Mengenang Masa Lalu

1110 Words
Susah payah, Alden berusaha mengatur suaranya agar tidak terlihat gugup. Tapi sialnya dia malah terdengar gagap lagi lantaran tak sanggup. Wanita itu hanya tersenyum, dan Alden bersumpah sempat melihat ada seringai nakal tercipta di wajahnya meski hanya untuk beberapa detik saja. Eliona benar-benar cantik dan gesture tubuhnya lebih manja. Meski tunangannya juga cantik, tapi Eliona punya kharisma yang membuatnya tertantang sedemikian rupa. Dia seperti wanita yang tercipta untuk dijinakan dan Alden tergoda untuk melakukannya. Ya, jika saja dia cukup b******k untuk melupakan sosok Milla dari kepalanya. “Tergoda padaku?” katanya terang-terangan dan Alden langsung tersedak napasnya sendiri. Tidak siap akan tudingan yang tepat ke hati. “Kau sampai tersedak, benar-benar lucu,” katanya sambil terkekeh lalu merentangkan kedua tangan. Alden yang mengerti gesture itu sebagai ajakan untuk berpelukan. Dia langsung memeluk Eliona dan tak ingin melepaskan. Demi Tuhan, bila dia punya kuasa. Sejujurnya Alden ingin menghentikan waktu seketika. Apalagi saat tangan Eliona melingkar di punggungnya membuat pelukan mereka mengerat satu sama lain membagi kerinduan yang sama. Kepala mereka tanpa sadar terbenam di bahu masing-masing saling menghirup aroma. “Aku sangat merindukanmu,” ujar Eliona berbisik tepat di dekat telinganya, lengan wanita itu memeluknya lebih kencang ketika merasakan tubuh hangat yang familiar menyentuhnya. Alden tahu kalau Eliona adalah tipe orang yang menyukai sentuhan fisik, dan mendambakan sentuhan dari orang yang dia cintai. Makanya tak heran kalau dia tiba-tiba jadi sedikit emosional sampai menitikan air mata seperti ini. Alden sendiri mempererat pelukannya, dia melupakan seluruh realita yang ada dan memilih untuk jatuh dalam nostalgia. Hidungnya mencium aroma sang wanita di lehernya. Menikmati moment tersebut selama yang mereka bisa. “Kau sangat harum, Eliona.” “Aku baru saja membelinya. Kau suka?” Alden mendengus, senyumnya kembali terbit begitu saja. Sudah lama sekali dia tidak membuat senyuman yang setulus ini, mungkinkah ini efek dari orang yang tercinta? “Oh jadi sekarang kau tidak lagi mencurinya?” Kesadaran membuat Alden beringsut setelahnya dengan sangat alami. Menarik diri meski dia kembali ingin mengulangnya sekali lagi. Dia merasa tidak cukup dan ingin menyelami lebih dari ini. Sial! inilah yang akan terjadi. Meski sedikit menyesal tapi dia cukup bangga atas kebijaksaan sejati. Dia yakin bahwa dia akan kehilangan kendali untuk menjelajahi tubuh wanita ini. Terutama karena disekeliling mereka banyak pasangan yang bebas b******u liar penuh birahi. Dorongan gairah sungguh memekakan d**a, tapi Alden bertahan dan dia masih cukup waras untuk tidak melakukannya disini. “Aku sudah banyak berubah loh!” balas Eliona. Kedua lengannya tersilang di bawah d**a, menegaskan maksud perkataannya. Namun alih-alih memaknainya secara biasa. Matanya justru fokus pada hal lain. d**a Eliona yang tertutup dengan jaring transparan itu jelas menggodanya. Apakah dia mengenakannya untuk tujuan itu? Sadarlah Alden! Sisi baiknya kembali berteriak. Alden segera mengalihkan pandangan. “Kurasa memang seperti itulah harusnya,” sahut Alden terkekeh garing. “Ey… dasar lelaki m***m. Kearah mana matamu melihat tadi?!” todong Eliona lagi dengan nada main-main yang jelas hanya ingin menggodanya. Sebelum Alden menjawab, terjadi keributan di depan pintu masuk klub dan itu memberinya cukup jeda sebelum bicara. Disana sepasang remaja tampak di usir secara paksa untuk keluar dari klub oleh sang penjaga. Dia terlihat meronta sementara gadisnya mencoba melepaskan pegangan si penjaga terhadap pasangannya. Melihat hal itu, sekali lagi ingatan masa lalunya kembali ke permukaan. Tingkah pasangan remaja itu sedikit mirip dengan apa yang pernah dia dan Eliona lakukan. “Mereka tidak cukup pintar, haruskah kita bagi trik kita pada mereka?” ungkap Alden menanggapi apa yang terjadi disana. “Dengan menyuap si penjaga? Nah… aku bertaruh mereka bahkan tidak punya uang untuk membeli minuman termurah,” sahut Eliona. “Kau terlalu meng-underestimate mereka,” kata Alden lagi sambil terkekeh. “Tapi melihat mereka jadi membuatku ingat masa muda kita.” Eliona tersenyum penuh arti dan Alden kini benar-benar merasa bahwa kedua kakinya memaku bumi. “Kencan pertama kita juga terjadi disini.” Alden menyeringai sambil tersipu, ah… ini tidak ada dalam rencananya. Harusnya dia bersikap seperti seorang pria dewasa. Bukan malah merona hanya karena sedikit sentiment soal kenangan lama. “Ya, dulu aku sangat gugup karena itu kali pertamaku. Jadi pada akhirnya kau yang bertanggung jawab atas kegugupanku.” “Kau benar-benar paranoid dan sangat takut tertangkap saat itu,” balas Eliona sambil terkekeh, lalu mendekat hingga bisa mengusap lengan Alden. “Mau bagaimana lagi kan? ada banyak hal yang terjadi di satu hari. Aku mengajak kencan si cantik yang adalah berandal sekolah dan tanpa diduga kau mau jadi pacarku.” Alden terkekeh lalu kembali melanjutakn. “Semua orang mengira aku sudah tidak waras karena mengejar-ngejar gadis yang selalu mencuri dompetku setiap minggu.” “Mau minum?” tawar Eliona sambil menunjuk ke arah bar. Alden mengangguk sebagai tanda persetujuan. Wanita itu langsung memesankan dua minuman. Dan Alden tersenyum ketika Eliona masih mengingat minuman favoritnya meski waktu telah lama berjalan. Mereka menghabiskan beberapa menit dengan membicarakan banyak hal soal masa lalu dan masa kini. Tentang sesuatu yang konyol yang sebenarnya tidak penting untuk ditangani. Tapi jauh dilubuk hati, Alden hanya sedang mencoba untuk membuat Eliona lebih santai dan terbuka sebelum dia mengajukan pertanyaan yang paling mengganjal di hidupnya selama ini. Pertanyaan yang mengganggunya selama bertahun-tahun tersimpan dihati. Jadi, ketika minuman mereka di sajikan di meja tepi. Alden menunggu sampai Eliona menyesapnya sekali. “Eliona, kenapa kau tidak pernah memberitahuku soal keberadaanmu selama ini? Maksudku, aku pergi ke rumahmu keesokan harinya setelah malam itu. Tapi tidak ada siapapun disana. Aku mencarimu sebisaku tapi aku tidak punya petunjuk apapun. Sebenarnya kenapa kau tiba-tiba menghilang seperti itu?” Minuman yang masih tersisa di mulut mendadak tak lagi berasa. Seolah dalam sekejap mata sensitifitas indranya lenyap tak bersisa. Kepanikan tampak muncul di air muka Eliona. Walaupun dia telah menyiapkan diri untuk pertanyaan yang sudah dia duga. Tetap saja, Eliona masih merasakan adanya ketakutan besar di lubuk hatinya. Wanita itu menutup mata dan menghela napas untuk menenangkan diri. Dia sudah bersiap untuk menepis dan kembali menikmati moment tadi. Mencoba untuk mencari topik lain sebagai pengganti. Namun tekad itu lenyap begitu Alden tampak serius dalam ekspresi. Rasa sakit, kecewa, dan terluka terlihat begitu jelas dari kedua mata sang pria. Gelombang emosional tersebut tergambar jelas disana, dan akan sangat kejam baginya bila menepis begitu saja. “Aku sudah menduga kau akan bertanya,” buka Eliona sambil mendesah. Dia memutar sedotan yang ada di gelasnya sebagai pengalih rasa gelisah. Mencoba menyusun kata terbaik yang bisa dia berikan sebagai jawaban agar rasa sakitnya tidak terlalu parah. Gejolak batin, mimpi buruk, dan trauma menghantui seperti air pasang yang menjalar ke seluruh tubuh. Meski ini sangat sulit baginya, terutama di bagian menerima kenyataan yang telah berlalu. Tidak ada pilihan bagi Eliona untuk menghadapinya agar dia bisa sembuh. Mungkin saja dengan itu beban dipundaknya terangkat bukan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD