Part 4

2467 Words
Azan berkumandang saat aku baru saja membuka mata. Masih sedikit ngantuk dan badan rasanya tidak karuan, ingin rasanya bermalas-malasan karena hari ini pun aku masih absen sholat. Tapi melihat Mas Rama sudah tidak di sampingku lagi. Aku langsung terbangun dan keluar dari kamar. "Sudah bangun?" tanya Mas Rama yang sudah rapi mengenakan baju Koko serta sarung warna cokelat. "Maaf, Mas," ucapku menunduk. Mas Rama hanya mengernyitkan dahinya lalu berjalan pergi begitu saja. Mungkin dia hendak ke masjid bersama dengan Ayah.  "Kebo sih!" ejek Zahira yang baru saja keluar dari kamarnya. "Apa sih, Dik?" balasku ketus. Ayah hanya tertawa dan mengusap lenganku. Hanya bisa menghela napas dan menyalahkan diri sendiri. Kenapa aku bisa bangun tepat ketika azan? Biasanya bisa sebelum azan subuh. Beberapa hari yang lalu Ibu bilang bahwa istri itu harus bangun lebih dulu daripada suaminya. Menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan suaminya ketika bangun.  Misalkan butuh air hangat untuk mandi, butuh baju bersih untuk ke masjid, dan lain sebagainya, tapi kenyataannya hari pertama menjadi istri justru bangun terlambat. Duluan Mas Rama daripada aku. "Tak apa, masih belajar," bisik Ibu sambil memberikan peci kepada Ayah. Aku hanya tersenyum kaku lantas membiarkan suamiku berjalan pergi bersama Ayah. Sesekali aku meratap. Ah, harap maklum saja, namanya juga belum siap menikah sudah harus menikah. Ya begini jadinya, beberapa kali melakukan kesalahan. Terkesan tidak fatal sebenarnya, hanya takut Mas Rama tidak suka kan menjadi dosa bagiku. Tahu kan ketika kita sudah menikah, mengabdi pada suami adalah yang utama? Bahkan ridho suami penting sekali. Nah, takutnya aku tidak dapat ridho dari Mas Rama. Kan ngeri tuh, menghalangiku masuk surga nantinya. Untuk menebus kesalahan pertamaku, akan lebih baik jika kusiapkan sarapan mulai dari sekarang. Toh aku ini perempuan yang kalau masak suka berkreasi, menghabiskan banyak waktu untuk bereksperimen. Tunggu, aku tidak akan bereksperimen sekarang, takutnya gagal malah bikin kesalahan lagi. Aku masih sibuk dengan peralatan dapur ketika Mas Rama baru saja kembali dari masjid. Dia hanya melihatku beberapa detik dan masuk ke dalam kamar setelahnya. Tetap tidak mengatakan apapun, boro-boro memujiku rajin, tanya masak apa juga enggak. "Mbak, masak yang bener buat suami, nanti dikasih racun lagi," tegur Zahira yang baru saja menyelesaikan mandinya. "Kalau boleh kasih racun sama suami, udah tak kasih racun dari kemarin. Sebel Mbak mah, sudah dingin, irit omong, sebel," keluhku pelan takut Mas Rama mendengarnya. "Ooo, tak bilangin Mas Rama, ya! Mas?" teriak Zahira di tengah gelapnya pagi. "Ehhh.” Aku langsung panik dan menutup mulutnya. "Adik, ah!" Semenit kemudian. "Kenapa, Dik?" tanya Mas Rama dengan sedikit kaku karena melihatku membungkam mulut Zahira. "Emmm... Emmm..." Hanya itu yang mampu Zahira katakan. "Katanya kamu mau diracun sama istrimu, Dik." Satu lubang aku tutup, lubang lain yang terbuka alias Kak Fatim yang baru saja keluar dari tempat ibadahnya di dalam rumah. Kami sebutnya mushola kecil. Mas Rama mengangkat kedua alisnya, lalu menatapku seolah meminta penjelasan yang pasti. "Nggak kok, Mas.” Sambil melepaskan tanganku dari mulut Zahira. "Tetot! Pagi-pagi udah bikin dosa sama suami," tegur Zahira yang semakin lemas saja mulutnya itu. "Ya tapi kan nggak, Dik!" "Tapi ada niat." "Nggak dilakukan!" "Tapi niatnya dicatat." "Adik!" geram rasanya terus dipojokkan. "Istighfar dulu," giliran Kak Fatim yang menegur. "Astaghfirullahaladzim," ucapku sekali dua kali. Yang berdiri di dekat pintu dapur hanya tertawa singkat lalu menggeleng. Serius hanya itu tanpa mengatakan apapun, lalu kembali lagi ke dalam kamar. Entah apa yang dia lakukan sebenarnya, mungkin bermain ponsel seperti biasa. Eh, astaghfirullah, tidak boleh berprasangka buruk sama suami. Singkat waktu semua sudah siap di meja makan. Beberapa masakan asli dari tanganku, beberapa lagi hasil kolaborasi dengan Kak Fatim. Memang sudah menjadi rutinitasku dengan Kak Fatim memasak untuk keluarga, hanya saja hari ini aku yang lebih banyak memasak. "Mas?" Langkahku terhenti di depan pintu saat melihat kamarku penuh dengan baju-baju berserakan. Ingin sekali rasanya berteriak, aku ini bukan orang yang suka sembarangan, maksudku aku tidak suka kamarku berantakan. Tapi sekali lagi, berhubung suami yang membuatnya menjadi kapal pecah, aku tidak bisa berteriak. Pada akhirnya, aku hanya menghela napas panjang lalu masuk ke dalam kamar. "Ada apa?" tanya Mas Rama tanpa merasa berdosa. "Mau sarapan dulu atau mandi dulu?" tanyaku berusaha menahan amarah. "Packing dulu," jawabnya singkat dan dingin. Sekali lagi aku menghela napas. Pilihannya bukan itu. "Biar Nissa yang packing. Yang pokok seragam latihan kan?" Mas Rama mengangguk. "Eh, sama kemeja lengan pendek buat jalan-jalan," katanya sebelum bangkit. "Sisain berapa gitu di sini. Paling kalau pulang juga ke sini, kan?" Aku mengangguk. Selama aku masih kuliah, jelas Mas Rama akan selalu pulang ke sini, kecuali aku yang libur. Pasti aku yang diminta datang ke tempatnya. Bukan diminta, sepertinya Mas Rama tidak akan pernah meminta itu selagi sikapnya masih dingin dan kaku. Tapi itu sudah menjadi kewajibanku menemani suami dimanapun. "Aku mandi dulu," pamitnya membawa handuk putih. "Iya," jawabanku singkat sembari menata beberapa pakaiannya. Sesekali aku tersenyum. Baju-baju latihan baik timnas maupun klub Barito Putera ini hanya bisa kulihat dari i********:, dari atas tribun atau sekedar melihat majalah bola. Sekarang justru bisa kusentuh. Kembali lagi pada ketidakpercayaan tentang pernikahan ini. Sudah bergelar istri seorang kapten Timnas U-23, seorang centerback yang dielu-elukan banyak orang.  Dulu hanya bisa bersorak dari tepi lapangan, sekarang mau tidur pun dalam satu ranjang. Allah selalu punya rencana indahnya meski terkesan mendadak. Apapun yang aku rasakan kini, sebagai hamba hanya pantas bersyukur dan bersyukur. Mengenai sikap Mas Rama, mungkin tinggal menunggu waktu saja. Semua kupercayakan pada Allah sebagai perencana terbaik. "Niss, Nissa?" panggil Mas Rama yang berdiri di depan pintu dengan handuk putih menutup pinggangnya ke bawah, juga dengan busa sabun di beberapa bagian tubuhnya. Aku terbangun dari lamunan dan langsung menutup mataku. "Air mati ya? Bak mandi juga sudah kosong," katanya sambil mengusap mata. Jujur aku sedikit melirik dari celah jari-jari. Baru saja aku teringat, memang ini jadwalnya air tak mengalir di kompleks rumahku. Dan iya, saking sibuknya kami semua kemarin sampai lupa penuhin semua bak mandi di rumah. "Astaghfirullah, iya, Nissa lupa ngomong sama Mas," sahutku langsung berdiri tanpa membuka telapak tanganku. "Hemmm..." Kudengar Mas Rama menghela napas panjang. "Permisi, Mas," ucapku sambil melewatinya di pintu kamar. "Mas masuk aja nanti Nissa ambilin airnya." Mas Rama tak segera menurut, dia justru mengikuti langkahku menuju dapur. "Mau ambil di mana?" tanyanya tepat di belakangku. Jantungku kembali berpacu saat kami begitu dekat. Bahkan bisa kurasakan hembus napasnya di samping pipiku. Kondisi macam apa pula ini, Ya Allah? "Emmm..." Niat awalku ingin minta satu ember ke tetangga tapi karena Mas Rama menghalangi langkahku untuk keluar dan karena aku melihat galon yang masih utuh tanpa dosa. Jadi kuputuskan memakai galon air saja, nanti biar Kak Fatim atau Zahira beli lagi yang baru. "Galon," jawabku singkat lalu mengangkat galon berisi air mineral itu. "Ehh, yakin bisa angkat galon?" tanya Mas Rama yang langsung melepas ikatan handuknya. "Ahh, kuat. Mas pegangin itu aja," kataku menunjuk handuk yang hampir terlepas dari tempatnya. Dengan spontan, Mas Rama kembali memegangi handuk putihnya. Wajahnya merasa bersalah ketika aku mengangkat galon yang beratnya minta ampun ini ke dalam kamar mandi. Apa boleh buat? Jika Mas Rama yang mengangkat sendiri bisa terjadi insiden p***o di dalam rumah. Sudah lebih baik jika aku yang mengangkat untuknya. "Terima kasih, Nissa," katanya lalu menutup pintu dengan malu-malu. Ya Allah, aku semakin bingung dengan kondisi ini. Antara canggung, malu, kaku, atau apalah sejenisnya. Sampai kapan pula kondisi ini akan terjadi? 5 tahun kemudian? Saat kami sudah saling mengenal keburukan satu sama lain? Atau nanti saat Indonesia bisa menjuarai Piala Dunia?    Sarapan pagi sudah siap, semua orang juga sudah siap. Kak Fatim dengan seragam Korpri, Zahira dengan seragam SMA-nya, Ayah dengan setelan jasnya, Ibu dengan kemeja putihnya dan hanya aku pun Mas Rama yang berpakaian santai. Semua berkumpul di meja makan yang Alhamdulillah kursinya nambah satu. Zahira seperti biasa memulai sarapan lebih dulu tanpa menunggu kami yang masih sibuk menyiapkan makan satu sama lain. Biasanya aku menyiapkan sarapan untuk Ayah dan Kak Fatim untuk Mama. Zahira? Sudah kubilang dia ambil sendiri, berdoa sendiri, selesai, berangkat juga sendiri. Maklum ini masih dalam rangka penerimaan siswa baru jadi dia sibuk ke sekolah sejak pagi. Anak OSIS. "Ehhh, biar Ayah dan Ibu, Kakak yang ambilin," kata Kak Fatim mengambil alih piring yang aku pegang. "Kamu ambilin suamimu." Aku langsung salah tingkah sendiri, melihat Mas Rama yang diam terpaku tanpa memegang apapun. Kukira dia sudah mengambil sarapannya sendiri. "Emmm, bukan istri yang baik," sindir Zahira di tempatnya. Tinggal berapa suap itu nasi di piring. Memicingkan mataku padanya lalu mengambil satu piring untuk Mas Rama. "Mau yang mana, Mas?" tanyaku sedikit kaku. "Idih, kaku amat Adikku ini," Kak Fatim menyenggol bahuku. "Rama mah apa aja yang kamu masak dia makan. Betul?" Mas Rama mengangkat kepalanya. "Iya, Kak," jawabnya kikuk. "Tapi awas, Mas. Masakannya Mbak Nissa sudah dikasih racun," timbrung Zahira yang langsung mendapat pelototan mata tajam dariku. "Adik! Orang lagi makan bicara terus. Lihat jam berapa!" seru Ibu sambil memasang wajah garangnya. Jika sudah begitu, Zahira pasti diam saja tidak akan berbicara lagi. Pandanganku kembali pada Mas Rama, menanti jawaban atas pertanyaanku yang pertama. Riwayat pendidikan saja aku tidak tahu apalagi makanan kesukaannya. Jadi wajar jika aku masih tanya dia mau makan apa di meja makan. Agak sedikit oon sih akunya, harusnya kemarin tanya atau paling tidak tadi sebelum masak tanya Mas Rama mau makan apa hari ini. Ah sudahlah, maklumi saja istri baru ini ya. Masih 21 tahun tapi harus ngurus anak orang, istilahnya ngurus diri sendiri juga belum becus. "Yang mana yang kamu masak?" tanyanya saat kami semua terdiam. Ayah dan Ibu sudah sibuk menyantap sarapan, Kak Fatim masih khusyuk dengan doanya dan Zahira tengah menyelesaikan suapan terakhirnya. "Uluhhh," timbrung Kak Fatim setelah mengusap kedua telapak tangannya ke wajah. "Emm." Sejujurnya aku malu. Aku bukan perempuan yang jago masak berbagai menu masakan Eropa atau paling tidak masakan nasional yang terdengar nikmat. Aku hanya pandai di masakan Jawa atau masakan yang sederhana. "Ayam kecap, tumis kangkung, atau sambal ikan tongkol," justru Zahira yang menunjuk satu persatu menu masakanku. "Adik!" giliran Ayah yang memintanya diam. "Maaf, Mas. Sederhana, bukan yang kebarat-baratan," seruku pada Mas Rama. "Apa aja yang penting nggak ada racunnya juga dimakan, Niss," balasnya mungkin sudah kelaparan saking lamanya aku mengambilkan nasi. Sepertinya Mas Rama sedikit termakan omongan Zahira. Sudah begitu si Zahira merasa menang, dia tertawa kecil seolah mengejekku. Memang Adik durhaka dia. Aku mengangguk lalu mengambilkannya Ayam kecap dan tumis kangkung. Sambal ikan tongkol? Aku takut terlalu pedas dan Mas Rama tidak menyukainya. Masalahnya itu makanan kesukaanku dan biasanya aku buat ekstra pedas. Sarapan pagi selesai, semua orang sudah berangkat ke kantornya masing-masing. Tunggu, kecuali Zahira yang mungkin sudah mulai pening dengan urusan kegiatan OSISnya, terlebih dengan sistem pendaftaran berdasarkan domisili dan SKTM. Kata Zahira sih, SKTM itu Surat Keterangan Tidak Malu, bukan lagi Surat Keterangan Tidak Mampu. Kenapa? Katanya banyak yang palsu. Punya mobil tapi ngakunya tidak mampu. Coba husnudzon saja, maksudnya tidak mampu kalau beli 3, mampunya cuma 2. Ah, baiklah, lebih baik fokus pada urusan rumah tangga baruku daripada memikirkan masalah pendidikan di Indonesia yang semakin semrawut saja. Toh, rumah tanggaku tidak semrawut urusan di negeri ini. Apalagi mengenai urusan sepakbola yang terkadang menjadi batu loncatan karir politik. Itu lebih semrawut lagi. "Ganti baju, Niss," kata Mas Rama mendekatiku yang sedang asyik menonton TV. "Ah, pakai baju apa, Mas? Yang Nissa taruh almari tinggal yang warna hitam, maroon, sama..." "Maksudnya kamu yang ganti baju, Niss. Aku mau jalan-jalan, kamunya ikut enggak? Kalau ikut ya ganti baju," tegasnya membuatku malu. Kupikir tadi aku diminta menyiapkan baju untuknya, dia yang akan ganti baju begitu. Habisnya dia cuma bilang sesingkat itu tanpa embel-embel kejelasan. Kadang manusia juga punya keterbatasan dalam mengartikan. "Oh, sebentar, Mas," jawabku beranjak pergi dari hadapannya. "Kalau ada baju navy, pakai yang itu aja biar satu warna," teriaknya dari ruang keluarga sementara aku sudah di dalam kamar. Tunggu, aku tidak salah dengar dia minta baju yang satu warna? Mau begitu dia seragam denganku? Biar apa? Ah, baiklah, jangan terlalu percaya diri sekarang ini. Tidak akan baik untuk kesehatan otakku. Selesai mematut diri, hanya polesan tipis dan warna bibir yang natural, Mas Rama sudah menungguku di dalam mobil. Hari ini kami tanpa sopir, jadi benar-benar berdua dan canggungnya akan lebih lama pun lebih parah dari kemarin. "Mau ke mana, Mas?" tanyaku saat dia mulai mengeraskan volume musiknya. Di tidak menjawab apapun, hanya mengendalikan setir dan kami keluar dari kompleks perumahan. Menyakitkan sekali, bertanya tapi tidak dijawab. Sudah baik-baik bertanya, membuka suara, eh tak digubris, di situ kadang saya merasa sedih. Perjalanan melewati stadion Manahan, sesekali Mas Rama menengok arah kiri, mungkin ingat pernah main di sana bersama rekan Timnas lainnya. Dalam perjalanan kali ini dia juga memilih menggunakan maps daripada bertanya denganku. Serasa tidak ada artinya aku ini sebagai istri yang asli orang Solo. Jalanan mana yang tidak kuhafal? Dari kecil hidup di Solo, sampai gang-gangnya pun bisa kuhafal. Sayangnya, suamiku lebih percaya peta daring daripada aku, istrinya. Kami menuju arah bandara Adi Sumarmo, ah, mungkin dia juga pesan tiket pesawat di agen. Besok dia harus kembali ke Banjarmasin, beberapa hari selanjutnya sudah bisa dipastikan dia ikut TC (Training Camp) di Bali bersama pemain Timnas U-23 lainnya. Bangga rasanya bisa punya suami yang akan sibuk membela negara di Asian Games. Hanya masalahnya, jika mengingat sikap dingin dan irit omongnya, kebanggan itu sirna. Benar saja, Mas Rama mampir sejenak untuk membeli tiket atau sebenarnya bukan mampir tetapi memang ini tujuan utamanya. Aku hanya menunggu di dalam mobil saat Mas Rama tengah sibuk memesan tiket dan berbincang. Beberapa kali juga datang orang-orang meminta foto bareng di depan agen tiket pesawat. Memang sudah menjadi idola banyak orang, Kapten Timnas U-23, penampilannya di beberapa laga cukup gemilang, bahkan terakhir bisa membobol gawang Korea Selatan. "Kamu punya masker?" tanyanya padahal belum sempat duduk di balik kemudi. "Ada, Mas," jawabku langsung mencari tas hitam yang memang biasa ada masker sekali pakai di dalamnya. "Kenapa? Banyak debu, ya?" Hanya sok perhatian saja. Dia hanya menggeleng saja. Memulai perjalanan baru sekian menit sudah berhenti di salah satu tempat wisata baru di Karanganyar, perbatasan dengan Solo. Iya, De Tjolomadoe, bekas pabrik gula yang disulap sedemikian rupa. "Kita seriusan ke sini, Mas?"  tanyaku saat turun dari mobil. Mas Rama mengangguk. "Penasaran aja, katanya Brian Mcknight yang menjadi pengisi acara waktu peresmian. Pengen tahu aja isinya apa. Katanya buat foto juga bagus." Mengangguk kecil. "Lumayan," sahutku untuk spot foto. Kupikir Mas Rama akan banyak berfoto setelahnya, tapi nyatanya dia hanya berjalan, memotret beberapa bagian tanpa memotret dirinya sendiri. Kondisi ini justru membuatku bosan, hanya berjalan, memandangi mesin-mesin pembuat gula yang sudah tua, menikmati terik matahari yang kian menyengat. Aku hanya berjalan, berjalan dan terus berjalan, meninggalkan Mas Rama di belakang. Sesekali aku tengok dia tapi tetap saja sibuk dengan ponsel dan hasil fotonya. Sungguh hari yang membosankan hanya berjalan-jalan keliling Solo. Jika pasangan lain sibuk bulan madu di hari berikutnya setelah pernikahan, kami justru hanya menikmati kebosanan bersama teriknya matahari di kota Surakarta Hadiningrat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD