Dia Mengandung Anakku

1034 Words
Pikiran Bagas menjadi runyam setelah mengetahui kehamilan Maia dari Dokter Aksa. Bagas mempercepat langkahnya masuk ke dalam ruangan kerjanya lalu dengan cekatan tangan Bagas terulur meraih gagang gawai. "Jo! Bawakan aku rekaman CCTV yang menyorot di depan kamar hotelku ketika hari jadi perusahaan! Bawa kemari secepatnya!" Suaranya terdengar penuh tekanan. Ia segera meletakkan gawainya kembali tanpa menunggu respon dari Jo. Jo menghela nafas, ia langsung bergegas menuju ke pos security yang bertugas mengawasi semua CCTV. "Carikan saya rekaman CCTV yang menyorot di kamar bos saat menginap di hari jadi perusahaan." Semua karyawan berseragam security yang sedang bertugas di pos itu menganggukkan kepalanya, dengan pandangan tertunduk. Bagaimana bisa ia menolak keinginan Bosnya yang terkenal super kejam itu. Dengan gerakan tergesa, seorang kepala bagian pengawasan CCTV itu langsung mencarinya tanpa bertanya sepatah katapun. "Ini, Tuan," ucapnya menyodorkan sebuah flashdisk kepada Jo. Jo tidak sekejam Bagas, ia mengambil flashdisk tersebut lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Ini uang rokok kalian, terima kasih atas kerjasamanya." Jo berlalu pergi dari sana, melangkahkan kakinya berjalan setengah lari menuju ke arah lift yang akan membawanya ke ruangan sang majikan. Begitu telah tiba, ia segera mengetuk pintu sebuah ruangan besar nan mewah bertuliskan "Bagas Oris Byanto" itu. "Masuk!" "Tuan, ini rekaman CCTV yang anda minta." Mata Bagas berbinar, dia segera memasang flashdisk itu ke laptopnya dan memutar videonya. Semula ia biasa saja, tak merasa curiga sama sekali. Namun, ketika ia melihat seorang wanita berjalan sempoyongan dan masuk ke dalam ruangannya barulah tubuhnya lemas. "D-dia, benar-benar mengandung anakku, Jo." Suaranya parau dan sedikit bergetar. Jo melongo, ia sedikit terkejut mendengar penuturan Bagas. "Siapa yang Tuan maksud?" tanya Jo tak mengerti. Bagas menggusak rambutnya kasar, dengan wajah frustasi ia memutar laptopnya menghadap ke arah Jo. Meminta Jo untuk melihatnya sendiri. "B-bukankah itu Nona Maia? Sekretaris Tuan Bagas?" ucap Jo hati-hati. Bagas terlihat menganggukkan kepalanya, wajahnya tertunduk lesu. "Aku harus menemuinya, Jo. Dia sedang mengandung anakku." Lagi-lagi Jo terkejut dan bertanya-tanya. Ia sungguh masih belum mempercayai apa yang ia lihat dan apa yang dikatakan oleh majikannya itu. "Apakah anda yakin, Tuan? Apakah saya perlu menyelidiki semua ini untuk Tuan?" Bagas menghembuskan nafas kasar, ia mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya. Diraihnya sebuah amplop berwarna putih dan ia sodorkan kepada Jo. "Dokter Aksa yang memeriksanya. Dia mengatakan jika Maia hamil," tuturnya dengan suara halus, bahkan hampir tidak terdengar jika Jo tak memiliki pendengaran yang bagus. "Apa Tuan tidak merasa aneh? Mengapa Nona Maia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Tuan muda? Apa Tuan tidak ingin menyelidikinya dulu?" Jo berpikir secara hati-hati, ia tidak ingin Tuannya sampai salah dalam mengambil langkah. "Apa menurutmu Maia memiliki niat buruk untukku? Dia bahkan pergi tanpa berpamitan padaku pagi itu setelah aku mengambil kesuciannya, dia juga mengundurkan diri setelah mengetahui jika dirinya hamil. Bahkan dia sama sekali tak menunggu gaji serta tunjangannya keluar, Jo. Jika dia memiliki niat yang jahat, mungkin dia akan menemuiku meminta pertanggung jawaban atau meminta ganti rugi dariku!" Jo menganggukkan kepalanya, ia setuju dengan pemikiran sang majikan. "Lalu apa yang Tuan muda inginkan?" tanyanya. "Cari keberadaannya, Jo. Aku ingin bertemu dengannya!" "Baik, Tuan." Jo melangkahkan kakinya pergi dari ruangan untuk melaksanakan tugas dari majikannya. Di belahan bumi lain, Maia baru saja membersihkan apartemen yang telah lama ia tinggalkan. Sewanya memang cukup mahal, tetapi ia merasa aman dan nyaman disana. Di hari pertama, Maia mencoba mencari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah yang ia miliki. Keesokan harinya barulah ia mengirim beberapa lamaran ke beberapa perusahaan yang membuka lowongan. Dengan ijazah serta kecerdasan yang Maia miliki tak terlalu sulit bagi Maia memperoleh sebuah pekerjaan. Dan akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan kosmetik ternama. Di hari pertama Maia bekerja ia sama sekali tak memiliki kendala, ia cukup senang dengan pekerjaannya ditambah lagi teman-temannya juga baik dan ada beberapa teman kuliahnya juga bekerja disana. Kondisi kehamilannya pun tak membuatnya kesulitan bergerak, calon bayinya sama sekali tak membuat masalah dan menimbulkan gejala seperti yang terjadi pada ibu muda pada umumnya. Hanya sesekali ia merasakan mual dan pusing, tetapi masih dalam batas wajar. Genap sebulan Maia bekerja disana, ia benar-benar terlupa dengan Bagas serta masalahnya yang lain. Tinggal ia mencari cara untuk menjelaskan tentang kehamilannya kepada sang ayah secara perlahan agar sang ayah tidak sampai terpukul karenanya. "Bibi Grace, bolehkah aku meminta tolong padamu?" tanya Maia kepada seorang wanita renta yang setia menemaninya sejak ia tinggal di apartemen itu beberapa tahun lalu. Wanita bule itu adalah seorang penjual kue keliling langganan Maia. "Ya, Maia, apa itu?" tanyanya dengan senyuman yang mirip dengan senyuman Retha-ibunya. "Maukah Bibi menemaniku? Berhenti menjual kue keliling dan tinggallah bersamaku, tidak perlu lagi tidur di emperan toko Tuanmu," ucap Maia dengan hati-hati. Semula Grace menolak, tetapi Maia memaksanya sehingga Grace menuruti Maia yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Dengan keberadaan Grace dan kunjungan beberapa kawannya disana, Maia tak pernah sekalipun merasakan kesepian. Bahkan selama masa kehamilannya Maia selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang ekstra dari mereka. Ia sangat merasa bersyukur karena memiliki orang-orang baik seperti Grace dan kawannya yang lain. "Maia, berhati-hatilah. Perutmu sudah besar, tidak perlu lagi membantuku! Aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, Nak," ujarnya. Ia segera mengambil alih keranjang pakaian kotor yang Maia bawa. Grace sangat khawatir dengan keadaan Maia yang masih sangat aktif meski perutnya sudah mulai terlihat menonjol. "Bi, aku hanya hamil. Bukan sakit, aku bisa melakukannya, tenanglah." Maia kekeh membatu Grace, kali ini ia menyapu lantai apartemennya. Grace menghela nafas pasrah. Tentu saja ia tidak akan bisa melarang Maia yang memang tidak bisa jika hanya tinggal diam. Ia cukup paham dengan watak Maia, mereka hampir lima tahun bertemu selayaknya teman. *** Prang! Sebuah botol anggur terlempar di lantai, suaranya menggelegar memenuhi ruangan kerja Bagas. "Apa maksudmu, Jo?" tutur Bagas dengan penuh emosi. Jo menundukkan pandangannya, ia sama sekali tak memiliki nyali menatap wajah Tuannya yang sedang murka atas usulannya. Namun, apa boleh buat. Menurutnya itu adalah jalan terbaik yang harus dilakukan oleh sang majikan. "Tidak ada pilihan lain, Tuan. Jika Tuan setuju dengan pendapat saya, tidak butuh waktu yang lama untuk menghancurkan keluarganya. Saya yakin kehancuran akan menimpa keluarga itu, Tuan! Dan balas dendam Tuan akan terobati," tutur Jo dengan penuh hati-hati. Ia masih kekeh untuk membujuk Bagas. Ia sangat mendukung segala bentuk balas dendam majikannya karena ia pernah merasakan sakit hati yang sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD