CHAPTER 9

1933 Words
Reno saat ini sudah sampai di depan pagar rumah Savana. Cowok itu lalu men-standart kan motornya di sana. Sebelum Reno memasuki rumah Savana, Reno memutuskan untuk pergi ke rumahnya sendiri terlebih dahulu. Karena cowok itu tadi lupa, tak sekalian membawa tasnya yang ada di rumah Geo. Lagipula, sekalian juga Reno akan berpamitan kepada Mamanya. "Assalamualaikum Ma," salam Reno begitu membuka pintu rumahnya. "Waalaikumsalam Ren," jawab Mama Sania menanggapi salam Reno. "Loh? Kok pulang Ren? Biasanya kan kamu kalo nginep di tempat Geo langsung berangkat bareng temen-temen kamu itu," ujar Mama Sania heran. Pasalnya, kebiasaan Reno untuk langsung berangkat ke sekolah tanpa kembali pulang terlebih dahulu ketika menginap di rumah Geo atau Aldi itu memang sudah sangat wajar terjadi. Justru yang tidak wajar adalah saat ini, ketika Reno kembali pulang ke rumah padahal cowok itu sedang menginap di rumah Geo kemarin. "Itu Ma, Reno kan harus anterin Sava ke sekolah. Dia mulai hari ini harus berangkat dan pulang bareng Reno Ma. Reno gak mau Sava kenapa-kenapa," ujar Reno menjelaskan alasan kenapa Reno tak langsung berangkat dengan teman-temannya seperti biasa. "Ini Reno balik ke rumah juga sekalian mau ambil tas. Tadi gak sempet ambil tas yang ada di tempat Geo. Sekalian mau pamit sama Mama juga sih," lanjutnya. "Oh iya bener! Kamu memang harus seperti itu Reno. Harus jagain Sava di manapun dan kapanpun. Jangan sampai anak perempuan Mama yang satu itu kenapa-kenapa," ujar Mama Sania baru ingat jika Savana sudah mulai bersekolah di tempat yang sama dengan Reno. Mama Sania terlihat melihat jam yang melingkar di tangannya kemudian. "Yaudah sana, kamu cepet ambil tas terus berangkat. Takut telat," ujarnya setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.15 WIB. "Siap Ma!" semangat Reno seraya mengangkat tangannya untuk hormat menghadap Mamanya. Kejadian itu hanya berlangsung selama lima detik. Karena setelahnya, Reno segera berlari menaiki anak tangga yang ada di rumahnya dan cowok itu pun langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil barang-barang yang memang cowok itu butuhkan. Setelah mendapatkan barang yang dia butuhkan, Reno pun akhirnya kembali turun ke bawah. Kali ini cowok itu tak langsung mendapati keberadaan Mamanya di sana. Entah kemana Mama Sania itu. Tanpa pikir panjang, Reno memutuskan untuk langsung keluar rumah karena takut terlibat. Lagipula, cowok itu tadi sudah berpamitan kepada Mamanya juga kan (?) Reo terus berlari sampai cowok itu berhasil meraih gagang pintu rumahnya dan kemudian langsung membukanya. Reno keluar dan setelah itu Reno kembali menutup pintu rumahnya. Saat baru berbalik hendak kembali melanjutkan langkahnya, mata Reno tak sengaja menemukan Mamanya yang sedang menyiram tanaman yang ada di taman kecil yang terletak di pekarangan rumah Reno. Melihat itu, Reno tak mungkin hanya mengabaikan Mamanya. Jadi, cowok itu memutuskan untuk menghampiri Mamanya itu. "Ma," panggil Reno pada sang Mama. Mendengar panggilan Reno itu, Mama Sania langsung menoleh kearah sumber suara. "Eh, iya Ren, kenapa?" tanya Mama Sania. "Cuma mau pamitan aja Ma, Reno mau berangkat sekolah," pamit Reno pada Mama Sania sembari mengulurkan tangannya meminta salim. Mama Sania yang melihat itu segera memindahkan selang yang ada di tangan kanannya menjadi di tangan kirinya untuk menyalimi Reno. "Oh iya Ren, itu di meja teras ada kotak bekal. Tolong kasihin Sava ya," ujar Mama Sania setelah selesai menyalimi Reno. Mama Sania mengatakan itu sembari menunjuk tempat dimana letak kotak bekal itu berada. Reno sendiri, cowok itu mengikuti arah tunjuk tangan Mama Sania dan ya, dapat Reno lihat di arah yang di tunjuk Mamanya itu memang ada satu kotak bekal. For your information, untuk yang bertanya kenapa Savana dibawakan kotak bekal sedangkan Reno tidak, itu semua dikarenakan Reno sendiri yang bilang dia tidak mau dibawakan kotak bekal ke sekolah. Jadi, karena Mama Sania tau Reno tak pernah mau dibawakan kotak bekal. Alhasil, Mama Sania hanya membuatkan satu kotak bekal saja. Dan itu dibuatkan untuk Savana. "Iya Ma siap! Ntar Reno kasihin ke Sava," ujar Reno setelah melihat keberadaan kotak bekal itu. "Bagus deh. Yaudah sana, kamu samperin Sava, terus langsung berangkat," ujar Mama Sania menanggapi. "Iya Ma," jawab Reno. "Yaudah Reno berangkat dulu, assalamualaikum," salam Reno kemudian berjalan menjauhi Mama Sania. "Ya, waalaikumsalam," ujar Mama Sania menjawab salam Reno. "Jangan lupa bekalnya Sava di bawa, terus di kasih ke Sava ya Reno! Kamu bawa motornya hati-hati juga. Jangan ngebut, kamu lagi bawa Savana!" lanjut Mama Sania lagi sedikit berteriak. "Iya-iya Ma, siap. Reno gak akan lupa, ini langsung Reno bawa kok bekalnya," jawab Reno juga ikut sedikit berteriak. "Reno juga gak akan ngebut Ma. Reno tahu Reno lagi bawa Savana. Reno juga tahu Savana itu gak bisa di ajak ngebut. Lagipula, Reno juga gak mau Sava kenapa-kenapa lagi Ma," lanjutnya lagi masih dengan suara yang sedikit berteriak. Mama Sania tak lagi menjawab apa yang dikatakan Reno tadi. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum tipis mendengar jawaban dari anak satu-satunya itu. Bahagia rasanya bisa melihat anaknya tumbuh dengan baik. Memiliki kepribadian yang baik dan suka menolong. Mama Sania juga bahagia bisa melihat Reno yang tumbuh dengan sangat baik. Tak pernah sekalipun Reno merasa iri ketika Mama Sania sibuk mengurusi Savana. Jika anak lain mungkin akan marah karena Mamanya terlihat sangat mempedulikan anak lain daripada anaknya sendiri, lain halnya dengan Reno yang malah ikut membantu Mamanya dalam merawat dan mengurusi Sava. Padahal, gadis itu hanyalah tetangga dan teman Reno. Ah tidak teman, lebih tepatnya adalah sahabat. "Mama seneng kamu bisa selalu ada di dekat Savana," gumam Mama Sania pelan sembari menatap Reno yang mulai berjalan menuju keluar dari pekarangan rumahnya setelah mengambil kotak bekal yang akan diberikan ke Savana itu dengan senyum kecilnya. Di sisi Savana, gadis itu baru saja menyelesaikan kegiatan bersiap sebelum ke sekolahnya. Gadis itu baru saja selesai memakai sepatu. Setelah selesai melakukan itu, gadis itu segera meraih tasnya kemudian gadis itu berjalan kearah pintu rumahnya dan kemudian membukanya. Setelah membukanya, Savana segera keluar dan kemudian kembali menutup pintu rumahnya itu. Savana sebenarnya tak hanya menutup rumahnya, namun juga menguncinya karena memang di rumah Savana sedang tidak ada siapa-siapa. Ya, seperti biasanya. Setelah memastikan rumahnya benar-benar terkunci, Savana kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari pekarangan rumahnya. Ketika Savana akan membuka pagar rumahnya, Savana dapat melihat ada motor terparkir tepat di depan pagar rumahnya. Dan itu adalah motor milik Reno. Namun, saat Savana keluar, belum ada Reno di sana. Savana pun membuka pagar rumahnya. Gadis itu melakukan hal yang sama seperti tadi. Setelah keluar dari area rumahnya, Savana mengunci pagar rumahnya juga. Tepat ketika Savana selesai mengunci pagar rumahnya, Savana dapat melihat ada Reno yang juga baru saja keluar dari rumahnya Cowok itu juga sedang menutup pagar rumahnya. Namun tidak menguncinya karena di rumah Reno kan memang sedang ada Mama Sania. "Pagi Reno," sapa Savana ceria saat mata gadis itu menemukan keberadaan Reno. "Pagi juga Savana," ujar Reno membalas sapaan dari Savana dengan senyum kecil yang terukir tampan di wajah cowok itu "Mmm Reno! Hari ini kamu yang anterin aku ke sekolah ya?" tanya Savana dengan mata yang mengerjap polos. "Iya dong Sava, kan kemarin Reno janji kalo Reno mau jagain Sava. Jadi, semuanya dimulai dari sini dulu," ujar Reno membenarkan apa yang dikatakan Savana tadi. "Mulainya dari yang ringan dulu, yaitu aku anterin kamu sekolah," lanjut Reno menjelaskan. Savana hanya mengangguk-anggukan kepalanya kecil tanda bahwa gadis itu paham dengan apa yang dikatakan Reno. "Terus, yang ada di tangan Reno itu kotak bekal siapa?" tanya Savana penasaran sembari menunjuk kotak bekal yang ada di tangan Reno. "Oh iya! Reno hampir aja lupa," ujar Reno baru saja ingat perihal kotak bekal yang sedang ada di tangannya. "Ini itu kotak bekalnya buat Savana tau. Mama Sania yang buatin khusus buat Savana seorang," lanjutnya kemudian. Mata Savana berbinar senang mendengar itu. "Serius itu buat Savana?!" tanyanya dengan anda suara yang terdengar sangat bersemangat. Reno hanya tersenyum dan mengangguk menjawabnya. "Iya dong," jawab Reno sembari mengulurkan kotak bekalnya kepada Savana. Savana yang mendengar jawaban Reno dan melihat anggukan di kepala cowok itu menjadi senang bukan main. "Wah! Makasih ya Reno," ujar Savana sembari menerima kotak bekal itu dengan senang hati. "Yaudah, ayo kita berangkat. Ntar keburu telat," ajak Reno kemudian. Savana mengangguk dengan semangat menanggapi ajakan Reno. Namun, ada sesuatu aneh yang mengganjal di hati Savana. Entah itu apa, Savana tidak tahu. Untuk Reno, cowok itu segera mengambil lalu memakai helmnya sendiri dengan benar. Setelah itu, cowok itu memberikan satu helm kepada Savana untuk di pakai gadis itu. Savana menerimanya dengan hati yang masih terasa mengganjal. Gadis itu bahkan bingung kenapa rasanya seperti ada yang kurang. Sembari memikirkan itu, Savana sembari memakai helmnya dengan benar seperti Reno. Melihat Savana sudah selesai memakai helmnya, Reno pun akhirnya mulai men-starter motornya. "Ayo Va," ajak Reno kemudian mengisyaratkan Savana untuk naik di atas jok motor cowok itu. Baru saja Savana akan naik, gadis itu baru teringat satu hal yang mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa seperti ada yang mengganjal di hati Savana. Savana belum berpamitan dengan Mama Sania! "Eh bentar-bentar Reno," ujar Savana tak jadi menaiki jok motor Reno. "Kenapa lagi Sava? Ada yang kelupaan?" tanya Reno sabar. "Iya ada!" jawab Savana yakin. "Sava lupa pamitan sama Mama Sania. Jadi, Sava mau pamitan ke Mama dulu ya. Bentar," lanjut Savana dengan terburu-buru memasuki area rumah Reno. Melihat Savana yang berlari karena terburu-buru, Reno jadi was-was sendiri. Takut Savana jatuh atau gimana. "Awas Sava! Jangan lari!" peringat Reno sedikit berteriak. "Gak usah lari Sava! Pasti Reno tungguin kok, gak mungkin Reno tinggal!" ulangnya lagi. Namun, Sava tetaplah Sava. Gadis itu tak mendengarkan sedikitpun ucapan Reno. Gadis itu masih tetap berlari. "Ck. Kebiasaan," decak kesal Reno terdengar. Sementara Savana, gadis itu langsung menemukan keberadaan Mama Sania begitu dia mulai memasuki area rumah Reno. Wanita paruh baya itu saat ini terlihat sedang menikmati secangkir tehnya sembari duduk santai di teras rumahnya. "Mama Sania!" panggil Savana dengan ceria. "Loh Savana? Kenapa nak? Kok kesini?" tanya Mama Sania heran. Pasalnya, wanita paruh baya itu kira, Savana dan Reno sudah berangkat ke sekolah sedari tadi. "Mama kira, kamu sama Reno udah berangkat," ujarnya lagi. "Iya Ma, ini kita mau berangkat kok. Tapi aku mau pamitan dulu sama Mama Sania, tadi kelupaan soalnya," ujar Savana lagi dengan cengiran khasnya. Gadis itu kemudian langsung mengulurkan tangannya meminta salim. "Salim Ma," ujar Savana. Mama Sania hanya menggeleng dengan senyum kecilnya melihat tingkah lucu Savana, namun tanpa menunggu lama, wanita paruh baya itu juga langsung menyalami Savana. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Savana segera berlari kembali untuk keluar dari area rumah Geo. "Assalamualaikum Mama Sania, Sava mau berangkat sekolah bareng Reno dulu. Byeee," ujar Savana berpamitan seraya berlari menjauh dari Mama Sania. Pergerakan Savana yang tiba-tiba itu sempat membuat Mama Sania ketar-ketir sendiri dit tempatnya. Sama seperti Reno, Mama Sania juga takut Savana terjatuh. "Waalaikumsalam," ujar Mama Sania menjawab salam Savana. "Hati-hati Sava! Jangan lari!" teriak Mama Sania mengingatkan. Namun apalah daya, Savana tidak mendengarnya. Gadis polos itu pada akhirnya juga masih tetap berlari sampai keluar dari pagar rumah Reno. "Anak itu ya," gumam Mama Sania menggelengkan kepalanya menatap Savana yang baru saja menghilang dari sisi tembok itu dengan heran. Sementara Savana, gadis itu langsung menaiki motor milik Reno tanpa aba-aba. "Ayo Ren! Jalan! Ntar terlambat," ujar Savana yang tiba-tiba datang. Reno terkejut dengan itu, sebenarnya Reno ingin mengomeli Savana sekarang. Namun, Reno masih tahu waktu. Saat ini, jika Reno masih berniat mengomeli Savana, pasti mereka akan terlambat. Jadi, karena tak mau terlambat, akhirnya Reno hanya pasrah dan mengikuti perkataan Savana yang memintanya untuk segera menjalankan motornya. Reno pun menancapkan gasnya untuk menuju ke sekolahnya. Namun, jangan harap Savana bisa lari dari omelan Reno. Mungkin sekarang Reno memang hanya diam, namun nanti, Reno pasti akan mengomeli Savana habis-habisan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD