Sebelum memasuki kamar mandi, Megan kembali membawa pandangannya menelusuri kamar, tetapi detik berikutnya dia mengenyahkan pikirannya dan membawa langkahnya memasuki kamar mandi.
Satu per satu pakaian yang melekat pada tubuhnya mulai dilepaskan. Dia berjalan ke arah shower dan memposisikan tubuhnya tepat di bawah shower tersebut. Buliran air hangat dari shower itu mulai membasahi tubuhnya.
Namun, pikirannya melayang pada mimpinya. Entah kenapa dia bisa memimpikan hal yang seperti itu, tetapi anehnya dia merasakan mimpi itu sangat nyata.
Bahkan, dia benar-benar mencapai puncak kenikmatan hingga terbawa ke dunia nyata, setelah itu barulah dia terbangun.
Saat ini pikirannya menjadi linglung. Air yang menetes dari shower masih membasahi tubuhnya.
Semakin dia berusaha untuk mengenyahkan mimpi itu, semakin dia terpikirkan oleh mimpi tersebut.
“Kamu wanita m***m, Megan!” serunya. Dengan cepat menyelesaikan acara mandinya, lalu keluar dengan berbalut handuk yang menutupi bagian penting tubuhnya.
Sebelum berdandan, dia terlebih dahulu mengambil ponsel yang sudah di-charge semalaman. Menyalakan ponsel tersebut, lalu memesan makanan melalui sebuah aplikasi.
Setelah itu, barulah dia menempatkan tubuhnya di depan meja rias dan memulai kegiatan berdandannya dengan memoles riasan tipis.
Hingga, saat ini dia pun selesai dengan kegiatannya, tetapi entah kenapa dia merasa sangat tertarik melihat cermin yang ada di depannya. Bahkan, dia menatap dengan lekat.
Tangannya dengan perlahan terangkat, menyentuh cermin yang merupakan pantulan dirinya dengan tatapan seakan kosong. Namun, detik berikutnya dia kembali pada kesadarannya dan segera menarik tangannya.
Dia segera beranjak dari cermin itu sembari mengenyahkan hal horor yang berada di pikirannya. Kemudian langsung mengganti pakaian dan mempersiapkan barang-barangnya. Setelah itu dia pun segera turun ke lantai utama.
Tidak berselang lama, bel rumahnya berbunyi. Membuatnya dengan segera berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu tersebut yang terdapat pengantar makanan yang dia pesan tadi.
Akan tetapi, pengantar makanan itu melihat aneh kepadanya dan juga terlihat sangat tergesa-gesa. Seakan ada yang ditakuti oleh pengantar makanan tersebut.
Setelah memberikan makanan, pria itu langsung berlari menjauh. Membuat dahi Megan terlihat mengerut dan juga merasa heran.
“Aneh!” gumamnya. Segera menutup pintu rumah yang baru dia tempati itu dan membawa makanan yang dia pesan ke arah meja makan. Ia segera menyantapnya, sembari jarinya membalas pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya.
Setelah selesai, dia pun keluar, tetapi lagi-lagi tetangganya menatap aneh kepadanya.
“Apakah wajah Asia-ku terlalu mencolok? Apakah mereka tidak biasa melihat orang Asia di sini?” tanyanya kepada dirinya sendiri. Mengabaikan tatapan itu, lalu memasuki mobilnya.
Dia mengendarai mobilnya menuju kampusnya yang memang sedikit cukup jauh. Sekitar 25 menit berkendara, akhirnya dia sampai di kampusnya.
Dia memarkirkan mobilnya, kemudian keluar dari mobilnya dan memasuki pekarangan kampus tersebut.
Suasana di kampus dan di rumahnya barunya sangatlah berbeda, tetapi menurutnya karena dia baru menempati rumah itu dan dia belum terbiasa dengan suasana tersebut.
Meski ada sedikit pikiran horor, tetapi dia segera menepisnya karena dia bukanlah orang yang percaya akan hal itu.
Tidak ingin memikirkan tentang rumah, dia mencoba untuk berbaur dengan teman yang satu fakultas dengannya, dan tidak membutuhkan waktu lama, dia langsung akrab dengan teman-temannya. Bahkan mereka saling bertukar kontak.
Teman baru yang Megan dapatkan sebanyak lima orang, tiga diantaranya berasal dari negara lain, dan dua adalah asli Belgia, tetapi mereka semua tinggal di apartemen, dan mereka kagum ketika Megan mengatakan membeli rumah di sana.
“Tidak. Harganya sama sekali tidak mahal. Rumahnya bisa dikatakan besar dan terdiri dari dua tingkat, serta cukup nyaman. Aku membelinya hanya $4000,” jelas Megan.
Namun, itu membuat mata teman-temannya terbelalak dan menatap tidak percaya kepadanya.
“Kamu serius?”
“Ya, aku awalnya juga tidak menyangka, dan awalnya rumah itu memang kosong, serta sedikit kumuh. Tapi setelah direnovasi, kembali terlihat bagus, dan sangat layak huni. Mungkin pemiliknya hanya sayang rumahnya tidak digunakan lagi, oleh karena itu menjual dengan harga murah,” jelas Megan.
Teman-teman barunya hanya manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Megan. Mereka masih tidak percaya, tetapi mereka harus tetap percaya karena Megan menjelaskannya dengan begitu yakin.
“Kapan-kapan berkunjunglah. Rumahnya benar-benar layak huni dan sama seperti rumah-rumah pada umumnya,” lanjut Megan.
“Sepertinya kami memang harus berkunjung ke sana,” jawab temannya.
Kegiatan belajar mengajar Megan berakhir cukup sore. Meskipun cukup melelahkan, tetapi juga cukup menyenangkan.
Setelah keluar dari kampusnya, dia segera memasuki mobilnya dan mengendarai mobilnya kembali ke rumah yang dia tempati.
Tidak membutuhkan waktu lama, dia sampai dan langsung menyeret tubuhnya ke dalam rumah tersebut.
Lagi-lagi hawa dingin langsung menyambutnya, padahal di luar cuaca cukup panas. Akan tetapi dia merasa bersyukur karena dia tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tagihan listrik karena pemakaian AC.
Dia terlebih dahulu mengistirahatkan tubuhnya di ruang tamu. Tengkurap di atas sofa sembari memainkan ponselnya seraya sebelah kakinya diangkat.
Dia mencoba mengirim pesan kepada kekasihnya, tetapi tidak ada balasan. Sehingga kegiatan yang dia lakukan hanyalah scroll sosial media.
Tanpa terasa waktunya habis oleh kegiatan tersebut. Setelah itu barulah dia beranjak ke lantai atas, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Lagi-lagi dia merasa ada orang yang mengintipnya ketika ia mandi. Sehingga, dia kembali mengenakan handuk dan memeriksa sekitaran kamar mandi tersebut untuk mengetahui apakah ada kamera tersembunyi yang dipasang di kamar mandi itu oleh orang yang sebelumnya ia minta merenovasi rumah.
Karena masih merasa belum yakin, dia pun beranjak keluar untuk mengambil ponselnya dan kembali memasuki kamar mandi sembari mematikan lampu kamar mandi. Memeriksa menggunakan fitur pendeteksi kamera.
Namun, setelah beberapa saat, dia masih tidak menemukan apa-apa. Sehingga dia kembali meletakkan ponselnya dan melanjutkan mandinya. Sebab, kali ini dia sudah yakin tidak ada kamera di sana.
Dia dengan cepat menyelesaikan kegiatannya dan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
“Dibandingkan teman-temanku, aku lumayan beruntung mendapatkan rumah ini. Selain itu, harganya juga sangat murah, meskipun membutuhkan biaya yang cukup besar untuk merenovasinya,” monolognya sembari berjalan ke arah ranjang.
Di saat yang bersamaan, kekasihnya menghubunginya dan dia dengan bersemangat menjawab telepon dari orang yang dia rindukan itu.
“Kenapa kamu sangat lama menghubungiku?” tanyanya kepada sang kekasih yang berada di seberang sana.
“Maaf, aku tadi ada sedikit pekerjaan. Aku merindukanmu. Bagaimana keadaanmu di sana?”
“Aku juga merindukanmu … keadaanku cukup baik, meskipun kemarin hariku dipenuhi kesialan,” adu Megan.
Pembicaraan mereka semakin berlanjut dan menjurus tentang hal intim, tetapi Megan dikejutkan dengan pulpennya yang jatuh dari meja rias.
Setelah memeriksanya, dia pun tidak peduli, beranggapan hal itu hanyalah sebuah kebetulan, dan kembali melanjutkan pembicaraannya dengan kekasihnya.
Sehingga, mereka kembali membahas hal intim. Namun, ketika sedang seru-serunya, ponselnya tiba-tiba mati. Hal itu membuatnya merasa bingung karena tadi ketika di mobil dia sempat men-charger ponselnya melalui sambungan yang sudah dibeli.
“Apakah ponselku rusak? Sepertinya besok aku harus memperbaikinya,” gumamnya. Meletakkan ponselnya, kemudian membaringkan tubuhnya tanpa berniat untuk berganti pakaian terlebih dahulu.
Tidak membutuhkan waktu lama. Dia pun tertidur.