Malam begitu dingin, hari pertama hujan turun di bulan itu. Angin meniup begitu kuat, beberapa kali jendela kamar terbanting keras hingga menyadarkan Ricky. Dia menutup jendela, setelah terbangun dari tidur pulasnya. Matanya masih berkunang-kunang, tampaknya efek alkohol belum sepenuhnya minggat.
Pintu diketuk perlahan beberapa saat. Ricky berbalik arah menuju pintu sedikit terseok. Ia tak pernah terpikir seseorang akan mengetuk pintu kamarnya, mengingat ia tak pernah berteman dengan siapa pun di sana.
"Boleh aku masuk?"
Rob masuk begitu saja meski pertanyaan itu belum terjawab. Setengah dari tubuhnya basah tergilas hujan. Ternyata Rob telah tiba di asrama itu lima belas menit yang lalu, berteduh di dalam mobilnya, setelah putus asa karena hujan tak kunjung reda, terpaksa ia berlari dan segera masuk ke kamar tersebut.
Ricky hanya membisu, bola matanya mengikuti arah Rob melangkah, sekaligus bersusah payah mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Ia tak ingin membuat pembicaraannya terganggu nantinya, ia tahu Rob datang menerjang hujan bukan untuk bercanda.
Dari sudut ruangan, tampak Ricky mengeluarkan sebuah gelas dari dalam lemari kaca yang hampir tak pernah terbuka, memang ia tak pernah ingin menerima tamu, kecuali Rob sahabatnya itu. Kemudian menuangkan teko berisi teh yang tadi pagi sempat ia buat, karena ia tak mungkin menyuguhkan sisa Vodka yang tergeletak sembarangan di atas tempat tidur, Rob harus menyetir ketika dia kembali nanti.
Di sudut yang lain, Rob sedang sibuk menggeledah lemari Ricky, berusaha mendapatkan jaket tebal dan pengganti pakaian nya yang basah, masih tanpa ijin pemilik kamar itu. Sudah biasa, keduanya saling mengerti satu sama lain.
"Ya, aku tahu itu. Ini buktinya". Rob mengangkat botol Vodka itu.
"Aku pikir tak akan ada jalan lagi, hanya itu yang aku punya," Ricky menyahut botol minuman itu.
"Sedikitpun aku tak menemukan titik terang masalah ini", kata Ricky sembari melempar bungkus rokok kepada Rob yang duduk di depannya.
"Jordy, pria asing itu, dan sekarang karirku. Lalu aku bisa apa?!", nada Ricky meninggi, tak ada salahnya meluapkan sedikit isi hati. Tiga masalah itu tak memberinya celah.
"Apa rencana mu sebelumnya untuk Sheila?", Rob kembali mengusap kepala nya yang basah, lalu meneguk teh di sampingnya.
"Aku berniat menikahinya, tapi aku belum tau kapan pastinya. Sedangkan kau tahu, aku benar-benar mengumpulkan uang dari nol untuk semua itu, Rob. Dan sekarang..."
"Pakai saja uangku. Sedikit tabunganku mungkin bisa membantumu", Rob menyela. Ide itu mungkin akan sangat membantu, tapi tak mungkin setelah menikah Ricky mengangsur biaya kepadanya, sungguh memalukan. Jika Sheila mengetahuinya jelas ia akan marah, atau justru menertawakannya.
Ricky memijat dahinya perlahan, sepertinya saran Rob untuk masalah kali ini memang tak berguna. Rob hanya berniat membantu, bisa saja dengan menggabungkan kedua tabungan, Ricky bisa mempercepat pernikahannya.
"Lalu, Jordy?", Ricky merespon singkat, menghisap rokok dalam-dalam. Seketika Rob berpaling.
"Iya, aku lupa. Tabunganku tak sedikitpun membuatmu kaya raya mendadak".
"Lalu kenapa kau kesini?"
"Aku hanya ingin melihatmu, lagian aku tahu kau membutuhkanku untuk berbicara".
"Aku tau darimana pria itu berasal", Vodka itu kembali ditelan oleh Ricky.
Rob mengernyit. Kalimat Ricky mulai membuka persoalan tentang Jonathan, yang ia sendiri tak mengetahui siapa pria yang sempat ia lihat itu.
"Ia seperti seorang bos, di perusahaan trading. Tiga puluh menit dari kampus Sheila".
"Dari mana kau tahu itu?"
"Aku mengikutinya".
"Lalu?"
"Paling tidak aku mengerti jejaknya, siapa tahu aku bisa membunuhnya". Kalimat Ricky mulai melambat, tapi terdengar serius. Rob mendelik seketika, jangan sampai hal bodoh terulang lagi.
Rob ingat betul kejadian beberapa tahun lalu saat sedang di bangku kuliah. Ricky menghajar habis seorang mahasiswa yang berusaha mengusik hubungannya dengan pacarnya, hingga tak sadarkan diri. Tak cukup di situ, ia menginjak wajah itu hingga lebam dan patah di bagian hidung, dan akhirnya mengencinginya di situ juga. Menurutnya, yang orang itu lakukan adalah penghinaan padanya, dan dia pantas mendapatkan balasan. Untungnya perkelahian terjadi di luar kampus, sebaliknya dia akan drop out jika hal tersebut menjadi tontonan di lingkungan kampus.
Jika ditelusuri, Ricky memiliki rasa dendam yang mendalam, bahkan telah merasuki aliran darahnya. Kejadian delapan belas tahun lalu masih jelas tergambar, terutama saat ia sedang terancam. Yang ia harapkan hanyalah secuil harapan untuk merasakan kebahagiaan, dan ketenangan menjalin hubungan yang serius. Namun lagi-lagi, semua itu tampak tak mudah. Satu dua perkara datang, disusul perkara ketiga dan seterusnya. Ada apa dengan hidupnya? Bukankah adanya keseimbangan antara sedih dan bahagia itu benar? Sedari ia berusia anak-anak, cerita pahit sudah ditelannya. Tak tanggung-tanggung, sebuah aksi pembunuhan, yang memungkinkan telah membentuk kepribadiannya saat ini.
"Berpikirlah secara dewasa, kau pasti bisa melakukannya", Rob mengulur tangan meraih pundak sahabatnya, ia menyesal tak ada yang bisa diperbuat selain tawaran tadi. Keluarga Rob sendiri kini telah bergantung padanya, setelah kepergian sang ayah dua tahun silam. Dia harus membiayai kebutuhan sehari-hari, dan juga ibunya. Dia sadar, dirinya sudah tak mungkin menghamburkan uang seperti sebelumnya. Bermain dengan wanita, membeli alat musik, menghabiskan malam di klub kini hanya kenangan di masa itu. Baginya, kehidupan terus berputar tak pasti, ia tak tahu apa lagi yang akan terjadi mendatang. Kepergian ayah bisa dibilang masa pendewasaan bagi Rob. Yang tersisa hanyalah sang ibu, menanti di rumah seorang diri dengan segala ingatan yang sudah berserakan.
Suasana semakin mendukung. Hujan kian lebat, penyesalan Ricky pada kehidupan kembali mencuat, dan sambaran petir seakan membangunkan amarahnya. Hanya ada dua pilihan untuknya, menjadi kaya atau gila, yang salah satunya wajib ia pilih untuk tetap bersama Sheila.
Satu hal yang pasti, pekerjaan baru lah yang harus Ricky dapatkan dalam waktu dekat, entah bagaimana caranya, apa pun pekerjaannya. Meski pikiran tengah melayang, di sanalah datangnya ide brilian.
Baru tadi pagi ia memasuki sebuah gedung perkantoran yang megah, mungkin dari sekian banyaknya lantai dalam gedung itu tersimpan kesempatan untuknya, bahkan mungkin keberuntungan. Kenapa dia tak kembali kesana saja? Tak akan ada yang tahu selagi belum mencoba. Ya, itu benar. Tak mungkin juga dia akan menjadi satu kantor dengan Jonathan, bahkan ada ratusan pintu di gedung itu. Sekalipun mungkin, Jonathan sama sekali tak mengenalnya. Bisa saja yang dia dapatkan jauh melebihi tempat sebelumnya, yang akan memudahkan nya menyisihkan sebagian untuk tabungan. Jika demikian, segala kekhawatiran yang dia emban sejauh ini bisa dienyahkan. Selebihnya, meski sangat membenci Jordy, setidaknya dia telah membuktikan bahwa putrinya telah mendapati pasangan hidup yang diimpikan. Ricky telah berhasil memantaskan diri di hadapan keluarga itu, menjadi seorang hartawan, juga menantu idaman. Dia yakin Sheila akan bangga, serta bahagia dengan pencapaian gila tersebut. Mungkin yang akan dia lihat bukan lagi tangis kesedihan, tapi tangis kebahagiaan yang tak akan terbendung atas api perjuangan yang selama ini tak pernah padam.
Satu tegukan kembali tertelan, entah itu yang keberapa. Ricky terkekeh, tatapan kosong itu sedang menyaksikan kesuksesan hidup. Tawa semakin keras dibuatnya, hingga Rob bangkit dari balik selimut tebal milik Ricky, setelah tertidur beberapa menit. Rupanya dia kelelahan, meladeni lawan bicara yang melantur semakin tak tahu arah, juga menanti hujan yang baru saja reda beberapa saat.