SI UJANG

868 Words
Waktu itu Mang Oding tengah bersiap-siap hendak menikmati masakan hasil olahan istrinya. Opor daging ayam, sambal hati, jengkol, petai, dan sejumlah makanan menggiurkan lainnya. Tiba-tiba muncul Ujang dari balik daun pintu kamar dengan mata membelalak lebar serta berkacak pinggang. Hardiknya kemudian, "Hentikan! Jangan dimakan!" Mang Oding melongo. Menatap sosok yang barusan datang dengan tangan masih tertahan, memegang piring nasi. "Kenapa lagi, Jang? Bapak juga kepengen sesekali makan makanan enak. Sekali ini saja. Boleh, 'kan?" Mata Ujang semakin melotot. Jawabnya, "Enggak! Bapak gak boleh makan makanan itu!" Mang Oding meletakan kembali piringnya di atas meja. Ujar laki-laki tua itu kemudian dengan suara memelas, "Kenapa, sih, Jang? Bukankah ini di rumah Bapak sendiri? Bapak berhak menikmati semua yang ada di sini. Termasuk makanan ini." "Enak aja. Selama ini yang bekerja dan nyari duit 'kan Ujang, Pak! Emang Bapak bisa apa, hah?" timpal Ujang sengit seraya mengusir Mang Oding dari tempat duduknya. "Sana! Bapak makan aja di luar! Jangan di sini!" Istri Mang Oding menatap suaminya dengan raut pilu. "Sudahlah. Bapak ngalah aja. Turuti apa kata Ujang. Nanti dia marah-marah lagi kayak tempo hari, Pak." "Tuh, denger kata Ibu juga apa! Sana, pergi!" hardik Ujang seraya mendorong tubuh renta itu dengan kasar. Mang Oding menarik napas panjang. Berat dan terasa menyesakkan. Itu bukan kali pertama Ujang berbuat demikian. Tingkahnya semakin menjadi-jadi setelah berhasil mengubah ekonomi keluarga dua pasangan tua tersebut menjadi kaya raya. Ujang memang satu-satunya tulang punggung mereka. Namun kesombongan anak itu jelas sangat menyakitkan. "Ya, sudah. Bapak makan di dapur saja, ya? Sebentar aku siapin nasi serta—" Belum tuntas istri Mang Oding berkata, Ujang langsung memotong. "Enggak! Kasih saja nasi, jangan berikut lauknya." "Terus, Bapak makan sama apa, Jang?" tanya laki-laki itu memelas. Diawali dengkus menyebalkan, Ujang menjawab, "Di dapur masih ada garam, 'kan? Makan aja sama itu." Terpaksa, Mang Oding menerima sodoran piring dari istrinya yang hanya berisi nasi sekepalan. Lalu dia melangkah meninggalkan Ujang dan istrinya di ruang tamu. "Ayo, kita makan, Bu," ajak Ujang sepeninggal Mang Oding. "Kasihan bapakmu, Nak. Apa enggak—" "Gak boleh! Pokoknya gak boleh!" timpal Ujang sengit. "Cukup Ujang sama Ibu aja yang boleh makan enak." Perempuan tua itu mengangguk perlahan. "Terserah kamu saja, deh, Jang. Asal kamu jangan marah-marah terus." Ujang tersenyum. "Yang penting, Ujang masih boleh bobo sama Ibu, 'kan?" "T-tentu s-saja b-boleh, Nak …." Hari-hari pun akan kembali terulang sama. Sepulang kerja, Ujang pasti akan mencari istri Mang Oding untuk menemaninya beristirahat malam. Biasanya begitu melihat Mang Oding ikut tergolek di samping, Ujang akan langsung mengusir laki-laki tersebut. "Bapak tidur di kamar lain! Ujang mau ditemenin sama Ibu!" seru Ujang. "Jang …." "Pergi sana kata Ujang juga, Pak!" "I-iya, N-nak. Bapak ngalah." Sebelum laki-laki itu benar-benar berlalu, Ujang berkata, "Kalo Bapak butuh duit, Ujang udah siapin di kamar sebelah. Tapi awas, jangan ngambil banyak-banyak, ya?" "Iya, Jang. Terima kasih." Ujang berbalik menatap istri Mang Oding. "Bu, Ujang ngantuk." "Tidurlah sini deket Ibu, Jang …." balas perempuan tersebut seraya membuka kancing baju di bagian d**a. Kebiasaan Ujang saat bersamanya, memang seperti itu. Hampir seharian penuh, Ujang akan mempermainkan dan menikmati hal yang paling dia suka. Menetek. Bahkan tidak jarang ketika sibuk memasak di dapur sekali pun, Ujang sering muncul tiba-tiba. Mengacak-acak sajian siap santap, atau bahkan meminta jatahnya pada istri Oding. Jika tidak diberikan, maka dia akan marah dan mengancam. "Ya, sudah! Kalo Ibu gak ngasih apa yang Ujang pengenin, Ujang bakal berhenti nyari duit! Biar Bapak sama Ibu hidup lebih menderita lagi. Miskin semiskin-miskinnya." "Jangan, Nak. Jangan ngomong begitu, dong. Kami enggak ingin hidup miskin lagi, Nak," ujar Mang Oding seraya mengedipkan mata ke arah istrinya. "Iya, 'kan, Bu?" Perempuan tua itu mengangguk. Terpaksa. Sebenarnya, dia sudah tidak sanggup lagi mengurusi Ujang, anak yang mereka adopsi dari Mbah Jambrong. Seorang lelaki tua yang hidup dan tinggal di atas perbukitan sana. Beberapa kali istri Mang Oding mengeluh pada suaminya. "Apa gak kita balikin saja si Ujang sama si Mbah, Pak? Aku sudah gak tahan ngerawat dia. Tiap hari minta ngempèng terus tiada henti. Aku capek dan sakit, Pak." Mang Oding menarik napas panjang. "Bersabarlah, Bu. Anak itu membawa keberuntungan buat kita. Lihat sekarang, kehidupan kita jauh lebih mapan sejak kedatangan si Ujang. Tak apalah kita turut membahagiakannya, hitung-hitung sebagai balas budi dan ungkapan terima kasih." "Tapi aku—" "Kalo Ibu capek, 'kan bisa nyari lagi pembantu buat ngerjain tugas rumah. Jadi, Ibu ada banyak waktu buat ngurus si Ujang." Perempuan itu menatap saksama. "Pak, udah berapa orang pembantu yang kerja di rumah kita. Semuanya pergi dan bernasib sama. Apa Bapak gak khawatir, nanti bakal timbul kecurigaan pada warga sekitar kita?" "Apa pedulinya, sih, sama mereka, Bu?" balas Mang Oding. "Selama ini mereka kerap menghina kita. Lalu ketika berubah kaya raya seperti sekarang, mereka tiba-tiba baik. Huh, manusia macam apa itu?" "Tapi, Pak …." "Sudahlah, Bu. Apa Ibu mau kita kembali jatuh miskin dan jadi bahan hinaan?" "Seenggaknya, gak dengan cara ini, Pak. Aku hanya—" "Aaahhh … sudahlah. Enggak usah dibahas lagi. Bapak juga capek, Bu." Mang Oding beranjak meninggalkan istrinya, tersedu di kamar tidur. Perempuan itu hanya bisa mengelus d**a. Menahan rasa perih di bagian tubuh tersebut, akibat ulah si Ujang. TAMAT
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD