SAMA TAPI BERBEDA

2036 Words
Jam telah menunjukkan pukul 2 subuh, waktu yang cukup lama untuk desi dan Louis berlarut-larut dalam kesedihan , meratapi tubuh kaku angela yang sudah tidak bernyawa lagi dan tetesan darah dilantai yang hampir mengering. Luke juga sudah tertidur pula sejak beberapa jam yang lalu dipangkuan louis, rasanya badan louis cukup pegal memangku luke sedari tadi . "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Desi, sepertinya suasana hatinya mulai sedikit membaik dan mencoba memahami segala sesuatu yang terjadi saat ini . "Aku akan membereskan mayat angela" Ucap Louis, ia memandangi wajah istrinya yang sudah sembab. "Kalau gitu aku akan menemani luke dikamar kita, walau bagaimanapun ia adalah anakku jadi aku gak punya alasan untuk takut padanya" Desi berjalan mendekati louis dan langsung menggendong luke yang masih pulas tidur. "Dia akan senang ditemani tidur oleh mamanya" Ucap Louis yang sedikit menenangkan hati Desi, wanita itu hanya tersenyum seadanya saja dan membawa luke ke kamar mereka selagi Louis membereskan segalanya. Louis yang sebenarnya sudah lelah mau tak mau harus memaksakan diri untuk melakukan hal ini demi melindungi anak dan keluarganya, ia langsung mengambil plastik sampah bewarna hitam dari dapur dan mencincang habis tubuh angela yang sebenarnya hampir tidak utuh karena dimakan oleh luke tadi, lalu ia menyeret plastik hitam itu karena memang kondisinya yang masih belum terlalu sanggup membopong ataupun menggendong sesuatu. Dengan tatapan dingin, Ia memasukkan plastik itu kedalam mobil dan mulai membawa mobil menjauhi area kota . Dengan kecepatan penuh, ia berulangkali memeriksa sekeliling mencari lokasi yang tepat untuk menghilangkan jasad ini hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 3 pagi. Tentu saja hal ini semakin membuat Louis gelisah dan memutuskan untuk membuang plastik hitam itu ke lokasi pembuangan sampah yang berada diujung kota andalas. "Semoga kau gak bakal ditemui ya angela, maafkan aku" Gumam Louis, ia langsung menuruni plastik hitam tersebut dan membawanya ke timbunan sampah tersebut dan betapa terkejutnya ia tatkala saat melihat dua orang lelaki dewasa yang terlihat memiliki wujud monster seperti luke dengan wujud yang jauh lebih menyeramkan daripada wanita monster sebelumnya , mereka tengah menyantap daging binatang diujung timbunan sampah dan tidak menyadari kehadiran louis. "Sial, apa yang sebenarnya terjadi di kota ini?" Keluh Louis, ia langsung membuang asal plastik itu dan membawa lari mobilnya dari sana . namun sebelum benar-benar berhasil pergi dari sana, louis sempat melihat dari dalam mobil bahwa plastik hitam yang dibawanya itu langsung dikerumuni oleh dua monster pria tersebut yang membuat louis merasa ngeri sekaligus lega karena hal tersebut malah bisa menghilangkan jejak dari angela. Louis langsung berlari kedalam rumah begitu memarkirkan mobilnya secara asal di perkarangan rumah, lalu ia meraih pel lantai dan membersihkan seluruh bercak darah yang ada dirumah sampai benar-benar bersih. Bahkan ia juga menyemprotkan banyak pewangi ruangan dikamar luke dan membakar habis potongan kain bekas gigitan luke. Hingga tak terasa seluruh pekerjaannya itu usai saat matahari mulai terbit ditemani oleh suara para beberapa warga yang sedang joging , ia cuman bisa bernafas lega saja dan berjalan kedalam kamarnya. Lalu pria itu merobohkan diri disebelah luke yang kini berada ditengah pasangan suami-istri itu, kedua matanya sudah mengantuk berat dan terpejam begitu saja sambil memeluk erat putranya itu sampai-sampai tak menghiraukan keberadaan desi. "Kau bisa membangunkan ku saat james datang mencarinya" Tukas Louis sebelum benar-benar tertidur pulas. Hingga dirinya tersentak saat tangan lembut desi membangunkan louis, pria itu sepertinya langsung paham dan berjalan keluar rumah tanpa berkata-kata. Dengan rambut acak-acakan ia menghampiri james yang ada diruang tamu dan disusul oleh desi yang melanjutkan menyuapi luke di dapur yang berhadapan langsung dengan sofa keluarga. "Kau harusnya dirumah sakit?" Tanya james bingung, seperti yang diharapkan oleh angela kalau suaminya itu bakal kelihatan kaget atas keberadaan Louis. "Ya gitulah, kau kesini mau nyari angela kan?" Tanya Louis , ia menjatuhkan diri disofa . "Iya, kau lihat dia? mana dia? soalnya kutanyak desi malahan dia bangunin kau" "Oh iya, kemarin dia bilang mau pulang kerumah pas tahu aku dan desi udah balik kerumah" Jawaban louis membuat james cukup kaget. "Rumah? Tapi dari kemarin aku dirumah loh dan gak ada kulihat dia pulang" "Jangan bercanda kau james, udah jelas-jelas ia bilang sama kami mau pulang kerumah" "Benarkah itu des? " Tanya james yang sedikit tidak percaya atas pernyataan Louis, awalnya desi ragu namun saat ia melihat isyarat wajah louis membuat wanita itu langsung membenarkan perkataan Louis. "Iya, dia sempat pamitan kok sama ku sebelum pulang" "Kalau yang kalian itu benar berarti ada sesuatu yang aneh dengan angel, apa jangan-jangan gosip yang dibilang pak petra itu benar? " Gumamnya sendiri, lalu ia bergegas pergi dari sana. "Kalau gitu aku pergi dulu ya, kalau angela menghubungi kalian tolong langsung kabarin aku" Ucapnya, Louis hanya bisa mengangguk saja dengan senyuman palsu yang rasanya sungguh menyakitkan melihat dirinya telah membohongi sahabatnya sendiri. Pria itu langsung menutup rapat pintu, dan berjalan mendekati Desi didapur. "Semuanya pasti baik-baik saja" Ucapnya kepada desi, ia membelai wajah pucat desi yang merasa sedih kehilangan angela kemarin malam. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Desi, ia melirik kearah luke yang hanya menatap lurus kearah layar televisi yang mati . "Apa yang terjadi pada anak kita?" Tanya lagi Desi, louis langsung menarik tangan Desi menjauhi luke dan meletakkan kedua tangannya diwajah Desi. "Aku gak tahu apa yang terjadi, tapi memang saat ini ada rumor dikota kalau ada monster yang mirip seperti anak kita berkeliaran disini " "Monster?" "Iya, aku pikir rumor itu benar. Soalnya tadi subuh aku melihat sendiri dua monster pria yang sedang berkeliaran disekitar pembuangan sampah dan mereka langsung memakan plastik hitam yang kubuang" "Plastik hitam itu didalamnya ada angela? "Iya, sepertinya jejak angela sudah hilang , pokoknya kita gak perlu khawatir lagi" "Lalu bagaimana dengan luke? gimana kalau ia semakin berbahaya atau gimana kalau penduduk kota tahu tentangnya?" Tanya desi yang terlihat semakin khawatir, louis berusaha menenangkan istrinya itu. "Percaya samaku, semua pasti baik-baik saja karena aku bakal menjagamu dan luke " "Makasih ya Louis" Desi meneteskan air mata lalu memeluk erat Louis, baginya berada didekat louis memberikan rasa aman dan nyaman yang sulit didefinisikan dengan kata-kata. "Sekarang aku mau kita melakukan aktivitas seperti biasanya, dan usahakan untuk tidak terlalu ikut campur urusan hilangnya angela saat ini " Desi hanya mengangguk saja menuruti perkataan Louis. " Ya sudah kalau gitu aku mau siap-siap membeli daging mentah di mini market" Ucap Louis, lalu tangannya dicegat oleh desi. "Itu buat Luke?" Tanya desi ragu, louis hanya mengangguk saja. "Ia harus belajar memakan sesuatu yang bukan makhluk hidup, sampai kita tahu bagaimana cara menyembuhkannya" "Kalau gitu aku saja yang beli di mini market!" Tukas Desi, ia menghela nafas panjang untuk sejenak. "Aku tidak takut pada anakku , hanya saja aku masih takut kalau sewaktu-waktu luke bakal kehilangan kendali dan aku belum siap menenangkannya seperti dirimu " "Aku paham kok, baiklah aku akan menjaga luke selagi kau pergi ke mini market" "Makasih mas" ia hanya tersenyum saja, "aku juga bakal mencoba berbaur dengan penduduk kota untuk memperoleh informasi" Tambahnya lagi, lalu pergi meninggalkan rumah. Louis hanya bisa menatap lega istrinya, setidaknya desi sedang berusaha menghilangkan rasa takutnya saat ini. Louis langsung mengambil air dingin dikulkas dan duduk disebelah luke yang tampak seperti orang melamun saja sedari tadi. " Kau ingin mengatakan sesuatu pada papa, luke?" Tanya Louis mencoba membuka percakapan diantara mereka, luke tak menjawab tetapi ia mulai menanggapi kehadiran louis dengan raut wajahnya. "Mereka mulai bersiap ke sini, Pa" Bisik Luke ditelinga ayahnya itu, wajahnya memperlihatkan ketakutan yang sangat besar saat ini . "Siapa mereka? makhluk itu?" Tanya louis mencoba menyakinkan perkiraannya, luke tak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. "Lalu siapa, luke?" "Mereka saling bermusuhan" "Papa masih belum mengerti apa yang luke katakan, tapi untuk saat ini luke gak boleh jauh-jauh dari papa ataupun mama ya" Luke hanya mengangguk saja, lalu tak beberapa lama kemudian ia bersembunyi dibawah meja . "Ada apa, luke?" Tanya Louis yang sedikit membungkuk untuk melihat luke yang ada dibawah meja makan. " Satu..dua.." Begitu luke ingin menyebutkan angka tiga, suara bel pintu dirumah tetangga sebelah berbunyi keras seakan menandakan kalau hitungan luke tidaklah salah. Tanpa pikir panjang Louis langsung mengintip dari balik pintu yang terbuka dan matanya tertegun tatkala melihat monster berwujud mengerikan itu menerobos masuk kedalam rumah tetangganya saat tetangganya membuka pintu dan dalam sekejap suara jeritan terdengar jelas ditelinga Louis yang membuat beberapa orang yang kebetulan berada didekat situ langsung menghampiri berlari rumah tersebut. Louis yang enggan ikut campur langsung menutup kembali pintu rumahnya, kini ia bisa mendengarkan suara Jeritan lainnya dari dalam rumah tersebut, louis langsung menghampiri luke dan ikut bersembunyi dibalik meja. "Luke, Dengar Papa!" Ia tak bisa menyembunyikan tangannya yang mulai gemetar, memang kini ia sudah mulai terbiasa dengan wujud luke namun tetap saja menghadirkan makhluk lain yang lebih menyeramkan daripada luke adalah suatu hal yang berbeda , apalagi wujud monster tersebut berbentuk bukan manusia selayaknya Luke yang terkadang berwujud normal saat tidak lepas kendali dan bagi Louis ini adalah sesuatu hal yang haru dicari tahu. "Kita harus pergi dari sini sekarang!" Ucapnya, tapi luke hanya menggelengkan kepalanya saja . "Bagaimana dengan Mama?" Tanya Luke. "Ah sial...Yaudah kalau gitu kita jemput mama sekarang" Luke langsung Menurut, ia menggenggam tangan ayahnya . Namun sudah terlambat bagi Louis untuk kabur sebab tak beberapa lama suara teriakan monster itu mulai terdengar jelas diperkarangan rumah louis yang sepertinya kedua monster itu sedang berjalan mengarah ke rumah louis. "Sial, apa yang harus kulakukan?" Gumam Louis, ia langsung memandangi seluruh dapur dan segera meraih pisau yang terlihat olehnya. "Permisi, apa ada orang didalam?" Suara ketukan pintu pelan yang mengetuk pintu depan rumah louis, suaranya terdengar ramah untuk didengar yang mana pastinya tak akan ada yang curiga kalau mereka bukanlah manusia. Luke mencengkeram erat tangan louis, ia mulai ketakutan dan bersembunyi dibelakang badan Louis. "Ada orang gak sih?" Suaranya mulai sedikit ketus, mungkin ia mulai kesal karena terlalu lama direspon oleh Pemilik rumah . "Luke lari duluan dari pintu belakang!" Luke menggelengkan kepalanya, ia tak setuju dengan perkataan Louis. "Luke gak boleh manja saat ini, mau gimana pun papa harus melindungi luke" "Gak mau" Ketus luke, ia masih erat memegang baju ayahnya dan bersembunyi dibelakang ayahnya. "Oke, baiklah" Louis mengalah, ia langsung menarik luke menuju pintu belakang rumah dan begitu pintu dibuka betapa terkejutnya louis tatkala melihat salah satu dari monster itu sudah berdiri disana dan langsung mencengkeram leher louis memasuki rumah. Louis langsung menusukkan pisau yang dipegangnya pada salah satu mata monster tersebut sampai monster itu menjerit kesakitan dan melepaskan tangannya dari louis, Louis berlari menjauhi monster menuju ruang kerjanya bersama luke dan mengunci pintu tersebut dari dalam. Tetapi sekali lagi monster itu terlihat kuat dan dalam sekejap menerobos masuk dengan mudahnya, kini luke dan Louis berhadapan langsung dengan dua monster tersebut. "Aku lapar, kakak" Ucap salah satu monster pada pria satunya yang matanya telah dilukai oleh Louis. "Diamlah!" Bentaknya, ia menatap benci pada louis . "Aku harus membunuh orang yang sudah melukai mataku " Ketusnya, ia memperlihatkan taringnya dan aura kebencian pada louis. Luke bersembunyi dibelakang luke, ia benar-benar ketakutan saat ini bahkan lebih takut daripada louis. Louis benar-benar kehilangan akal, ia langsung mengambil penggaris besi dari meja kantor. "Luke sembunyi dibawah meja sekarang!" Bentak louis, luke hanya menurut saja dan Louis langsung berlari ke pria monster yang sedikit lebih pendek dari monster yang matanya terluka itu dan menusuk lengan bernanah monster tersebut . "Dia menusukku, kakak!!!" Keluh Monster itu pada kakaknya, sang kakak langsung mencengkeram kembali Louis dan melemparkan louis kesalah satu dinding dengan hantaman yang keras, kemudian ia mencengkramnya lagi dan mengigit jari kelingking kiri louis sampai putus dan membuat louis menjerit kesakitan. Selagi kedua monster kakak beradik itu tertawa - tawa menikmati penyiksaan louis, luke hanya bisa meringkuk dibawah meja sampai akhirnya meja tersebut diangkat oleh sang adik monster yang tampak terkejut melihat mata luke yang langsung berubah merah. "Mereka juga ada disini, kakak!!!" Teriaknya, ia langsung menendang luke dengan keras sampai luke merintih kesakitan dan mulai kehilangan kendali. Wajahnya mulai berubah dipenuhi oleh keriput dan kuku yang panjang , bahkan pembuluh darah sekujur tubuhnya mulai menonjol yang menguatkan haus darah disekujur tubuhnya. Pria monster yang tadinya sibuk menyiksa Louis langsung beralih pada luke, ia berjalan perlahan-lahan mendekati luke sembari tersenyum sinis. "Kau hanya makhluk kecil yang menyedihkan" Pekiknya sembari tertawa, disusul oleh si adik yang ikut tertawa. "Berhentilah Luke, Papa mohon!" Lirih Louis yang mulai memuntahkan darah dan terbaring dilantai sambil terbatuk-batuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD