Pengakuan

1233 Words
Alden menahan napas ketika Eliona menekan tubuhnya hingga d**a mereka merapat. Apalagi mendengarnya berucap demikian. Situasi ini lebih seperti menggenggam kembali sesuatu yang telah hilang. Alden menatap lebih dalam ke kedua mata Eliona, tetapi ketika wanita itu menyadari kemana arah matanya menuju. Alden dengan pengecut mengalihkan pandangan matanya dan mencoba menciptakan ruang. “Kau bisa berpura-pura jadi orang lain. Misalnya menjadi seorang pria yang menarikku kesini karena ingin menciumku,” ujar perempuan itu halus. Eliona sudah terlalu dekat dengannya bukan? Sudah terlalu lama berlalu sejak mereka tidak sedekat ini. Alden menahan rasa gugupnya sendiri. Sejujurnya moment ini adalah moment yang dia nantikan sejak lama. Ini sangat menyenangkan dan begitu dia rindukan. Kehangatan dari sentuhan fisik dan kasih sayang yang Eliona berikan kepadanya tidak pernah dia dapatkan dari Milla. Wanita itu tidak dibesarkan dengan cara seperti ini. Dia tidak pernah membiarkannya menyentuh lebih jauh selain dari pada ciuman di pipi dan itu pun terbatas sekali. Milla lebih suka hal-hal yang lebih pada ikatan emosional, dan sebatas afirmasi dari kata-kata. Tapi sebagai seorang pria, Alden tidak akan munafik bahwa dia membutuhkan sentuhan fisik juga sebab itulah bahasa cintanya. Ya Tuhan, bibir Eliona sekarang menempel di— “Eliona…,” erang Alden agak parau ketika gigi wanita itu menggigit gemas di rahangnya. Jari-jarinya mencengkram pangkal lehernya, sedikit menarik rambutnya dengan kasar. Eliona berhenti ketika mendengar suara erangan sensual keluar dari bibirnya. “Apa aku terlalu banyak bicara?” bisik wanita itu, hidungnya menyentuh hidung Alden. Kedua mata wanita itu terlihat begitu berbinar dari jarak ini. Berkilauan dan memabukan. “Tidak,” sahut Alden dengan suara serak ketika lagu ketiga mulai di putar. Kali ini ketukannya lebih cepat tiga kali dari pada suara riuh disekitar mereka. Jenis musik yang membuatmu ingin melompat dari lantai dan berteriak. Kedua jari mereka menyapu setiap inchi kulit yang bisa mereka raih, tatkala kedua bibir saling beradu dan lidah menyelinap masuk untuk menjelajah sebanyak yang mereka bisa. Sekarang ini bukanlah sekadar tarian, tapi lebih pada santapan liar karena mereka berdua sudah kelaparan akan cinta kasih yang serupa. Tangan Eliona menyelinap ke bawah kemeja yang Alden kenakan ketika pria itu mencengkram pahanya dari balik rok yang Eliona kenakan. Entah bagaimana, kini posisi mereka telah beralih ke pojok. Punggung wanita itu terbentur ke dinding. Alden telah menjepit kaki Eliona di luar kakinya, mendorongnya hingga terbuka ketika lutut Alden terus menerus meluncur di titik nikmat diantara kedua kakinya yang membuat kedua mata Eliona berubah menjadi abu-abu dan napasnya mendadak ringan. Leher Alden bergerak kesana kemari, sementara jari-jari Eliona menarik rambut sang pria sehingga lidah dan pipinya dapat merasakan setiap inci dari tubuhnya sebelum gigi nakal Alden menggigitnya. Meninggalkan sebuah bekas kepemilikan yang hanya berfungsi sebagai titik awal untuk serbuan hasrat berikutnya. “Bicaralah, Eliona,” kata Alden dengan suaranya yang rendah. Kedua kaki Eliona terbuka lebar, danAlden mengambi kesempatan itu untuk meluncurkan tangannya ke sana. Menarik rok wanita itu hingga tersingkap ke atas. Hingga mengekspos apa yang tersembunyi di baliknya. “Aku suka ketika kau melakukan itu,” sahut Eliona dengan napas yang terengah. Alden membiarkan giginya sedikit terbuka, membiarkan permukaan kulit sang wanita terlepas dari serangannya ketika dia mendengar jawaban yang disusul dengan gumaman dan racauan kecil dari mulut sang wanita. Dia seperti telah masuk ke dalam pusaran gairahnya sendiri. Membuat Alden tanpa sadar menyeringai bak seorang predator yang ingin mendorong lebih jauh situasi ini. Kepentingan Alden sekarang adalah memenuhi kebutuhan Eliona akan dirinya. Hal itu seperti sesuatu yang sangat mutlak baginya. Dengan pengetahuannya, Alden bergerak ke titik lemah wanita itu dan menggigitnya. Tubuh wanita itu sedikit mengejang karena ekstasi, dan Alden tahu bahwa Eliona tidak sepenuhnya berubah meski sepuluh tahun telah berlalu begitu saja. Ketika lidah dan gigi itu ada kulitnya. Kedua mata Eliona terbuka lebar ketika cahaya lampu disko berkedip menyinarinya. Seluruh entitasnya seakan hilang di telan gairah ketika bibirnya mulai mendesis. ‘D—dia ada di leherku.’ Pikiran nakal Eliona mengambil alih ketika Alden menahannya di posisi yang sama dan masih menggigitnya lebih keras di sana. Pria itu masih tahu bahwa jika dia melakukan hal itu, maka kebutuhannya yang mendesak akan terpenuhi dengan mudah. Tekanan itu nyatanya makin meningkat. Tiba-tiba saja, pikiran Eliona melayang dan dia menghilang dari dunia. Segala hingar bingar tak lagi jadi perhatian. Tidak ada kehidupan di luar tubuhnya, dan hanya ada dia dan Alden saja yang tersisa. Jari Alden menekan lehernya dan dan paha wanita itu gemetar sebab dia telah mendekati puncaknya. Kedua matanya melebar, dan napasnya semakin cepat. Alden ada disini bersamanya, dan dia tampak masih mengingikan dirinya. Mereka masih bisa bersama, dan Eliona bisa memilikinya seperti sedia kala. “… Aku masih mencintaimu, Alden,” bisik Eliona seraya menghembuskan napas ke telinga sang pria dan mendadak semua kenikmatan yang dia dapatkan berhenti. Dan saat itulah Eliona merasa menyesal. Ya, dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan mengatakan sesuatu yang Revana berkali-kali ingatkan untuk tidak dia katakan. Tapi dia sudah melakukannya, dan dia melihat sendiri efek perkataannya pada Alden. Tubuh Alden membeku. Semua pergerakan yang dia berikan kepada Eliona benar-benar terhenti seketika. Pelan dia meninggalkan tubuh hangat wanita itu dan beranjak mundur. Gelombang dari realita dan juga akal sehatnya kembali ke tempat. Apa yang baru saja dia dengar? Alden melirik kondisinya. Kemejanya kusut dan kancingnya terlepas di beberapa bagian karena diremas oleh jari Eliona. Membuat dadanya terekspos bebas. Dia benar-benar merasa disiram oleh air es. Heran akan dirinya yang begitu cepat berubah menjadi remaja yang haus akan seks. Bisa-bisanya malam yang dia pikir hanya sekadar reuni dan salam dengan kawan lama bisa mengubahnya menjadi seperti binatang yang sedang birahi. “Oh sialan!” gumam Alden ketika dia melihat kondisi Eliona yang sama kacaunya. Gaun seksi wanita itu tersibak hingga di pinggangnya. Bagian atas gaunnya juga melorot, dan Alden bersumpah gaun itu akan sangat mudah dilucuti jika dia menyentuhnya sekali lagi. Tepat ketika Alden menatapnya dengan cara seperti itu. Batin Eliona mulai panik. Seharusnya tidak seperti ini, dia tidak boleh mengatakan soal itu di pertemuan pertama mereka. Ini hanyalah ajang bagi Eliona untuk mencari tahu soal keterikatan dimasa lalu yang barang kali masih tersisa. Hanya saja beberapa adegan tadi memang diluar rencana. “Lupakan apa yang baru saja aku katakan,” ujar Eliona buru-buru. Tetapi Alden justru menatapnya dengan mulut ternganga dan memandangnya seperti dia adalah orang gila baru. “Mana mungkin.” “Aku mohon!” desak Eliona, mencoba menyelamatkan dirinya dari sapuan rasa panik. “Aku sudah terbiasa dengan itu, kau tahu? maksudku, dulu saat kita melakukannya aku sering mengatakan hal itu dan tanpa sadar aku jadi mengatakan hal yang sama sekarang. Kita mengatakannya setiap hari, setiap kali kita bersama jadi ini sudah semacam kebiasaan buatku,” jelas Eliona lagi memberikan argumentasi tambahan yang dia tidak tahu akan berhasil atau tidak. “Ah ya, kau benar.” Eliona tersenyum lalu mendekati Alden lagi. Memeluk tubuh pria itu dan menyandarkan kepalanya di d**a Alden. “Apa kita bisa melanjutkan apa yang tertunda? aku benar-benar ingin—” Belum lengkap dia mengatakan segalanya, Eliona merasa tubuhnya di dorong untuk menjauh dan kini punggungnya kembali menekan dinding. Eliona sungguh bingung dengan tindakan yang Alden lakukan sehingga dia hanya bisa terdiam mengamati wajah Alden yang tampak mengerutkan kening padanya. “Sebenarnya Eliona, aku seharusnya tidak melakukan ini sejak awal. Aku tahu kalau aku sempat kehilangan kendali dan ini sangat tidak adil bagimu.” “Apa maksudmu Alden?” Dia memperlihatkan cincin di jari manisnya, sesuatu yang luput dari perhatian Eliona malam ini. “Aku sudah bertunangan, Eliona.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD