Rembulan telah memperlihatkan pesonanya, Kini suasana kota telah sepi sejak beberapa jam yang lalu dimana saat ini jam telah menunjukkan pukul tengah malam dan udara dingin telah menusuk sekujur tulang Louis.
Setelah beberapa jam berjalan kesana-kemari seperti orang gila, akhirnya ia tergeletak lemas didepan sebuah gedung terbengkalai diujung selatan kota.
Tubuhnya benar-benar ambruk saat ini, rasa letih menjalar di sekujur kakinya dan belum lagi tangan kirinya yang masih patah malah semakin nyeri karena terlalu banyak pergerakan serta beberapa luka lecet akibat pertikaian dengan monster tadi siang.
Dengan tubuh yang sudah terkapar dirumput perkarangan gedung terbengkalai itu, perlahan-lahan louis memejamkan matanya sampai ia mendengar suara keributan seperti ada Suatu pertikaian didalam gedung.
Bukannya lari atau pergi dari sana, louis malah bangkit dan berusaha melangkahkan kakinya kedalam gedung semata-mata hanya ingin memuaskan rasa penasarannya.
Benar saja, matanya langsung terbelalak saat melihat ada luke disana yang berhasil mengalahkan dua makhluk besar menyeramkan dengan bau yang menjijikan dan yang membuat louis lebih kaget adalah saat putranya tengah asyik menyantap dua makhluk monster itu seperti orang rakus.
"Kau!!!" Teriak Louis yang tak bisa berkata-kata , dengan langkah yang terseret-seret ia memasuki gedung itu tanpa pikir panjang .
"Manusia menjijikan !!! " Pekik Luke, kini wajahnya telah berlumuran darah amis dan ada beberapa bagian lecet di sekujur wajahnya.
"Luke, Ini Papa!!!" Lirih Louis yang berjalan mendekati Luke .
"Luke, Kau ingat ini?" Tanya Louis sembari memperlihatkan liontin miliknya yang dulu sangat diinginkan oleh luke, namun luke hanya mengerang kesetanan dengan kemarahan yang sangat besar.
Dengan cakarnya yang tajam diseluruh jarinya, ia berlari mendekati louis dan bersiap untuk mengoyak-ngoyak tubuh louis saat itu juga .
Namun bukannya lari, louis malah semakin mendekat dan bahkan ia juga memeluk erat tubuh kecil luke dan membiarkan Luke mengoyak-ngoyak bagian belakang bajunya.
Namun tetap saja pelukan Louis sama sekali tidak mampu menyadarkan luke, luke malah semakin brutal sampai-sampai menggigit telinga kanan Louis sampai pria itu menjerit kesakitan dan melepaskan pelukannya dari luke.
Kini keduanya saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh jarak beberapa sentimeter saja, luke masih mengerang keras dengan posisi seperti hewan dengan gertakan gigi beberapa kali.
Berbeda dengan louis yang berusaha menahan sakit akibat daun telinganya yang telah berdarah dan koyak sembari tetap menggenggam kalung liontin ditangannya.
"Tolonglah kembali normal, Luke!!!" Teriak Louis yang tak karuan, dan beberapa kali menjerit-jerit kesakitan.
"Bunuh aku sekarang!!! Kalau kau tak kembali normal, setidaknya habisin aku !!!!" Jeritnya dengan keras, sampai-sampai urat nadi dilehernya terlihat dan dengan nekadnya ia kembali terseok-seok mendekati Luke dan meletakkan tangan luke ke lehernya.
"Lebih baik aku mati daripada melihatmu seperti ini, bunuh aku!!!" Bentaknya yang mulai meneteskan air mata disekujur wajahnya dan membuat kemarahan monster itu sedikit mereda dan menatap bingung pada Louis.
"Kau memang manusia menjijikan!" Luke meludahi wajah Louis yang membuat bagian tubuh louis yang terkena ludah tersebut langsung terbakar.
"Tolong bunuh aku! " Lirihnya yang sudah mulai pasrah, "Kau tahu kalau aku sangat menyayangimu, nak" Sambungnya lagi.
Luke tertegun sejenak, walau bagaimanapun ia adalah monster yang memiliki jenis berbeda dari makhluk yang saat ini tengah bersembunyi dikota.
"Apa seorang ayah harusnya bersikap seperti itu?" Tanya Luke, ia melepaskan tangannya dari leher louis dan berjalan mundur seperti ingin menjaga jarak pada louis.
Namun ia masih dalam posisi merangkak seperti sebelumnya , ia menunggu jawaban dari louis seakan-akan ini adalah pertama kalinya ia mengetahui perasaan asing itu.
"Gak tahu, namun yang jelas aku takkan bisa hidup tanpamu nak"
"Bukan, aku gak menanyakan rasa putus asamu, aku hanya penasaran kenapa kau menangis?" Tanyanya, sepertinya air mata yang menetes diwajah louis lah yang membuat luke menjadi bingung.
"Apa seorang ayah bisa menangis?" Tanyanya lagi, louis hanya mengangguk saja.
"Tapi Zero tidak pernah menangisiku!" Tukasnya, lalu mendadak seluruh urat dikedua tangannya mulai timbul dari kulit sampai menonjol keluar, aku pikir kalian pasti bisa membayangkan hal tersebut dan itu sangatlah menjijikan untuk dibayangkan siapapun.
"Kau hanya berpura-pura!!!" Bentaknya, ia mulai terlihat marah kembali, Louis yang masih belum mengerti perkataan luke sontak mendadak teringat pada pembicaraannya tadi siang dan kebetulan otaknya yang menang cerdas langsung menyadari kalau jenis monster dihadapannya saat ini adalah jenis yang berbeda dari monster-monster yang sejak kemarin-kemarin ditemuinya, ia menyadari kalau luke adalah monster yang memiliki perasaan walaupun sebenarnya Louis tidak mengerti siapa orang yang bernama Zero itu. Namun entah kenapa ia bisa menatap perasaan kecewa yang berbalut kemarahan besar pada diri luke saat ini dan jelas saja sebagai seorang ayah tentunya rasa putus asa Louis berubah menjadi rasa ingin melindungi.
" "Kau terlihat sangat marah pada seseorang?" Tanya Louis secara spontan, ia bahkan sampai mengeluarkan sebuah foto mungil berukuran 3x4 dari dompetnya yang memperlihatkan bayi luke yang masih dalam inkubator.
"Kau tahu dulu kau terlahir prematur, tetapi aku bahagia kau telah terlahir didunia ini dan rasanya aku sangat senang menjadi ayahmu" Ia kembali meneteskan air mata, " Tolong jangan melukai dirimu sendiri, tanganmu sudah terluka dan jangan semakin memperparahnya..Aku mohon!"
Luke menatap foto itu cukup lama , sampai akhirnya ia berlari menjauhi Louis kedalam suatu ruangan gelap yang berada dilantai dua gedung.
Tentu saja louis tak hanya diam, ia berusaha mengejar luke dilantai dua dan menghampiri anaknya itu. Dengan perlahan-lahan ia memasuki ruangan tersebut dan meraba-raba didalam kegelapan, sungguh didalam ruangan malah jauh lebih gelap daripada dilantai dasar yang atapnya banyak yang bolong sehingga memantulkan cahaya yang redup berbeda dengan ruangan yang saat ini dimasuki oleh louis.
Louis berusaha mencari keberadaan luke melalui suara tangisan luke yang lebih terdengar seperti hewan yang mengerang, untungnya naluri seorang ayah memanglah tidak salah dan dengan cepat ia menemukan Luke yang sepertinya sedang meringkuk disebelah lemari .
Louis hanya memeluk erat anaknya tanpa berkata apa-apa, ia bisa merasakan benjolan kasar disekujur tubuh luke dan bau amis yang sudah membusuk yang tetap saja diabaikannya.
"Aku bukanlah anakmu, ia sedang tertidur didalam tubuh ini" Gumamnya, tentu saja hal tersebut membuat louis terkejut namun tetap saja ia masih memeluk erat luke seakan-akan ia ingin memberikan kehangatan seorang ayah pada anaknya sendiri.
"Apa ini rasanya kehangatan orang tua?" Tanyanya lagi, louis hanya diam saja dan memeluk erat anaknya itu.
"Aku gak tahu apa yang kau maksud saat ini, tapi yang jelas selama ini kau pasti sangatlah kesepian" Tukas Louis, lalu ia tertidur lemas tak sadarkan diri saat itu juga yang membuat luke menjadi panik.
Dengan tubuh mungilnya, luke langsung menarik Louis keluar ruangan sampai ia bisa melihat jelas kondisi louis saat itu.
Cukup Lama ia menatap tajam pada tubuh louis yang sudah pingsan, sampai akhirnya mata luke kembali merah dengan kedua tangan yang seperti sedang memohon pada sesuatu .
"Tolong sembuhkan dia, aku mohon!!!" Lirihnya yang terus-menerus memohon pada sesuatu.
"Tinggalkan saja dia, kembali jalankan tugasmu! Dia hanyalah manusia menjijikan" Suara berat yang terlihat datar terngiang-ngiang diseluruh gedung yang mungkin saja hanya luke lah yang bisa mendengarkan suara tersebut.
Namun luke masih terus saja memohon agar Louis bisa disembuhkan, meskipun hanya sebuah penolakan yang diperolehnya sampai akhirnya ia benar-benar sangat emosi kala itu juga.
"Sembuhkan dia sekarang, Zero sialan!!!!" Bentaknya .
"Kau berani-beraninya membentak ayahmu sendiri!" Tukas santai makhluk bernama Zero itu, tetapi perkataannya tersebut mampu membuat tubuh luke gemetar hebat dan beberapa benda digedung termasuk mesin-mesin pabrik yang ada dilantai bawah langsung hancur lebur begitu saja.
"Maafkan aku..Maafkan aku.." Ucapnya yang terlihat ketakutan dan bersujud sejenak, sebelum akhirnya ia berdiri dan mengarahkan jarinya tepat di jantung milik luke.
"Kau pikir aku masih anak kecil, sialan!" Bentaknya.
"Sembuhkan dia atau aku akan membunuh diriku sendiri dan membuat misimu gagal" Ancam luke, oa berusaha terlihat berani meskipun sebenarnya ia sangatlah takut pada zero yang memiliki aura gelap dan sosok yang menjadi satu-satunya orang yang membuatnya ketakutan.
"Kau mengancamku?" Tanya Zero sekali lagi dengan nada santai dan datar , disusul dengan tawa nyaring olehnya sebelum akhirnya tawa itu berhenti.
"Jangan sekali-kali kau mencoba membunuh dirimu!!!" Ancamnya balik, lalu mendadak tangan luke bergerak sendiri dan menempel dikening louis dan dalam sekejap seluruh luka louis langsung sembuh seakan-akan tak tersisa satupun bekas pada tubuhnya .
"Terimakasih" Ucap Luke datar, yang juga terbaring lemas disebelah louis karena telah menghabiskan banyak tenaga.
"Jangan pernah sekali lagi kau mengancamku X-Alfa atau kau akan bertindak lebih tegas padamu" Ancam Zero sebelum akhirnya luke kehilangan kesadaran.