Savana saat ini sedang duduk berdua bersama dengan Lula di taman sekolahnya. Kedua gadis ini nampak sedang bersantai sekarang. Tak banyak orang yang berlalu lalang di taman sini. Karena area taman ini memang berada di belakang sekolah. Jadi, banyak siswa-siswi yang malas untuk pergi ke taman yang letaknya lumayan jauh dari keramaian.
Lagipula, di SMA Nusa Bangsa banyak taman lain yang letaknya jauh lebih strategis daripada taman yang saat ini Lula dan Savana tempati. Namun menurut Lula, taman lain yang tempatnya strategis itu kurang nyaman apabila digunakan karena taman itu memang selalu ramai. Berbeda dengan taman ini yang nampak sangat sunyi dan tenang. Taman ini sangat cocok untuk sekedar beristirahat mencari ketenangan.
Rasanya, saat di taman ini semua beban seakan terangkat dengan sempurna. Benar-benar menenangkan.
"Jadi gimana bisa lo kena bully Raisa Va?" tanya Lula penasaran. Gadis itu sebenarnya sudah ingin tanya sedari tadi ketika berada di kelas. Namun, melihat Savana terus di kerumuni dan banyak di tanyai ini itu, membuat Lula tak punya kesempatan sama sekali untuk bertanya kepada Savana.
Yang aneh disini adalah, diantara semua pertanyaan yang teman-teman kelasnya lontarkan untuk Savana, tak ada satupun yang bertanya atau penasaran mengenai bagaimana awal mula Savana bisa terkena bully-an Raisa.
Namun, dugaan Lula sebenarnya adalah mereka sebenarnya ingin tahu, mereka sebenarnya penasaran. Hanya saja, mereka tak mau Savana terlalu mengingat kejadian kemarin. Mereka tak mau Savana kepikiran. Tapi demi apapun, Lula benar-benar penasaran dengan awal mula ceritanya jadi dia mencoba untuk bertanya kepada Savana. Namun, apabila Savana tak bisa menceritakan atau menjawabnya pun Lula tak masalah.
Baru saja Lula menutup mulutnya selesai melontarkan pertanyaannya, tiba-tiba Lula melihat tubuh Savana bergetar. Melihat itu Lula mendadak menjadi panik. Gadis itu baru tahu, ternyata kejadian bullying yang kemarin diterima Savana dari Raisa itu menyebabkan gadis itu mengalami trauma.
"Va? Sava?" panggil Lula menggoyangkan bahu Savana pelan. Gadis itu benar-benar panik melihat tubuh Savana yang bergetar. Lula jadi merasa bersalah telah bertanya tentang pertanyaan itu kepada Savana.
Untung saja sebelum pergi ke taman ini, tadi Savana dan Lula sempat pergi ke kantin terlebih dahulu untuk membeli cemilan dan minuman. Alhasil, bersyukurnya Lula bisa memberikan Savana minum untuk mengurangi getaran yang ada di tubuh Savana. Agar tubuh Savana lebih relaks lagi.
"Ini Va, minum dulu Va," ujar Lula sembari memberikan air mineral kepada Savana. Ah tidak, lebih tepatnya gadis itu membantu Savana untuk meminumkan air mineral itu kepada Savana. Tangan Savana yang masih bergetar membuat gadis itu tak bisa memegang sendiri botol air mineral itu. Alhasil, Lula lah yang membantu memeganginya.
Berhasil! Beberapa saat setelah Savana meminum airnya, tubuh gadis itu perlahan mulai tenang. Getaran yang ada di tubuh gadis itu mulai berkurang secara perlahan.
Savana nampak sedang mengatur napasnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Melihat usaha Savana untuk menenangkan dirinya sendiri itu membuat rasa bersalah di hati Lula semakin bertambah. Andai saja Lula tidak melontarkan pertanyaan semacam itu tadi, pasti Savana tak akan seperti ini.
"Maaf Va, gara-gara gue lo jadi tremor. Andai aja gue gak tanya pertanyaan kaya gitu ke lo, pasti lo gak akan kaya tadi," ujar Lula langsung meminta maaf kepada Savana begitu gadis itu tersadar sepenuhnya. Lula meminta maaf kepada Savana dengan mata yang berkaca-kaca seperti nyaris menangis. Lula benar-benar takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak kepada Savana gara-gara dirinya.
Savana nampak tersenyum kecil. "Gak apa-apa Lula. Ini bukan salah Lula. Savanya aja yang akhir-akhir ini rada lemah, jadi dikit-dikit kaya gitu," ujar Savana lembut. "Lula jangan ngerasa bersalah kaya gitu. Sava malah sedih lihatnya. Lula juga jangan nangis," lanjutnya sembari tangannya terangkat mengusap bawah mata Lula yang memang sudah ada sedikit tetesan air mata di sana.
Bahkan di mata Lula saat ini sudah tertumpuk bulir air mata yang siap meluncur kapan saja ketika Lula berkedip.
"Lula jangan nangis gitu dong, Sava beneran ikut sedih kalo Lula nangis. Malah jadi Sava yang ngerasa bersalah sama Lula kalo kaya gini. Gara-gara Sava, Lula jadi nangis," ujar Savana lagi. Gadis itu menatap Lula tulus. "Udah Lula, kita kesini mau nenangin pikiran lo, bukan buat nangis," tambah Savana lagi dengan senyum cerianya.
Lula ikut tersenyum melihat itu. "Iya Va. Makasih ya," ujarnya. Savana hanya mengangguk kecil masih juga disertai dengan senyumnya.
"Ya udah, dari pada bahas itu mendingan aku tanya sesuatu aja deh ke kamu," ujar Savana. "Boleh gak?" tanyanya meminta persetujuan.
Lula mengangguk yakin. "Boleh dong, Sava mau tanya apa emang sama Lula?" tanya Lula dalam mode kalem.
"Mmm itu, soal cowok yang namanya Geovano Aditya," ujar Savana malu-malu. Lula jadi aneh sendiri melihat tingkah Savana yang nampak malu-malu kucing ketika membahas perihal Geo. Apakah... Savana suka Geo? Wah, ini akan menjadi bahaya yang sangat besar untuk Savana apabila gadis itu benar-benar menyukai Geo.
"Iya..., terus kenapa sama cowok yang namanya Geo?" tanya Lula hati-hati. Gadis itu sebenarnya takut dengan jawaban Savana sesuai seperti apa yang dia pikirkan saat ini. Demi apapun, Lula takut Savana benar-benar menyukai Geo. "Jangan bilang..., lo suka sama Geo Va?" lanjutnya kembali bertanya dengan suara pelan.
Savana semakin aneh tingkahnya, gadis itu nampak sangat salah tingkah sekarang. Masih dengan malu-malu, Savana mengangguk membenarkan. "Iya Lula, Sava suka sama Geo," jawaban Savana seakan seperti petir yang menyambar di siang bolong bagi Lula.
Lula tak tahu harus berbuat apa sekarang. Gadis itu tak tahu harus bereaksi seperti apa. Mendengar jawaban jujur Savana itu membuat badan Lula menjadi lemas seketika.
Satu sekolah di SMA Gemilang tahu bagaimana kejamnya Geo ketika ada seorang gadis yang dianggap mengganggu ketenangan hidupnya. Geo tak akan pernah sungkan membuat hidup gadis itu menderita.
Geo tak suka disukai oleh gadis-gadis itu. Hidup Geo saat ini sudah cukup tenang tanpa adanya seorang gadis dan Geo tak mau membuat kehidupannya yang sudah cukup tenang itu rusak hanya karena kedatangan satu orang gadis saja.
Entah gadis itu hanya akan menjadi teman, sahabat atau bahkan pacarnya, Geo tak mau. Geo masih belum tertarik 'berpacaran' cowok itu lebih tertarik dengan kehidupan sendirinya saat ini.
Menurut Geo, hidupnya tanpa seorang gadis itu sudah cukup tenang. Lalu, kalau sudah tenang kenapa harus ada seorang gadis yang mungkin malah berpotensi membuat kehidupan tenangnya rusak.
"Sava, tapi Geo itu...," Lula ragu untuk mengatakan perihal Geo kepada Savana. Gadis itu dapat melihat pancaran bahagia di mata Savana ketika Savana membahas soal Geo.
Lula, tak mau menghancurkan pancaran bahagia yang ada di mata Savana itu. Lula, tak mau membuat pancaran bahagia itu sirna.
"Lula tau soal Geo? Geo kenapa Lula?" tanya Savana antusias. "Iya kan Lula," ujarnya lagi.
Lula hanya tersenyum canggung menanggapinya. Bingung akan bereaksi seperti apalagi selain itu yang bisa dia lakukan.
"Sava udah duga kalo Geo itu emang baik Lula. Dia soalnya kemarin yang bantuin Sava, dia anterin Sava pulang, bahkan Geo sampe nungguin Sava sampe Reno dateng loh La," Savana bercerita panjang lebar dengan antusias. Mendengar cerita dari Savana itu, Lula tentu saja terkejut. Bagaimana bisa cowok seperti Geo yang sangat membenci kaum hawa itu sudi menolong Savana?
"Kamu kemarin di tolong sama Geo Va?" tanya Lula terkejut. Savana dengan senyum bahagianya mengangguk dengan semangat.
"Iya Lula, Sava kemarin di tolong sama Geo, sampe dianterin pulang, dan di tungguin sampe Reno datang tau," ujar Savana mengulang perkataannya tadi. Lula terlihat cengo. Gadis itu terkejut dengan informasi yang disampaikan Savana. Sepertinya, Lula belum percaya.
"Beneran Geo? Geovano Aditya?" tanya Lula kembali memastikan.
Savana mengangguk dengan semangat. "Iya Lula, Geovano Aditya. Emangnya disini yang namanya Geo ada berapa sih La?" tanya Savana polos.
Lula tak menyahut. Gadis itu malah terdiam cengo saking terkejutnya. Bagaimana mungkin Geo sudi menolong seorang gadis? Itu adalah suatu keajaiban dunia.
Tak mau terlalu terlarut dalam pikirannya, saat ini Lula malah tertarik dengan cerita Savana mengenai Reno yang di ketahui sebagai sahabat dekat Geo itu.
"By the way Sava, kemarin ada dua temennya Reno yang samperin ke kelas kita. Mereka ambil tas kamu sama sekalian minta aku izinin kamu ke guru," ujar Lula mengawali. "Mereka namanya Reno sama Aldi. Kamu kenal ya sama mereka?" tanya Lula kemudian.
Savana menaikkan alisnya sejenak. "Ooh mereka," ujar Savana. "Kalo Reno, aku emang udah kenal lama sama dia. Dia sahabat aku dari kecil. Dia juga tetangga aku," ujar Savana menjelaskan.
"Kalo Aldi, aku baru aja kenalan kemarin. Dia asik anaknya, kayanya dia bakalan jadi temenku juga sih, kaya Reno," tambah Savana lagi dengan polosnya.
Lula manggut-manggut paham. Jadi tenyata, Reno dan Savana memang sudah lama kenal. Mereka bahkan bersahabat dekat dan bertetanggaan.
Pantas saja kemarin sewaktu Savana terkena bully, raut wajah Reno nampak sangat menampilkan ke-khawatiran yang sangat tinggi. Mungkin jika ada orang yang kurang tau, pasti mereka akan menganggap Reno sangat lebay. Padahal, cowok itu tidak seperti itu. Karena nyatanya, Reno benar-benar khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
Ngomong-ngomong soal Reno yang menjadi sahabat dekat Savana, apakah cowok itu tahu soal Savana yang menyukai Geo? Lula jadi penasaran.
"Mmm Sava," panggil Lula membuat Savana menoleh menatap Lula. "Boleh gak aku nanya satu pertanyaan lagi ke kamu," izinnya kemudian.
Savana mengangguk kecil. "Boleh kok Lula. Kalo kamu mau tanya ya tinggal tanya aja. Sava pasti jawab kalo bisa," ujarnya.
"Aku penasaran nih Va. Kira-kira Reno tau nggak ya kalo kamu suka sama Geo, temannya dia?" tanya Lula pelan.
"Iya, Reno tahu kok. Kemarin siang aku cerita sama Reno," jawab Savana polos. Lula hanya menjawabnya dengan berseloroh.
"Ooh gitu ya," seloroh Lula. "Ya udah deh Va," lanjutnya.
Setelahnya tak ada perbincangan diantara mereka. Savana tampak sibuk dengan kegiatannya yaitu memperhatikan sekelilingnya. Sedangkan Lula, gadis itu nampak sangat sibuk berpikir sekarang. Gadis itu memikirkan perihal nasib Savana karena gadis itu menyukai laki-laki seperti Geo.
Savana sudah Lula anggap seperti adiknya sendiri. Meskipun mereka baru kenal dan meskipun Savana dan Lula adalah teman satu angkatan, namun karena tingkah menggemaskan dan kepolosan Savana itu, membuat Lula menganggap Savana seperti adiknya sendiri.
Dengan begitu tentu saja Lula tak akan tinggal diam ketika adiknya sedang dalam bahaya seperti ini.
Terlintas satu ide gila di otak cantik Lula. Gadis itu berpikir, mungkin sebaiknya dia datang menemui cowok bernama Reno yang menjabat status sebagai sahabat Savana itu.
Dengan begitu, Lula bisa memikirkan cara untuk melindungi Savana bersama-sama dengan cowok itu.
Ya! Itu adalah ide yang sangat bagus. Brilliant sekali.
Sekarang yang Lula perlukan hanyalah menghampiri Reno di kelas cowok itu, atau mungkin malah dia harus mengetahui alamat rumah atau setidaknya nomor ponsel cowok itu.
Entahlah, yang jelas di ketiganya Lula harus memilih salah satu.