Ricky berencana untuk berangkat ke kantor sedikit lebih siang. Jam tidurnya mulai berantakan. Nama Jonathan masih berdengung di telinga. Sedikit alkohol tadi malam lumayan meringankan, meski itu usaha yang sia-sia karena hari begitu cepat beralih, hari ini ia masih menelan pahitnya kenyataan. Hatinya pun gusar, siapa sebenarnya pria itu. Apa yang dia ingingkan?
Kini Ricky telah berada di kampus Sheila. Tiga batang rokok sudah dibakarnya. Ia masih berdiri tepat di dekat area parkir mobil menanti datangnya sang kekasih. Meski ia tahu Sheila akan bersama pria itu, Ricky mencoba untuk tak gegabah, apa lagi berputus asa meninggalkannya begitu saja. Dia begitu yakin bahwa ada hal lain di balik semua ini, yang seakan berusaha menggeser dirinya dari Sheila. Berpikir buruk adalah jalan terbaik, karena ia sungguh tak ingin kecewa jika ia telah berbaik sangka.
Mobil sport itu memasuki gerbang. Mengetahui Sheila yang turun tanpa Jonathan, Ricky pun segera mengendap-endap berjalan menuju motornya, tak ingin menampakkan diri.
Wajah kesal wanita itu masih sama seperti sebelumnya. Tak salah lagi, pria itu pasti bawaan Jordy. Di dunia ini, masalah Sheila hanya berkutat di dalam rumahnya sendiri, dari siapa lagi kalau bukan Jordy. Andai saja Jordy bukan ayah kandungnya, Sheila mungkin sudah meludahi wajahnya.
Tak lama kemudian, mobil Jonathan terlihat keluar dari gerbang. Ricky menunggangi motornya, dengan sengaja mengikuti kemana mobil itu melaju.
Hampir setengah jam perjalanan, mobil sport itu masuk ke sebuah gedung perkantoran yang tinggi menjuntai. Ricky pun masih mengikutinya meski sempat tertinggal karena mobil itu mendadak melaju dengan kecepatan tinggi. Tampak Jonathan keluar dari mobil dan memasuki lobby gedung yang terlihat sangat sibuk tersebut. Begitu meyakinkan, melihat penampilannya saja ia bukanlah staf biasa. Menantu idaman sama sekali tak tergambar di diri Ricky. Masa bodoh dengan Jordy, ia harus fokus dengan yang ia lakukan saat ini.
Dengan sedikit berpakaian rapih, ia akan terlihat seolah ia bagian dari perusahaan itu. Ricky mulai masuk di lobby yang sama.
Jonathan terlihat sedang mengobrol dengan 2 wanita cantik dan seorang pria di ruangan luas dengan lampu-lampu indahnya itu, dan kemudian masuk ke dalam lift dimana Ricky dan beberapa orang lain telah memasukinya lebih dahulu karena hanya lift itu yang terbuka.
Tepat di lantai 17 lift itu berhenti, Jonathan keluar dengan terburu-buru dan memasuki sebuah ruangan. Sementara Ricky yang masih mengintai berhenti di dekat lift mengamati tempat tersebut, sampai akhirnya ia bertemu seorang pesuruh.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" Tanya pesuruh tersebut melihat Ricky yang seperti sedang mencari seseorang.
"Jonathan Timothy". Jawab Ricky spontan memastikan itu benar kantor Jonathan.
"Di sana ruangannya". Pesuruh tersebut menjawab sembari menunjuk pada ruangan dimana Jonathan telah masuk.
"Saya biasa mengantar minuman untuk Pak Jonathan".
Ricky mengangguk mengerti.
"Terima kasih".
"Ingin saya antar padanya?", tanya pria itu memastikan sekali lagi.
"Lain kali saja".
Setelah sempat berkeliling di lantai itu, Ricky pun memutuskan untuk pergi ke kantornya. Kali ini cukup di situ saja, paling tidak ia mengetahui dimana pria itu menghabiskan waktu bekerja.
"Jaga dirimu baik-baik. Jika ia berani mengganggumu, beri tahu aku. Aku akan selalu menjagamu", kata Ricky yang menyempatkan menelfon Sheila sebelum ia berangkat bekerja.
"Iya. Jangan lupakan makan siangmu".
***
Dua minggu berlalu begitu cepat, hari itu adalah minggu ketiga bulan terakhir Ricky berkesempatan mempertahankan posisinya di tempat kerja. Jika harus memilih antara mempertahankan pekerjaan atau kekasihnya, ia sungguh tak punya pilihan. Dua hal penting itu berjalan beriringan melengkapi hidupnya. Namun sayang, belakangan ia lebih sibuk dengan perkara yang menggelapkan pikiran atas cintanya. Rokok dan alkohol yang sempat ditinggalkannya pun seakan kembali menemani harinya.
Hari itu masih pagi, tak biasanya Ricky tiba di kantor lebih awal ketimbang rekan satu ruangannya, Jeffrey. Saat tiba di mejanya, Ricky tercengang melihat beberapa barang fasilitas kantor yang digunakannya selama ini bersih tak tersisa satu pun di mejanya, kecuali laptop yang setiap hari dibawanya.
"Sesuai perjanjian bulan lalu dan kontrak kerjamu, saya terpaksa memecatmu karena sampai detik ini pun kau tak berusaha memamerkan progres pada ku". Ujar Mr. Jack sambil menyodorkan selembar kertas bukti pemutusan hubungan kerja.
Ricky mematung. Keputusan tak diinginkan itu akhirnya terucap dari mulut sang CEO tanpa perantara. Sungguh menyedihkan. Di saat ia sedang berat menghadapi cobaan dalam perjalanan asmaranya, kini ditambah persoalan yang menyangkut karirnya. Karir yang dirintisnya perlahan untuk menggapai impian hidup bersama Sheila pun seakan lenyap begitu saja.
Tanpa berlama-lama meresapi pedihnya kenyataan yang telah jelas adanya, Ricky pun meninggalkan ruangan itu.
Ricky sangat kecewa pada keputusan pahit itu, namun tak bisa dipingkiri jika dirinya lah sebab yang membuat Mr. Jack menendangnya keluar dari perusahaan tersebut. Terbesit rasa menyesal, tapi ia juga menyadari bahwa tak mudah memikul beban berat bersamaan. Yang pada akhirnya membuat dirinya tumbang.
Mencari pekerjaan bukanlah perkara mudah, mengingat persaingan yang begitu ketat. Mr. Jack pun tak akan menyesal menendang karyawan seperti Ricky karena masih banyak kandidat berpotensi di luar sana, bahkan lebih baik. Namun bagi orang seperti Ricky, ia boleh saja kehilangan pekerjaan, tapi tidak dengan orang tercintanya. Sheila Alexandra. Terdengar bodoh, namun begitulah faktanya.
"Kau memintaku menelfon jika aku membutuhkanmu, kan?"
"Ada apa?"
"Aku dipecat, hari ini juga. Jangan ceritakan pada Sheila, ia akan sangat kecewa".
"Kau gila? Apa yang sudah kau perbuat?"
"Rob, sudahlah jangan mengintrogasiku. Ceritanya tak akan selesai sampai jam kerjamu habis".
"Jangan melakukan hal-hal bodoh lagi, Rick".
"Aku harus kemana?"
"Andai aku punya kekuasaan di sini, hari ini juga pasti kau sudah bekerja lagi".
Kali ini, berbicara pada Rob tak akan membuahkan hasil. Rob bukanlah pesaing Jonathan, ia sendiri sama seperti Ricky yang belum lama menitih karir dari amat dasar. Telefon pun dimatikan.
Ricky berpikir keras, kali ini menyangkut persoalan bagaimana ia menyambung hidup. Dua belas sloki Vodka telah mengalir di kerongkongan, hingga perlahan meretas kesadarannya.
Hal terburuknya adalah jika Sheila mengetahui keadaannya yang sekarang. Bagaimana tidak, menjadi pengangguran akan semakin memperkeruh keadaan, mendekatkannya dengan segala kemustahilan. Bagaimana jika pria asing itu menikahi Sheila? Jika benar begitu, Ricky tak akan pernah berharap dilahirkan ke dunia. Entah apa rencana Tuhan untuknya, bertubi-tubi cobaan datang silih berganti. Tak ada yang mudah selama ini, namun dengan segenap cinta ia bersikeras menjalani.
Bayangan dan imajinasi Ricky kian terombang-ambing. Kewarasannya telah tenggelam oleh rasa mabuk. Kini ia sedang terbayang, bagaimana jika ia lahir dari rahim keluarga hartawan. Bahkan semua yang terjadi selama ini bisa jadi hanyalah sebuah khayalan. Namun sesaat kemudian, bayangan lain seakan tergambar jika ia terlahir dari keluarga sederhana yang cenderung miskin. Hidup begitu terjal, liku kehidupan tak jarang membuatnya kehilangan harapan. Segalanya tak jauh dari kekurangan, sampai ia harus bekerja sekuat tenaga, menjadi pesuruh demi menyambung hidupnya.