10. Candaan Pagi

1507 Words
10. Candaan Pagi Dan aku jatuh cinta, Namun tak cukup mampu memilikinya Jemari ini terlalu kotor untuk mendekap dirinya --- Berjalan-jalan di pelataran rumah, Yuna menikmati udara pagi dan semerbak bunga yang menguar, memenuhi indera penciumnya. Langit cerah dengan cahaya mentari yang hangat menyapa. Dia menyungging senyum. Menengadah menatap birunya langit, awan putih bersih berarak menghias. Biasanya, dulu sepagi ini, Yuna sudah disibukkan dengan aktivitas restoran yang mulai bersiap buka. Dia karyawan teladan yang memiliki banyak pekerjaan, mulai dari menyapu sampai mengelap kaca-kaca restoran. Dan semua itu menghilang sejak dia melakukan kontrak dengan Kennan. Yuna keluar dari dua pekerjaannya secara baik-baik, meski mendadak sekali. Membuat banyak temannya di restoran maupun di kedai mengernyit curiga padanya. Sudahlah. Yuna tidak ingin mengungkit awal mula dia terikat dengan Kennan. Sangat menyakitkan. Di mana dia merendahkan harga dirinya demi segenggam kehidupan layak yang di janjikan. Yuna mengusap wajah, meregangkan tubuh agar sedikit lebih segar dan menghilangkan kekalutan hatinya. Hingga matanya tak sengaja melihat Pak Budi sedang menyiram tanaman. Menampilkan cengiran khasnya, Yuna menghampiri tukang kebun rumah Kennan. Berniat mengambil alih pekerjaan. "Pak Budi, biar saya yang menyiram," ucap Yuna ramah. "Eh Non. Jangan. Nanti basah." tolak laki-laki paruh baya itu sama ramahnya. Yuna mengibaskan tangannya. "Hanya menyiram. Saya bisa, Pak," Pak Budi mengernyit, berpikir akan memberikan selang air itu pada Yuna atau tidak. "Nanti di marahin Tuan Kennan." ingat Pak Budi, menghentikan gerakan tangannya menyerahkan selang air pada Yuna. "Tuan Kennan masih tidur," ucap Yuna sembari merebut selang air yang mengambang di dekatnya. Membuat Pak Budi hanya bisa mendesah pasrah. Menyalakan selang air, Yuna mulai menyiram tanaman. Menggoyangkannya kanan kiri seirama. "Hati-hati Non, nanti basah." Pak Budi mengingatkan. Was-was jika Tuan besarnya sampai melihat, maka habislah dia. Pasalnya, seluruh pekerja di rumah Kennan sudah diwanti-wanti untuk tidak membiarkan Yuna bekerja. Apapun itu. Yuna mengacungkan ibu jarinya ke atas. "Saya hati-hati kok. Pak Budi ke taman belakang aja." Mempercayai ucapan Yuna, Pak Budi segera undur diri untuk kembali melakukan pekerjaannya di sisi rumah yang lain. Yuna tersenyum semringah. Dia berpindah tempat pada sisi tanaman lain yang belum tersiram. Pagi-pagi menyiram bunga itu mengasyikan sekali. Mengingatkan dia pada rutinitas mingguannya dulu, dia akan menyiram bunga-bunga dan ayahnya yang mencuci mobil atau motor. Tapi, yang lalu biarlah berlalu. Merelakan adalah kunci utama untuk hidup tenang dan melihat masa depan. Memang, sesekali Yuna akan teringat dan menangis karena kehilangan. Meski begitu, bukan berarti dia harus selalu terpuruk dan mengutuk hidupnya. Tidak. Yuna tipikal wanita cengeng namun luar biasa mandiri. Ikhlas menerima apapun yang telah digariskan. "Yuna." Terperanjat kaget. Yuna serta merta mengarahkan ujung selang airnya pada seseorang yang memanggilnya tadi. "Hei. Apa-apan!" Yuna menelan ludah, melihat seseorang yang baru saja dia siram sampai kuyup. Kennan berdiri beberapa langkah di dekatnya dengan wajah garang menyeramkan. Ya Tuhan. Yuna buru-buru menjatuhkan selang airnya dan berlari menjauhi Kennan. Dia tahu akibatnya, dalam hitungan detik saja Kennan akan melancarkan hukuman. "Yuna!" Nah kan. Yuna bergidik mendengar suara Kennan yang seperti auman serigala itu. Oh, pagi cerahnya berubah kelabu karena keteledoran dirinya. Menggeram, Kennan mengambil selang air yang Yuna tinggalkan tadi. Kini, giliran dia yang menyirami Yuna sembari mengejar. "Maaf kan saya," mohon Yuna ketika dia terpojok di dekat pagar pembatas. Tidak ada jalan lain karena kanan kirinya ditumbuhi bambu-bambu kecil yang tampak lebat. Kennan tertawa puas. Dia hampir mencapai Yuna dan mencekalnya, namun sayangnya dia lalai dan membuat Yuna lolos dari kejarannya. Yuna menjulurkan lidah, berlari menjauhi Kennan dengan tidak melihat ke depan. Sedikit menikmati raut kekesalan Kennan. Tentu saja Kennan kesal, laki-laki itu sudah rapi dengan kemeja navy yang super licin. Tapi, justru dibuat basah kuyup. "Wajah Tuan mirip ibu kucing yang hamil muda." ledek Yuna berani. Namun detik berikutnya dia menutup mulut dengan tangan. Mengutuk dirinya karena kebodohan. Mengejek Kennan sama saja mengumpankan diri ke kandang singa. Yuna berhenti berlari. Berbalik menatap Kennan yang berjalan gagah ke arahnya. Laki-laki itu seolah siap menerkam buruannya. "Maaf, saya tidak bermaksud." Yuna menangkup dua tangannya memohon maaf. Siapa tahu, Kennan akan luluh dan sedikit meringankan hukumannya nanti. Kennan menyeringai, masih dengan wajah segarang singa. "Maaf mu diterima dengan satu syarat. Menuruti permintaanku tanpa bantahan." Yuna menggelengkan kepala. Kembali berbalik dan berlari menjauh. Dia tidak bisa menuruti tanpa bantahan. Bisa mati kutu Yuna tanpa aktivitas. Hanya tidur, menunggu, melayani. Yuna tidak pernah dididik hanya untuk berleha-leha. Saat sedang berusaha menjauh dari Kennan, tiba-tiba kaki kanan Yuna terpeleset karena menginjak rumput basah dan terpelanting jatuh. Jatuh mencium tanah andai tidak ada lengan yang memeluk pinggangnya dan menahannya. Yuna menahan napas. Memejamkan mata. Terlalu takut melihat siapa sang penolongnya. "Sekali saja turuti perintahku." ucap Kennan tajam. Dia memindah posisi tubuh Yuna menjadi lebih nyaman di dalam rengkuhannya. Tidak akan Kennan biarkan gadis ngeyel itu melarikan diri. Dia harus menuntaskan, sampai Yuna benar-benar tunduk di bawah perintahnya. "Maaf," lirih Yuna dengan bibir bergetar pelan. Perlahan, Yuna membuka mata karena cengkeraman Kennan di wajahnya. Manik coklat gelapnya bersirobok dengan mata hitam Kennan yang menyorot galak. "Kamu sadar posisimu, bukan?" Yuna mengangguk. Dia memang keterlaluan, melupakan identitas dirinya yang sesungguhnya di rumah itu. Haruskah setiap detik dia lafalkan di hatinya, bahwa dia hanya seorang suruhan. Wanita yang tanpa sengaja Kennan pilih untuk mengandung anak lelaki itu. Yuna terisak, perlahan air matanya lolos dari sudut mata. Dia, memang sehina itu. Tidak memiliki harga diri. Kennan gelagapan melihat Yuna yang tiba-tiba menangis. Buru-buru dia mendekap Yuna di dadanya. Apa kali ini dia keterlaluan memperlakukan Yuna. "Hei, kenapa?" tanya Kennan bingung. Yuna terisak makin keras. "Maaf. Saya memang keterlaluan, sampai Tuan semarah ini." bisiknya disertai tarikan ingus dari hidungnya. Kennan melongo. Dia hanya bercanda. Kenapa Yuna sampai setakut itu karena kemarahan pura-pura nya. "Aku bercanda," kisik Kennan lirih. Dia mengusap pelan punggung Yuna yang bergetar. "Sudah dong. Aku tidak betulan marah." Yuna menggeleng, semakin terisak dengan bibir yang terus membisikkan kata maaf. Kennan mengembuskan napas. Dia melonggarkan rengkuhannya, melihat wajah menangis Yuna. Lucu, karena Yuna terisak persis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. "Jangan lakukan itu lagi. Bahaya kalo kamu sampai jatuh." Kennan berkata lembut, dia menangkup wajah Yuna dengan dua tangan dan mengusap air mata Yuna. Yuna terus terisak namun tidak menepis sentuhan Kennan di wajahnya. "Kalau kamu nangis terus, nanti aku bilangin Pak Budi biar nggak ngasih kamu ngurus bunga-bunga." ancam Kennan lirih. Yuna mendelik kemudian menggeleng keras. "Jangan. Bunga mataharinya baru ditanam kemarin." Ups, Yuna segera menghentikan tangisnya dan menutup mulut dengan dua tangan. Keceplosan. Kennan menyeringai. "Oh, kemarin menanam bunga matahari. Katanya olahraga," Memberengutkan bibirnya, Yuna kembali memasang wajah hendak menangis. "Mbak Mini yang beli. Pak Budi yang gali tanahnya. Saya hanya menanam bibitnya saja." Kennan terkekeh, dia mengusap kepala Yuna dengan kelembutan yang selalu mampu membuat desiran darah Yuna mengalir lebih cepat. "Ya udah, nggak pa-pa. Asal jangan terlalu capek." ingat Kennan tak pernah lelah. Yuna mengukir senyum, menarik napas panjang dengan sesenggukan. "Hukumannya tidak jadi." Kennan menaikkan dua alisnya. "Kamu mau?" "Tidak." sambar Yuna cepat. Dia mengusap wajahnya yang basah oleh air siraman Kennan tadi juga air matanya. Huh. Rambutnya yang sudah dikepang susun tampak lepek dan berantakan. "Saya harus mandi lagi," keluh Yuna, meraba-raba rambutnya yang tampak awut-awutan. Kennan melirik sinis. "Oh, kamu pikir aku juga tidak mandi lagi." Yuna meringis. Dia menatap Kennan atas bawah. Penampilan laki-laki itu tidak jauh beda darinya. "Tidak sengaja," rajuknya. "Sudah, mandi sana." "Saya belum selesai menyiram," Yuna menunduk. Mengambil selang air yang berada tidak jauh darinya. "Badan kamu sudah kuyup Yuna." Yuna menggelengkan kepala. "Saya sudah janji sama Pak Budi mau menyiram taman depan. Lagipula tinggal sedikit lagi," Tidak menunggu sahutan dari Kennan, Yuna kembali mengarahkan selang pada tanaman yang belum terjamah air. Kennan berdecak. Wanita keras kepala. Menghentakkan kaki, Kennan berjalan ke arah Yuna dan mengambil alih selang air. "Biar aku saja." Yuna tersenyum, merelakan pekerjaannya diambil alih. Dia menatap Kennan penuh minat, tetesan-tetesan air dari rambut basah laki-laki itu meluncur mulus melewati wajah dan berakhir turun ke tanah di bawah dagu. Melangkah mendekat, Yuna mengulurkan tangan mengusap wajah basah Kennan. "Maaf, Tuan jadi kuyup begini." sesalnya. Kennan berdeham, matanya sekalipun tidak melirik ke arah Yuna namun senyuman tipis terbit di sudut bibirnya. "Sudah, mandi sana." Yuna memetik salah satu bunga bougenvile dan menyempilkannya disela-sela telinga dan rambutnya. "Mau nungguin Tuan," Kennan mendengkus. Sesaat dia melirik Yuna dan terpekur melihat wajah wanita itu. "Cantik," gumamnya. Dalam semburat merah muda, Yuna tersenyum malu-malu. Jarang-jarang Kennan memuji, hampir tidak pernah. "Terimakasih." "Bunganya," Yuna mengembungkan pipi. Kesal dicampur malu. Percaya diri sekali Yuna jika Kennan akan memujinya. Kennan tertawa lepas, puas melihat Yuna yang memasang wajah sebal. Dalam satu gerakan cepat, dia mengecup pipi Yuna yang digembungkan. "Tambah jelek kalau digembungin gitu," ejek Kennan. Yuna mengalihkan wajahnya dari Kennan, tidak ingin jika laki-laki itu tahu kalau wajahnya sudah merah padam karena malu dan bahagia. Kennan baru akan mencondongkan tubuh untuk mengecup pipi Yuna lagi. Sebelum sebuah suara memanggilnya. Membuat gerakannya terhenti dengan tubuh yang membeku. "Kennan," Dan ketika Kennan beralih menatap arah suara. Wajahnya berubah pias. Tidak jauh darinya berdiri seorang wanita dalam balutan gaun merah di batas paha. Menampilkan senyuman khas yang membuat wajah cantiknya tampak bersinar. Namun, juga membuat wajah Kennan semakin pias tidak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD