Part 7

1463 Words
Siang menjelang sore ini posko ramai oleh anak-anak yang baru saja menginjak remaja. Siapa lagi bos gengnya kalau bukan Rizky. Kubilang padanya untuk datang ke posko sore hari, aku memang tak bilang dia saja yang datang tapi ya kalau datang jangan bawa pasukan sebanyak ini, membuatku tepok jidat saja. "Ayolah, Mbak," rengek semua anak-anak bahkan ada 2 anak perempuan di tengah-tengah laki-laki. Semua teman poskoku kebingungan, program les bagi anak-anak SD dan SMP belum dimulai tapi posko sudah banjir. Satu dua bahkan mengira aku sudah memulai program les tanpa membuat laporan pada ketua KKN sebelumnya. "Niss?" Bima datang dengan penuh pertanyaan meski hanya tergambar lewat raut wajahnya. "Bukan les, Bim. Aku belum memulai program sesuai instruksimu. Mereka cuma pengen bicara sama Mas Rama," jelasku langsung membuatnya tepok jidat. "Ah, aku lagi main-main ke tempat tetangga sampai disusulin bocah k*****t itu," nunjuk Fajar, teman KKNku juga. "Kirain beneran kamu udah mulai program, Niss. Nggak masalah sebenarnya cuma kan yang lain belum siap sama jadwal materi lesnya juga." "Tenang," kataku cukup santai. Semuanya mengangguk, sebagian kembali masuk, sebagian lagi ikut bergabung dengan anak-anak. Strategi KKN lancar itu memang dekati dulu anak-anak di desa. "Ayo, Mbak," rengek mereka lagi. "Sebentar ya?" Langsung aku cek w******p Mas Rama, kapan terakhir dilihat atau bahkan bagus jika dia sedang online. Sejak telepon kemarin memang aku tidak chatting dengannya. Saat kulihat, terakhir dilihat memang 1 menit yang lalu. Alhamdulillah, setidaknya belum lama ini. Coba lagi aku chat hanya dengan mengucapkan salam. Alhamdulillah juga, masih aktif, tinggal menunggu balasan lalu ditelepon. "Lama ya, Mbak?" tanya Rizky lagi-lagi dengan binar mimpi dan harapannya yang tinggi. "Tunggu Mas Rama balas dulu, ya?" "Ini beneran istrinya Rama bukan sih, Riz. Jangan-jangan bohong dia," bisik salah satu anak yang kebetulan sampai ke telingaku. "Bener, kemarin lho Rama bikin story fotonya Mbak Nissa. Makanya kalau punya hape android diisi paketannya, biar bisa baca berita sama lihat keseharian pemain bola!" tegur Rizky dengan nada ketusnya. Aku tertawa mendengar perdebatan mereka. Lucu saja dengan anak yang tidak percaya tentang aku istrinya Mas Rama. Sejujurnya sama, Dik, aku juga masih percaya dan tidak percaya. Selang beberapa menit Mas Rama membalas pesanku, jadi tanpa basa-basi langsung aku telepon suami dinginku itu. "Bilang Assalamualaikum dalam hitungan ketiga ya?" pintaku pada anak-anak setelah kupastikan Mas Rama mengangkat teleponku. "Assalamualaikum," ucap mereka serentak. "Ehh, wa'alaikumsalam," Mas Rama sedikit kaget. "Lagi di mana, Niss?" "Lagi di posko, Mas. Ada yang mau bicara, Mas. Nissa kasihin ke dia ya?" Kataku langsung memberikannya pada Rizky. "Eh, siapa?" tanya Mas Rama kebingungan. Terdengar, memang sengaja aku perbesar volumenya. Anak-anak itu langsung melingkari Rizky, beberapa bahkan sampai memaksa berada di dekat Rizky sementara Mas Rama masih kebingungan karena banyaknya suara yang masuk. Rizky? Dia diam seperti orang tengah dalam ketidakpercayaan bisa telepon langsung dengan pemain idola. "Halo, Mas Rama, ya?" tanya Rizky dengan terbata. "Iya, dengan siapa saya bicara?" giliran Mas Rama. "Ini Rizky, Mas. Adiknya Mbak Nissa?" Kedua alisku terangkat, dengan percaya dirinya dia bilang adikku? Kok berani sekali dia, tapi tak apa, aku suka banyak adik. "Adiknya Nissa?" Mas Rama kebingungan lagi. "Maksudnya saya Rizky dari Gondosuli, tempatnya Mbak Nissa KKN. Ini beneran Mas Rama yang kapten Timnas U-23, kan?" "Oh, iya, Dik. Memang Rama mana lagi?" "Tuh kan bener." Rizky berbicara dengan teman di sebelahnya. "Mas, em, saya mau cerita kalau saya ngefans sama Mas Rama. Posisi main kita juga sama, bedanya Mas Rama sudah masuk timnas, saya baru mau masuk SSB Salatiga." "Loh pemain bola? Semangat ya, Dik. Nanti bisa lah masuk Timnas. Usia berapa?" Mas Rama lebih ramah ke orang lain daripada istrinya sendiri. "13 tahun ini, Mas. Belum ada gelar kecuali lomba di tingkat kabupaten," cerita Rizky cukup kecewa dengan nasibnya. "Loh, jangan patah semangat begitu dong suaranya. Bisalah, masih ada waktu sampai 3 tahun paling tidak untuk masuk di Timnas U-16. Masih ada waktu juga 6 tahun untuk masuk Timnas U-19. Masih juga waktunya 10 tahun untuk masuk Timnas U-23. Dan lagi masih puluhan tahun bisa masuk Timnas Senior. Dengerin ya, Dik? Mimpi itu tidak ada kadaluwarsanya. Jadi jangan pernah berhenti bermimpi." Yashinta menyenggol bahuku. "Pantas istrinya jadi ujung tombak kelas inspirasi, orang suaminya kaya Mario Teguh gitu," godanya. Kali ini memang aku bangga dengan Mas Rama, dia bisa berbicara selugas itu dalam memberi semangat pada Rizky. Meskipun kenyataannya padaku tak pernah bicara sepanjang itu. Setidaknya Mas Rama membantuku dalam menginspirasi anak Indonesia, khususnya yang ada di desa Gondosuli. "Dik Rizky masuk SSB Salatiga? Kayanya banyak yang dari sana masuk ke timnas. Ravi Ardianto pernah juga deh kayanya. Kenal kan sama Ravi Ardianto, kan?" "Kenal, Mas. Kiper pas Timnas U-19 juara Piala AFF tahun 2013, kan?" "Nah itu, sekarang malah jadi pemain bola sekaligus tentara. Gaji bisa doubel tuh, Dik." Rizky terdiam, mungkin dia memaknai mimpinya. "Pokoknya ya, Dik. Sekali bermimpi nggak boleh berhenti, harus berusaha, nggak ada waktu buat istirahat dalam berusaha. Toh, Allah Swt. tidak akan ingkar janji pada hamba-Nya yang mau berusaha." "Iya, Mas. Minta doanya semoga bisa mewujudkan mimpi." "Aamiin, selalu saya doakan. Asal baik-baik sama Nissa ya? Jangan bikin pusing dia, soalnya saya di jauh nanti dia nggak ada yang ngurusin kalau pusing," pesan Mas Rama membuat teman-temanku langsung menggodaku dengan tatapan sementara aku merasa tak percaya dengan yang diucapkan. "Siap, Mas. Mbak Nissa baik kok jadi nggak akan dijahatin sama saya. Jadi nggak akan pusing juga Mbak Nissa-nya." Terdengar suara tawa di seberang sana. "Satu lagi, Dik. Nanti kalau Mbak Nissa berduaan sama cowok lain bilang sama saya ya?" Sekali lagi aku membelalakkan mata atas sikap Mas Rama. "Siap, Mas! Paling juga Mbak Nissa pergi ke rumah Bu Dian sama Mas Bima." Aku langsung melotot pada Rizky. Bagaimana bisa dia dengan polosnya bercerita tentang itu pada Mas Rama. Ah, tapi itu juga tidak disengaja, memang tidak ada orang lain yang tengah menganggur. Dan menemui Bu Dian juga untuk urusan mengajar di SD mulai Senin, jadi murni untuk program KKN. Eh, paling juga Mas Rama tidak peduli. "Ya, itu yang bahaya. Ingetin ya kalau dia sudah punya suami, berduaan dengan laki-laki lain yang bukan muhrimnya itu dilarang!" kata Mas Rama terdengar begitu tegas. Bima langsung menatapku setelah sama-sama memelototi Rizky. "Suamimu cemburuan," ucapnya. "Paling juga pencitraan," sahutku sudah terlalu banyak dosa karena berprasangka buruk pada suami. "Cemburu yang dibuat-buat sama yang beneran itu beda, Niss. Jelas-jelas itu nada seorang laki-laki yang cemburu. Jaga jarak aman aku lah. Belum juga dapat jersey sama tanda tangannya, eh udah kena masalah duluan." Hanya ekspresi datar dariku. "Dik, bisa saya bicara sama Nissa?" Langsung kualihkan pandanganku pada ponsel berwarna rosegold di tangan Rizky. Timbul pertanyaan untuk apa Mas Rama mau berbicara denganku? Biasanya juga tidak peduli atau mungkin dia mau memarahiku karena membiarkan Rizky berbicara padanya. Astaghfirullah, lagi-lagi aku su'udzon pada Mas Rama. Toh, dia juga baik-baik saja selama berbicara dengan Rizky, kemarin aku juga sudah bilang ada yang mau berbicara dengannya dan dia mengiyakan. Jadi bukan itu masalahnya. "Ini, Mbak." Rizky memberikan ponselku. Sebelum kudengarkan Mas Rama berbicara apa, volume aku kecilkan. Takut pada dengar masalah keluargaku yang dinginnya melebihi kulkas dua pintu. "Niss?" panggil Mas Rama tepat saat aku menempelkan ponsel ke telinga kananku. "Iya, Mas," jawabku menjauh dari kerumunan. "Emm..." Berhenti sejenak, sepertinya Mas Rama tengah berpikir. "Tidak jadi." Dan lagi dia mengecewakan istrinya. Mau sampai kapan bicara tapi tidak jadi? Sampai Pak Edy berhasil mengontrak Cristiano Ronaldo? Sampai Bagus Kaffa dan Bagas Kaffi menggantikan Upin dan Ipin? Jadi aku akan menghela napas sepanjang hidupku karena Mas Rama. Indah sekali hidupku ini. Ah, aku sudah bilang tidak akan peduli dengan perlakuan Mas Rama padaku, yang terpenting sekarang ini bagaimana aku mencari pahala dengan memberi perlakuan baik pada suamiku. "Mas, nggak telat kan makannya?" tanyaku sok manis. "Nggak, tepat waktu." "Sehat juga kan, Mas?" "Alhamdulillah, cuma lagi diare." "Kok bisa? Sudah minum obat?" tanyaku dengan agak khawatir. Sepertinya sifatku sebagai istri yang baik mulai sempurna. Memperhatikan suami meski dari kejauhan. "Tadi salah makan. Sudah tadi beli di apotek." "Nggak ke dokter?" "Nggak." "Nanti kalau ada apa-apa gimana?" "Nggak apa-apa, nanti kalau tambah parah baru ke dokter." "Jangan makan yang aneh-aneh dulu lah, Mas. Yang nendang bola emang kaki tapi kan perut ikut juga berlaga. Kalau makan ya jangan asal makan lah, Mas." "Iya, Niss." "Ya sudah, mandi dulu sana. Nggak baik mandi kemalaman, nanti jangan lupa minum obat lagi. Yang pedas jangan dulu!" "Iya, Niss." "Assalamualaikum," pamitku langsung kututup. Sudah bosan rasanya memberi perhatian tanpa diperhatikan. Ah, masa bodoh. Sekali lagi aku menghela napas lalu mendekati adik-adik yang masih saja menungguku. Mereka minta aku bercerita tentang Mas Rama. Agak kikuk karena aku belum terlalu mengenal Mas Rama layaknya seorang istri sungguhan. Tapi ya setidaknya apa yang aku dengar dari mertua tentang Mas Rama bisa aku ceritakan sedikit. Berlanjut dan hingga malam pun Mas Rama tak menyampaikan apapun sekalipun hanya pesan singkat mengenai kabarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD