12. Sebuah Hadiah Sececap rasa itu, mampu mengisi segalanya Menambal luka, hingga tak lagi ketara --- Hampir pukul tiga dini hari, Yuna terjaga dari tidurnya. Dia menegakkan tubuh, meraba nakas untuk mengambil gelas minumnya namun nihil. Dia lupa meletakkan minumnya di atas nakas. Yuna menyibak selimutnya dan beranjak dari ranjang, keluar kamar. Berjalan dengan langkah terayun pelan hampir tidak menimbulkan suara. Dia menuruni anak tangga satu persatu dengan sebelah tangan berpegangan. Hanya dengan temaram lampu yang menerangi. "Apa Tuan belum pulang?" Yuna bertanya, ketika tak sengaja berpapasan dengan Mini di dapur. "Belum. Mungkin masih ada hal penting lain di luar." sahut Mini lembut dengan suara menenangkan. Mengerti benar kegelisahan yang melanda Yuna. Yuna hanya mengangguk l

