Reunion

1321 Words
“Apa ya yang harus aku pakai?!” ujar Eliona keras-keras saking excited-nya dia malam ini. Wanita itu menatap ke arah lemari kayunya yang terbuka lebar hanya memakai pakaian dalam berenda warna merah yang baru saja dia beli. Tangannya mulai menjangkau ke arah beberapa gaun yang tergantung rapi. Mencoba mencari yang paling pas dan membuatnya tampak bersemi. Eliona ingin membuat Alden tersipu. Mengejutkan hatinya, membuatnya berdebar dan gelagapan hanya karena melihatnya, tepat seperti yang lelaki itu selalu lakukan dulu. Tetapi masalahnya Eliona harus tahu apa yang Alden suka untuk mendapatkan reaksi itu. Namun bagaimana caranya dia tahu apa yang pria itu sukai setelah bertahun-tahun tidak bersua? Setiap orang pada dasarnya mudah berubah seiring berjalannya waktu, apalagi dalam kasusnya dia cukup lama. Eliona hanya berharap pria itu tidak berubah terlalu banyak, dia berharap pria itu masih seorang pria yang dia kenal sewaktu masih SMA. “Masih memilih, Princess?” Seseorang dengan rambut pirang mengagetkan Eliona. Ekspresinya tampak mencibir menatap Eliona yang belum berpakaian sedari tadi. “Revana… tolong aku,” katanya sambil mengalihkan pandangan pada sang teman sekamar. “Tenanglah kau itu cocok pakai apa saja,” kata Revana sambil lalu. “Bagaimana aku bisa tenang? Ini kesempatanku! Aku harus memberikan kesan terbaik pada Alden. Aku—” Senyum Revana melebar. “Ya, ya… aku ingat betul soal itu. Kau selalu membicarakan orang bernama Alden saat di asrama. Jadi kau tidak harus menceritakan ulang soal itu lagi padaku,” potong Revana cepat. Komentar tersebut langsung membuat Eliona tersadar dari tingkah lakunya yang sekarang memang berlebihan. Dan sebuah kilasan tentang masa lalu kembali naik kepermukaan. Keduanya langsung tersenyum satu sama lain bersamaan. Setelah beberapa menit, Revana menarik napasnya dan menatap sang roommate lekat-lekat. “Jadi yang ingin aku katakan adalah kau tidak perlu khawatir soal malam ini. Aku sangat tahu kalau Alden adalah segalanya bagimu dan kau tidak pernah bersama siapapun sejak itu. Percayalah padaku, perpisahan itu menciptakan kebutuhan yang bisa kau manfaatkan. Kau akan sangat menginginkannya, dan sentuhan disana sini akan membuatmu kembali mendapatkan bahagiamu yang tertunda. Kau akan terus menggodanya dan menarik perhatiannya, tidak peduli dengan apa yang kau pakai dan tidak.” “Hei!” Eliona tersipu. Revana memang kadang terlalu terus terang soal itu. “Tapi, bagaimana kalau misalnya dia tidak menganggapku serius?” “Oh? Jadi ini bukan sekadar reuni tapi juga kencan begitu?” “Begitulah,” timpal Eliona sambil menganggukan kepala. “Kau yang mengajaknya kencan?” tanya Revana sekadar mengkonfirmasi. “Iya.” “Ya sudah kalau begitu tinggal berinteraksi seperti biasa dan ceritakan pada dia apa yang harus dia tahu,” jawab Revana, lalu kemudian dia memperlihatkan seringai sambil menaik turunkan alisnya. “Lalu bawa dia kemari untuk menidurinya sampai puas.” “Tidak! kau gila?” sahut Eliona, kemudian sambil mencicit dia menambahkan. “Lagipula kau kan ada dirumah.” “Tidak akan ada kalau kau memang berencana akan begitu. Aku janji akan pergi malam ini. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau. Di ranjang, di sofa, di lantai, di—” “Stop! Dasar perempuan gila,” potong Eliona sebelum dia meledak dalam rasa malu. Revana terbahak-bahak lalu dia mendekati lemari dan mengambil satu gaun acak dari sana dan menyerahkannya pada Eliona. “Kurasa yang ini cocok dengan suasananya. Aku bertaruh dia akan terpesona selama beberapa menit, lalu kemudian dia akan menggila sendiri.” “Alright,” sahut Eliona sambil mengambil gaun itu dari sahabatnya. Ketika dia berkutat memakai gaun itu, Revana menatap sahabatnya dengan pandangan mata yang penuh arti. “Dan Eliona…” “Ya?” “Apa kau ingat apa yang tidak boleh kau katakan nanti meski kau terpojok sekalipun?” tanya Revana sekadar mengingatkan. Membuat Eliona sempat terdiam sebentar sebelum memberikan jawaban. “Ya.” “Bagus. Pokoknya apapun yang terjadi jangan katakan itu. oke?” katanya lagi sambil memperingatkan dengan jari telunjuk di udara seolah dia adalah seorang ibu yang menasehati anaknya supaya tidak lupa. “…Oke.” “Senang mendengarnya. Semoga berhasil malam ini Princess,” kata Revana sambil menutup pintu. Eliona hanya bisa mendesah ketika dia ditinggal sendiri. Wanita itu mematut di depan cermin sambil menatap diri sendiri. Banyak kenangan berkelebat hanya karena memakai gaun itu, dan dia tidak yakin apakah dia harus memakainya untuk malam ini. Eliona pernah bersama dengan Alden sepuluh tahun lalu. Mereka bahkan sudah sampai tahap berada di ranjang kamar pria itu. Kalau boleh jujur itu adalah malam terbaik dan satu-satunya dalam hidupnya dan tak bisa digantikan dengan yang baru. Seolah Eliona telah bersumpah setia padanya, dan seolah tidak ada yang bisa menandingi pria itu. Eliona memang tidak menginginkan siapa pun lagi. Dia hanya menginginkan Alden tanpa terkecuali. Itu sebabnya dia menempuh jalan sejauh ini untuk bisa menggapainya lagi. Dan kencan malam ini adalah kesempatan keduanya untuk menggaet pria itu kembali. “Ya Tuhan! Aku benar-benar terlalu banyak berpikir!” jeritnya ketika pikiran soal menghabiskan malam bersama muncul ke permukaan. Dia bernapas berat, meremas kakinya sedikit keras ketika kenangan lama muncul lagi. Kedua matanya berpendar menatap bekas luka yang berada di perutnya, bekas yang telah kering dan telah diobati. Senyum pahit muncul, dan Eliona bisa melihatnya dengan jelas di depan cermin dimana dia berdiri. Itu adalah malam yang mengubah keseluruhan hidupnya. Lebih dari satu cara. Dan kalau malam ini berjalan sesuai rencana, dia bisa kembali mendapati bahagianya yang tertunda sekian lama. Eliona memegang kalung yang dia lepaskan untuk pertama kali dan menciumnya. “Sudah waktunya kita terhubung kembali, Alden.” *** Dari setiap langkah kakinya, Alden seperti tersedot memasuki lorong waktu. Segala hal disekitar tampak familiar seperti dulu. Entah sepuluh, atau mungkin sebelas? Alden lupa tepatnya terakhir kali dia menjejakan kaki ke tempat itu. Kenangan masa muda langsung mengisi kepalanya, memori yang penuh dengan emosionalitas kompleks yang membuat dirinya sedikit menggebu. Klub yang menjadi lokasi pertemuan telah di depan mata. Alden masuk ke dalam dengan sangat mudah setelah menyerahkan uang kepada sang penjaga. Senyuman terpatri di wajahnya yang tampan, ketika dia ingat betul bagaimana perjuangannya untuk masuk tempat ini saat belum genap tujuh belas usianya. Terlalu muda untuk tahu sisi lain dari dunia. Namun segalanya jadi terasa mudah, sebab kini dia telah dewasa. Padahal dulu memasuki tempat ini adalah sebuah hal yang baru, petualangan mendebarkan guna berpura-pura jadi dewasa. Begitu masuk Alden di sambut dengan orang-orang yang sibuk menari di lantai dansa. Meliukan tubuh, bersenang-senang satu sama lain guna melupakan seluruh beban duniawi dari pundak barang sejenak saja. Tensinya cukup terasa ketika dia terpikirkan bahwa dia akan bertemu dengan Eliona. Kegugupan yang tak perlu memaksa Alden hingga dirinya membuka salah satu kancing kemeja supaya bisa bernapas lebih lega. Seharusnya tidak seperti ini! dia tidak perlu gugup, khawatir, apalagi tegang. “Pertemuan ini hanya sebuah reuni dengan kawan lama dan tidak memiliki maksud apa-apa,” gumamnya sebagai pengingat keberadaannya di tempat ini. Milla sudah memberinya kepercayaan jadi Alden tidak boleh mengkhianatinya. Namun jauh dilubuk hati tentu tidak demikian. Diam-diam Alden membayangkan sebuah skenario tertentu berikut pula dengan kenangan. Berhubungan kembali dengan orang yang dia cintai adalah sebuah angan. Mula-mula mereka akan larut dalam perbincangan, yang diisi dengan beberapa kebanggaan soal bagaimana caranya tetap bertahan. Dan kalau beruntung mereka akan kembali mengenang masa lalu dengan menjadi satu dipenghujung pertemuan. Wah… memang dasar otak c***l. Alden mengutuk. “Alden!” Suara feminim yang begitu familiar membuatnya langsung mencari sumbernya. Ketika dia memaku pandang, seketika pula dia tertegun dan terpana. Membeku sekujur tubuh ketika melihat penampilannya yang luar biasa. Wanita itu berdandan untuk menemuinya. Rambutnya di tata sedemikian rupa, meninggalkan juntaian anak rambut yang membingkai kedua sisi wajahnya. Kedua mata wanita itu memancarkan sesuatu yang misterius dan menggoda. Pandangan Alden lalu beralih pada gaun merah yang wanita itu kenakan. Talinya yang tipis menjuntai begitu saja dibahunya dengan bagian dadanya sedikit melorot seolah sengaja dibiarkan. Membuat pria itu mau tidak mau merasa adanya ketegangan dan rasa panas yang muncul di tubuhnya sebagai reaksi alami pria kurang hiburan. Apalagi ketika bra-nya sedikit mengintip dari sana seolah mencoba menarik perhatian. “H—Hei!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD