Sepeninggalan Aldi dan Geo, Reno tak pernah berhenti untuk menenangkan Savana meski cowok itu tahu bahwa Savana sudah lebih baik saat ini. Karena yang ada di pikiran Reno saat ini hanyalah agar Savana benar-benar sudah tak merasa takut lagi, Reno hanya khawatir kalau-kalau saja rasa takut itu masih ada, Savana akan kembali terpaku dengan traumanya. Atau, mungkin bisa jadi juga trauma gadis itu akan menjadi semakin parah. Reno tak mau kalau sampai itu benar-benar terjadi pada Savana, maka dari itu cowok itu memilih untuk tak berhenti menenangkannya.
"Sava udah gak apa-apa Reno," ujar Savana pada Reno, berbalik untuk menenangkan sahabatnya yang satu itu agar tidak terlalu khawatir dengan dirinya. "Reno jangan khawatir kaya gitu sama Sava. Sava gak suka lihatnya," lanjut gadis itu lagi yang mendapatkan balasan elusan lembut di puncak kepalanya dari Reno.
"Iya, maaf Sava. Reno cuma gak mau Sava ketakutan," ujar Reno membalas dengan lembut. Cowok itu lalu meraih tangan Sava dan menggenggamnya dengan lembut. "Sava, tolong bilang sama Reno kalo Sava masih ngerasa takut ya? Se-sedikit apapun rasa takut Sava itu, tolong tetep bilang sama Reno ya?" ujar Reno kemudian, meminta dengan sangat kepada Savana. Ah, cowok itu benar-benar tak ingin ada sedikitpun rasa takut yang tertinggal pada diri Savana, karena sekecil atau se-sedikit apapun itu, bisa saja berubah menjadi fatal. Mengingat Savana mempunyai trauma bawaan dari masa lalunya.
Savana menampilkan senyuman lembutnya, menenangkan Reno agar tak semakin mencemaskan dirinya yang memang sudah merasa lebih baik sekarang. Lagipula, Savana tadi hanya merasa terkejut saja, dia tak menyangka akan mendapatkan teriakan seperti itu dari Geo.
"Sava beneran udah gak apa-apa Reno, jangan khawatir," jawab gadis itu dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, Reno bisa bernafas dengan lega karenanya.
"Ya udah, kam-," belum sempat Reno menyelesaikan perkataannya, suara cempreng seorang gadis terdengar memanggil nama Savana, hal itu membuat Reno kembali menutup mulutnya tanpa menyelesaikan kalimatnya.
"SAVA!" teriak Lula dengan kencang. Suara gadis itu terdengar cempreng dan terasa seperti bisa saja memekakkan telinga siapapun orang yang mendengarnya.
Lula, gadis itu berlari dengan tergopoh-gopoh menghampiri Savana yang masih duduk dengan tenang bersama Reno. Melihat Lula yang berlari mendekat, baik Savana ataupun Reno, mereka sama-sama menjauhkan tubuh mereka masing-masing. Reno pun juga melepaskan genggaman tangannya pada Savana.
"Astaga Sava, gue dari tadi nyariin lo. Gue kira lo hilang kemana Sava. Gue aja juga tadi sampai sempet mikir kalo lo kena bully lagi sama Raisa. Gue takut," ujar Lula pada Savana begitu mereka berdiri berhadapan. Gadis itu berkata dengan nada cemasnya yang sangat kentara. Juga dengan tatapan matanya yang tidak bisa berbohong bahwa gadis itu benar-benar sedang mencemaskan keadaan Savana.
Savana lagi dan lagi hanya bisa menampilkan senyumannya untuk bisa menenangkan sahabatnya itu, sama seperti apa yang tadi dia lakukan pada Reno. "Sava gak apa-apa kok La," jawab Savana dengan tenang. "Tadi begitu sampai di lapangan, Lula gak sengaja lihat Geo yang juga ada di sekitar lapangan, dia pakai baju olahraga juga. Terus gara-gara itu, Sava jadi kepikiran buat cari Reno aja setelahnya. Karena berarti kan kalau ada Geo juga pasti ada Reno kan? Kan Geo sama Reno satu kelas, do tambah sama Aldi juga sekalian," ucap Savana menjelaskan garis besar awal mula gadis itu bisa sampai di lapangan bersama dengan Reno.
"Terus begitu Sava cari-cari, ternyata Sava ngelihat Reno lagi ada di sini, tadi sih bareng sama Aldi. Cuma sekarang Aldinya pergi entah kemana, Sava gak tahu," ujar gadis itu lagi, melanjutkan penjelasannya.
Lula yang mendengarnya hanya dapat membalasnya dengan satu senyuman tipis di bibirnya. Sudah cukup tenang saat tahu bahwa Savana baik-baik saja. Dan gadis itu memang sedari tadi bersama dengan Reno. Lula rasa, tak ada yang perlu di khawatirkan secara berlebihan apapun yang berkaitan dengan Savana jika sudah ada Reno di samping gadis itu. Karena Lula sendiri tahu, bagaimana sayangnya sosok Reno dengan Savana. Sedikitnya, meski tak terlalu mengenal dengan dekat mengenai hubungan kedekatan Reno dan Savana, namun Lula dapat menyadari bahwa apapun bisa saja Reno lakukan hanya untuk melindungi Savana.
"Bagus deh kalo gitu, aku jadi tenang dengernya Va," ujar Lula menjawab dengan nada suara normalnya karena gadis itu yang sudah mulai tenang di tempatnya.
Reno yang sedari tadi mendengar percakapan antara Savana dan Lula hanya mampu memutar bola matanya malas mendengar perkataan Lula. Ada sedikit rasa ingin mengomentari gaya bicara Lula yang Reno coba tahan, tapi ternyata tidak semudah itu untuk bisa menahannya.
"Lo musiman banget sih," cetus Reno berkomentar. Lula dan Savana mengalihkan pandangan mereka untuk menatap kearah Reno seketika.
"Lo ngomong sama siapa?" tanya Lula dengan nada ketusnya. "Padahal dari tadi juga gak ada yang ngajak lo ngomong, eh tiba-tiba nyaut. Gak jelas banget perasaan," lanjutnya lagi.
Mendengarnya, sebenarnya ingin sekali Reno mengumpat. Namun karena ada Savana di dekatnya, Reno tak mungkin melakukannya. Jangan sampai Savana mendengar ada u*****n yang keluar dari mulutnya. Atau Savana akan merasa bahwa Reno terkena pergaulan yang salah selama ini.
"Gue ngomong sama lo!" ujar Reno dengan lugas.
"Maksud lo apa ngomong kaya gitu? Sok kenal sok dekat sok akrab banget," ujar Lula dengan alisnya yang menukik tajam, terlihat sangat terganggu dan tak suka dengan perkataan Reno. Sementara Savana, gadis itu memilih diam sedari tadi, dia sebenarnya bingung kenapa dua sahabatnya sedang berdebat sekarang. Apa yang di perdebatkan?
"Lah bukannya lo emang musiman?" kata Reno lagi, menjawab. "Tadi awal-awal aja ngomong lo-gue sama Sava. Terus akhir-akhir ngomongnya pake aku-kamu. Jadi situ maunya ngomong pake apa? Yang jelas dong jadi cewe," ujar Reno memprotes.
Lula memutar bola matanya malas. Ternyata hanya karena masalah sepele seperti itu dia mendebat dengan Reno? Sangat tidak elit.
"Gue tadi khawatir sama Sava, makanya gak sadar pake lo-gue. Terus begitu gue udah tenang, makanya gue pake aku-kamu lagi," jelas Lula dengan singkat. "Emang kenapa sih lo? Kaya gitu aja di protes, sehat lo?" lanjutnya lagi kemudian.
"Gue perlu memilah teman-teman Savana asal lo tahu," papar Reno dengan sejujurnya. Membuat kerutan tipis di dahi Lula muncul, gadis itu bingung sekaligus tak paham. "Gue gak mungkin biarin Savana temenan sama orang-orang gak jelas. Makanya gue tanya dan minta klarifikasi dari lo secara langsung, daripada gue main hakim sendiri kan? Daripada gue asal nyimpulin," tambahnya lagi kemudian.
"Bukan karena yang sebelum-sebelumnya gue udah kasih kepercayaan sama lo tentang Savana gue jadi lepas pandangan sama Savana buat lo ya," ujar Reno. Lalu cowok itu mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Lula, membisikkan sesuatu di sana. "Lo denger ini. Itu semua gak akan terjadi. Gue akan tetep awasi Savana, dengan siapapun dia. Gue gak akan lepas pengawasannya," lanjut cowok itu berbisik kemudian menjauhkan tubuhnya dari Lula.
Lula terdiam di tempatnya mendengar bisikan dari Reno. Entahlah, dia merasa sedikit kecewa dengan perkataan Reno yang terkesan sangat tidak percaya dengan dirinya. Namun di samping itu, dia juga senang karena setidaknya dia tahu bahwa Reno benar-benar memperhatikan Savana dengan sangat baik.
"Tapi lo tetep udah gue kasih kepercayaan meskipun gue gak akan lepas pengawasan dari Savana. Lo tenang aja," kata cowok itu lagi secara tiba-tiba membuyarkan pikiran Lula. Ah, itu pertanda baik kan?