4. Mimpi yang Semakin Aneh

1002 Words
Tepat pada pukul dua dini hari dan ketika Megan tengah tertidur lelap, pintu balkon tiba-tiba terbuka. Langit malam seketika terpapar dan angin kencang berhembus ke dalam kamar Megan. Bukannya terbangun karena hal itu, tidur Megan malah semakin pulas. Sebuah kursi yang berada di depan meja rias tiba-tiba bergeser dan berganti posisi menghadap ke arah Megan yang saat ini tengah tertidur. Pintu lemari di kamar tersebut dengan perlahan pun terbuka, dan rasa dingin kian mencengkam. Megan yang tengah tertidur lelap, seakan tidak ada niatan untuk bangun sedikit pun, dan jika dia bangun, mungkin dia akan langsung pingsan melihat pemandangan yang begitu horor tersebut. Angin kencang makin berhembus memasuki kamar, membuat hordeng-hordeng berkibaran. Pintu lemari semakin terbuka dan tertutup menimbulkan bunyi yang mencekam, dan juga terdapat suara decitan di kamar tersebut. Detik berikutnya, lampu kamar itu tiba-tiba mati, membuat kamar itu gelap gulita yang disinari oleh rembulan yang berasal dari luar. Selimut tebal yang menutupi tubuh Megan tertarik ke bawah dan dengan perlahan memperlihatkan tubuh Megan yang tertidur menggunakan bathrobe. Tali bathrobe tersebut mulai terlepas dan bathrobe yang dikenakan oleh Megan pun tersibak. Sehingga, saat ini tubuh naked bagian depan Megan terpampang jelas. Dada ranum terlihat membusung dengan indah, perut rata terlihat begitu mempesona, dan bagian area sensitif yang tidak tumbuhi bulu tersebut terlihat begitu menggoda. Cahaya rembulan dari arah luar membuat tubuh tersebut sangat menawan. Sentuhan demi sentuhan mulai menjalar di area d**a Megan. Gunung kembarnya yang terlihat sangat menantang tersebut dipijat dengan lembut, sehingga sebuah desisan kedinginan dan juga nikmat mengalun dari bibir Megan dengan keadaan mata yang saat ini masih terpejam. Pijatan yang terjadi sebelumnya, saat ini sudah berubah menjadi remasan-remasan kecil yang membuat putik menggemaskan Megan mengeras dan menegang. “Nghhhh….” Megan mendesah di dalam tidurnya. Tubuhnya menggeliat kecil menikmati sentuhan nikmat tersebut, matanya kian terpejam dan desahan penuh kenikmatan kian terdengar dari bibirnya. “Ahhhh…,” lagi-lagi desahan mengalun begitu saja dari bibirnya, dan area sensitifnya di bawah sana mulai basah karena rangsangan yang begitu nikmat. Sebuah tangan dia rasa menjepit putiknya membuatnya semakin menggila, dan dia merasakan sesuatu yang begitu dingin dengan perlahan menyentuh lehernya, seakan saat ini dia tengah dijilati. Bukannya kedinginan, Megan malah menikmati jilatan tersebut, bahkan dia semakin memberikan akses dengan cara mendongakkan kepalanya, dan dia merasakan jilatan itu juga menjalar ke telinganya. Hal itu membuat tubuhnya semakin menggeliat, tetapi sangat menikmati apa yang terjadi. “Engg … nghhh … ahhhh,” mulutnya tidak henti-hentinya meracau karena kenikmatan itu, terlebih gunung kembarnya saat ini masih diremas dengan begitu nikmat. Hal itu membuat bagian bawahnya semakin basah. Rasa dingin yang tadi bersarang di telinganya, saat ini kembali turun ke lehernya dan semakin turun sehingga berada pada gunung ranumnya yang terlihat padat, berisi dan menantang. Sesaat kemudian, dia merasakan sebuah kenikmatan ketika dadanya seakan tengah dijilat. Meskipun terasa dingin, tetapi dia sangat menikmati, dan putiknya terasa disedot dengan kuat, membuat tubuhnya menggelinjang sembari semakin membusungkan d**a. Tidak hanya itu, gunung sebelahnya seakan tidak dibiarkan menganggur begitu saja, saat ini putik merah mudanya semakin dijepit dan terkadang dipelintir, membuat racauan Megan semakin tidak terkendali. Meski yang dia rasakan adalah dingin yang menyentuh tubuhnya, tetapi Megan sama sekali tidak merasakan kedinginan, seakan suhu tubuhnya menyatu dengan suhu tubuh makhluk itu. Pinggulnya menggeliat, pahanya semakin rapat dan bagian bawahnya semakin terasa basah. Namun, beberapa saat kemudian, dengan perlahan lututnya tertekuk dan pahanya terbuka lebar, sehingga memperlihatkan lubang surganya yang belum pernah dimasuki oleh siapapun. Megan merasa ada sesuatu yang besar dan keras yang saat ini berada tepat pada area sensitifnya, tetapi detik berikutnya dia semakin meracau ketika benda tersebut menggesek miliknya, memberikan kenikmatan yang selama ini belum pernah dia rasakan. “Ahhh … ahhh … ahhhh … oughhh …,” racaunya ketika gesekan itu semakin bertambah cepat. Benda keras dan besar tersebut seakan bergerak cepat menggesek miliknya dan menyapu cairannya yang kian keluar, serta cairan itu semakin membuat licin gesekan di bawah sana. Tangan Megan tidak tinggal diam. Sekarang tangannya menyentuh dadanya sendiri, memberikan kenikmatan kepada dirinya sendiri dengan cara meremasnya, sembari mulut kian meracau penuh kenikmatan. “Ohhh … ahhhh … yeahhh … ahhhh …,” racaunya dengan tangan yang kian meremas dadanya dan pinggulnya bergerak seakan mengikuti irama gesekan sesuatu yang keras di bawah sana. “Ahhh … ahhh … semakin cepat, please! … ahhh, yeahhh, seperti itu! … ahhh … ahhh … ahhh … oughhh! Aku sudah tidak tahan!” “Oughhhhhhhh!” lenguhan panjang mengalun dari bibirnya, disertai dengan tubuhnya yang menggelinjang hebat dan napas yang tersengal-sengal. Namun, gesekan di bawah sana tidak mereda sehingga beberapa saat kemudian dia kembali mendesah, dan lagi-lagi cairannya semakin menambah nikmat gesekan milik mereka berdua. Tepat mendapatkan dua pelepasan, barulah gesekan itu berhenti. Tubuh Megan seakan sangat lelah meskipun saat ini dia mengira tengah tertidur. Kantuk menyerangnya dan dia tertidur di dalam tidurnya. Angin yang tadinya berhembus kencang yang saling bersahutan dengan desahan Megan, sekarang sudah berhenti. Lampu pun mulai menyala kembali, memperlihatkan tubuh Megan yang mengenaskan setelah dilanda kenikmatan yang luar biasa. Bagian area sensitif Megan yang masih basah oleh cairan kenikmatan Megan itu terlihat memerah karena gesekan tadi adalah nyata. *** Pada pagi harinya, Megan terbangun ketika matahari menyeruak masuk melalui gorden yang menutup pintu kaca balkon. Dia segera membuka matanya dan mendudukkan tubuhnya sembari melihat sekeliling. Namun, semuanya tampak normal, dan selimut yang dia kenakan pun masih berada di tubuhnya, meski tali bathrobe-nya memang terlepas. Dia menyibak selimutnya, sehingga menampakkan tubuhnya yang terekspos begitu saja karena bathrobe yang dia kenakan juga ikut tersibak. Bayangan semalam berputar di pikirannya. Dia mengira itu adalah mimpi, tetapi terasa begitu nyata. Bahkan, hanya dengan membayangkan sentuhan dan rasa nikmat itu, kembali membuat bagian bawahnya menjadi basah. Tangan Megan tertuju ke arah bawahnya, menyentuh cairan tersebut, tetapi semakin dia memikirkan mimpinya, semakin tangannya bertindak nakal dan menyentuh bagian sensitifnya sendiri. Sehingga, tubuhnya menggelinjang oleh ulahnya sendiri dan matanya terpejam erat membayangkan apa yang terjadi di dalam mimpinya. Tidak berselang lama, dia pun mendesah hebat ketika badai kenikmatan menghadangnya, dan dia merasakan sesuatu yang meledak dari dalam tubuhnya, diiringi oleh lenguhan panjangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD