan Rakala. Tapi tidak setelahnya, Rakala kembali berucap, “Rombongan sirkus juga masih terlalu bagus buat sebut mereka semua.”
Rahang Sastra mengetat. Laki-laki itu termakan ucapan Keelan dan juga Rakala. Di detik berikutnya, Sastra berteriak sebagai tanda untuk menyerang. Keelan menarik Rakala agar gadis itu berdiri dibelakangnya.
Rakala mengakui kehebatan bertarung Eksekutor Penyerang Kaustra itu. Keelan benar-benar tidak ingin melepaskan mereka semua, terlihat dari sorot mata serta gerakan yang ia lakukan, ia mengunci semua orang yang berada di area ini, termasuk Rakala.
Seluruh pasukan Sastra terpukul mundur. Gerakan Keelan benar-benar cepat dan sangat keras, satu-persatu mereka mulai terjatuh dengan luka yang cukup menyedihkan. Rakala yang sudah mendapatkan beberapa pukulan dari Sastra dan yang lain cukup terbantu dengan adanya Keelan, laki-laki itu tidak membiarkan Rakala tersentuh sedikitpun meskipun ia sedang sibuk bertarung di depan sana. Pertahanan Keelan benar-benar harus diakui.
Gelar Eksekutor Penyerang Kaustra itu benar-benar layak untuk diberikan kepada Keelan Jaegar. Rakala terhipnotis, pandangannya tidak bisa lepas dari semua yang Keelan perbuat hari ini.
Orang asing yang menyelamatkan dirinya, Keelan Jaegar. Orang yang perlu Kaleesha jauhi, orang yang membuatnya kesal setengah mati karena semua kenakalannya, tapi Keelan juga, orang yang membantunya saat ini.
“Lo baik-baik aja, Kee?" tanya Rakala begitu Sastra kabur.
Keelan tersenyum. Senyuman itu membuat Keelan terlihat sangat tampan. Rakala bisa melihat ketampanan yang orang-orang katakan, "Bukannya gue ya yang harus tanya begitu?"
“Gue gak ada tenaga buat marah-marah." Balas Rakala. Perempuan itu sedikit merasa terintimidasi dengan tatapan Keelan yang sejak tadi terus menatapnya tanpa henti.
“Lo babak belur." Komentar Keelan.
“Lo juga!" balas Rakala cepat.
Keelan tersenyum tipis. Begitu juga Rakala dalam diam bersyukur Keelan masih terlihat baik-baik saja meskipun sempat beberapa kali terkena pukulan.
"Rumah lo ke arah mana?" tanya Keelan lagi.
“Selatan dari arah sini, Komplek depan."
Keelan mengangguk sebagai jawaban. Pemuda itu kemudian berjalan menuju Winter dan menurunkan footstep motor putih itu untuk Rakala.
"Ayo."
"Lo mau antar gue?"
Keelan kembali melirik Rakala, "Gue masih punya hati nurani. Gue gak akan mungkin ninggalin lo sendirian apalagi dalam kondisi babak belur begini."
Rakala kembali tersihir, perempuan cantik itu termakan oleh ucapan Keelan. Keelan laki-laki pertama yang mengucapkan kalimat itu dalam hidupnya.
Di sepanjang perjalanan keduanya hening. Rakala yang masih mencerna semua ini dan Keelan yang memang tidak pandai mencairkan suasana. Hanya angin dan suara motor Keelan yang terdengar menemani kedua remaja itu, hingga motor Keelan berhenti pada sebuah rumah minimalis modern yang Rakala tunjuk.
Keelan mengamati rumah itu, rumah itu terlihat sangat sepi untuk kategori rumah keluarga.
“Gue gak disuruh mampir?”
Rakala tersadar. “Eh iya, mau mampir gak?”
“Lo kasih minum?”
Rakala kembali mendengkus, Keelan sudah kembali dalam mode menyebalkan. “Mau lo minta racun juga gue kasih, Kee.”
Keelan tertawa. Laki-laki itu memarkiran motornya kemudian mengikuti Rakala berjalan masuk. Nyaman, itu yang dirasakan Keelan begitu ia memasuki rumah Rakala. Tempat ini bersih dan tenang.
Manik kelam Keelan mulai mengedar, memindai satu persatu isi rumah Rakala Shafira Dewangga. Keelan melihat foto-foto yang terpasang di atas meja kecil. Tidak banyak hanya dua, yang Keelan yakin itu adalah keluarga Rakala.
"Om Gaga?" gumam Keelan pelan.
Rakala meninggalkan Keelan menuju dapur begitu laki-laki itu duduk. Ia sedikit bingung karena Keelan adalah laki-laki pertama selain Nakula yang datang bertamu, "Nih minuman lo." Ucapnya. Perempuan itu datang dengan segelas jus jeruk yang selalu ia siapkan ketika teman-temannya datang berkunjung.
"Apa ini?"
"Racun." Ucap Rakala jengkel. "Udah tau orange jus, masih aja tanya."
“Galak banget sih, tanya doang. Cewek cantik itu gak seharusnya galak.”
Rakala menarik napas. “Lo tuh emang begini ya?”
“Apanya?”
“Annoying.”
“Gak kelihatan emang?”
Rakala memutar kedua bola matanya malas. “Orang bilang lo annoying, tapi faktanya lo lebih dari kata annoying.”
“Makasih gue anggap itu pujian.”
Rakala mengakui kehebatan Keelan yang lain, yaitu Keelan bisa benar-benar mempermainkan emosi seseorang. Perempuan itu melirik Keelan yang meminum jusnya. “Makasih udah nolongin gue tadi.”
“Makasih doang.”
“Ya lo mau apa anjir?! Pamrih banget jadi orang.”
“Gue udah babak belur begini, masa dikasih makasih doang. ”
“Masih untung gue mau bilang makasih.”
“Ya lo gak tau diri kalau sampai gak ngomong makasih ke gue.”
Rakala kembali menarik napas. “Yaudah lo mau apa?”
“Gue belum kepikiran apa. Gue kabarin nanti kalau udah kepikiran.”
Rakala tidak lagi menjawab. Keelan kembali menatapnya. “Lo sendiri, ngapain bisa terlibat sama mereka? Kangen?”
“Lo tuh ya, bisa gak sehari aja gak buat gue emosi?”
“Just ask. Kali aja kangen sama teman lama.”
“Gue bahkan gak sudi sebut mereka teman.” Jawab Rakala Manik karamel itu melihat pantulan wajahnya dari lemari kaca yang berada tidak jauh darinya. Wajah cantik itu cukup buruk dengan beberapa pukulan.
Sastra bukan orang yang pandang bulu, siapapun yang dia anggap sebagai pengkhianat akan dia habisi termasuk Rakala. Menurut Rakala alasan Sastra menyebutnya sebagai pengkhianat karena masuk Cakrawala hanyalah alasan konyol yang tidak bisa Rakala terima.
Sedangkan bagi Rakala, Sastra hanyalah seorang anak kecil yang terperangkap dalam tubuh remaja laki-laki yang haus akan atensi sehingga mencari validasi semua orang untuk mengatakan bahwa dirinya adalah penguasa.
Meskipun Rakala tidak bertarung lama, ia cukup puas melihat kekalahan Sastra. Laki-laki itu sudah kabur melarikan diri begitu ia melihat semua pasukan yang dia bawa tergeletak. Dan Rakala berterima kasih atas hal itu, meskipun orang yang melakukan itu semua adalah Keelan Jaegar, orang yang Rakala lihat tidak jauh seperti Sastra. Pemberontak dan berandal, itu yang ada di benak Rakala jika ditanya mengenai Keelan.
“Gue juga gak tau, gue mau pulang, tapi gue lihat salah satu orang yang gue kenal, Alan. Dia ada disekitaran Cakrawala, gue pikir apa urusan anak SMANDA berkeliaran di daerah ini."
“Dan lo ikutin dia?"
Rakala menarik napas sejenak. "Gak sepenuhnya benar, gue penasaran aja."
“Awalnya juga gue benar-benar gak peduli, lebih tepatnya gak mau tau. Tapi, kenapa mereka gak berhenti lewat di area Cakrawala. Gue jadi berpikir kalau mereka sedang melakukan tradisi tahunan."
Keelan terdiam. Laki-laki itu jelas tau ucapan Rakala, terlebih tradisi itu sudah berjalan sejak lama.
"Tahun Sastra adalah tahun-tahun paling buruk, Kee. Terlebih Sastra kepalanya, gue gak mau Cakrawala harus kembali mendapatkan korban atas kejadian yang gak penting itu. Meskipun Cakrawala sendiri adalah alasan utama kenapa tradisi tahunan itu ada."
“Kenapa?"
Rakala melirik Keelan, "Tradisi tahunan yang gak seharusnya ada. Mau sampai kapan ngebiarin orang-orang yang gak bersalah dan gak tau apa-apa jadi korban atas para pendahulunya?"