Kebenaran Terungkap

1227 Words
Bab 5 Kebenaran Terungkap Ketika makan malam Maia membicarakan perihal keberangkatannya kepada sang ayah secara hati-hati. Sang ayah bertanya mengapa Maia mendadak ingin kembali ke New York, Maia berkata jika ia ingin mengejar cinta seseorang yang dulu pernah menyukainya, ia juga mengaku kepada sang ayah jika ia sangat mencintai pria itu. Ia dan sang ibu sudah merencanakan ini sebelumnya untuk tidak memberitahu sang ayah tentang kehamilannya demi kesehatan sang ayah. Paling tidak sampai bayi itu lahir, barulah Maia akan memberitahu ayahnya secara perlahan. “Tapi Mai-“ tutur sang ayah yang tidak rela Maia kembli ke New York “Dad,” panggil sang istri sembari menggenggam jemari suaminya. “Berilah kesempatan kepadanya,” bujuk Retha yang membuat Alex luluh. Ayah Maia pun setuju dan mengijinkan Maia pergi ke New York. Dan meminta Maia untuk segera pulang jika ia sudah menemukan apa yang ia cari. Maia menganggukkan kepalanya, ia setuju dengan ucapan sang ayah. Ia bersyukur tidak terlalu susah membuat sang ayah percaya padanya. Malam itu, Maia memeriksa kembali perlengkapan yang akan ia bawa, ia tak membawa banyak baju karena ia yakin bajunya tak akan muat ia kenakan lagi dalam beberapa bulan kedepan karena perutnya akan semakin membesar. Keesokan harinya Maia pergi dengan pesawat penerbangan pertama, ia memilih kembali ke tempat tinggal lamanya ketika kuliah di New York dulu, bukan tanpa alasan, disana adalah pusat kota dan disana ia memiliki beberapa teman dekat yang bisa ia percaya. "Mom, Dad, Mai pergi dulu ya?" tutur Maia lembut. "Kamu yakin tidak perlu diantar sampai bandara, Sayang?" Alex mengusap lembut pipi putrinya, menatapnya lekat untuk terakhir kali sebelum sang putri pergi. "Dad, its ok. Aku bisa sendiri kok. Ini masih pagi dan diluar sedang gerimis, Maia gak mau kalau Dad dan Mom sampai masuk angin," tolak Maia lembut. Alex memeluk putrinya lagi, kali ini ia memeluknya lebih lama. "Lekaslah pulang, Nak. Apapun yang terjadi nanti kamu tetap putri kesayangan Dad dan Mom. Dad sangat menyayangimu," tutur Alex menahan air matanya agar tak jatuh. Maia mengendurkan pelukannya ia meraih kedua tangan sang ayah dan menggenggamnya. "Dad, Maia pergi hanya sementara saja setelahnya Maia akan kembali ke Indonesia dan kita akan berkumpul kembali. Maia janji itu." Alex menganggukkan kepalanya, ia mengecup singkat dahi sang putri dan tersenyum. "Berangkatlah, Nak. Hati-hati di jalan. Jaga diri baik-baik ya, kabari Dad dan Mom selalu. Dan jangan sungkan untuk meminta tolong kepada kami." Maia tersenyum penuh haru, ia menganggukkan kepalanya kecil. Memeluk kedua orang tuanya sekali lagi kemudian masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke bandara. *** Di tempat lain, Bagas berencana memberikan kejutan kepada Elle. Ia membeli tiket penerbangan ke Paris khusus untuk melihat kekasihnya bergaya di atas catwalk dalam ajang bergengsi yang diselenggarakan di kota Paris. Ia mengambil penerbangan pertama pagi ini. Dalam perjalanannya menuju Paris, Bagas tak henti-hentinya tersenyum menebak bagaimana reaksi bahagia dari Elle yang melihat kedatangannya. "Aku yakin dia pasti langsung memelukku," tuturnya mengulum senyum. Namun, apa yang pikirkan ternyata salah. Bukan bahagia yang ia dapat melainkan sebuah kepedihan dan rasa sakit. Bagas mendapati Elle sedang bermesraan dengan Rada-sahabatnya sendiri di dalam apartemen yang telah ia sewakan khusus untuk Elle. "Jadi begini kah cara kalian membalas kebaikan dariku?" bentak Bagas dengan penuh emosi. Dia berjalan lebih mendekat ke arah keduanya yang saat ini bersembunyi di bawah selimut demi menutupi tubuh telanjangnya. "Kau, aku sudah berbaik hati membantu perusahaan ayahmu, hingga sekarang bisnis ayahmu besar dan berkembang!" Bagas menatap tajam ke arah Rada, pria blasteran Indo dan India. Lantas telunjuk Bagas beralih ke arah Elle. "Dan Kau, terima kasih karena telah berhasil membuat mataku terbuka dan melihat fakta yang sesungguhnya." Bagas membalikkan badan, ia hendak melangkahkan kakinya tetapi ia hentikan sejenak. "Jangan lagi menghubungiku, memanggilku atau bahkan menampakkan diri di depanku, anggaplah kita tidak pernah bertemu," ucap Bagas dingin tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Ketika Bagas hendak pergi dari gedung apartemen ia berpapasan dengan pria berjiwa wanita yang merupakan asisten Elle. Awalnya dia acuh, tetapi ia ingin mendengar langsung cerita sebenarnya dari Mili. "Duduklah!" pinta Bagas dengan tatapan yang tajam. "Ya? Ada apa kamu membawaku kemari?" tanya Mili basa basi, meski sebenarnya ia tahu sesuatu yang buruk telah terjadi antara Elle dan Bagas. "Jawab pertanyaanku dengan jujur, Mili! Mengapa wanita itu datang di hari jadi perusahaanku dan memberi kejutan untukku? Apakah dia sengaja mempermainkanku?" tanyanya menyelidik. Mili melongo mendengar pertanyaan Bagas, jelas-jelas ia sendiri menelepon Bagas dan mengabarkan jika Elle tidak bisa datang karena sedang sibuk shooting. "Maksud kamu? Bukankah aku sudah bilang kalau Elle tidak bisa datang menemuimu? Dia memang benar-benar sedang shooting saat itu," jawab Mili jujur. Ia sampai menyodorkan tabnya kepada Bagas. Memperlihatkan jadwal sang model kepadanya. Bagas diam, pikirannya sibuk mencerna. "Jadi siapa wanita yang tidur dengannya malam itu," batin Bagas. "Jadi dia benar-benar sibuk?" ulang Bagas yang masih ragu. "Aku mempertaruhkan apapun soal itu, Bos. Aku tidak pernah membohongimu jika soal jadwal." "Hem, baiklah. Kau boleh pergi!" Bagas melangkahkan kakinya cepat masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang ia sewa. Bagas memutuskan kembali ke Indonesia di hari itu juga, ia pulang dengan api amarah yang membara dan berakhir di club malam, minum minuman beralkohol hingga ia tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, Bagas pergi ke kantor seperti biasa. Ia melihat meja Maia masih kosong, ia pun menemui dokter yang bertugas di klinik perusahaan menanyakan apakah sakit Maia kemarin parah atau tidak, dan memastikan apakah si dokter telah memberinya obat ataukah belum. "Pagi, Pak Bagas? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Aksa ramah. "Ah ya, saya ingin bertanya perihal Maia." Wajah Dokter Aksa mendadak berubah kala nama Maia disebut, ia takut salah bicara dan membahayakan orang lain. Namun, ia juga tidak berani untuk berbohong kepada Bagas. Ia tahu bagaimana kejamnya Bagas kepada orang lain. "Ya? Apa yang ingin Bapak tanyakan?" Aksa mencoba untuk setenang mungkin. "Bisa jelaskan apa penyakit Maia dan kondisinya saat itu? Dia tidak masuk bekerja cukup lama, saya harus memastikan dia bisa kembali bekerja atau tidak." Dokter Aksa meneguk ludahnya susah payah. Ia sibuk dengan pemikirannya, ia mempertimbangkan apa yang akan dia katakan kepada Bagas. Dia merasa serba salah, disatu sisi ia takut tahu kalau dirinya berbohong dan ketahuan oleh Bagas. Disisi lain ia telah berjanji kepada Maia untuk tidak mengatakan apapun kepada Bagas. "Dia kelelahan biasa, Pak." Dokter Aksa terpaksa mengatakannya. "Huh! Ya sudah biar saya suruh orang saja datangi rumahnya, saya akan mengerahkan orang saya untuk mencarinya," tutur Bagas dengan wajah yang sulit di tebak. Mendengar ucapan Bagas barusan membuat nyali Dokter Aksa menciut, bukan tidak mungkin jika orang suruhan Bagas suatu hari akan mencarinya juga akibat kebohongannya kali ini, pikirnya. "Pak," panggil Aksa dengan ragu-ragu. "Ya?" Bagas kembali menoleh. "Sebenarnya ada sesuatu hal yang lain," tutur Aksa yang membuat Bagas kembali duduk. "Katakan!" pinta Bagas dengan suara yang menggema di ruangan klinik. Dokter Aksa menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum memulai berbicara, dalam hati Dokter Aksa terus meminta maaf kepada Maia karena harus mengatakan semua ini kepada Bagas. "Sebenarnya, Nona Maia sedang hamil muda," tutur Dokter Aksa hati-hati. Bagas membelalakkan mata tak percaya. "Apa?" serunya tak percaya. Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya, entah mengapa ia merasa jika hatinya begitu sakit mendengar kabar jika Maia hamil. Lebih sakit dan hancur ketimbang melihat adegan perselingkuhan Elle dan Rada. "Apa kamu yakin, Dok?" tanya Bagas mencondongkan wajahnya menatap tajam Dokter Aksa. Dokter Aksa menganggukkan kepalanya, ia memceritakan apa yang terjadi di hari itu setelah Bagas pergi meninggalkan Maia di klinik. Ia juga menceritakan jika hasil tes kehamilan Maia positip.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD