“Apa?!” Eliona nyaris berteriak, kedua matanya melotot saat tubuhnya tertegun mendengar pernyataan itu. Dia apa? Emosi meluap membanjiri ekspresi wajahnya ketika dia sadar bahwa mereka saling menyentuh beberapa saat lalu. Lalu sebuah pertanyaan bergelayut di kepalanya segalanya jadi tak menentu. “Lantas kenapa kau menggodaku? Kenapa kau menanggapi aku padahal kau sudah bertunangan?!” tuntut Eliona frustasi pada pria yang berada di hadapannya ini.
Wajah Alden memerah dan pria itu menunduk. “Aku tidak melakukannya, atau setidaknya itulah yang aku pikirkan.”
“Tapi kau melakukannya, Alden!” Eliona berteriak marah karena sungguh saat ini dia benar-benar merasa sangat malu atas apa yang sudah terjadi. Air mata mulai membanjiri pipi, merusak maskaranya, merusak riasan yang dia pilih secara hati-hati. Ada banyak hal yang dia rasakan dalam satu waktu, ledakan emosi yang sungguh melelahkan untuk dapat dia hadapi seorang diri.
Rasa ketidakpercayaan atas apa yang baru saja dengar. Gairah yang terpaksa harus dipadamkan di tengah petualangan bagaikan sedang memakan sup pengar.
Tapi… kemudian sisi denialnya kembali mengambil alih begitu saja. Apakah dia hanya mempermainkannya? Mungkinkah dia berkata begitu karena takut menerima cintanya lagi? kalau memang begitu Eliona bisa memahaminya.
Napas Eliona menjadi lebih berat dan tidak teratur. Isi kepalanya siap meledak tapi dia menahannya agar tak terdengar melantur. Padahal saat pertama kali bertemu dengan Alden, Eliona sudah memastikan segalnya. Dia bahkan sudah menggeledahnya dan yakin bahwa tidak ada cincin di jari manisnya.
Kata-kata yang dia ucapkan kembali dia ludahkan pada Alden. “Sudah kubilang padamu saat itu kalau ini kencan kan?”
Alden menggertakan giginya. “Kupikir maksudmu hanya sekadar reuni biasa.”
Waktu melambat. Sial! rasa malu yang Eliona rasakan mulai tidak tertahankan. Dia benar-benar sudah gila. Jadi hanya dia saja yang bereaksi berlebihan untuk malam ini dan berpikir segalanya sama seperti dulu? hanya dia yang berharap bahwa mereka masih bisa kembali?
Eliona baru saja bertindak seperti perempuan jalang birahi dan menggodanya beberapa saat lalu karena berpikir mereka punya pemikiran yang sama. Foreplay, setiap sentuhan, setiap gesekan, bahkan tanda yang pria itu buat padanya untuk apa?
Segalanya berakhir dalam satu waktu. Eliona merasa tak aman, rentan, dan adrenalinnya kini meningkat dan dia sempat dibuat terangsang kemudian harus menganggapnya angin lalu. Ini gila! Eliona berpaling mencoba menenangkan diri, terlalu sulit untuk baik-baik saja setelah dia dibuat menggebu.
Sementara Alden hanya bisa berdiri di posisinya. Merasa tidak enak melihat Eliona. Bagaimana pun juga mereka pernah bersama dulu, sehingga setiap detail kecil dari wanita itu telah Alden hafal di luar kepala. Dia bisa memahami apa yang wanita itu rasa. Tapi sialnya, dia tidak menjangkaunya. Dia tidak bisa meraihnya dan memeluknya. Dia tidak bisa menuntaskan hasrat mereka.
“Eliona, aku—”
“Apa dia tahu kau disini bersamaku?” tanya Eliona memotong perkataannya.
Alden menatap wanita itu, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Namun tatapan Eliona yang menutut padanya untuk menjawab dengan jujur, membuat Alden tidak bisa menyiapkan alasan. “Iya.” Meskipun tidak seutuhnya. Setidaknya meski tidak enak, Alden bersyukur bisa mengatakan sebuah kejujuran.
Hati Eliona sakit. Siapapun perempuan yang bersama dengan Alden sekarang jelas berbeda level dengannya. Sebab kalau itu Eliona, dia pasti tidak akan mengizinkan Alden pergi untuk menemui mantan kekasihnya. Perbedaan itu membuat harga dirinya terusik.
“Apa dia cantik?” tanya Eliona lagi.
Alden menganggukan kepalanya. “Iya, dia cantik.” Cantik yang berbeda denganmu, cantik yang elegan, cantik yang kalem. Tipe perempuan yang lemah lembut tetapi tegas. Itulah dia. Tapi kecantikanmu adalah hal lain. Kalian tidak bisa dibandingkan. Tambah Alden di dalam benaknya.
“…Pintar?” Eliona mendongak, dan Alden bersumpah dia sangat terluka melihat kedua mata Eliona yang berkaca-kaca.
“Sangat.”
“Apa kau mencintai dia?” tanya Eliona lagi dan untuk sesaat dia merasa begitu t***l karena bertanya hal yang sudah jelas jawabannya.
Jeda cukup lama sebelum akhirnya yang dia dapatkan sebagai balasan hanyalah sebuah senyum muram dari Alden.
Eliona mengangguk tanpa suara. Itu sudah cukup, dia sudah mendapatkan apa yang dia cari. Harusnya itu meredakan rasa penasarannya sekarang. Bagaimana pun bentuknya pria ini sudah move on, sesuai dengan pikiran paling buruknya. Alden tidak salah, dia tidak berselingkuh walaupun mereka belum putus. Sebab Eliona-lah yang meninggalkan Alden duluan tanpa kata dan kembali padanya seperti tidak ada apa-apa. Alden tidak pantas dipersalahkan karena wajar baginya untuk bergerak maju setelah sepuluh tahun tanpa kabar.
Alden yang sekarang sudah tidak mencintainya dengan cara yang sama seperti dulu. Dia tidak mencintainya seperti romansa liar dan penuh hasrat seperti yang pernah mereka lakukan beberapa saat lalu. Meski itu juga bentuk cinta, tetapi rasanya argument apapun sudah jadi tidak relevan lagi. Karena hati pria ini bukan lagi untuknya, dia bukan miliknya.
Tidak banyak yang bisa bicarakan setelah kebenaran itu terungkap. Mereka menyesuaikan diri dan dengan canggung pada akhirnya memilih untuk pulang dan berpisah. Sebab itu adalah jalan satu-satunya untuk mengakhiri ini. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang bicara bahwa pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Sebab apa yang mereka lakukan tadi saja sudah sangat salah. Perasaan yang mungkin mereka miliki di dalam hati tidak harus kembali ke permukaan. Karena itu salah. Dan mereka tahu itu, sehingga tidak ada yang berani bicara.
Ketika mereka melangkah keluar dari klub, udara dingin langsung menghilangkan seluruh hasrat membara yang sempat berkobar. Membuat mereka kini berdiri sebagai dua orang dewasa yang penuh pertimbangan dan akal sehat.
Setelah keheningan yang lama, Alden menatap wanita yang berdiri di sebelahnya tampak meraba tas tangannya mencari sesuatu. Mereka akan berpisah disini. Mungkin ini akan jadi malam terakhir mereka. “Maaf, malam ini benar-benar tidak sempurna. Semuanya rumit.”
Eliona tersenyum getir. “Tidak apa-apa, kurasa aku terlalu cepat menyimpulkan hingga salah paham.” Eliona diam-diam menatap lelaki di sampingnya. “Tapi, kita masih bisa berteman kan?”
‘Tolong berikan aku sedikit penghiburan’ jerit Eliona dalam hatinya. Dia masih sangat berharap bahwa kenyataan ini tidak pernah ada. Atau setidaknya dia tidak ingin berpisah dengan cara seperti ini. Dia masih ingin bisa bersua dan bercengkrama dengan Alden. Meski tidak bisa memiliki atau pun kembali bersama seperti dulu.
“Tentu saja, awalnya pun kita berteman kan?” sahut Alden.
Mobil taksi mendekat dan Eliona melambaikan tangan. Taksi berhenti di depan Eliona, dan sebelum membuka pintunya, Eliona kembali melirik ke arah Alden. “Jadi… sampai jumpa, Alden,” katanya.
Alden mengangguk. “Sampai jumpa, Eliona.”
Setelah Eliona duduk di bangku penumpang, Alden menutup pintu taksi. Berdiri di tempat itu sampai mobil yang wanita itu tumpangi menghilang dari pandangan.
Alden menghela napas lelah. Tersenyum sedih ketika menatap kepergiaan wanita itu. Sebenarnya Alden bisa saja mengantarkannya pulang. Tapi, Alden tahu bahwa hal itu sepertinya keputusan itu tidak terlalu bagus. Apalagi setelah yang terjadi diantara mereka.
Bagaimana pun juga, inilah kenyataannya. Mereka bergerak maju dan terus berubah setiap harinya. Mereka terpisah, dan itu sudah bagian dari jalan kehidupan. Eliona adalah utara sejatinya, dan Alden adalah Selatan wanita itu selamanya. Fakta itu tidak akan berubah, meski dia telah bertunangan dengan Milla.
Alden meraih ponselnya, lalu mengetikan sesuatu disana.
Sayang, kurasa aku akan pulang terlambat malam ini.