Sudah kembali pada pagi berikutnya, di mana pagi-pagi buta sudah berada di bandara. Mas Rama mendapat jadwal penerbangan pagi, jadi mau tidak mau harus mengantar pagi-pagi sekali. Tidak boleh terlambat pula.
Saat Mas Rama sibuk dengan beberapa penggemar yang meminta foto, aku justru sibuk mengecek ulang barang bawaan Mas Rama. Takutnya ada yang terlewat, tapi sampai detik ini belum ada. Kuingat semua sudah masuk ke dalam koper, kecuali roti bakar yang kubuatkan pagi tadi.
Kupandang Mas Rama yang sibuk menerima gelayutan manja perempuan-perempuan gila bola itu. Sungguh mereka seberani itu, merangkul Mas Rama sampai melingkarkan tangan di lengan Mas Rama. Aku sendiri yang menjadi istri sahnya pun tidak berani menyentuhnya. Coba kuingat kapan terakhir aku menyentuh Mas Rama, sepertinya waktu aku mencium punggung telapak tangannya usai ijab qobul. Sudah itu saja, sementara mereka bisa melakukan apapun dengan Mas Rama.
Menghela napas panjang, mungkin sudah nasibku seperti ini. Sejujurnya ingin mengingatkan agar Mas Rama lebih menjaga jarak, toh bukan buat aku, buat akhiratnya. Ah, tapi aku ini siapa? Iya kalau Mas Rama mau diingatkan, kalau tidak? Aku juga yang serba salah.
Brukk...
"Eh maaf, Mbak," ucap seseorang yang tak sengaja menubrukku dari samping kanan. Dia sambil memegang bahuku, menahanku agar tidak terjatuh.
"Maaf, Mas," kataku langsung menjauh agar laki-laki ini tak lagi menyentuhku.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Lain kali hati-hati, ya?" kata Mas Rama yang tiba-tiba saja sudah merangkulku dari samping kiri.
"Eh iya, Ram... Masya'allah kapten Timnas U-23." Laki-laki itu seperti terkejut dan tidak percaya. Alhasil ya, lagi-lagi kubiarkan suamiku berfoto-foto manja dengan laki-laki itu.
Announcer sudah mengumumkan keberangkatan pesawat yang akan membawa Mas Rama ketika kami sama-sama duduk di ruang tunggu. Kami belum sempat mengatakan apapun sejak tadi, tapi waktu cepat berlalu.
"Kuliah yang bener biar cepet lulus!" pesan Mas Rama sedikit ketus.
Aku hanya mengangguk saja sambil tetap memasang senyum manisku. Sudah menjadi ibadah bagi istri ketika dia mau tersenyum di depan suaminya.
"Aku pamit dulu."
"Hati-hati, Mas. Kasih kabar kalau sudah sampai," ucapku sambil memberikan lagi bekal yang sudah aku persiapkan.
Mas Rama mengangguk singkat, lalu pergi membawa kopernya tanpa mengatakan apapun. Setidaknya sekadar memintaku hati-hati dalam perjalanan pulang, memintaku menjaga kondisi atau yang lainnya. Dia justru hanya minta kuliah yang bener. Bayanganku tentang menikah yang manis nyatanya hanya dingin yang diterima.
Sebelum pulang ke rumah, aku sudah ada janji temu dengan kelompok KKN-ku, tapi aku lupa minta izin sama Mas Rama. Jadi di lampu merah Manahan, kuraih ponsel dan memberi kabar pada Mas Rama, mungkin juga ponselnya masih hidup.
Anda
Assalamualaikum,
Nissa mau minta izin habis ini kumpul temen KKN dulu baru pulang.
Benar, Mas Rama memang masih online.
Mas Rama
Wa'alaikumsalam
Iya
Hanya begitu saja jawabannya? Seperti tidak ada yang lebih panjang dari itu. Ah, jika meminta izin pada suami bukanlah kewajiban akan lebih baik jika tidak meminta izin. Menyebalkan sekali.
Akhirnya, aku menemui teman-temanku dengan wajah muram. Sungguh bayangan tentang pernikahanku berbeda jauh dengan realitanya. Jika sudah begini, bagaimana mau kuliah bener? Masalah keluarga saja semenyakitkan ini. Astaghfirullah, harusnya menjadi pacuan agar aku segera menyelesaikan kuliah dan fokus pada rumah tanggaku.
"Niss," panggil Yashinta, teman tidurku kurang lebih 40 hari nanti.
Aku mengangkat kedua alisku sebagai jawaban.
Perkenalkan dulu, Yashinta ini juga pecinta sepakbola, bisa dikatakan dia lebih fanatik lagi daripada aku. Dia Jak Angel, selalu nribun baik kandang maupun tandang. Intinya dia lebih fanatik pada sepak bola, apalagi tentang Timnas. Dia itu istilahnya, "Lambe Turah" dunia sepakbola. Gosip apa aja tentang pemain dia tahu. Jujur, termasuk mengenai gosip-gosipku dengan Mas Rama, dia yang menyebar luaskan.
"Suamimu mana? Mau aku ajak fotbar juga," katanya sambil duduk di sebelahku, di bawah rindangnya pohon, di dekat parkiran fakultas ilmu keguruan dan ilmu pendidikan.
"Baru aja balik ke Banjarmasin," jawabku singkat dan ketus.
"Lah, LDR dong."
"Begitulah."
Yashinta menatapku dalam.
"Why?"
Membenarkan posisi duduknya. "Awal mulanya beredar informasi Rama Anan mendadak menikah padahal baru saja putus. Antara percaya dan tidak percaya sih. Yang lebih bikin nggak percaya lagi, dia nikah sama temen KKN gue," lagaknya seperti orang terpaksa gaul.
Hanya aku dengarkan saja apa yang akan dia katakan, toh belum sampai pada intinya jadi aku tidak memberikan tanggapan.
"Gue..." Lagi-lagi seperti orang terpaksa gaul. "Sampai stalking sana sini, kamunya nggak pernah loh update tentang si Kapten. Ya iya, gue ikut nyebarin kalau kalian dijodohin. Tapi gimana maksudnya antara percaya dan tidak percaya kok banyakan tidak percayanya."
Aku hanya menghela napas. "Lebih baik gunakan bahasa yang wajar," tegurku pelan. Pengang telingaku ini mendengar bahasa yang campur aduk apalagi lidah Yashinta terpaksa gaul begitu.
"Ya, pokoknya aku kaya nggak percaya padahal waktu itu kamu sudah bilang iya mau menikah dengan Rama Anan, tapi hari ini aku percaya, sangat percaya. Si Kapten kemarin malam upload fotomu walaupun hanya dari samping, dia juga sempat upload foto pernikahan kalian, dan tadi dia bikin insta story kaki kalian berdua. Iya kok sepatunya sama, dia juga ngetag kamu."
Langsung menunduk menatap flatshoes lusuhku yang berdebu.
"Beneran yang kamu bilang?" tanyaku memastikan.
"Apa?"
"Soal Mas Rama upload foto dan bikin story?"
"Kamu nggak tahu?"
Menggeleng saja.
"Hah? Kalian itu? Ya masa istrinya dibuatin caption semanis itu tapi nggak tahu."
Tak langsung menjawab, aku justru mengambil ponselku dan masuk ke i********:. Sejak menikah dengan Mas Rama berapa hari yang lalu. Instagramku memang penuh dengan pemberitahuan, mulai dari DM, spam like sampai komentar. Akun-akun sepakbola pun sibuk menandai foto-foto pernikahan kami. Sudah melebihi artis ibukota.
Kubuka satu persatu notifikasi yang jumlahnya hampir ribuan, saking tidak sabarnya aku langsung menuju pada profil Mas Rama. Benar, memang dia membuat insta story hari ini. Ketika kubuka memang benar foto kaki kananku dan kaki kirinya dengan caption, "Panjangnya jarak mengajarkan arti kerinduan."
Kali ini aku benar-benar tersentuh, ucapannya semanis itu dalam dunia maya. Lantas mengapa dia beku dalam dunia nyata? Mungkinkah hanya sekadar pencitraan? Tapi Mas Rama bukan calon Presiden yang butuh pencitraan untuk mencari pendukung. Astaghfirullah, tidak boleh berprasangka buruk lagi, mungkin itu aslinya Mas Rama. Eh, tapi tidak boleh juga terlalu percaya diri. Mana ada orang baru mengenal dijodohkan langsung jatuh cinta? Rasanya tidak.
Tunggu, kapan Mas Rama mengambil foto ini? Rasanya aku selalu terjaga. Ah, tidak penting.
"Nih yang menurutku paling manis." Yashinta menunjukan satu fotoku di profilnya.
Satu foto di De Tjolomadoe kemarin, benar dari samping dengan hijab panjang yang sedikit tertiup angin, dan caption yang tertulis di sana, "The Special One, I Love You ❤".
Ini antara percaya dan tidak percaya, bagaimana dia bisa mengatakan I Love You padahal dia belum mengenalku. Dia selalu diam dan tidak mengatakan apapun. Ah, semudah itu dia mengatakan cinta di media sosial? Bagaimana sebenarnya perasannya padaku? Paling juga kosong.
Rasanya sudah tidak sanggup, kuletakkan ponselku dan tak akan kubuka lagi nanti. Membukanya hanya membuatku bingung tentang pernikahan ini. Semakin pening rasanya.
"Kok tanggapanmu gitu, Niss? Lagi berantem sama si Kapten?" Yashinta mulai mencari bahan gosip.
"Ya, nggak lah. Masih hangat-hangatnya kok." Terpaksa berbohong daripada gosip yang dibuat Yashinta merugikan Mas Rama. "Cuma keinget aja sekarang lagi jauh-jauhan. Rindu tau," lanjutku sambil tersenyum manis.
"Uluh pengantin baru," godanya menyenggol bahuku.
Hangat? Jadi pengen ketawa jahat untuk diriku sendiri. Dari kemarin juga dingin-dingin saja, tidak ada hangat-hangatnya. Sungguh kebohongan yang menggelikan. Ah, tapi semoga diaamiinkan oleh malaikat, agar besok-besok rumah tangga kami semakin hangat dan hangat.
****
Kembali terbangun di subuh hari dengan suasana hati yang masih masam. Sudah kubilang pada Mas Rama untuk memberi kabar ketika dia sudah sampai di Banjarmasin tapi nyatanya dia tak sekalipun memberi kabar. Meski jam 21.03 WIB dia dalam keadaan online. Jam 23.11 WIB masih sempat membuat Insta story. Ah, sungguh menyebalkan suami yang satu itu. Dia benar-benar tidak peduli istrinya menunggu kabar. Tunggu, ngapain juga menunggu kabar dari Mas Rama. Masa bodoh lah.
Mengikuti ceremonial pemberangkatan KKN pun dengan wajah yang lesu. Ditambah lagi Yashinta yang sibuk menggodaku tentang jarak dan kerinduan. Boro-boro mikirin rindu, mikirin sikap dinginnya Mas Rama saja sampai kepala rasanya mau pecah.
"Bu, hape geter tuh. Suami pasti, ya?" godanya lagi saat menempel ke tubuhku. Dia merasakan getar ponsel yang ada di saku gamis hitamku.
"Bukan," elakku dengan muka masam. Sudah kubilang tidak akan mungkin itu Mas Rama sebab dia memang tidak akan peduli dengan apa yang aku lakukan hari ini. Sekadar kabar keselamatannya saja dia tidak memberitahuku apalagi peduli dengan keberangkatan KKNku, rasanya kok mustahil.
"Belum dilihat juga, emang tadi udah pamit, ya? Ah, pasti bangun tidur langsung kasih kabar, sayang-sayangan dulu."
Aku menghela napas panjang. Entah sadar atau tidak hidupku terlalu banyak membuang napas percuma untuk urusan Mas Rama. Lagipula, boro-boro sayang-sayangan, sudah sayang beneran apa belum juga tidak ada yang tahu.
"Nih, getar lagi nih. Suami pasti." Masih meraba sakuku.
Saking bosannya dengan suara-suara Yashinta akhirnya aku ambil ponsel dan kulihat. Kali ini aku yang salah, memang Mas Rama yang menghubungiku tapi baru saja hendak kuangkat, panggilan sudah dihentikan.
"Kan apa kubilang," kata Yashinta merasa menang. "Eh, tapi sorry, Bu Bos. Udah kejepret tadi nama kontak suamimu. Nggak romantis nih, masak iya cuma Mas Rama, the spesial one kek."
"Dia Rama Anan Pranata bukan Jose Mourinho."
"Eh, masuk akun gosip sepakbolaku lah."
"Yashinta!"
"Ya ampun, nggak akan yang negatif kok."
Sekali lagi aku menghela napas sambil mengucap istighfar. Punya teman baru kok ya begini banget mulutnya, suka ngurusin kehidupan orang pula. Semoga betah 40 hari tidur bersamanya, setiap hari bahkan setiap detik bersamanya.
Masih sibuk dengan Yashinta, Mas Rama kembali menghubungiku. Ya Allah, kenapa pula dengan jantungku ini? Hanya mendapat panggilan saja seperti sedang menghadapi ribuan suporter di tengah lapangan. Dag dig dug tidak karuan.
"Assalamualaikum," sapa salamku dengan lembut.
Yang di seberang langsung menjawab. "Jadi berangkat KKN hari ini?"
"Iya, Mas. Ini habis ceremonial pemberangkatan. Mungkin lima belas menit lagi berangkat. Mohon izin ya, Mas."
"Iya," jawabnya singkat lalu terdiam.
Kupikir dia akan menyampaikan sesuatu, nyatanya hanya begitu saja. Kupikir dia juga akan menyampaikan kabar baiknya di sana tapi tidak juga.
"Kenapa nggak bicara lagi? Si Kapten pasti lagi ngasih petuah, ya? Jangan nakal selama KKN, nggak boleh dekat sama cowok, pokoknya jaga jarak aman." Yashinta kembali bersuara dengan mulut lemesnya itu.
Aku langsung melotot padanya.
"Siapa?" tanya Mas Rama.
"Temen, Mas."
"Ya itu."
"Maksudnya, Mas? Iya, dia temenku, Yashinta, satu kelompok KKN. Maaf kalau mengganggu, agak usil anaknya."
"Ya itu, sama seperti yang dia bilang."
"Yang mana?"
"Lupakan."
Dahiku mengernyit sempurna. Apa pula maksudnya ini? Tidak bisakah bicara lebih panjang dan lebih jelas? Berapa sih nilai bahasa Indonesianya dalam berbicara? Menyebalkan sekali.
Mas Rama kembali diam seribu bahasa. Aku pun melakukan hal yang sama, memangnya enak ketika hanya aku yang berbicara dan Mas Rama menanggapi dengan iya saja? Tidak. Makanya aku diam, menunggunya berbicara akan lebih baik meski terkesan menghabiskan banyak waktu hanya untuk diam.
Di sampingku, Yashinta terus menempel ingin tahu apa yang kami bicarakan, padahal sama sekali bukan pembicaraan yang romantis seperti yang dia kira. Lebih banyaknya ya tong kosong tanpa dipukul.
"Nissa, emm..."
"Kenapa, Mas?"
"Nggak jadi."
Sekali lagi aku mengucap istighfar dan menghela napas panjang.
"Sudah dulu ya, Mas? Ini mau persiapan berangkat soalnya. Nanti Nissa kasih kabar lagi," pamitku sebab semua temanku sudah sibuk menata barang. Memang kelompokku akan berangkat pada kloter pertama pagi ini.
"Oh, iya."
Seriusan cuma gitu aja lalu salam? Asli ini suami apa kulkas dua pintu, dingin amat ya? Ya Allah, hikmah apa yang ingin Engkau sampaikan padaku hingga Kau kirimkan suami yang dingin semacam ini? Semakin cemberut saja ini wajah.
Perjalanan dimulai dari Solo menuju Karanganyar, tepatnya di Gondosuli, Tawangmangu. Sudah persiapan baju hangat, selimut yang tebal dan masih banyak lagi. Tapi untungnya tidak begitu jauh, masih satu karesidenan jadi masih bisa pulang jika ada waktu libur.
Lagi-lagi aku duduk dengan Yashinta, ada beberapa teman laki-laki juga di depan kami. Sesekali mereka bertanya tentang jadwal TC Timnas tapi kali ini semakin parah pertanyaannya.
"Kapten tangguh di lapangan, tangguh juga nggak kalau soal percintaan?"
Aku langsung mengangkat kedua alisku. Aneh saja rasanya membahas itu denganku, tidak sopan saja mendengarnya.
"Ganti topik please!" Kali ini Yashinta sepaham denganku.
"Canda doang," sahut Bima yang notabene teman sekelasku. Dia memang suka bercanda, lucu, tapi dia itu penyayang anak kecil. Sebelumnya dia pernah magang denganku dan dia cukup kompeten sebagai guru meski terkesan selengekan.
"Niss, Rama kalau tidur ngorok nggak?" tanya teman yang lain.
Menggeleng, dua hari tidur dengannya tidak pernah kudengar suara orang mendengkur. Hanya saja memang dia biasa telanjang d**a.
"Salamin buat Rama dong, Niss. Kalau pulang boleh lah bawain jersey satu.” Yang lainnya ikut nimbrung.
"Agak susah kayanya kalau jersey," balasku. Tidak mau memberatkan Mas Rama saja, ah, memang aku belum berani merengek minta ini itu sih.
"Wah, fotbar aja sudah seneng kita, Niss. Eh, apa fotbar sama kamu aja nanti ditag Rama-nya. Di kasih love nggak kira-kira?"
"Kemungkinan iya. Soalnya kemarin aku bikin story sama si Nissa aja dikasih tanda jempol, aku tag juga dianya," ujar Yashinta seolah lebih tahu.
Mas Rama selalu aktif di media sosial tapi menghubungi istri jarang sekali. Mungkin sudah terbiasa dekat dengan penggemar jadi lupa caranya dengan istri. Ah, biarlah kenapa jadi berharap begini? Toh, tidak ada perasaan apapun dariku untuk Mas Rama.
"Niss, selfie, Niss," seru Bima padaku, alhasil dalam layar ponselnya ada aku, dia, dan Yashinta tapi hanya separuh badan.
"Juhut kamu, Bim. Masa akunya separuh doang," protes Yashinta memanyunkan bibirnya.
Aku tersenyum kecil untuk tingkah mereka berdua dalam satu menit, lantas kunikmati perjalananan kali ini sambil meratap. Beberapa menit kemudian aku justru fokus pada layar ponsel sebab Ayah mengirimiku pesan yang berisi bahwa Mas Rama menanyakanku pada beliau.
Ayah juga bilang untuk menjaga hubungan baik dengan suami, mau sampai kapan bertanya kabar satu sama lain harus lewat Ayah padahal urusan rumah tangga kami ya urusan kami, Ayah tidak lagi ikut campur terlalu banyak dan masih banyak lagi petuah Ayah melalui pesan singkat.
Inginku juga begitu, menjaga hubungan baik meski pernikahan kami diawali karena perjanjian dua sahabat yang telah berpulang. Hanya saja sepertinya Mas Rama tidak bisa melakukan itu, dia saja dinginnya melebihi kutub Utara.
Tunggu, Ayah bilang Mas Rama menanyakan kabarku lewat Ayah? Padahal dia bisa kapanpun menghubungiku. Dia justru lebih memilih menghubungi Ayah daripada langsung menghubungi yang sejak kemarin sudah menunggu kabar. Apa sebenarnya maunya Mas Rama?
Ah, mau sampai kapan aku ulang-ulang pertanyaanku tentang Mas Rama? Bosan sekali rasanya.
"Subhanallah, langsung dikomen," teriak Bima yang mengagetkan banyak orang.
"Apa?" Tanya Yashinta penasaran.
"Kondisikan katanya.” Dengan wajah kecewa. "Apa maksudnya, Niss?"
Si Bima pakai tanya maksudnya lagi. Sudah jelas aku tidak akan tahu, Mas Rama tidak mudah kutebak maksudnya atau memang aku tidak bisa memahaminya. Intinya aku pusing saja memikirkan Mas Rama.
"Maksudnya, kondisikan jarak, Bim. Dilihat dulu lah, jarak kalian di foto kaya yang deketan! Kondisikan juga selfie-selfie sama istri orang!" Sahut Yashinta dengan ketusnya.
Ingin sekali aku tertawa. Mana mungkin itu yang dimaksud Mas Rama? Si kulkas dua pintu itu tidak akan pernah peduli dengan apa yang aku lakukan. Astaghfirullah, pakai keceplosan nyebut kulkas dua pintu lagi kan.
"Iya, Niss? Rama orangnya cemburuan? Kesalahan dong yang ini tadi."
Aku hanya tersenyum saja. Boro-boro cemburu, sayang juga nggak, cinta apa lagi. Darimana pula datangnya cemburu? Dari mata turun ke kaki?