9. Cinta Belasan Tahun

1306 Words
9. Cinta Belasan Tahun Yang bisa kulakukan Hanya memberimu cinta tanpa jeda Untuk mengobati lukamu, yang terkoyak menganga. --- Yuna sedang menanam bunga ketika sebuah mobil memasuki pelataran rumah. Dia tidak mendongak sedikitpun untuk sekadar menilik siapa yang datang. Masih sibuk menanam bibit bunga matahari yang baru dibelinya. Bukan dia yang beli sih, dia meminta Mini untuk mencari bibit bunga di penjual tanaman. Tadinya ingin menanam pohon mangga dan durian, tapi urung karena takut Kennan tidak akan suka. Dan ketika berpikir lagi, sekalipun dia menanam pohonnya, keberadaan dirinya di rumah itu tidak sampai hingga pohonnya berbuah. Menepuk-nepuk tangannya yang kotor karena tanah, Yuna menegakkan tubuh dan sedikit meregangkannya. Dia tersenyum melihat deretan bibit bunga yang baru ditanamnya. "Nona, Tuan Kennan sudah pulang." Mini berseru tidak jauh dari Yuna. "Sudah pulang?" Yuna mengernyit, dia menengadah menatap langit biru di atas sana. Tumben sekali, biasanya Kennan pulang ketika malam menjelang tapi ini matahari saja masih bersinar terik. Terburu-buru, Yuna berjalan ke arah keran air, mencuci tangannya dari tanah-tanah yang menempel. Baru saja dia akan berbalik untuk masuk ke dalam rumah, suara berat menginterupsinya. "Yuna," Yuna menggigit pipi dalamnya, membalik badan untuk melihat Kennan yang berdiri dengan sebelah tangan di simpan di saku celana depan. Laki-laki itu sudah menanggalkan jas kerjanya dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Yuna nyengir, polos. "Tuan sudah pulang?" Kennan menganggukan kepala. "Sedang apa?" Menyimpan dua tangannya di belakang, Yuna berjalan mendekat ke arah Kennan. "Habis olahraga," kilahnya kemudian tertawa kecil. "Oh ... rajin sekali olahraga terik-terik begini," Kennan tersenyum penuh arti. Mengikuti permainan Yuna yang sarat kebohongan. Tadi, selepas Kennan turun dari mobil, langkahnya mantap memasuki rumah dengan menyerukan nama Yuna. Mencari wanita itu yang sedikitpun tidak menyahuti seruannya. Kennan geram. Apalagi melihat Yuna sedang mengerjakan entah apa di taman depan rumah. Yuna mengabaikan dirinya yang menyempatkan pulang lebih awal. "Biar badan kita sehat," ucap Yuna sembari mengelap tangan basahnya ke gaun maroon selututnya. Dia berjalan lebih mendekat pada Kennan lalu meraih tangan kanan laki-laki itu. Membawanya mendekat pada wajah untuk akhirnya mempertemukan bibirnya dengan punggung tangan Kennan. Kecupan penuh kesopanan yang selalu Yuna berikan. Entah pagi ketika berangkat kerja atau pulang kerja. Kennan mengembuskan napas panjang. Tidak jadi marah dan kesal pada Yuna karena tingkah wanita itu, manis sekali. "Tuan ingin saya buatkan apa?" tanya Yuna ketika dirinya dan Kennan memasuki rumah. "Tidak lapar, dan tidak berniat makan apapun." Yuna membulatkan bibirnya. "Lagi diet," seloroh Yuna lirih namun masih bisa didengar Kennan. Kennan menoleh, menghentikan langkahnya dan menatap tajam wanita di sebelahnya. "Buat apa diet. Badan kamu udah kecil begitu!" Ah, Kennan salah paham. Yuna gelagapan. "Saya tidak diet," "Terus tadi." kata Kennan memicingkan mata. Menelan ludah gugup, Yuna mengibaskan sebelah tangannya. "Saya kira, Tuan sedang diet. Bukan saya yang ingin diet." jelas Yuna. "Kalau kamu berani diet. Awas saja." ingat Kennan mengancam. Yuna mengangguk. Dalam diam, dia mengikuti langkah-langkah panjang Kennan ke taman belakang rumah. Ketika Kennan duduk di gazebo pun Yuna turut ikut serta. Tidak berucap atau berbalik untuk pergi. Kennan itu tipikal laki-laki penyayang yang terkadang menyeramkan. Kalau dalam satu-dua panggilan Yuna tidak menyahut, Kennan akan turun tangan untuk mencari dan berakhir dia yang akan diomeli. Menguap lebar, Kennan menggeser duduknya semakin ke tengah gazebo. Dia menata bantal sofa yang memang selalu tersedia di sana, lalu merebahkan diri. Tiduran di sore hari dengan angin sepoi yang sesekali menyapa. Yuna mengernyit melihat tingkah Kennan yang tidak biasa. Dari mulai pulang lebih awal dan sekarang justru bersantai ria di gazebo. Bukan Kennan sekali. "Tuan kenapa?" tanya Yuna lirih. Dia menggeser tubuhnya mendekati Kennan yang merebah dengan lengan menutupi mata. Kennan memilih tidak menjawab. Dia hanya berganti posisi menjadi menghadap ke arah Yuna. Senyumnya terbit perlahan seiring dengan matanya yang terbuka. Ada sebersit rasa yang coba ia timbulkan kepermukaan. Meski rasanya itu mustahil, bukankah di dalam hatinya sudah tidak ada lagi rasa. Mengangkat kepalanya, Kennan memindahkan rebahannya ke atas paha Yuna. Membuat wanita itu terperanjat. "Besok kita ke dokter kandungan lagi," ucap Kennan, matanya tertuju pada perut rata Yuna. Yuna meringis, "Besok," Kennan berdehem pelan. Dia mengulurkan sebelah tangannya kemudian mengusap perut Yuna lembut. "Aku ingin tahu, apa di sini sudah ada nyawa lain," ucap Kennan. Kali ini dia menghadiahi sebuah kecupan hangat di perut Yuna. Yuna memejamkan mata. Darahnya berdesir hebat menerima perlakuan manis Kennan. Pertahanannya hancur tatkala dia merasakan kecupan Kennan di perutnya berulang kali. Sebagai wanita, dia lemah akan perlakuan Kennan yang sarat cinta dan kasih. Meski, lebih dari apapun, dia menyadari, Kennan tidaklah memiliki rasa padanya. Secuilpun. "Kalau ternyata belum bagaimana?" Yuna melontarkan pertanyaan dalam getar pelan bibirnya. Dia takut. Namun kali ini berbeda dengan ketakutannya saat pertama bersama Kennan dulu. Kali ini, dia lebih takut ketika tidak bisa memberikan apa yang Kennan inginkan dan berujung pada dia yang akan ditendang keluar rumah. Atau lebih menyakitkannya akan dibuang jauh-jauh dari kehidupan Kennan. "Kalau belum, ya kita usaha lagi." Tidak tahu harus membalas bagaimana. Yuna hanya mengukir senyuman tipis. Hatinya merenyut nyeri, dia ada memang hanya digunakan untuk mengandung anak Kennan, tidak lebih. Kennan menarik tangan kanan Yuna lalu meletakkannya di puncak kepalanya sendiri. Menuntun Yuna untuk mengusap-usap rambutnya. Yuna terkekeh. Seperti itulah Kennan, sedikit bicara lebih banyak bertindak. Coba langsung katakan saja pada Yuna jika rambutnya ingin diusap-usap. Kennan kan tidak perlu meraba-raba untuk mencari tangan Yuna. "Tuan pernah jatuh cinta?" Yuna sekonyong-konyong bertanya. Ditatapnya wajah Kennan yang tampak terperangah akan pertanyaannya. Salahkah?. Tapi Yuna sangat penasaran. Ingin mengetahui secuil saja alasan kenapa Kennan tidak menikah dengan wanita yang mungkin dicintai jika begitu mendamba seorang anak. Kennan mengerjap, sebuah senyuman coba ia ukirkan di bibirnya. "Jatuh cinta, ya," Yuna bergeming. Bibirnya terkatup rapat menanti kelanjutan ucapan Kennan. "Aku pernah jatuh cinta. Dan hanya satu-satunya cinta di dalam hidupku selama ini. Rasa yang menetap sejak aku masih belasan tahun. Kami tumbuh bersama, dia saudara jauhku sekaligus sahabatku." Jeda sejenak. Kennan gunakan untuk menghirup napas panjang. "Terkadang, aku ingin seperti banyak orang yang dengan mudah melepas cinta lalu berpindah ke lain hati. Tapi sayangnya, itu tidak terjadi padaku." Yuna tersenyum getir. Keputusannya yang terlalu ingin tahu berdampak pada hatinya yang seolah diremas. Menyakitkan. Genap sudah semua? Tidak ada lagi secuil kesempatan. "Lalu, kenapa Anda tidak menikahi wanita itu?" Kennan terkekeh. Bukan karena pertanyaan Yuna tapi lebih pada menertawakan dirinya yang sekadar mengungkap rasanya saja tidak berani. "Kamu tahu. Rasa itu tak selamanya untuk diungkap." ucap Kennan sok bijak. Yuna mengerucutkan bibirnya. Bukan itu jawaban yang diharapkannya. "Jelek bibirnya." cibir Kennan sembari menjumput bibir Yuna yang di majukan. Mengibas tangan Kennan, Yuna mengusap bibirnya yang sakit karena cubitan laki-laki itu. "Tuan," panggil Yuna. Ketika Kennan menutup matanya. Kennan membuka kelopaknya. "Ada apa? Masih penasaran dengan alasan kenapa aku ingin punya anak tanpa ikatan?" tanya Kennan dengan suara meninggi, mengerti arah pembicaraan Yuna sedari tadi. Yuna mengangguk. Sedikitpun tidak tersinggung dengan nada suara Kennan yang meninggi. "Aku nggak mau cerita." "Kenapa?" Kennan berdecak. "Kamu saja tidak pernah bercerita tentang dirimu?" "Tuan tidak bertanya." Menaikkan dagunya. Kennan mencubit pipi Yuna. "Harus ditanya dulu?" Yuna merengut. "Iyalah. Masa saya tiba-tiba cerita. Siapa tahu Tuan tidak tertarik dengan kehidupan saya, kan?" Kennan meringis. Benar juga sih, dia tidak bertanya karena sedikit banyak sudah mengetahui riwayat kehidupan Yuna. Meski terkadang dia greget juga karena Yuna yang terkadang bawel. Bertanya ini itu. Bahkan sesekali berdebat untuk hal sepele yang seharusnya bisa dengan mudah diselesaikan, andai saja salah satu mau mengalah. "Jadi kamu pernah jatuh cinta?" Yuna menggeleng. Sesaat lalu dia sempat menahan napas karena lontaran pertanyaan Kennan. "Saya tidak pernah di beri kesempatan untuk merasakan hal seperti itu." Kennan menautkan alisnya. "Kenapa tidak pernah?" "Terlalu sibuk untuk membahagiakan adik saya sampai tidak berharap banyak tentang romansa," Kennan diam. Pikirannya berkelana tidak tahu arah. Apa kehidupan Yuna selama ini jauh dari kata layak. Sampai Kennan merasa wanita itu tidak menikmati masa remajanya sama sekali. Dan kini, Kennan pun tak bisa menjamin kebahagiaan Yuna. Dia hanya menuruti apa baiknya saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD