Dance With Me

1056 Words
Eliona rasa cara terbaik untuk mendapatkan kembali pria-nya adalah dengan bersikap jujur dan apa adanya. Mungkin inilah saatnya bagi dia untuk mengatakan yang sebenarnya. “Jadi?” Suara pria itu terdengar lagi, agak sedikit menuntut dan Eliona telah bersiap untuk kemungkinan terburuk. “… Kau ingat dengan perusahaan yang menjual bulu-bulu hewan di pelelangan?” tanya Eliona memulai kisah. Alden terhenti sesaat lalu menganggukan kepala. “Yang kita berdua berbuat ulah dengan menyemprotkan cat ke jendela mereka kan? tentu aku ingat.” Kepingan kenangan merasuk dalam memori keduanya. Terutama ingatan soal Eliona yang mengenakan rok mini seksi malam itu dan mereka berbuat onar sekaligus bisa b******u mesra di saat yang sama. Eliona mendesah lagi. “Setelah kita kepergok ibumu, aku pulang begitu saja. Dan dirumah ternyata sudah ada polisi yang menungguku.” Pipi Alden sedikit merona. Dia tidak tahu yang satu itu karena dia tertidur sangat lelap. Pasti akan sangat memalukan bagi Eliona, terutama dia kepergok orangtuanya saat mereka berada di ranjang yang sama keesokan paginya. Tapi terlepas dari itu bagi Alden itu adalah malam yang luar biasa. Sekaligus malam pertama mereka melepas segalanya. “Orangtuaku membuat kesepakatan dengan perusahaan tersebut dan mereka mengirimku ke asrama khusus wanita yang jauh di luar negeri.” “…Begitu ya.” Alden menundukan kepala. Kini segalanya jadi masuk akal, mereka terpisah karena keadaan yang memaksa. Dan Alden bisa memahami mengapa Eliona tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Tetapi… seolah belum puas, Alden merasakan masih ada sesuatu yang mengganjal ada yang aneh dari ceritanya. “Tunggu? Asrama katamu?!” Alden secara refleks mengulurkan tangannya dan menatap kedua mata Eliona lekat-lekat. Dia bisa melihat raut wajah penuh rasa bersalah dan penyesalan terpancar dari jarak mereka yang begitu dekat. “Kalau cuma itu kau kan bisa meneleponku, Eliona! Tapi kenapa kau tidak memberiku kabar apapun?” Kedua mata Eliona terbelalak saat Alden secara tak sengaja menyentuh bagian perutnya. Ekspresi yang kompleks terpancar begitu dia melihat jari-jari maskulin Alden menyentuhnya disana. Dan secara refleks Eliona menutupi jemari tangan pria itu dengan tangannya. Merasakan kehangatan yang dia rindukan dari sentuhan ringan tetapi menggelitik hatinya. Dia merasa bingung akan diri sendiri. Dari sekian banyak hal yang bisa dia pikirkan selain rasa bersalah, Eliona justru terbuai akan cara pria itu menyentuhnya saat ini. Menunjukan padanya bahwa Alden masih peduli. “Kenapa kau tidak mengabariku, Eliona? Kalau aku tahu kau disana aku pasti akan segera mendatangimu.” Mendengar pernyataan itu, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Wanita itu tidak membiarkannya jatuh sekuat tenaga. Jari-jari mereka saling bertautan pada mulanya ditarik begitu saja oleh Eliona. Membawa tangan pria itu untuk menangkup pipinya. “Justru itu. Aku tahu kau akan datang padaku kalau aku menghubungimu. Dan aku juga tahu kalau aku memintamu untuk datang kau tidak akan ragu meninggalkan segalanya untukku seperti yang akan kulakukan untukmu.” Bibir Eliona mulai bergetar. Gelombang emosi yang menghampiri terlalu kuat sehingga dia tidak cukup hebat untuk membendung semuanya hingga tubuhnya gemetar. “Aku tahu keadaanmu. Orangtuamu sedang sakit dan mereka lebih membutuhkanmu, mereka lebih penting bagimu. Lagipula mereka kan terus bergantian keluar masuk rumah sakit sepanjang waktu. Lalu disaat yang bersamaan itu adalah waktu yang mengerikan buatmu karena kau harus berkutat dengan banyak hal yang tidak familiar. Dari kondisi itu jelas perusahaan ayahmu tidak ada yang memimpin. Setiap kali aku memikirkanmu. Aku hanya bisa mengingat seberapa stressnya kau saat itu. Dan aku berpikir satu-satunya cara meringankan semua itu adalah tidak membebanimu dengan cerita klise soal aku di tempat yang jauh. Dan lagi… setelah waktu berlalu aku berpikir bahwa kau mungkin sudah menemukan orang baru,” jelas Eliona panjang lebar. Wanita itu mencoba mengalihkan pandangannya kemana pun. Beban kesaksian dan pengakuannya atas apa yang terjadi di masa lalu hanya membuat dia merasakan beban menahun. Dia memang wanita pengecut, dan Eliona sangat tahu itu. Dia memang punya kesempatan untuk mengabari Alden, tapi dia tidak mampu. “Ah sial,” gerutu Eliona ketika air mata membasahi pipi karena emosinya sendiri. Namun kali ini sebuah tangan yang teguh menyentuh dagunya dengan penuh kasih. Mencoba mengarahkan padangannya sehingga mereka berdua bisa saling bersitatap dan lebih terkendali. Tubuh Eliona bergetar dan memanas dengan percikan romansa masa lalu. Cara Alden memperlakukannya membuat dia lega sekaligus malu. “Terima kasih sudah menceritakannya padaku, Eliona,” ungkap Alden dan air mata sekali lagi jatuh ketika Eliona memberinya sebuah senyuman penuh kelegaan. Dia pikir Alden akan membencinya, tapi cara pria ini memperlakukannya membuat Eliona sadar bahwa Alden telah memaafkannya. Seluruh beban di pundaknya menghilang seketika. Dia tiba-tiba saja mengulurkan tangannya sambil berdiri dari posisinya. Membuat Eliona bertanya-tanya apa yang pria itu rencanakan untuk mereka. “Mau menari?” tawarnya. Eliona menganggukan kepala saat mereka kemudian tanpa kata memasuki lantai dansa. Kepala mereka berputar mencari ruang yang cukup luas untuk mereka berdua, tetapi nyatanya tempat itu terlalu sempit. Ada banyak pasangan di dalamnya dan mereka semua terhanyut dalam suara dentum musik yang menggema di seluruh penjuru tempat. Eliona menarik lengan bajunya, menempatkan diri di antara celah kecil dalam lautan manusia yang menggila di lantai dansa. Tubuh mereka mau tidak mau bergesekan satu sama lain karena ruang yang kelewat sempit. Lagu yang diputar menambah antusiasme. Beberapa orang saling dorong satu sama lain sehingga Alden dan Eliona terkena imbasnya. Dada Eliona bersentuhan dengan lengannya, sementara tangan Alden meluncur di sepanjang bahu telanjangnya. Namun mereka berdua tahu ada sorot mata penuh rasa lapar yang tercipta diantaranya. Menatap penuh nafsu satu sama lain. Tidak ada yang terjadi, sebab keduanya mencari cara untuk keluar dari kekacauan ini segera sebelum terlalu tenggelam dalam suasana. “Apa yang paling kau sukai dari menari?” tanya pria itu. Eliona merasakan cengkraman lembut tangan Alden di bahunya, dia tersenyum ketika membawa dirinya jauh lebih dekat dengan sang pria. Wajahnya kini menempel pada ceruk leher Alden, dan Eliona dalam jarak ini bisa mencium aroma maskulin familiar yang begitu dia rindukan. “Ketika aku bisa lupa diri karena itu,” balas Eliona sambil bersandar padanya. Kedua tangan wanita itu menjelajahi d**a dan naik ke leher Alden. Sementara tangan sang pria telah menyelinap ke pinggangnya. Keduanya tahu bahwa mereka saling membutuhkan, saling merindukan. Dan sinyal itu jelas tergambar dari bahasa tubuh Alden. Eliona semakin bersemangat, dia tahu bahwa dia tidak boleh menghentikan godaan ini. Dia akan melanjutkan foreplay yang mendebarkan ini. Menciptakan nuansa penuh gairah guna memancing hasrat mereka berdua. Tidak ada pilihan. Lagipula Alden tampaknya masih mencintainya, dan ini tidak masalah bukan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD