Jovian dan Kaiser terdiam terkejut membaca map biru yang disodorkan oleh Keelan begitu laki-laki itu kembali. Berbeda dengan Levi yang nampak tenang diam seolah sudah tau lebih dulu.
"Maksudnya apa anjing!?" geram Kaiser. Aligator Cakrawala dengan nama Kaiser Sadega itu kesal. Ia tidak meragukan kehebatan Keelan, bahkan ia sudah mengenal Keelan dengan baik, bagaimana kemampuan bertarung yang laki-laki itu miliki. Namun, sejak awal, Keelan enggan melibatkan diri dalam turnamen ini.
Keelan adalah duplikat Kaleesha. Meskipun menyandang gelar Eksekutor Penyerang Kaustra, Keelan adalah orang yang jarang sekali ikut dalam pertarungan. Ia lebih memilih melihat dan mengamati saja. Oleh sebab itu, Kaiser lebih mendominasi setiap pertarungan bersama Jovian. Hanya saja jika Keelan sudah memilih terjun, maka bisa dipastikan bahwa tidak akan ada satupun yang tersisa.
"Elan emang yang akan maju tahun ini, Sel." Ucap Levi setelah sekian lama bungkam.
"Kenapa?" tanya Kaiser cepat.
"Permintaan petinggi." Jawab Levi. Laki-laki itu menarik kendur sedikit dasinya. "Permintaan petinggi itu bersifat mutlak. Para petinggi itu tau kehebatan Keelan Jaegar, terlebih Keelan adalah Eksekutor Penyerang Kaustra. Mereka mau mencoba peruntungan dengan menggunakan kehebatan Keelan."
"Gila?"
Keelan menepuk pelan bahu Kaiser. Menenangkan laki-laki itu. Kaiser tau, jika Keelan memiliki maksud lain dengan setuju maju sebagai perwakilan dan Kaiser sedang mencoba mengantisipasi bahaya yang kemungkinan terjadi dikemudian hari.
"Lo juga tau soal ini Lev?"
Levi mengangguk, "Gue, Rakala, bahkan seluruh panitia juga tau.” Ia menjeda kalimatnya. Levi tau maksud Kaiser hanya saja ia juga tidak bisa berbuat banyak. “Mereka selalu bergerak di luar perkiraan gue, Sel. Mereka cuma mau mempertahankan kemenangan Cakrawala tahun lalu. Lo semua juga tau gimana senangnya mereka begitu Isel berhasil bawa pulang medali, tahun-tahun sebelumnya itu tahun terburuk Cakrawala.”
”Dan gue rasa, mereka cuma mau mempertahankan kemenangan, apapun caranya. Meskipun harus menggunakan kekuatan Eksekutor Penyerang Kaustra sekalipun.”
Jawaban Levi membuat Kaiser mendengkus kesal. Selain karena Cakrawala memilih jalan yang lebih berbahaya dengan membiarkan Keelan maju sebagai perwakilan. Ia juga kesal karena Cakrawala sendiri yang mengatakan bahwa Kaustra adalah sumber masalah, bahkan Cakrawala menentang keras adanya Kaustra.
Mereka menganggap Kaustra adalah hal yang seharusnya tidak ada di dunia. Sedangkan Kaustra sendiri hanyalah sebuah perkumpulan kecil yang terdiri dari dirinya, Keelan, Levi, dan juga Jovian. Kaustra bukan ancaman, Kaustra terbentuk sebagai aliansi perlindungan. Tapi kini, Cakrawala sendiri yang menggunakan Eksekutor Penyerang Kaustra untuk kepentingan sebuah martabat.
"Jangan dipikir terlalu serius, Sel." Ucap Keelan.
"Orang gila tau gak? Setelah mereka katain kita, sekarang mereka juga yang mau gunain kita?"
Jovian yang mendengar itu mengangguk setuju, "Tapi kenapa baru sekarang lo mau maju, Lan? Lo tau sendiri sekarang kondisinya seperti apa? Setelah kemenangan Kaiser tahun kemarin, Sastra semakin menggila. Tradisi tahunan kali ini bisa jadi lebih berbahaya dari tahun kemarin, mereka pasti akan gunain segala cara untuk menghambat kemenangan Cakrawala."
"Dan dengan mudah lo setuju untuk turun sebagai perwakilan? Lo gak berencana untuk mati, 'kan?"
Keelan tertawa. Ia cukup tersanjung akan rasa khawatir yang dipancarkan teman-temannya. Ia sendiri tidak memiliki alasan jelas kenapa ia mau untuk maju.
“Sastra pasti akan semakin berambisi buat buru lo setelah mereka tau lo yang akan turun sebagai perwakilan tahun ini, Lan.” Ucap Kaiser.
Ia melirik Keelan. “Lo gak berencana untuk balas mereka, 'kan?”
“Gue gak berminat untuk membalas rombongan sirkus, Sel.” Ungkap Keelan. “Seperti biasa, gue gak akan terlibat kecuali mereka yang sengaja cari mati.”
“Gak semua hal harus lo selesain pakai kekerasan, Elan.” Seperti biasa, Levi naif.
“Terus? Kan mereka yang mulai, gue hanya membalas?”
Wajah Levi mengeras marah. Hal itu membuat Jovian dan Kaiser menahan tawa. Meskipun terlihat galak, wajah Levi benar-benar begitu lucu. Levi orang yang sangat tenang bahkan nyaris tidak pernah menunjukan emosinya, namun pada Keelan Jaegar saja Levi bisa menunjukan itu.
Levi mengakui kehebatan dan loyalitas yang Keelan miliki. Namun, Keelan selalu mengatasi hal itu sendirian kemudian bertingkah bahwa semuanya bukanlah masalah besar yang harus dipusingkan. Tingkah Keelan yang terlewat santai selalu mengantarkan laki-laki itu pada ambang kematian.
“Dengar gak Keelan? Gue gak suka sama cara lo yang begini.”
Jovian tertawa lepas, kemudian memukul pelan bahu Keelan. "Dengar gak kamu?"
Nada bicara Jovian terdengar sangat menjengkelkan ditelinga Levi. Hanya saja ia tidak bisa untuk mengontrol dirinya jika itu sudah berkaitan dengan Keelan.
“Dengar, cuma tadi gue udah bilang alasannya, 'kan? Jadi lo gak perlu marah-marah, Lev.”
"Gak marah gimana, tingkah lo itu selalu bikin orang khawatir. Lo bisa aja mati konyol kalau lo bertindak sesuka hati lo tanpa memikirkan resikonya.”
"Gue bahkan takut mati, Lev."
"Kalau gitu nurut kalau dikasih tau. Jangan ya jangan."
Jovian menghentikan tawanya, "Ngomongin soal turnamen. Otomatis waktu berjalan cepat ya,"
"Iyalah, lo pikir waktu stuck disitu-situ aja? Waktu terus berjalan, lo yang lambat mana bisa kejar." Sungut Levi.
"Pelan-pelan, Mas Levi." Jawab Kaiser. Laki-laki itu cukup menikmati perdebatan kecil yang selalu membuat harinya cerah.
"Lo kalau masih dendam sama Elan jangan dilampiasin ke gue dong."
Keelan juga ikut tertawa, meskipun Levi adalah tertua nomer dua diantara mereka, tingkah Levi tidak kalah seperti anak kecil berusia 5 tahun.
"Lo sama Keelan tuh sama. Lo semua sama, sama-sama anjing."
Kaiser menegakan tubuhnya, "Adek mulutnya kok gitu, Papa gak pernah ajarin adek bicara seperti itu ya."
"Nggak anjir, maksud gue, MPLS berarti habis ini." Ucap Jovian. "Gak sabar melihat adik-adik kecil yang lucu."
"Jangan c***l apa boleh?" tanya Kaiser dengan raut wajah geli.
"Yang c***l elo!" Sergah Levi dan juga Jovian.
Keelan kembali tertawa terpingkal-pingkal. "Yang godain adik kelas siapa? Yang punya mantan kebanyakan adik kelas siapa?" Ucap Levi lagi.
"Kaiser Sadega." Jawab Keelan.
"Parah banget Kaiser Sadega itu ya." Ucap Kaiser. Laki-laki itu menggeleng, "Kok bisa ya, semua pacarnya adik kelas."
"YA LO JAWABLAH KOCAK!" hardik Jovian.
Kaiser kini yang tertawa, "Ya gimana ya, lucu soalnya. Gemas, gue gak bisa sama yang gemas-gemas."
"Si Jojo gemas kenapa gak lo pacarin?" Celetuk Keelan.
Jovian yang mendengar itu menjitak pelan kepala Keelan, "Jaga mulutmu, sahabat." Matanya memincing kesal ke arah Keelan.
“Gue juga masih waras, gak mau pacaran sama buaya.” Jawab Jovian.
“Enak aja, gue itu setia.” Elak Kaiser.
“Setiap tikungan ada maksud lo? Lo sama Jojo sama. Jadi badut kok terus.” Sanggah Levi.
Kaiser yang mendengar itu memasang wajah sedih. Jovian menepuk bahu, Kaiser. “Sehat-sehat ya lelaki penghiburku.”
“Tapi kenapa Rakala ya?” tanya Kaiser lagi.
"Rakala, 'kan Ketua OSIS." Ucap Jovian.
Kaiser menarik napas sejenak, "Capek juga ya ngomong sama lo, gue gak lari nih, ngomong doang, capeknya setengah mati."
"Kenapa Rakala yang jadi mentor, Keelan?" tanya Levi lagi. Laki-laki itu memang paling bisa diandalkan.
"Karena gak ada yang lebih pantas dari Rakala." Suara cantik itu membuat Kaustra menoleh, Irene, sepupu Keelan dan juga Levi itu berjalan ke arah mereka dengan satu kotak bekal yang ia bawa.
"Halo!”
"Hai Cantik!" Balas Jovian.
"Jangan macam-macam sama Irene kalau gak mau gue hajar." Jawab Kaiser.
Jovian mencibir, "Isel galak banget anjir kayak ibu tiri. Ibu tiri bahkan minder lihat kejahatan lo."
"Aku bisa jawab pertanyaan kamu, Bang." Ucap Irene setelah tertawa. "Kenapa harus Rakala? Kalian semua tau, Rakala Shafira Dewangga itu bekas murid rival Cakrawala, SMANDA. Awal masuk di sini, banyak yang akan ngira kalau Cakrawala dapat bahaya besar dan Rakala akan berakhir sebagai korban kalian, Kaustra."
"Kenapa kita?" tanya Levi tidak paham.
"Mereka beranggapan bahwa Rakala adalah bencana. Rakala bisa membahayakan Cakrawala. Emang gak semua yang beranggapan begitu tapi, nggak satu dua orang yang ngomong kayak gitu."
Levi menarik napas sejenak, itu bukan jawaban yang ia mau dengar.
"Kalau berakhir sebagai korban. Mungkin, karena anggapan semua orang. Dan bisa aja Rakala ngewujudin itu. Kemudian karena kalian udah terbentuk sebagai perisai pelindung Cakrawala, otomatis kalian secara sadar ataupun tidak pasti akan mengantisipasi itu, bahkan gak dari kalian aja, dari semua orang yang udah mengidolakan kalian. Banyak anak Cakrawala bahkan luar Cakrawala yang mau gabung jadi bagian dari Kaustra."
"Mereka gabung karena mau cari nama." Ucap Kaiser. "Mereka aja aneh, mau Rakala bekasan siapa juga, siapa yang peduli? Kita udah gede udah gak masanya buat bully orang."
"Iya tau, Bang. Tapi, 'kan gak semua bisa punya pemikiran sama kayak kamu. Mereka beranggapannya begitu."
Irene tersenyum, "Tapi nyatanya, gak ada satupun rumor yang terjadi. Bahkan kamu bisa lihat sendiri sekarang, Rakala jadi Ketua OSIS. Rakala kasih banyak perubahan di sini. Aku bangga, Rakala ditekan dari banyak sisi juga tetap bisa bertahan."