CHAPTER 10

1247 Words
Motor Reno mulai memasuki area sekolahnya. Cowok itu segera memarkirkan motornya dengan rapi di parkiran yang sudah terdapat label kelas angkatannya. Setelah memarkirkan motornya, Reno segera melepas helmnya dan meletakkan di atas jok motornya. Begitu pula dengan helm Savana yang juga diletakkan di jok motor Reno. "Reno, Sava pamit duluan ya. Bentar lagi masuk soalnya," pamit Savana pada Reno yang baru selesai merapikan rambutnya melalui kaca spion motornya. "Bentar Sava," cagah Reno ketika Savana hendak melangkah menjauh dari Reno. Mendengar suara Reno itu Savana pun akhirnya berhenti dan menoleh kearah Reno. "Kenapa Reno?" tanya Savana heran. "Aku anterin aja ya Sava, aku gak mau kejadian kemarin ke ulang lagi Sava," ujar Reno lalu segera mendekati Savana. Cowok itu langsung mengamit tangan Savana untuk di gandengnya. Melihat tingkah Reno yang terlewat over protective kepadanya itu, Savana hanya menanggapinya dengan senyuman. Bukannya merasa risih karena di khawatirkan sebegitu nya oleh Reno, Savana malah merasa sangat senang. Reno dan Savana pun pada akhirnya berjalan berdampingan dengan tangan mereka yang saling bergandengan. Reno terlihat sangat fokus menatap jalanan takut ada suatu jebakan seseorang yang sengaja dibuat untuk Savana. Reno benar-benar waspada. Namun bersyukurnya, sampai saat Savana sampai di kelasnya, tak ada yang terjadi apapun pada gadis cantik dan polos itu. Reno dan Savana berhenti di depan pintu kelas Savana. "Reno anterin Sava sampe sini aja ya. Sava gak apa-apa kok," ujar Savana pada Reno. Pada awalnya, Reno ingin protes. Namun Savana dengan cepat kembali membuka suara. "Reno gak usah khawatir. Di kelas Sava ada sahabat Sava yang baik banget. Dia pasti jaga Sava," ujarnya kemudian. Mendengar perkataan Savana pada awalnya Reno masih khawatir dan curiga dengan 'sahabat' Savana. Apakah gadis itu tulus dengan Savana? Namun, mendadak dia menjadi teringat dengan gadis kemarin. Gadis yang terlihat jelas menampakkan raut wajah khawatirnya ketika mendengar kabar Savana menjadi korban bullying. Kabarnya juga, Reno sempat mendengar katanya, Raisa si tersangka utama atas perlakuan bullying yang diterima Savana itu hari ini akan menghadiri sidang di ruang bk. Katanya, yang memberitahu soal Raisa membully Savana adalah gadis yang satu bangku dengan gadis itu dan merupakan sahabat baru gadis itu. Padahal, tak ada satu orang pun yang berani mengadukan kelakuan Raisa kepada para guru karena semua siswa-siswi takut menjadi korban bullying Raisa selanjutnya. Namun gadis itu, dengan beraninya melaporkan Raisa hanya demi keadilan untuk Qila. Tak salah lagi. Pasti memang gadis itu. Gadis yang kemarin sempat mengobrol dengan dia dan Aldi. Baiklah, mungkin untuk sementara ini Reno bisa meninggalkan Savana dengan tenang karena kehadiran gadis itu yang sepetinya akan sangat membantu Savana. Reno ingat, tatapan gadis itu yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Savana itu sangat tulus. Gadis itu benar-benar seperti sangat menyayangi Savana dengan tulus. Reno bisa melihat itu. "Yaudah. Tapi tetep aja ya, kamu harus selalu hati-hati Sava. Kamu jangan keluar kelas sendirian. Apapun alasannya, tetep aja sahabat kamu itu ya," ujar Reno kembali mengingatkan Savana. "Iya Reno, pasti nanti Sava ajak sahabat Sava. Lagipula, Sava masih takut kalo harus pergi sendirian di sekolah ini. Sava takut kejadian kemarin terulang lagi. Reno terdiam mendengar perkataan Savana. Cowok itu baru sadar, ternyata Savana sekarang memiliki trauma jika harus pergi sendirian gara-gara kejadian kemarin. Namun Savana berusaha untuk terlihat berani karena takut membuat Reno khawatir. Savana, gadis itu ternyata memiliki trauma baru gara-gara kejadian kemarin yang diakibatkan oleh Raisa. Gadis itu sungguh sialan. Reno akan memberi gadis itu pelajaran suatu hari nanti. "Beneran ya Sava? Sava harus janji sama Reno," ujar Reno sembari mengulurkan jari kelingkingnya pada Savana. Savana pun dengan senang hati menyambut uluran kelingking Reno dengan kelingkingnya. "Iya Reno, Sava janji. Reno gak perlu khawatir sama Sava kaya gini dong," ujar Savana sembari melepaskan tautan kelingkingnya dengan Reno. "Makanya kalo Sava gak mau Reno khawatir terus sama Sava, Sava harus turutin perkataan Reno. Sava harus selalu baik-baik aja. Sava gak boleh kaya kemarin. Udah cukup satu kali itu aja ya Sava. Jangan lagi, Reno juga ikut sakit waktu Sava sakit. Reno jadi sedih kalo Sava kaya kemarin," ujar Reno panjang lebar. "Iya Reno iya. Udah sana Reno balik ke kelas Reno aja. Keburu masuk," saran Savana kemudian. Reno pun mengangguk setuju. "Reno pamit dulu ya Sava. Reno masuk ke kelas Reno dulu," ujar Reno berpamitan. Savana mengangguk dengan senyum manis yang senantiasa terukir di wajah gadis itu. "Iya Reno. Hati-hati di jalan ya," balas Savana yang hanya dibalas dengan anggukan, acungan jempol dan juga tak lupa senyum manis Reno. Cowok yang berlabel menjadi salah satu most wanted di sekolahnya itu kemudian berlalu pergi menjauh dari kelas Savana. Setelah melihat dan memastikan Reno hilang termakan jarak, Savana barulah memasuki kelasnya sendiri. Ketika gadis itu baru masuk ke dalam kelas, gadis itu langsung di sambut dengan riuh ramai teman pertanyaan teman sekelasnya yang menanyakan keadaannya setelah mendapat bullying dari Raisa. Teman-teman satu kelas Savana nampaknya sangat peduli dengan keadaan gadis itu. Savana senang melihatnya. Savana di terima dengan baik di kelasnya meskipun di luaran kelasnya, Savana tak tau bagaimana orang-orang menanggapi kedatangan Savana. Mungkinkan seperti Raisa? Atau seperti teman sekelasnya ini. Entahlah. "Sava gak apa-apa kok. Makasih udah khawatir sama Sava," balas Savana menjawab petanyaan teman-teman sekelasnya. "Tapi itu dahi lo luka Sava, tangan lo juga banyak lecetnya," ujar salah satu teman sekelas Savana yang merupakan si ketua kelas. "Emang sialan banget si Raisa. Dia iri banget tuh sama lo Va. Jadi gitu deh," lanjutnya. "Setuju! Apaan sih itu si Raisa. Nenek lampir emang," sahut salah satu teman sekelas lagi, gadis itu bernama Tere. "Bayi baru gue nih. Main di celakain sampe lecet-lecet gini lagi astaga," lanjut Tere lagi. Lula yang tadinya sedang duduk santai sembari bermain ponsel karena belum sadar bahwa yang membuat kelasnya menjadi ramai adalah Savana itu mendadak langsung berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri keramaian ketika mendengar suara Tere yang membawa-bawa nama Savana. "Minggir woii, ini Sava anak gue jangan lo kerubungin! Dia capek, mau duduk juga. Kalo mau tanya jangan pake di kerubingi kaya gini anjir. Gerah nanti anak gue," ujar Lula berteriak. Gadis itu benar-benar sudah mirip seperti emak-emak yang marah karena anaknya di ganggu anak lain. "Kalo mau tanya-tanya boleh, tapi biarin Sava duduk dulu. Nanyanya gantian juga, jangan pada keroyokan kaya gini," ujarnya lagi. "Emak kandungnya dateng guys, gue sebagai emak tirinya Sava cuma bisa pasrah kalo kaya gini mah," ujar Tere dengan ada nelangsa. Anak-anak satu kelas tertawa karena drama ini. Ada-ada saja. "Bagus sadar diri. Minggir lo semua. Emak kandung Sava gak ngizinin Sava di kerubungi sama lalat-lalat kaya kalian-kalian pada," ujar Lula lalu meraih lengan tangan Savana lembut dan membawa gadis itu untuk duduk di bangkunya. "Duduk disini baik-baik ya Sava," ujarnya. "Wah kelewatan nih. Kita di katain lalat dong guys, padahal kan kita ini hama," ujar Tere yang langsung kembali disambut dengan tawa dari satu anak kelas. Kelas Savana dan Lula ini memang kelas yang sangat asik. Kelas ini memang kelas yang paling solid dan adik satu sama lain dari kelas-kelas lainnya di SMA ini. Savana merasa beruntung bisa bersekolah dan berada di kelas se-solid ini. Tidak ada yang namanya saling menjatuhkan. Semuanya saling membantu. Tidak ada yang namanya persaingan dan permusuhan. Semuanya saling berteman. Ketika ada satu anak kelasnya yang berada di suatu masalah, pasti satu anak kelas akan membantu anak itu. Definisi persahabatan dan kelas yang sangat sempurna dan banyak diidam-idamkan oleh anak yang saat ini masih menduduki bangku sekolah. Savana benar-benar bersyukur. Gadis itu sangat beruntung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD