Louis membuka matanya, ia bisa mendengarkan suara sayu sang istri yang terus-menerus memanggil namanya.
"Mas, apa yang sebenarnya terjadi disini? " Tanya desi, louis bisa melihat dirinya sedang berbaring diatas sofa dan dikelilingi oleh beberapa penduduk kota yang juga ikut membantunya.
"Sudah dua kali kau ditemukan terluka kayak gini , ada apa sebenarnya?" Tanya James, Louis bisa melihat seluruh sorot mata tengah menunggu jawaban darinya.
"Rumah tetangga sebelahmu juga diserang secara brutal oleh sesuatu yang mengerikan, bahkan wujud pemilik rumah juga gak kelihatan selain darah yang menetes diseluruh lantai dan sekarang kami menemukan monster aneh disebelahmu tadi" Jelas Petra yang juga mengambil bagian angkat bicara mencoba memperoleh informasi dari Louis, Louis tak langsung menjawab dan hanya memperhatikan tangannya yang patah sudah diperban dan diberi penyangga untuk patah tulang.
"Lukamu sudah diobati sama dokter Lewis kok mas" Ucap Desi, Louis hanya mengangguk saja dan berusaha bangkit dari sofa itu yang dbantu oleh desi.
"Mas, dimana anak kita? apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya desi lagi, Louis hanya menyandarkan diri disofa dan berdehem cukup lama.
Saat ini ia ingin segera menceritakan segalanya pada mereka , namun setelah dipikir-pikir bagaimana kalau ternyata penduduk kota bukanlah membantunya melainkan berusaha membunuh luke setelah mengetahui kebenaran tersebut.
Jadi mau gak mau saat ini louis hanya bisa membungkam rapat mulutnya dan berusaha untuk lari sejauh mungkin dari sini .
"Aku perlu ke kamar mandi sekarang" Tukasnya, yang berusaha melarikan diri dari pertanyaan mematikan desi . Selain itu juga ia sebenarnya berniat untuk kabur dan mencari sendirian sebelum takutnya seluruh kota menyadari keberadaan luke yang telah berubah menjadi sosok mengerikan.
"Aku bantu ya mas" Ucap Desi, louis hanya menggelengkan kepalanya saja dan menolak tawaran sang istri.
"Kalian tunggu sini aja, aku bisa jalan sendiri kok"
"Kau yakin?" Tanya Licik petra yang sedari awal tidak pernah mempercayai Louis.
"Hmm..lagian aku juga bukanlah orang lemah yang harus dibantu jalan" Tukasnya, lalu berjalan pergi ke toilet, dan disaat itulah ia menyalakan keran wastafel dan memanjat jendela toilet untuk melarikan diri.
Dengan langkah yang tersengal-sengal, ia berusaha melarikan diri melewati perkarangan rumah orang lain sembari beberapa kali menengok kebelakang untuk memastikan dirinya aman.
Untungnya beberapa orang yang melewatinya tidak terlalu memperhatikan Louis, sepertinya mereka hanyalah penduduk yang tidak terlalu mengetahui masalah yang menimpa louis dan belum mendapatkan informasi kalau saat ini louislah satu-satunya penyintas yang selamat dari serangan monster mengerikan itu dan mungkin saat ini bagi petra dan yang lainnya hanya Louis yang tahu identitas monster tersebut mengingat tubuh monster yang ditemukan berada disebelah louis yang terjatuh pingsan.
"Dimana kau, luke?" Gumam pelan louis yang mulai mempercepat langkahnya, kini ia sudah berada diluar kompleks perumahan .
Saat ini ia bisa melihat hiruk-pikuk kota yang dipenuhi oleh kendaraan yang cukup ramai dan suara para pedagang kecil yang sibuk berjualan di sore hari.
"Tidak mungkin dia ada dikota yang ramai kayak gini dalam wujud seperti itu" Gumam louis lagi, lalu ia kembali melanjutkan perjalanan tanpa tujuan sembari berpikir keras sampai beberapa kali hampir tertabrak mobil, untungnya ia masih bisa selamat saat ini .
Dan yang lebih beruntungnya lagi, ia menemukan sosok pria remaja asing yang mengenakan jas hujan bewarna hitam di cuaca terang seperti ini, remaja itu berdiri tepat didepan gang sepi sambil memperhatikan kerumunan orang asing yang sedang berkumpul ria menyaksikan pertunjukan badut.
Louis langsung berjalan cepat kearahnya sembari memastikan kalau remaja itu tidak menyadari keberadaannya, lalu dengan cepat ia menarik remaja itu kedalam gang yang berada diantara dua gedung besar yang menjulang tinggi.
Didekat tong pembuangan sampah yang terbuat dari semen, Louis langsung melepaskan penutup kepala jas yang menyembunyikan wajah mengerikan monster itu.
"Makhluk apa sebenarnya kalian?" Tanya Louis yang sedikit menjaga jarak pada remaja itu, ia hanya tersenyum saja dan memperlihatkan taringnya dengan sudut bibir yang telah mengoyak sampai ketelinga tanpa hidung sama sekali.
"Kau yang siapa, manusia? berani-beraninya kau menghampiriku sendirian" Ia melangkah maju, Louis langsung mengambil pecahan kaca dari tempat sampah dan menunjukkan kearah remaja itu.
"Aku hanya perlu berbicara padamu, jadi lebih baik jangan pernah berpikir bisa memakanku"
"Kau pikir bisa mengancamku, sialan!!!" Wujud remaja itu berubah semakin menyeramkan dan berlari kearah louis, Louis yang mulai tidak lagi merasa takut dan insting bertahan hidupnya yang kuat langsung menusuk-nusuk wajah monster tersebut dan menendang perut monster itu dengan kakinya.
Bahkan ia juga mengambil kayu yang ada dibak sampah dan memukul berulang-ulang monster itu meskipun kakinya dicakar oleh sang monster, tetapi sepertinya kali ini Louis telah kehilangan kendali untuk menahan emosinya dan membuat rasa takutnya telah hilang sejak kepergian luke.
Mereka kini benar-benar bergelut hebat, dan saling berguling-guling ditanah dan beberapa kali louis merasakan perban di tangannya yang patah dan penyangga bantuan pada tangannya telah robek dan hancur saat dihimpit oleh tubuh monster, namun sepertinya Ia tak ingin membuang-buang kesempatan saat itu juga dimana ia menendang secara terus-menerus wajah monster dan tak lupa juga ia menggigit leher monster itu yang terlihat sangat menjijikan dengan bau amis yang menyengat dan kulit lunak yang dipenuhi kudis yang membuat siapapun pasti bakal mual dan muntah.
"Sial, kau Sangat menjijikkan!!!" Keluh Louis, ia berusaha menghabisi monster itu secara terus-menerus sampai-sampai monster itu terkapar lemas ditanah dengan leher yang tak berhenti mengeluarkan darah amis.
Louis langsung menjauhi monster itu dan menatap letih dihadapan sang monster dengan posisi kaki yang masih menikam kepala sang monster.
"Untungnya kau masih remaja dan lemah, aku yakin gak akan sanggup menghadapi makhluk yang lebih dewasa dan besar darimu" Keluh Louis, ia membandingkan perbandingan kekuatan monster remaja ini dengan dua monster sebelumnya.
"Kau bertemu keluargaku yang lain?" Tanya nya dengan keadaan yang sudah sekarat.
"Hmm..satu udah mati dan satu lagi kabur entah kemana, mereka lebih dewasa darimu seperti usia 20 an "
"Lalu apa ka juga ingin membunuhku?" Tanya monster itu yang langsung melepaskan cengkeramannya dari Louis dan membiarkan louis menikam kepalanya seakan-akan ia cukup pasrah akan hidupnya sendiri.
"Sudah kubilang kalau aku ingin berbicara denganmu saat ini" Ucap louis yang langsung melepaskan tikamannya dari monster itu tanpa rasa takut.
"Aku bahkan gak berniat berurusan dengan makhluk seperti kalian" Tukas louis, ia bisa merasakan tetesan darah amis itu telah mengalir disekitarnya .
"Lalu kalau kau gak mau berurusan sama kami, apa yang sebenarnya ingin kau ketahui ?" Tanyanya, begitu ia terbebas dari tikaman louis sontak ia langsung mengoyak kulit tangannya dan menempelkan kulit itu pada lehernya yang sudah banyak kehabisan darah itu dan tak beberapa lama darah pada leher itu telah berhenti mengalir .
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Louis yang merasa jijik dan tak fokus.
"Menyembuhkan diri" Jawabnya singkat, lalu ia melihat perlahan-lahan tangan monster itu mulai sembuh disusul oleh luka-lukanya yang lain, bahkan kulit lengan yang dikoyak tadi juga ikut sembuh total dalam sekejap kecuali luka diwajah dan lehernya yang masih meninggalkan bekas luka walaupun sudah tidak meneteskan darah lagi.
"Ini benar-benar diluar nalar ku" Tukas Louis yang masih Sulit percaya.
"Justru makhluk sepertimu lah yang sangat aneh Bagi kami" Sindir monster itu, lalu ia mendekati louis yang membuat louis langsung bangkit seakan-akan bersiap untuk menghindari serangan monster itu.
"Aku tak mau menyerangmu lagi manusia, aku juga gak mau berurusan denganmu apalagi memakan dagingmu yang menyebalkan" Pekiknya yang mulai duduk bersandar di dinding bak sampah sambil menatap jijik pada louis.
"Kau yakin tak bakal menyerangku?" Tanya Louis ragu, remaja monster itu hanya mengangguk saja yang membuat louis merasa lega dan kembali duduk dihadapan monster itu lagi.
"Sekarang aku jadi penasaran, Kenapa kau berbeda dari monster yang kutemui sebelumnya?" Tanya tajam Louis, ia masih memegang erat kayu itu sambil memastikan kalau dirinya tidak lengah pada saat berbicara dengan monster ini .
"Kau kelihatan tidak mempercayaiku, tapi terserahmu sajalah manusia" Tukasnya.
"Seperti yang kau bilang, aku hanyalah monster lemah karena memang aku masih dalam tahap perkembangan monsterisasi dan terpaksa ikut kahr ke duniamu ini"
"Lalu kenapa tubuhmu bisa cepat sembuh?"
"Tubuh kami memang bisa cepat sembuh, tapi hanya pada bagian leher kebawah " Ia tersenyum licik pada louis , "Tapi bukan kami yang seharusnya kalian takuti saat ini , kami hanyalah sekumpulan makhluk rendahan yang mencoba melarikan diri dari tuannya saat kalian merayakan tahun baru beberapa waktu lalu"
"Tunggu, tahun baru? berarti kalian sudah cukup lama disini? " Monster itu hanya mengangguk.
"Iya, beberapa diantara kami sudah banyak memakan manusia seperti kalian dan rasanya lezat" Ia terlihat seperti menikmati hal tersebut, ia lalu memperlihatkan lehernya pada Louis.
"Putuskan kepala kami atau siksa kami pada bagian leher keatas , karena bagian itu yang tidak dapat disembuhkan dan bisa membunuh kami" Ucapnya secara terang-terangan yang membuat louis bingung .
"Kenapa kau berterus-terang mengatakan kelemahanmu?" dan siapa lagi tuanmu itu? apa dia bisa dibunuh seperti kalian?" Tanya Louis secara rinci.
"Karena aku cuman mau mengatakan kalau gak ada gunanya juga kalian buang-buang waktu membunuh kami, soalnya sebentar lagi mereka akan datang kesini" Ucapnya setengah membentak.
"Mereka akan membunuh kami dan juga menghabisi kalian secara hidup-hidup, pada akhirnya kita semua akan mati" Ia mendekati louis yang kini mulai tidak fokus dan meras ngeri setelah mendengarkan perkataan monster itu .
"Mereka bahkan gak bisa dibunuh dengan mudah seperti kami , mereka benar-benar kuat dan mengerikan" Bisiknya ditelinga Louis sembari menjilati keringat louis yang telah bercampur darah amis miliknya.
"Bahkan mereka juga memiliki wujud yang bisa berubah menjadi makhluk seperti kalian ataupun berwujud seperti kami, tak pernah ada yang tahu bentuk wujud asli mereka " Jelasnya panjang , lalu ditengah ketidakfokusan Louis segera monster itu mengeluarkan taringnya sembari mengitari Louis dengan penuh nafsu.
"Kau terlihat melamun , apa kau takut pada mereka setelah mendengarkan ceritaku?" Tanya monster itu lagi, lalu dengan cekatan ia memanjangi taringnya dan bersiap-siap menikam Louis saat itu juga bila saja sebuah tembakan peluru tidak mengenai kepalanya dari kejauhan.
Tentu saja louis terlihat kaget atas kematian monster itu, ia belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi dan memaki tak jelas karena menyebabkan satu-satunya sumber informasi yang didapatkannya harus mati.
"Siapa yang melakukan ini, sialan?" Bentak Louis yang langsung bangkit dan mendapati petra yang tengah memegang pistol berada dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan disini? mengapa kau membunuh satu-satunya sumber informasi ku?" Tanya Louis.
"Kau yang hampir dimakan olehnya kalau aku telat sedikit saja membunuhnya" Tukas petra.
"Ayo pulang! istrimu mencarimu sekarang! "
"Aku harus mencari anakku, pulang saja sendiri pak tua"
"Anakmu? memangnya kenapa anakmu? apa dia di culik monster ini?" Tanya Petra, louis hanya bisa mengangguk saja berusaha berbohong dan membuat seolah-olah monster inilah yang menculik anaknya.
"Sial, bahkan ia juga berani sekali menculik anak kecil!!!" Petra terlihat sangat marah dan menendang-nendang kepala monster itu.
"Sudahlah , dia sudah mati juga" Louis berusaha menenangkan petra yang terlihat menggebu-gebu menyiksa mayat monster remaja itu.
"Harusnya kau berterus-terang pada kami tadi, bukannya malah sok pahlawan menghadapi mereka sendirian!!! Malah bentukan mereka jauh lebih menyeramkan daripada yang kubayangkan, sialan!!!" Bentak petra pada Louis.
"Aku hanya gak mau kalian ikut campur urusanku, lagian aku juga gak mau istriku tahu "
"Kau ini..Ah sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang dan bicarakan cara buat menemukan anakmu " Tukasnya, lalu mendadak wajahnya langsung berubah curiga , "Tunggu dulu! untuk apa anakmu diculik oleh mereka? "
"Aku gak tahu, yang jelas mereka bilang kalau mereka berencana menculik seluruh anak dikota ini" Lagi-lagi Louis membuat kebohongan yang baru.
"Apa kau serius?" Louis hanya mengangguk saja.
"Dengar pak tua, kau bisa kembali sekarang untuk memberitahu orang tua lain agar melindungi anaknya sedangkan aku..kau bisa membiarkanku untuk mencari luke dan memperoleh informasi yang lebih "
"Gak bisa , istrimu membutuhkanmu..lagian gak ada yang tahu dimana anakmu"
"Aku mohon!!!" Bentak Louis, ia bahkan sampai melotot pada pria tua itu.
"Aku mohon jaga istriku, dan biarkan aku mencari anakku" Tatapan wajah serius Louis dan keyakinannya yang besar membuat petra menyerah.
"Baiklah, tapi pastikan kau langsung kembali jika telah memperoleh informasi tentang anakmu dan jenis monster ini dan jangan bertindak sendirian..kau bisa memanggil kami supaya kita bisa bersama-sama menghabisi monster itu" Louis hanya mengangguk saja.
"Ya sudah, kau bisa pergi sekarang! kau bisa menggunakan mobilku juga" Ia menyerahkan kunci mobil tuanya pada Louis, Louis hanya berterima kasih dan memeluk pak tua itu sebelum akhirnya pergi dari sana.
Begitu Louis telah menjauh, pak tua itu terlihat menelepon seseorang secars berbisik-bisik seakan ia masih tak percaya pada apa yang dikatakan Louis saat ini.