Part 6

2988 Words
Gondosuli, Tawangmangu, Kabupatan Karanganyar semakin malam semakin dingin. Jaket tebal yang kubawa seperti tiada gunanya, padahal sudah kuantisipasi sebelumnya ternyata tetap diluar dugaan, tapi apapun halangannya, kegiatan tetap harus berjalan. Menerjang dingin yang merasuk, kami tetap melaksanakan silaturahmi ke beberapa tokoh masyarakat di sini. Paling tidak menyampaikan salam bahwa kami telah datang dan akan mengadakan kegiatan di desa ini. Selesai yang pertama, melanjutkan ke tempat yang berikutnya. Cukup banyak tokoh masyarakat yang harus kami datangi. Seperti ustaz, RT/RW, Kepala Desa sampai Koordinator Lingkungan. Semua demi kelancaran kegiatan kami. Kami kembali ke posko pukul 21.12 WIB saat dingin sudah kian menjadi. Padahal kabarnya puncak dingin biasa terjadi jam 1 atau jam 2 tengah malam. Sudah tidak bisa membayangkan betapa dinginnya nanti. Sampai di posko, hal pertama yang aku pegang adalah ponsel. Takutnya ada yang menghubungi, terutama orang rumah. Suami? Jangan ditanya dia tidak akan pernah menghubungiku. Masalahnya tadi pagi sudah menghubungi, baginya mungkin cukup seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Benar saja, Ayah yang menghubungiku lebih dari 10 kali. Kebiasaan Ayah jika anaknya tak segera mengangkat telepon pasti tidak pernah menelpon ulang. Salahku juga tadi sengaja meninggalkan ponsel di Posko KKN. Kuhubungi balik Ayah sebelum beliau semakin khawatir putrinya tanpa kabar.  Satu dua kali Ayah tengah sibuk pada panggilan lain. Mungkin kolega bisnisnya tengah menelpon malam-malam begini. Biasanya begitu. Belum sempat kuhubungi lagi, Ayah justru meneleponku lebih dulu. Mengucapkan salam dan bertanya bagaimana keadaanku. Sedikit manja dengan Ayah, jadi aku mengeluh tentang banyak hal pada Ayah. "Nissa?" Nada suara Ayah mulai sangat serius. "Iya, Yah?" Yashinta datang dan menguping. Anak ini memang tidak bisa dikendalikan keingintahuannya. "Nissa masih marah soal perjodohan ini?" Aku menelan ludah. Pertanyaan Ayah terdengar sangat menohok. Tak langsung kujawab, aku melihat Yashinta dulu baru kuputuskan keluar dari kamar. Di teras depan rumah, aku duduk sendirian dan akan menyelesaikan percakapanku dengan Ayah. "Kenapa Ayah tanya begitu?" "Kalau Nissa masih marah, salah kah Ayah minta Nissa berdamai?" Sekali lagi menelan ludahku sendiri. "Niss, Ayah tidak tahu banyak tentang perjodohan ini tapi memang begitu pesan terakhir Almarhum Kakek. Beliau ingin kamu dan Rama menikah, menyatukan dua keluarga. Kenapa kamu yang akhirnya dipilih? Mungkin idealnya menurut usia cocok dengan Rama." Air mataku menetes. Memang posisiku serba salah waktu itu, menikah tapi tak saling mencintai, tidak menikah tapi menghalangi Kakek di akhirat. Berat rasanya terjebak dalam pernikahan yang mendadak ini, maksudnya memang direncakan tapi terkesan mendadak saja tanpa pengenalan. Terlebih tentang pernikahan yang begitu dingin pun canggung. "Nissa?" panggil Ayah begitu lembut. Beliau pasti menanti suara dan penjelasanku. "Nissa nggak marah soal perjodohan ini, Yah. Nissa cuma kaget. Nissa yang biasanya manja sama Ayah, Nissa yang masih seperti anak kecil, main-main dengan anak kecil, pikirannya masih main, main dan main. Tiba-tiba saja diminta menikah dengan orang yang bahkan tidak Nissa kenal secara utuh. Aneh tapi Nissa tidak bisa marah, sudah menjadi ketetapan Allah kan, Yah?" Ayah terdiam sejenak. "Nissa masih bisa seperti anak kecil yang manja, tapi tidak di tempat Ayah, ada suamimu. Kalau memang Nissa sudah bisa menerima perjodohan ini, berlakulah seperti istri yang selalu mencintai suaminya. Jaga jarak dengan laki-laki lain, setiap melakukan kegiatan bilang pada suamimu, beri dia kabar, tanyakan bagaimana keadaannya, beri dia perhatian kecil." Aku bisa melakukan itu meski tanpa cinta untuk Mas Rama tapi apakah bisa memberi semuanya tanpa mendapatkan balasan yang sama terus menerus? Bukankah suami istri saling melengkapi bukan hanya dilengkapi? Haruskah aku melakukan semua itu meski balasannya cukup beku? "Tadi Rama telepon Ayah, dia tanya kabar tentang Nissa lagi. Dia bilang seharian kamu tidak memberi kabar makanya dia tanya Ayah, hanya tadi pagi saja kamu izin berangkat KKN, setelahnya tahu kabarmu hanya dari foto selfie dengan laki-laki lain. Tidak baik, Nak." Air mataku semakin deras. Apa pula maunya Mas Rama? Kenapa jadi aku yang seolah-olah paling salah dalam pernikahan ini? Sikap dinginnya padaku apa kabar? "Telepon suamimu sekarang, Nissa. Beri dia kabar, beri dia penjelasan, tanyakan keadaannya." "Iya, Yah." Banyak lagi permintaan Ayah yang intinya aku harus lebih sering menghubungi Mas Rama. Aku terima saja, tidak mau membantah, tidak mau pula membuat masalah dengan Mas Rama apalagi Ayah. Kuikuti saja permainannya. Saat aku hendak menelpon Mas Rama, Yashinta datang mendekatiku. Membawa ponselnya yang memiliki layar cukup lebar, menampilkan siaran langsung Rizky Ghora. Kapten Tim Barito Putera. "Ada suamimu noh, siapa tahu rindu," kata Yashinta dari belakang. Segera ku hapus air mataku, memasang senyum manis dan untungnya lampu teras cukup remang. Tidak akan dia melihat mata sembabku. Kulihat siaran langsung yang masih berjalan.  Memang ada Mas Rama di belakang Rizky Ghora, tengah berbaring dan memainkan ponselnya. "Rama sibuk main ponsel mulu. Pasti chatting sama istri, kasian baru nikah langsung LDR dari AndyK12," baca Rizky Ghora pada kolom komentar yang baru saja masuk. "Istri apa? Dia mana berani menghubungi istri?" tangannya bergerak cepat mengambil alih ponsel Mas Rama. "Ini dari tadi telepon, chatting juga sama mertua. Lihat!” Menunjukkan ponsel Mas Rama yang memang menunjukkan isi pesan singkat dengan nama kontak Ayah Mertua. "Apa lho, Bang?" sahut Mas Rama sambil mengambil paksa ponselnya sementara Rizky Pora tak merasa bersalah, justru tertawa. Yashinta menyenggol bahuku. "Sweet amat suaminya, Bu. Chatting sama mertua." Aku hanya tersenyum singkat. "Kasian Rama, malam-malam begini enaknya chatting sama yang tercinta, malah chatting sama mertua. Istri ke mana? Dari Resti56." Mas Rama langsung menghadap ke arah kamera. "Iya, istriku tercinta masih sibuk dengan kegiatan KKN jadi sementara chatting sama mertua dulu." "Padahal sibuk juga nggak," sahut Yashinta dengan suara rendahnya. "Lagi pula malam-malam begini kegiatan KKN macam apa yang membuat seorang Nissa sibuk?" "Lagi ini dari AnandaHusain, Bang tanyain Rama kenapa istrinya nggak pernah upload fotonya, jangankan fotonya, foto berdua juga nggak ada." Lagi-lagi Rizky Ghora membacakan komentar yang melihat siaran langsungnya. Mas Rama terlihat diam sejenak. Mungkin pertanyaannya juga cukup menohok. "Istriku jarang main medsos soalnya. Foto-foto yang dari photographer juga belum sampai ke dia. Jadi ndak ada foto buat di upload. Oh iya, nggak apa-apa di medsosnya nggak ada yang penting di hatinya ada aku." Saking bingungnya dengan sikap Mas Rama yang selalu berubah-ubah setidaknya tiga hari ini. Aku langsung menghubunginya. Dalam siaran langsung memang sedikit tersendat, jadi baru sepersekia detik Mas Rama mengangkat teleponku, siaran langsung baru sampai saat Mas Rama tersenyum mendapat telepon dariku. "Lagi sibuk, Mas?" tanyaku sedikit tertahan di kerongkongan. Ingin sekali menangis atas semua kondisi yang ingin aku teriaki keras-keras. "Emm, nggak kok, Niss. Kenapa?" jawabnya terdengar suara godaan dari Rizky Ghora. "Emmm langsung telepon dia. Pergilah, takut jadi pengganggu," ujar Yashinta akhirnya mau sedikit mengerti. Jadi dia pergi membawa ponselnya yang masih terus mengikuti siaran langsung seorang Rizky Ghora. "Gimana kabarnya, Mas? Latihan lancar?" Menahan semua sesaknya sendirian. Yang di pulau seberang terdiam sesaat. "Baik, Niss. Lancar juga." "Makannya jangan telat ya, Mas," pesanku sudah melalui banyak pemilihan kata. Aku sendiri juga bingung jika tidak ada feedback yang pas, bagaimana caranya aku terus mencari topik pembicaraan sendirian. Ini juga karena Ayah, jika tidak mungkin lebih baik aku meratap sejenak dan tertidur. "Iya." "Tadi Nissa habis silaturahim ke tokoh masyarakat di sini. Maaf nggak minta izin dulu sama Mas." "Nggak apa-apa." Kini aku yang terdiam, menangis bersama kabut pegunungan yang mulai turun. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Atau kututup saja teleponnya setidaknya aku sudah melaksanakan apa yang diminta oleh Ayah. "Niss, kamu nangis?" tanya Bima yang baru saja datang dari arah samping rumah. Iya, dia memang tak satu posko denganku. Poskonya bersebalahan memang tapi yang penting kan perempuan dan laki-laki tidak dalam atap yang sama. Aku langsung mengahpus air mataku, menggeleng kecil lalu tersenyum. "Kenapa kamu? Kangen rumah? Tunggu, kangen sama suamimu?" Berondong Bima yang langsung duduk di sebelahku. Sekali lagi aku hanya menggeleng. "Terus kenapa?" "Nggak apa-apa, Bim." "Siapa, Niss?" tanya Mas Rama terdengar mendesak. "Teman, Mas. Ketua KKN," jawabku lengkap. "Rama?" tanya Bima dengan nada suara yang lirih. Mengangguk sebagai jawaban untuk Bima. "Oh." Aku tak bisa menahan tangisku, dia terjatuh lagi tanpa peduli adanya Bima di sampingku. "Bisa tinggalkan aku sendiri, Bim? Tidak enak hanya berdua saja. Aku juga sudah punya suami, semakin tidak baik lagi jika aku berdua dengan laki-laki lain." "Oh oke, tapi jangan nangis, Niss," katanya langsung pergi dengan agak kecewa. "Terima kasih," kata Mas Rama tiba-tiba. "Maksudnya?" "Oh, nggak, Niss." Mengangguk-angguk saja. "Mulai TC Timnas kapan lagi, Mas?" "Belum ada surat." "Oh." Sangat tidak menyenangkan. "Ya sudah, Mas istirahat aja, besok masih latihan kan? Ada pertandingan juga." "Iya, Niss." "Assalamualaikum," ucapku. "Wa'alaikumsalam," jawabnya dan langsung kututup teleponnya. Tangisku semakin deras, semua perasaan bingung, murka, kecewa, sesak, beradu menjadi satu yang tidak bisa lagi aku jelaskan. Pernikahan ini tentang dua insan yang tidak saling mencintai tetapi harus saling melengkapi, melakukan tugasnya masing-masing sebagaimana orang-orang yang menikah karena cinta. Akan tetapi, kenyataannya seolah aku yang selalu dituntut berlaku baik layaknya seorang istri tapi Mas Rama biasa saja seperti seseorang yang baru saja berkenalan. Kuhabiskan semua air mataku malam ini, esok aku tak ingin lagi menangis untuk pernikahan mendadak ini. Apalagi untuk Mas Rama yang sama sekali tidak peduli dengan tangisanku. Aku tidak membual, seharusnya dia dengar ketika Bima menegur tangisanku. Nyatanya dia juga tidak bertanya tentang mengapa aku menangis, tentang keadaanku pun dia tidak bertanya. Kuingin cukup malam ini aku merasakan sakit, esok aku tak akan peduli seberapa sakit rasanya tak dianggap. Aku tidak akan lagi peduli. **** Masih dengan program KKN yang begitu padat, dari mulai silaturahmi, mengajar TPA, mengikuti kegiatan ke masyarakatan sampai bermain permainan tradisional bersama anak-anak di desa Gondosuli, Tawangmangu, Kabupatan Karanganyar. Sudah seharian juga aku tidak memegang ponsel sekadar melihat informasi laga antara Barito Putera melawan Mitra Kukar. "Mbak, mbak Nissa istrinya Rama Anan, ya?" tanya adik-adik yang kuketahui masih kelas 1 SMP. Kemarin kami sempat berkenalan. "Eh, siapa bilang, Dik?" tanyaku mendekat, meninggalkan gerombolan adik-adik kecil yang tengah bermain gobak sodor di sore hari, di halaman rumah ketua RT 01. Lihat kan? Aku masih suka bermain dengan anak kecil padahal temanku yang lain lebih memilih diam di dalam posko, istirahat, menghemat tenaga untuk kegiatan nanti malam. Iya, nanti malam masih ada kegiatan Karangtaruna. "Di i********:," jawabnya dengan santai. "Eh, sudah main i********:?" Memang sudah berbeda zamannya, dulu saat aku kelas 1 SMP belum ada i********: bahkan email belum terlalu familiar di telingaku. Masih suka main dengan anak tetangga, tahunya cuma belajar dan belajar. Anak SMP zaman sekarang sudah aktif di media sosial. "Iya, soalnya tadi Rama upload foto lagi, mirip sama Mbak Nissa. Katanya lagi KKN juga," jelasnya. Dia adalah Rizky, anak laki-laki yang paling sering datang ke posko 2 hari ini.  Minta diajarin ini itu sampai nonton bola bareng dengan cowok-cowok yang lain. Dia Jakmania sejauh yang aku tahu. "Mirip doang kali ya?" "Tapi yang story barusan katanya semangat KKN Gondosuli, Mbak. Nih!" Memperlihatkan fotoku yang tengah berjalan menundukkan kepala. Foto saat kami menyambangi De Tjolomadoe. Kupikir waktu itu hanya satu foto yang dia ambil, tahunya ada foto lain. Mungkin sedikit kemajuan dia mau menyimpan fotoku. "Eh, kamu yakin ini Mbak Nissa?" tanyaku seolah-olah orang dalam foto bukanlah aku. "Yakin nggak yakin, Mbak. Tapi pas tadi baca artikel di internet emang istrinya orang Solo dan masih kuliah." Ini memang bukti kemajuan zaman, dulu aku tahu berita hanya lewat koran, lewat internet mungkin seminggu sekali. Sekarang anak kelas 1 SMP mau lihat berita apapun tinggal akses ponsel masing-masing. Baik-buruk perkembangan teknologi sudah sangat kita rasakan sekarang. "Kalau beneran nih Mbak Nissa istrinya Mas Rama. Kamu mau apa, Rizky?" "Mau titip salam sama Rama. Minta didoain juga biar bisa masuk Timnas U-16 nanti, soalnya aku baru aja daftar SSB di Salatiga, Mbak. Kemarin cuma ikut SSB di Stadion 45, Karanganyar." Aku langsung mengangkat kedua alisku, bukan tanda aku bertanya tapi sedikit kaget ternyata ada juga pemimpi dari lereng Lawu. "Nanti Mbak sampaikan ke Mas Rama," kataku akhirnya sedikit jujur. Itu karena aku melihat binar mimpi yang luar biasa dari Rizky. Kuharap, banyak orang desa entah di atas gunung atau di tepi pantai mau bermimpi meski terkadang terkesan mustahil. Rizky yang tadinya hendak fokus pada ponselnya langsung mengalihkan fokus padaku. "Jadi beneran Mbak Nissa yang aku kenal ini istrinya Rama?" Cukup dengan senyum lebar kujawab pertanyaannya.  "Wah, Mbak. Sampaikan ke Rama ya, Mbak? Bisa telepon sekarang, Mbak?" Baiklah, untuk kali ini aku langsung meredupkan senyumku. Menelpon Mas Rama lagi, lebih dulu lagi, rasanya kok hanya aku yang berjuang. Tunggu, Mas Rama sedang ada pertandingan, tidak mungkin dia pegang ponsel, paling juga setengah jam lagi baru pegang. "Em, nanti malam atau besok aja ya, Dik. Mas Rama lagi ada laga tadi lawan Mitra Kukar," jelasku bukan lagi menjadi alasan. Kali ini mungkin tak apa aku menelpon Mas Rama lebih dulu, demi Rizky, pemimpi dari lereng Lawu. Sebagai calon guru, aku memang suka melihat anak-anak kecil, apalagi pelajar yang sudah memiliki mimpi. Sebab mimpi biasanya menjadi harapan untuk hidup lebih baik. "Oh iya lupa, padahal sebelum ke sini tadi lihat bola dulu. Pas lihat Rama keinget mau nanya soal istrinya Rama ke Mbak Nissa. Langsung deh ke sini." Senyum singkat. "Kok kamu jeli juga kalau di foto itu Mbak Nissa, Dik?" "Iyalah, familiar wajahnya, Mbak." "Familiar ya bukan pasaran." Rizky langsung tertawa. Melihat Rizky, memang seolah melihat masa depan bangsa. Di mana generasi pemimpi telah datang, kelak dia akan mewujudkan mimpi itu. Bagi seluruh anak kecil di Indonesia, datanglah kepada negara dengan mimpi dan selesaikan dengan meraih mimpi itu nanti. Jangan pernah takut meski terkesan mustahil, mimpi tak pernah punya nilai kemustahilan selama Allah ada bersamamu. Kuhabiskan sore menjelang magrib ini dengan bercerita bersama Rizky, dia bilang akan menyelesaikan pendidikan di Salatiga. Dia di sini tinggal menghabiskan waktu libur, hanya beberapa hari saja maka dia berharap bisa langsung berbicara dengan kapten Timnas. Selama di SSB Karanganyar, dia bercerita berada di posisi yang sama dengan Rama Rama dan masih banyak lagi cerita tentangnya. Aku pulang ketika senja telah berganti kabut, ketika adzan magrib berkumandang dan ketika teman-teman yang laki-laki berangkat ke masjid. Jika Karanganyar punya jargon Tentram, agaknya memang benar, begitu tentram berada di sini. Yashinta menyambutku di depan pintu ketika senyumku belum habis atas syukur nikmat tentang negeri ini. "Senyum sendiri, nih suamimu telepon sejak lima menit yang lalu, tapi udah mati sekarang," katanya dengan nada ketus, mungkin dia terganggu sebab tadi dia pamit padaku ingin tidur dan minta dibangunkan sebelum adzan Maghrib. Iya, aku terbiasa meninggalkan ponsel. Selama ini memang tak begitu penting ponsel bagiku. Maksudnya tidak seperti anak muda lainnya yang ke mana-mana bawa ponsel, jadi ketika pacar kasih kabar enggak kebingungan. Sementara aku jomblo jadi tak pernah khawatir. Sekarang, menikah pun terasa jomblo sebenarnya, hanya sekadar status. "Tunggu, Mas Rama?" tanyaku pada Yashinta padahal tadi sempat aku sepelekan. "Ya suamimu, siapa lagi? Aseptian David? Jangan ngarep!" "Tumben," gumamku kecil. Mungkin ini pertama kalinya Mas Rama menelponku. "Ya, mungkin mau kasih kabar kalau sebentar lagi bonusnya turun," sahut Yashinta yang ternyata mendengar gumamanku. "Bonus?" tanyaku. Yashinta menepuk jidatnya. "Ini anak suka bola tapi nggak fanatik ya gini jadinya. Suamimu tadi ngegolin. Biasanya kalau ngegolin kan dapat bonus, Niss. Ya emang sih nggak sebanyak kalau dia cetak gol di laga tandang." Soal itu sih aku juga tahu, hanya masalahnya aku tidak tahu Mas Rama cetak gol hari ini. Aku sedang tidak berniat menonton bola, lagi sebel-sebelnya sama Mas Rama. Aku menghela napas lalu masuk ke dalam rumah sementara 38 hari ke depan bersama dengan Yashinta. Yang lain sibuk menikmati makan malam, yang lain lagi tengah bersenda gurau di ruang tengah dan yang lain lagi menyiapkan kegiatan esok pagi. Sebenarnya berhubung sekolah belum masuk, kegiatan lebih fokus pada kegiatan masyarakat, tinggal mengikuti saja kegiatan yang sudah rutin dilaksanakan. Nanti setelah sekolah masuk baru memulai program-program pendidikan, khusus untuk bidang pendidikan.  "Niss, kelas inspirasi jadi dibuka?" tanya salah satu teman yang tengah melakukan pemetaan kegiatan.  Aku mengangguk. "Bukannya justru itu yang menjadi fokus kegiatan selama di sini?" "Iya, maksudnya kemarin bidang pendidikan ada yang tidak setuju," sambil melirik Indah, teman satu bidangku yang memang sedikit manja. Aku yakin temanku sedang menyindir. Sekilas kupandang Indah hanya mengerlingkan mata. Percayalah, setiap KKN pasti ada masalah seperti ini. Saling sindir, tidak suka sikap satu sama lain, ada kubu-kubu, begitulah kehidupan nyata. "Sudah, masukkan saja dulu," kataku sambil berlalu menuju kamar mandi. Membersihkan diri setengah jam lamanya, iya cukup lama bukan karena harus luluran dan sebagainya. Yang benar, lama karena nggak berani nyentuh air. Tahu sendiri air di pegunungan itu seperti apa. Baru saja hendak keluar, Yashinta sudah menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Niss, suamimu telepon lagi!" teriaknya. "Iya," jawabku bersamaan dengan membuka pintu kamar mandi. Kuraih ponselku dari tangannya dan segera kuangkat. Seperti biasa, sapa salam dulu untuk yang tengah berada di pulau seberang. "Ada apa, Mas?" Pertanyaanku cukup datar. "Em, mau tanya kalau KKN ada liburnya, nggak?" Yang di seberang bertanya dengan sedikit terbata. Aku menghela napas, kupikir hal yang sangat penting. "Aku tanya Ayah, tapi beliau tidak tahu. Katanya suruh tanya kamu sendiri, jadi maaf kalau ganggu kegiatanmu." Fix, ini kalimat terpanjang yang Mas Rama ucapkan padaku. Sebelumnya lebih pendek dan lebih pendek. Lagipula dia juga kenapa tanya ada libur atau tidak ke Ayah? Memang terdengar konyol, seharusnya langsung ke aku. "Niss?" "Eh.” Bangun dari ketidakpercayaan. "Kalau Minggu-minggu ini..." Berpikir sejenak. "Nggak ada, Mas. Belum ada perjanjian libur hari apa, belum dibagi lebih lanjut jadi mungkin belum ada. Baru satu Minggu juga jadi masih sibuk di persiapan jadwal pelaksanaan program." "Emmm, gitu." Menghela napas. Kembali lagi dengan Mas Rama yang super singkat jawabannya. "Kenapa, Mas?" "Nggak, Minggu depan ada laga away ke Bantul. Markasnya PS TIRA, rencana mau mampir ke rumah." "Oh," giliranku menjawab singkat. "Ya sudah, Niss." Bibirku langsung menganga. Telepon sebanyak itu hanya untuk tanya libur atau tidak? Setelah itu ya sudah? Apa tidak ada pertanyaan lain? Ah masa bodoh. "Eh, tunggu, Mas. Besok ada waktu, nggak?" "Kenapa?" "Ada anak sini yang mau ngomong sama Mas, kalau ada nanti Nissa telepon." "Besok jam latihan pagi jadi sore bisa," jawabnya. "Iya, Mas. Terima kasih." "Sama-sama. Assalamualaikum," ucapnya langsung menutup telepon. Yang barusan itu perbincangan macam apa? Hanya begitu saja. Tak apalah, justru lebih baik karena aku dan yang lain akan segera mengikuti kegiatan karang taruna. Meski dingin tetap saja menjadi teman setia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD