Pengunduran Diri

1079 Words
Pagi ini Maia kembali merasakan mual dan pusing kepala yang hebat, tetapi ia tetap berangkat bekerja. Namun, belum genap setengah hari bekerja ia sudah pingsan tak sadarkan diri. Beruntung ia pingsan di dalam ruangan Bagas jadi Bagas bisa menolongnya dengan sigap. “Maia!” Bagas dengan sigap berdiri dan langsung menggendong tubuh Maia menuju ke klinik perusahaan. Ia melewati lift serta jalur khusus yang diperuntukkan hanya untuk dirinya dan beberapa orang kepercayaannya saja. Bagas membaringkan Maia di atas brankar klinik, meminta seorang dokter untuk segera memeriksanya. “Dia kenapa, Dok?” tanya Bagas dengan tatapan tajam. Dokter Aksa tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak karena dugaannya juga belum tentu benar, ditambah lagi ia tak ingin membuat perempuan yang berbaring tak berdaya itu dalam keadaan yang sulit dengan sikap Bagas yang arogan. “Bisa-bisa dia dipecat dan kehilangan pekerjaan jika aku memberitahu ini kepadanya, dan bisa-bisa aku juga terkena masalah jika apa yang kuduga salah,” batin dokter Aksa. “Hanya kelelahan biasa, Pak. Mungkin saja Nona ini terlalu banyak lembur beberapa waktu ini,” tutur Dokter Aksa terpaksa mencari jalan tengah. Bagas mengangguk-anggukkan kepalanya, ia bangkit dari tempat duduknya hendak pergi dari sana tetapi ia kembali membalikkan badannya. Dilihatnya wajah pucat Maia, bibirnya juga terlihat kering dan pecah-pecah menandakan perempuan itu benar-benar sakit. “Jika dia bangun nanti beri dia vitamin dan obat terbaik, katakana padanya aku memberinya ijin untuk beristirahat hingga ia pulih, jadi dia tidak perlu takut dan memaksakan diri untuk pergi ke kantor,” ucap Bagas lugas. “Baik, Pak.” Bagas melangkahkan kakinya pergi dari klinik, ia kembali menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Di klinik, Maia mulai membuka mata. Ia memperhatikan sekitar dan terkejut mendapati dokter Aksa duduk disampinya. “Saya dimana?” tanya Maia sembari duduk memegangi kepalanya. “Anda di klinik, Nona. Pak Bagas membawa anda kesini tadi,” jawab Aksa sembari tersenyum simpul. Maia terkejut mendengar jawaban dokter Aksa, ia tak percaya orang sedingin Bosnya itulah yang membawanya kemari. “Apa dokter yakin Pak Bagas yang bawa saya kesini?” tanya Maia yang masih tak percaya. Jelas saja dia tak percaya, dalam keseharian saja Bagas sama sekali tidak pernah bersikap manusiawi kepadanya. “Iya, itu benar. Beliau bahkan meminta kamu istirahat di rumah hingga kamu kembali sehat,” jelasnya. Dokter Aksa bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan menuju lacinya mengambil sebuah kantong plastic berisi obat serta vitamin yang sudah ia siapkan untuk Maia sesuai pesan dari bosnya itu. “Ini obat dan vitamin untukmu, saya sudah menulis aturan makannya di dalam-“ tutur Dokter Aksa menggantung, ia menatap wajah Maia kemudian menghela nafas panjang. “Ada apa, Dok? Apakah ada sesuatu yang serius?” tanya Maia seolah mengerti arti helaan nafas serta perubahan wajah Akasa. Dokter Aksa menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. “Nona Maia, apakah boleh saya bertanya sesuatu kepada Anda?” tanyanya hati-hati. “Tentu saja, Dok. Katakan saja,” ucap Maia tersenyum lembut. Dokter Aksa mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya, menyodorkannya kepada Maia. “Maaf, Nona. Sebaiknya Nona Maia segera kekamar mandi dan mengeceknya.” Mata Maia membelalak melihat benda apa yang diberikan kepada Dokter Aksa, ia mulai tersadar dan menjadi cemas sekarang. “Apakah menurut Dokter saya hamil?” tanya Maia pelan-pelan. “Maafkan saya Nona, ini masih dugaan untuk itu sebaiknya Nona Maia segera mengeceknya sekarang supaya saya bisa mengetahui keadaan anda.” Maia menganggukkan kepalanya, ia mematuhi saran dari dokter Aksa. Selama sepuluh menit ia berada di dalam kamar mandi klinik, ia sedikit cemas. Ia takut jika apa yang dikatakan dokter Aksa benar adanya. Dan benar saja, tubuhnya mendadak lemas seperti jelly ketika melihat dua garis merah muncul pada alat tersebut. Ia buru-buru keluar dan memberitahu hasilnya kepada dokter Aksa. “Dokter, sepertinya dugan dokter benar. Saya hamil.” Mai berkata dengan wajah ditekuk. “Sudah saya duga,” sahut Dokter Aksa. Ia terlihat sibuk mengambil beberapa jenis obt lalu memasukkan ke kantong plastik yang baru. “Minumlah ini, Nona. Ini vitamin untuk Nona. Segeralah periksa ke dokter kandungan dan segeralah mengambil tindakan sebelum Pak Bags mengetahui ini,” tutur Aksa memberi saran. Maia menganggukkan kepalanya, ia berterim kasih kepada Dokter Aksa, ia juga meminta Dokter Aksa tidak memberithukan kejadian ini kepada siapapun juga termasuk Bagas. Dokter Aksa menyanggupinya. Mai meningalkan klinik tersebut setelah seseorang datang mengantarkan tas kerjanya ke klinik. Maia tidak bisa tidur semalaman, ia tidak mungkin bisa menyembunyikan kehamilannya ini lebih lama lagi. Ia juga tidak akan bisa tetap bekerja, terlebih ia tidak akan bisa tinggal di rumah kedua orang tuanya lebih lama lagi. Hal itu bisa membahayakan kesehatan ayahnya yang memiliki riwayat penyakit jantung. Keesokan harinya, setelah sang ayah pergi bekerja Maia memberanikan diri menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dengan jujur kepada sang ibu. Tidak ada pilihan lain, hanya ibunyalah satu-satunya orang yang bisa membantunya pergi dari rumah. “Bagaimana bisa, Mai? Anak siapa itu? Siapa Ayahnya?” cecar Retha terkejut mendengar penuturan sang putri. “Maafkan Maia, Mom. Ayah bayi ini ada di New York saat ini. Dia adalah lelaki baik-baik, untuk itu ijinkan Maia kembali ke New York dan mengejar cinta Maia,” tutur Maia yang terpaksa berbohong. “Apa Kamu yakin bisa membawanya kemari dan membuatnya bertanggung jawab Mai?” tanya Retha yang tampak ragu dengan keputusan putrinya. Maia memasang wajah memelas. “Beri kesempatan Maia, Mom,” pinta Maia yang membuat Retha terpaksa menganggukkan kepala. Hari yang sama Maia pergi ke perusahaan, iya menuju ke ruang HRD. Ia mengatakan jika ia akan resign. Kepala HRD itu terlihat terkejut apalagi ia tahu Maia baru saja diangkat menjadi sekretaris bosnya. “Kenapa kamu ingin resign?” tanya kepala HRD memastikan apa yang ia dengar tidak salah. “Saya harus pulang kampung, Pak. Orang tua saya meminta saya untuk segera pulang,” jawab Maia terpaksa berbohong. “Baiklah, kalau begitu satu bulan mulai hari ini kamu harus bekerja dulu setelahnya kamu baru boleh berhenti bekerja agar semua gaji dan hak kamu bisa kamu dapatkan,” jelas pria berkaca mata tebal itu. “Maaf, Pak. Saya tidak menunggu selama itu. Saya harus berangkat hari ini juga.” “Ta-pi, Mai … Sayang banget lho kalau kamu sampai gak dapat hak kamu dan surat pengalaman kerja dari perusahaan ini,” ucap kepala HRD mencoba memberi pertimbangan kepada Maia. “Gak apa-apa, Pak. Saya permisi,” tutur Maia bergerak ke luar ruangan HRD tersebut. “Baiklah kalau memang itu keputusanmu.” Kepala HRD itu menghembuskan nafas pasrah. Maia melangkahkan kakinya pergi dari gedung perusahaannya dan kembali ke rumah untuk mempersiapkan keberangkatannya esok hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD