Suara lolongan dan jeritan memenuhi ruangan ketika pisau di tancapkan dan kemudian cipratan darah langsung memenuhi layar. Lalu kemudian seorang narrator muncul dan menceritakan soal kisah seorang wanita muda yang ditikam secara brutal. Untuk menyembunyikan bukti jasad wanita malang itu pelaku mengumpankannya ke srigala liar yang lapar.
Di atas sofa berbaring seorang wanita dengan rambut pirang yang panjang. Dia nyaris telanjang karena hanya memakai gaun tidur super pendek untuk menutup tubuh. Begitu terlihat santai saat menonton film dokumenter yang lebih banyak menyajikan kekerasan dan pembunuhan secara eksplisit. Dia mengunyah keripik kentang dengan kedua mata tampak fokus menyimak penuturan sang narrator.
Dia, Revana. Perempuan yang menyukai acara investigasi yang ditayangkan di saluran televisi. Acara itu anehnya selalu membantu dia untuk menghilangkan stress dan kepenatan setelah lelah bekerja seharian. Sebotol anggur setengah penuh berdiri tegak di atas meja kopi dekat sofa tempat dia berbaring dengan santai; ah ya, itu juga senjata pamungkas untuk membantunya merileks-kan pikiran.
Meski matanya menatap ke arah televisi dengan sebelah tangan memegang gelas kaca. Pikirannya justru tertuju pada sang teman sekamar yang saat ini sedang berpetualang dengan cinta pertamanya. Akan sangat bagus kalau mereka langsung ke sesi saling menjilat. “Tidak buruk juga,” ujarnya pada udara disekitar lalu terkikik sendiri.
Pintu terbuka dan terdengar langkah kaki, Revana bergegas melirik ke arah jam dinding dan mengerang. “Eliona, ini bahkan belum tengah malam!” keluh wanita keras-keras ketika mendengar suara gemersik sepatu yang disimpan ke rak dan juga kunci yang diputar.
Revana melirik ke arah botol anggur di meja, dan kembali mengerang. “Aku bahkan belum mabuk. Harusnya kau telepon aku dulu, oh sial.” Meski merutuk situasi, tetapi Revana merasa aneh lantaran sahabatnya tidak kunjung merespon apa-apa.
Dia pun bangkit dari posisi dan menutupi tubuhnya dengan cardigan yang panjangnya sepaha. Lalu berceloteh untuk menghampiri “Tapi aku lumayan penasaran dengan Alden-mu itu, mungkin kita—what the hell?!” teriak Revana begitu dia melihat teman sekamarnya berdiri di dinding dengan ekspresi kosong. Tubuhnya gemetar, dan dia menangis dalam diam.
“Oh ya Tuhan! Eliona.” Revana berjalan ke arahnya sambil membuka kedua lengan. Melihat gesture itu, Eliona langsung menghambur dan memeluk sahabatnya.
Tidak ada kata-kata yang terucap saat Revana menuntun sang sahabat untuk masuk ke dalam. Menggiringnya ke ruang tengah dan mendudukannya di sofa tanpa melepaskan pelukan. Eliona masih tetap mengunci bibirnya, dan hal itu sedikit mengganggu untuk Revana.
Dari situasi ini dia cukup peka bahwa kencan pertama sahabatnya tampak tidak berjalan lancar. Dia dan Eliona adalah sang alpha yang selalu memimpin jalannya situasi dan percaya diri dengan alurnya. Tetapi sekarang, Eliona telah tumbang hingga nyaris tidak bersuara meski dia sedang menangis seperti ini. Itu berarti terjadi sesuatu yang buruk dan parah. Apa yang pria itu lakukan sampai sahabatnya yang liar menjadi sedemikian menyedihkan seperti ini?
Dengan sabar Revana menemani, sambil membuka ikatan rambut Eliona. Memperlihatkan rambut kemerahannya yang bergelombang dan menyisirnya secara perlahan. Acara televisi favoritnya kini sudah betul-betul terlupakan. Perhatiannya tersita oleh Eliona yang pulang dalam kondisi berantakan. Secara perlahan dan lembut, Revana mulai menarik Eliona dari cangkangnya.
“Hei… kau mau memberitahuku?”
Eliona bergumam tak jelas, dan sulit bagi Revana untuk memahami hal itu saking kecilnya suara sang sahabat di telinga. “Eliona?”
“… kau tidak akan mengerti.”
“Ayolah Eliona, bagaimana aku bisa membantu kalau aku tidak tahu apa masalahmu?” ujar Revana bersikeras. “Apa dia menolakmu? kalau iya, aku bersumpah mereka ulang adegan pembunuhan yang baru saja aku tonton di televisi,” tambah Revana lagi. Meski dia bercanda, tapi kentara sekali bahwa dia sedang serius.
“Tidak, bukan seperti itu,” ujar Eliona sambil mendengus. Tampak dengan susah payah menelan sesuatu yang berat di tenggorokannya. “Dia sempurna, benar-benar sempura sampai aku ingin benar-benar membawanya ke ranjang saat itu juga.” Eliona mengaku keras-keras lalu air mata baru mengalir di wajahnya yang sudah berantakan. Revana mengulurkan tangan dan menghapus air mata itu dengan tisu, saat itulah Eliona menatapnya.
“Dia tampak sangat mengagumkan, Revana. Dia jauh lebih tinggi dari yang aku ingat. Mengenakan pakaian casual yang pas ditubuhnya dan itu membuatku … tidak bisa mengalihkan pandangan darinya sedetik pun. Dia tidak seperti dulu, tapi disaat yang bersamaan dia tampak sama seperti yang aku ingat.”
Suara Eliona bergetar. “Kami banyak bicara. Menceritakan soal masa lalu yang menyenangkan, dan dia menceritakan bagaimana hidupnya berjalan. Sangat ringan dan bersahabat. Aku juga sempat menggodanya habis-habisan dan membuat wajahnya tersipu beberapa kali,” katanya sambil mencondongkan tubuh ke depan Revana, dari situ dia bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat. “Maksudku, aku mengirimnya banyak sinyal dan aku yakin dia juga menangkap maksudku. Aku menyentuh pahanya, aku mencondongkan tubuhku, aku mendekatkan diriku padanya supaya dia bisa dengan mudah menjangkauku. Siapapun bisa membaca kalau aku lebih dari siap.”
“Mungkin karena kau terlalu menggoda?” sela Revana mencoba untuk memahami cerita sahabatnya.
“Aku tidak tahu, tapi yang pasti saat itu kami sedang menari bersama. Dia yang mengajakku duluan.”
Revana mendengar nada sedih dalam suara sahabatnya. Dia sangat tahu bahwa Eliona terhanyut dalam lamunannya, dan moment itu seolah berhenti disana untuknya. Dan ketika Revana mengusap punggungnya, tubuh Eliona menegang.
“Oh…” Suara Revana menggantung di udara dan dia menjauhkan dirinya sedikit untuk menatap wajah Eliona dengan ekspresi simpati. Tangannya meremas bahu sang sahabat sebab dia menyadari sesuatu. “Gairahmu menjadi tak tertahankan padanya?”
“Sangat.” Eliona mendesah ketika dia mengakui kebodohannya, tetapi di saat yang sama dia merasa lega. “Kami berdansa dengan begitu dekat. Tidak ada jarak yang menghalangi kami, hanya ada baju yang membatasi. Kami berlomba untuk saling memangsa.”
Eliona mendengus muram saat dia meraih salah satu bantal sofa dan memeluknya. Meremas benda itu sebagai pelampiasan. “Aku menciumnya, dan dia menerimaku. Kami berciuman dengan penuh gairah dan aku yakin bahwa dia memiliki hasrat yang sama. Dia juga memberiku kissmark dan menyerang titik sensitifku, seperti yang biasa dia lakukan dulu. Rasanya seperti kami tidak pernah terpisah. Kami seperti kembali ke masa muda kami yang begitu liar dan panas. Itu luar biasa.”
Revana mengenal Eliona. Wanita ini tidak pernah terlibat dengan pria manapun dan dia juga tahu bahwa cintanya masih untuk orang yang sama. Pria yang dia tinggalkan secara terpaksa sepuluh tahun lalu. Jadi, ketika dia begitu jujur soal itu padanya. Revana merasa dirinya hanyut dalam kisah cinta sahabatnya.
“Kami b******u dengan gila, punggungku merapat ke dinding. Aku yakin itu bisa saja terjadi karena gaunku sudah tidak beraturan. Hanya perlu sedikit tarikan dan aku rasa aku akan memamerkan tubuhku pada semua orang di dalam club saat itu juga. Dan gilanya aku memang menginginkannya. Tidak peduli dengan apa yang ada disekitarku.”
“Wah… kedengaran romantis dan… nakal,” sahut Revana sambil menyeringai lebar. Memikirkan banyak kemungkinan lain yang barangkali terjadi dan lebih panas. Makanya dia tertarik mengoreknya lebih dalam. “Jadi, kau melakukannya saat itu? maksudku di club saat kalian menari? Jujur, aku tidak pernah menganggapmu perempuan seperti itu.”
Eliona menatap Revana, matanya dipenuhi oleh hasrat yang belum tertuntaskan sekaligus kekecewaan. “Kalau memang itu yang terjadi pasti saat ini kau sudah bertemu dengannya.”