ANGELA YANG MALANG

1608 Words
"Luke!!!!" Teriak Louis, begitu ia tersadar diatas Ranjang rumah sakit dengan sekujur tubuh yang terbalut oleh perban putih . "Mas udah sadar? ini aku mas, tenanglah mas" Desi langsung mencoba menenangkan suaminya itu. "Dimana Luke? " Tanya Louis, jika saja desi tak mencoba menahannya mungkin ia bakal memaksakan diri untuk meninggalkan rumah sakit saat itu juga . "Luke dirumah dengan angela, dia baik-baik aja kok jadi kamu gak usah khawatir" Ucap Desi, ia menatap suaminya dengan dalam mencoba meyakinkan louis. "Aku panggil dokter sekarang ya, supaya dokter bisa memeriksa keadaan kamu" Ucap desi, tetapi dengan cekatan Louis memegang keras tangan istrinya mencoba menahan gadis itu . "Kita pulang sekarang ya des, aku mohon!" Desi bisa melihat wajah Louis yang penuh kekhawatiran, ia memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada louis saat itu yang jelas apapun alasannya ia bisa mengerti bagaimana suaminya benar-benar mengkhawatirkan keadaan anak mereka. "Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Anak kita, tetapi aku juga gak mau membiarkan kau keluar dari sini sebelum dokter mengatakan kau sembuh total" Tukas desi yang membuat louis tak bisa berkata-kata Selian hanya mengalah saja. "Ya sudah, kalau gitu bentar ya biar aku panggil dokter buat memeriksa kamu" Desi tersenyum puas lalu meninggalkan suaminya sejenak, namun sepertinya louis tak kehilangan akal begitu saja. Begitu ia memastikan desi telah pergi dari ruangannya, ia langsung meraih infusnya dan menggeledah tas desi yang ada di sofa untuk mengambil kunci mobil. "Maafkan aku , desi " Gumamnya sembari berjalan keluar ruangan melalui jendela kamar yang ada dilantai dasar sembari tetap membawa botol infus ditangannya, lalu tanpa pikir panjang secara bersembunyi- sembunyi pria itu berlari keparkiran sembari menahan ras sakit disekujur tubuhnya yang masih terbaluti perban putih dan hampir menutupi seluruh lengan kecuali wajah dan kaki. Untungnya tidak terlalu sulit bagi Louis untuk menemukan mobil desi, ia langsung membawa pergi mobil itu meninggalkan rumah sakit tanpa memperdulikan kesehatannya sendiri. Dengan kecepatan penuh dan tubuh yang masih sedikit lemas, ia berusaha memaksakan diri Untuk kembali kerumah meskipun sudah ada beberapa kali ia hampir saja melanggar lampu merah karena tidak fokus memperhatikan jalan . "Desi bakal memarahiku habis-habisan kali ini" Gumamnya beberapa kali selama diperjalanan, ia tak bisa membayangkan betapa marahnya sang istri ketika menyadari kalau Louis telah melarikan diri dari rumah sakit dan membawa kunci mobil wanita itu . Namun mau gimana lagi sebab kejadian kemarin benar-benar mengganggu pikiran Louis dan disisi lain ia juga belum sanggup mengatakan kebenarannya pada desi mengenai kekhawatirannya pada luke. Begitu tiba dirumah, Louis langsung memarkirkan mobil dihalaman rumah mereka dan berlari kedalam dengan langkah yang tergesa- gesa sampai membuat angela yang saat itu sedang menyuapi luke langsung kaget atas kedatangan bosnya itu. "Apa yang kau lakukan disini? harusnya kau dirumah sakit dengan Desi" Tukas Angela yang tampak kaget dan bersiap-siap meraih handphone. "Aku akan menelepon Desi, ia pasti khawatir saat ini karena perbuatanmu" Angela langsung berjalan menghubungi desi, saat ini Louis sama sekali tak bisa berkata apa-apa selain cuman menghela nafas panjang dan berjalan mendekati luke. "Hei nak, kau baik-baik saja?" Louis memeluk erat luke, anak itu hanya menatap bingung pada ayahnya. "Aku sudah menelepon Desi, ia terlihat sangat marah padamu dan ... Apa yang sebenarnya kau lakukan sih?" Keluh Angela, ia terlihat sangat marah atas kebodohan Louis. "Jangan memarahiku, cukup desi aja nanti. sekarang ambil kotak p3k dan tolong bantu lepaskan infusku " Tukas Louis, yang membuat angela tak bisa membantah perintah teman sekaligus atasannya itu. "Harusnya kau minta tolong perawat dirumah sakit bukan aku" Keluh angela, ia langsung menurut saja dengan pengetahuan yang dimilikinya dulu sebagai mantan dari mahasiswi kedokteran yang tidak memilih putus sekolah karena masalah ekonomi . " Sebentar lagi James bakal kesini, pasti ia bakal sama terkejutnya denganku nanti " Gumam Angel, yang membuat louis cuman bisa tertawa kecil. "Aku gak sabar melihat wajah james saat ini juga" Tukas Louis , angela cuman bisa menggelengkan kepalanya saja dan menyimpan kembali kotak p3k begitu selesai melepaskan infus Louis dan memastikan kalau darah nya sudah berhenti menetes. "Makasih ya" Angela hanya mengangguk, tak beberapa lama suara mobil dan teriakan kekesalan menghampiri mereka yang tak lain ialah desi. Wanita itu tampak sangat marah, ia langsung mendekati louis dan menampar suaminya dengan keras. Angela yang saat itu berada disana segera menggendong luke dan menjauhi kedua orang dewasa tersebut sembari menutup mata luke dengan tangannya agar tidak melihat pertengkaran keuda orang tuanya ini. "Kau ini benar-benar keras kepala ya mas!" Bentak Desi . "Maafkan aku, aku hanya mengkhawatirkan luke" "Kami juga mengkhawatirkanmu mas, kau ini memang bodoh atau gimana sih? kan aku udah bilang kalau luke baik-baik aja jadi kenapa kau melakukan hal nekat kayak gini?" Ia masih tak bisa meredam kemarahannya, Louis hanya bisa memeluk istrinya saat itu tanpa berniat membalas perkataan Desi sama sekali. "Maafin aku" Lirihnya, desi langsung memeluk erat pelukan Louis, ia menangis pelan seakan ia benar-benar takut sekaligus khawatir dengan suaminya itu. "Lain kali aku gak akan melakukan hal bodoh" Ucapnya , lalu mencium kening desi. "Besok kita harus kembali kerumah sakit, ngerti?" Louis hanya mengangguk saja. "Kalau gitu aku boleh tidur bersama luke malam ini?" Tanyanya pada desi, saat itu desi hanya bisa mengangguk saja sebab ia juga tak mungkin menolak keinginan Louis karena memang alasan Louis melakukan hal nekat ini hanya untuk bisa menemui luke walaupun ia cukup heran Mengapa saat ini sikap louis pada luke terlalu berbeda dari dirinya yang dulu. "Apa semua baik-baik aja? tak biasanya kau seperti ini, mas?" Tanya desi. "Aku hanya merindukannya saja" Louis masih berusaha menyembunyikan kebenarannya dari desi, ia hanya tersenyum dan berjalan mengambil luke dari Angela lalu membawa anak itu pergi ke kamar . Begitu dikamar, Louis langsung memastikan bahwa jendela telah ditutup rapat-rapat dan ia juga menyalakan lampu kamar bersamaan dengan lampu tidur hingga kondisi kamar terlihat sangat terang saat ini dan tak lupa ia juga mendekati penggaris besi dan benda tajam lainnya di posisinya yang saat ini berada dipinggir ranjang dan berhadapan langsung dengan luke yang sedang berdiri dihadapan louis. "Ada yang ingin kau sampaikan saat ini ke papa, nak?" Tanyanya, ia meletakkan kedua tangannya dibahu luke. Luke tak menjawab dan hanya menatap datar kearah louis, ia bahkan tak berniat merespon ayahnya itu. Ia hanya mengamati wajah ayahnya saja untuk beberapa saat, sebelum Akhirnya ia membuka suaranya . "Papa takut denganku ? " Tanyanya. "Tidak, Papa gak takut denganmu kok" Bantah Louis. "Papa gak akan membunuhku, kan?" Tanya Luke lagi, yang membuat louis tak bisa berkata apa-apa dan langsung memeluk anaknya itu. "Dengar luke , Apapun keadaannya papa bakal selalu menjagamu dan memastikan kalau gak ada satu orangpun yang bakal menyakitimu" Tatapan louis yang penuh yakin membuat luke tersenyum senang. "Luke sayang Papa" Ucapnya , ia terlihat sangat senang mendengarkan ucapan sang ayah walaupun ia sama sekali belum mengerti makna dari perkataan sang ayah walaupun ia paham kalau ayahnya sangatlah menyayangi dirinya. Namun disaat bersamaan, mendadak bola mata luke bewarna merah dan ada beberapa kerutan yang muncul diwajahnya. "Aku lapar!!!" Tukasnya sambil meronta-ronta, louis yang cukup panik langsung mengunci pintu kamar dan menutup mulut luke agar tidak menimbulkan keributan . Pria itu langsung memasukkan luke kedalam lemari dan menguncinya dari luar, kakinya kini benar-benar gemetar hebat dan tak tahu lagi mau berkata apa-apa. Namun suara Jeritan luke yang sangat keras sampai terdengar jelas ketelinga angela dan desi yang membuat keduanya langsung mengetuk pintu kamar karena khawatir. "Mas, apa yang terjadi didalam? Bukalah!!!" Ucap Desi dari luar bersamaan dengan suara ketukan pintu lembut. "Boss, kqu baik-baik aja?" Tanya angela juga. Suara kekhawatiran kedua wanita itu membuat louis sulit berpikir dan memutuskan membuka pintu dengan niat untuk menjelaskan segalanya, tapi sialnya kedua gadis itu tidak berniat mendengarkan perkataan Louis dan langsung menerobos masuk. "Ada apa ini mas? dimana luke?" Tanya Desi yang ditahan oleh louis diambang pintu kamar, berbeda dengan angel ayang langsung menerobos masuk kedalam kamar dan memeriksa toilet. "Luke tidak ada dikamar mandi" Tukas angela, bersamaan juga dengan suara jeritan dari dalam lemari yang membuat gadis itu langsung mendekat. "Suara apa itu mas? jangan-jangan itu luke, apa yang kau lakukan?" Sesi berusaha melepaskan diri dari cengkraman Louis. "Jangan kesana Angela!!!" Bersamaan dengan louis yang terus memperingati angela, namun sudah terlambat Bagi wanita itu untuk mendengarkan perkataan Louis sebab begitu ia membuka pintu lemari yang terkunci itu mendadak sebuah gigitan merobek lehernya dan mengoyak-ngoyak habis kulit wajahnya yang membuat louis langsung panik dan menyalakan musik keras-keras agar suara teriakan angela tak terdengar oleh tetangga. Berbeda dengan desi yang langsung terduduk lemas menyaksikan kejadian malam ini, ia perlahan-lahan meneteskan air mata saat melihat angela yang sudah terbaring lemas dan menatap lirih kearahnya dengan darah yang terus mengalir kelantai . "Tenanglah Luke!!!" Louis langsung membawa luke menjauhi Angela, ia mengambil kain dari lemari dan memasukkannya kedalam mulut luke dan memeluk anak itu dengan erat. Desi yang mendengarkan Louis menyebut monster kecil itu dengan nama luke, mendadak semakin hancur dan tak tahu lagi harus melakukan apa selain berusaha menahan suara tangisnya saat Louis menyuruh istrinya itu untuk diam. Kini kedua pasangan suami-istri itu hanya bisa saling beradu pandang sembari menyaksikan kematian angela yang terlihat kesakitan menunggu ajalnya, desi juga tak berdaya melihat Louis berusaha menenangkan makhluk aneh yang tak dikenalnya itu, kini wajah luke dipenuhi oleh darah segar milik angela yang membuat desi merasa ingin muntah dan hanya bisa meringkuk diambang pintu kamar sambil menangis pelan. "Tenanglah Luke, ini Papa" Lirih Louis yang terus menerus berusaha menenangkan luke yang telah kehilangan kendali atas dirinya, ia masih memeluk erat luke yang terus-menerus memberontak. Hampir setengah jam lamanya louis berusaha menenangkan luke sampai akhirnya anak itu mulai tenang dan kembali kewujud normal, ia terlihat lemas dalam pelukan louis dan perlahan-lahan tertidur pulas saat itu juga meninggalkan kedua orangtuanya yang saling menatap satu sama lain tanpa bisa berbuat apapun saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD