CHAPTER 22

1226 Words
Savana seketika menjauhkan tubuhnya dari Reno ketika mendengar suara bariton tegas yang beras dari mulut Geo. Gadis itu mendadak menjadi takut sekarang, suara Geo yang begitu keras seakan akan memecahkan gendang telinga gadis itu. Savana meringsut mundur perlahan. Reno yang tersadar saat Savana menjauhkan tubuhnya dari dirinya seketika menoleh menatap gadis itu. Dapat Reno lihat dengan jelas, sahabatnya yang satu itu sedang meringsut mundur ketakutan. Kebiasaan Savana saat mendengar suara yang terlalu keras dan terkesan membentak. Pada beberapa tahun belakangan, Savana sudah tak pernah lagi di bentak, gadis itu selalu mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari orang-orang yang ada di dekatnya, dan hal itulah yang membuat Savana selalu merasa ketakutan saat mendengar suara yang terlalu keras dan terkesan seperti sedang membentaknya, gadis itu hanya terkejut dan tak terbiasa saja. Atau mungkin, bisa jadi juga karena Savana kecil pernah terlalu banyak mendapatkan bentakan dari sosok yang sangat dekat dengannya. Mungkin, gadis itu masih memiliki sedikit trauma yang ditinggalkan oleh sosok yang sekarang ini sudah pergi entah kemana. Meninggalkan Savana dengan trauma masa kecilnya. Namun tak urung, hal itu sangat patut untuk di syukuri. Meskipun kepergiannya tetap saja meninggalkan suatu kesedihan tersendiri untuk Savana, namun setidaknya Savana sekarang tak banyak memiliki tekanan seperti saat sosok itu masih berkeliaran di dekat Savana. Reno mendadak menjadi panik sekarang, dengan kelimpungan cowok itu kembali mendekati Savana, kemudian langsung melayangkan sebuah pelukan ringan pada gadis itu. Mengusap punggungnya dengan perlahan, berusaha untuk menenangkannya. "Stt, gak ada apa-apa Sava. Geo gak bentak kamu kok. Gak apa-apa ya?" ujar Reno berbisik dengan lirih tepat di depan telinga Savana. Menenangkan gadis itu. Secara berangsur-angsur, Savana perlahan mulai menerima elusan lembut tangan Reno di punggungnya dengan nyaman. Hal itulah yang membuat Savana berhasil untuk kembali tenang dengan waktu yang relatif cepat. Tak membutuhkan banyak waktu. Setelah merasa Savana mulai tenang di pelukannya, Reno akhirnya mengalihkan fokusnya dari Savana untuk menatap kearah Aldi, menatap salah satu sahabatnya yang lain itu dengan tatapan penuh pengisyaratan. "Bawa Geo pergi dari lapangan dulu," ujar Reno tanpa suara, cowok itu hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan satu suara pun. Aldi di tempatnya langsung paham dengan apa yang dikatakan Reno. Cowok itu langsung melakukan apa yang temannya itu minta, tanpa berniat untuk bertanya lebih lanjut lagi. Meski sebenarnya Aldi sendiri merasa penasaran dengan permintaan Reno yang terlalu tiba-tiba itu. Aldi seketika langsung berdiri dari tempatnya, berjalan mendekati Geo yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk tadi. Sesampainya cowok itu di depan Geo, Aldi langsung menarik tangan sahabatnya itu untuk pergi dari area lapangan, ikut bersamanya. "Ikut gue bentar Ge," ujar Aldi pada Geo seraya tangan cowok itu menarik tangan Geo meninggalkan area lapangan. Geo yang awalnya belum siap di tarik itupun hanya ikut saja kemana Aldi membawanya. Namun saat cowok itu tersadar, Geo seketika menahan langkah kakinya. Membuat dirinya dan Aldi berhenti di tempat. Aldi menoleh menatap Geo dengan tatapan bingungnya, pasalnya sahabatnya itu tiba-tiba saja berhenti di tempat. Membuatnya mau tak mau ikut berhenti pula. "Kenapa tiba-tiba berhenti sih Ge, ayo ikut gue," ujar Aldi kembali ingin menarik tangan Geo untuk kembali melangkah. Tapi sayangnya hal itu tak berhasil. Aldi tak kuat untuk menarik Geo karena Geo berdiri terlalu tegap di tempatnya. Aldi kembali menoleh menatap Geo lagi kemudian. "Nunggu apa lagi sih Ge, ayo buruan!" ajak Aldi lagi pada Geo. Geo hanya berdiri diam saja di tempatnya, menatap Aldi dengan tatapan datarnya. Seperti inilah Geo pada hari-hari biasanya. Bersikap datar kepada siapapun, bahkan kepada sahabatnya sekalipun. "Lo mau ajak gue kemana?" tanya Geo dengan nada monotonnya. Geo nampak sekali sangat tidak tertarik dengan sahabatnya yang ada di depannya itu. Aldi yang mendapat pertanyaan dengan nada monoton dari Geo itu sedikit menelan ludahnya susah payah. Aldi terdiam untuk beberapa saat, tak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan dari Geo itu. Lalu, tak membutuhkan waktu lebih lama lagi. Aldi seketika terpikirkan satu alasan yang cowok itu pikir akan sangat cocok apabila dijadikan alasannya untuk mengajak Geo ke suatu tempat. "Itu loh Ge, gue mau ajak lo ke loker," ujar Aldi menjawab dengan sedikit panik. "Iya Ge, ke loker," lanjutnya lagi dengan sedikit kekehan di akhirnya. Mata Geo memicing menatap Aldi dengan tatapan anehnya. Cowok itu tak cukup percaya dengan apa yang dikatakan Aldi. Oh tolonglah, Geo tidak sebodoh itu untuk tidak tahu bahwa dirinya saat ini sedang ditipu oleh sahabatnya yang satu itu. Aldi yang tersadar dengan tatapan curiga Geo pun langsung berusaha untuk kembali meyakinkan sahabatnya itu. "Aduh Geo, beneran deh. Gue mau ke loker," ujar Aldi kembali berusaha meyakinkan. "Gue mau cek seragam gue di sana. Takut ketinggalan di kamar mandi," tambah cowok itu lagi, kembali beralasan. "Lo bisa pergi sendiri, gak perlu ajak gue," ujar Geo tanpa nada. Wajah cowok itu juga terlihat sangat datar, tak menunjukkan minat pada ajakan dari Aldi. Aldi benar-benar di buat kesal di tempatnya mendapatkan jawaban yang sangat tidak memuaskan dari Geo. Cowok itu merutuki Geo di dalam hatinya saking kesalnya. Kenapa Geo selalu saja sulit untuk bisa di ajak kompromi. Menyusahkan Aldi saja. "Ayolah Ge, mumpung belum ada guru juga kan," ujar Aldi kembali memohon. "Sekali-kali temani gue kan gak ada salahnya, berbuat baik sama temen itu terpuji banget loh. Apalagi level gue di hidup lo kan udah mencapai sahabat," lanjutnya lagi kemudian. Aldi harap-harap cemas menunggu jawaban dari Geo. Kalau saja sampai Geo kembali menolaknya untuk kali ini, Aldi benar-benar akan pasrah dan menyerah. Di otaknya sekarang sudah tidak terpikirkan lagi alasan apa yang bisa dia pakai agar Geo mau mengikutinya pergi dari area lapangan. Hingga beberapa saat kemudian, jawaban yang sesuai harapannya Aldi dapatkan. Pada akhirnya, Geo terlihat mengangguk dengan singkat menjawab semua kecemasan Aldi hingga membuat cowok itu bisa bernapas lega kemudian. Aldi bersorak senang dalam hatinya. Akhirnya Geo percaya dengan apa yang dia katakan. Sungguh, Aldi tak menyangka bahwa Geo akan percaya dengan perkataan dirinya. Mengingat sahabatnya yang satu itu sangat sulit untuk di tipu. Tapi, pada akhirnya Aldi berhasil untuk kali ini. Lalu, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Geo langsung bergegas berjalan meninggalkan Aldi di tempatnya, cowok itu berjalan lebih dulu meninggalkan Aldi. Aldi yang tersadar dengan Geo yang berjalan mendahuluinya pun di buat panik. Dengan tergesa-gesa cowok itu berlari menyusul Geo. "Eh Ge, tungguin elah," ujar Aldi yang dihiraukan Geo. Cowok itu tetap melangkah tanpa memelankan langkah kakinya sama sekali. Aldi tak masalah dengan itu, yang terpenting sekarang tugasnya sudah terlaksana. Geo sudah berhasil dia tipu dan dia bawa mejauh dari lapangan. Cowok itu tersenyum lebar karenanya. Yang Aldi tidak sadari adalah, Geo sebenarnya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aldi. Geo hanya sedang berpura-pura percaya saja. Untuk kali ini, Geo akan menuruti saja apa yang dikatakan Aldi itu. Meski Geo sendiri tahu bahwa apa yang sahabatnya katakan itu adalah sebuah kebohongan. Hanyalah sebuah alasan semata. Geo sendiri juga sebenarnya tahu bahwa Aldi melakukan itu semua atas perintah dari Reno. Geo benar-benar tahu semua itu. Hanya saja, cowok itu memilih diam seolah dirinya tidak tahu apa-apa mengenai hal itu. Biarlah untuk sementara seperti ini. Karena Geo sebenarnya pun juga tahu, Reno meminta Aldi melakukan itu demi Savana. Geo sadar Savana tadi terlihat tidak baik-baik saja saat mendengar suaranya Entah kenapa gadis itu, yang jelas Geo dapat melihat Savana ketakutan tadi. Yang Geo tidaj tahu saat ini hanya satu hal, alasan kenapa Savana terlihat begitu takut hanya dengan mendengarkan suaranya saja. Padahal sejauh ini, Geo tak pernah sekalipun melakukan apapun kepada Savana. Ya, setidaknya untuk saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD