Savana tak pernah menyangka bahwa waktu olahraganya akan sama dengan sosok laki-laki yang sangat gadis itu sukai sejak pertama kali gadis itu bertemu dengan laki-laki itu. Dia adalah Geovano Aditya, laki-laki dengan ketampanannya yang di atas rata-rata itu.
Karena waktunya sama dengan kelas Geo dan Savana melihat cowok itu, berarti waktu olahraganya itu juga sama dengan dengan Reno, sahabat kesayangannya. Setelah mata Savana menemukan sosok Geo, gadis itu pun dengan segera mencari sosok Reno, kemana sahabatnya itu berada.
Tak butuh waktu lama, mata Savana akhirnya berhasil menemukan sosok Reno, sahabatnya itu sedang duduk di pinggir lapangan. Cowok itu terlihat sedang bermalas-malasan bersama dengan Aldi. Savana terkekeh kecil melihatnya. Reno ini masih sama seperti Reno sahabat kecilnya dulu. Malas jika harus disuruh berolahraga.
Aneh memang. Ketika anak laki-laki lain sangat suka berolahraga, maka beda lagi dengan Reno yang sangat malas. Cowok itu sama persis sepertinya. Dulu, biasanya jika waktu jam olahraga, Reno dan Savana pasti saja duduk malas-malasan dipinggir lapangan. Alhasil, ketika ada tes pengambilan nilai praktik, Savana selalu gagal, Savana selalu mendapatkan nilai rendah. Gadis itu tak pernah mendapatkan nilai bagus. Meskipun hanya satu kali.
Namun entah karena sudah hukum alam atau bagaimana, Reno yang biasanya juga sama seperti Savana, suka malas-malasan di pinggir lapangan. Tapi anehnya cowok itu tak pernah mendapatkan nilai sejelek Savana. Cowok itu selalu saja unggul. Bahkan dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.
Terlepas dari itu semua, Reno bahkan sampai ditunjuk untuk mengikut beberapa perlombaan di beberapa bidang pula, dalam olahraga.
Dengan riang hati, Savana berlari kecil menghampiri Reno dan Aldi. Selagi guru olahraga belum sampai, Savana akan bergabung bersama dengan Reno dan Aldi saja. Karena sudah lama sekali Savana tak merasakan berada di satu lapangan yang sama dengan Reno dan menjalani mata pelajaran olahraga yang sama.
Dulu sekali, Reno dan Savana masih duduk di bangku sekolah dasar, Reno dan Savana selalu berada di kelas yang sama. Saat duduk di bangku SMP juga begitu. Jadi, memiliki jeda satu tahun saat Reno memutuskan pergi itu merupakan waktu yang sangat lama untuk Savana. Apalagi, gadis itu kini tak berada di kelas yang sama lagi dengan Reno.
Namun tak apa, bisa berada di sekolah yang sama dan juga kembali di lingkungan yang dekat dengan Reno saja, itu sudah lebih dari cukup untuk Savana. Gadis itu benar-benar hanya membutuhkan sosok Reno. Tak lebih dan tak kurang.
"Reno!" sapa Savana dengan riang gembira, gadis itu berlari dengan sesekali berlompat-lompat kecil menghampiri Reno yang nampak sedang mengipasi wajahnya sendiri.
Padahal, olahraga belum juga dimulai, hari juga masih pagi, matahari tak terlalu terik. Namun, Reno bahkan sudah basah dengan keringat. Entah apa yang cowok itu lakukan sampai membuatnya seperti itu.
Reno menoleh ketika dia mendengar suara Savana memanggilnya. Jelas saja dia tahu itu suara Savana. Dia bahkan sudah hafal suara gadis itu diluar kepalanya. Gadis yang sudah bersahabat dengan dia selama bertahun-tahun. Bahkan ketika keduanya belum bisa membaca, keduanya sudah berteman.
"Sava!" seru Reno begitu melihat Savana yang berlari kecil menghampirinya, cowok yang sedang duduk di pinggir lapangan itu langsung menyambut sapaan Savana dengan tangannya yang melambai-lambai kearah gadis itu, meminta gadis itu untuk segera datang menghampirinya.
Ya padahal kan, meskipun Reno tidak melambaikan tangan memanggilnya, Savana memang sudah berniat akan menghampiri Reno. Lagian Reno aneh juga, sudah tahu Savana sedang berlari kecil kearahnya, dia juga memanggil nama Reno, namun masih juga Reno seperti itu.
Itu namanya sih Reno sedang basa basi dengan gerakan tubuhnya.
Ketika Savana sudah sampai di depan Reno, gadis itu langsung mendudukkan tubuhnya di samping cowok itu. Jadi posisinya sekarang adalah di sebelah kanan Reno ada Aldi, dan di sebelah kirinya Reno ada Savana.
"Hufh," lenguh Savana kelelahan sembari tangan gadis itu mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. Padahal gadis itu tadi hanya berlari kecil dengan jarak yang terhitung sangat dekat. Tapi karena gadis itu memang kurang gerak, jadi jarak yang dekat saja bisa terasa jauh. Jarak yang dekat saja bisa membuat kelelahan. "Sava capek Ren, lari dari sana sampe sini," adu Savana pada Reno sembari tangannya menunjuk ke tempat dimana dia tadi berada.
Reno terkekeh kecil mendengar penuturan Savana yang mengadu padanya itu. Savana masih sama, dia masih menjadi sahabat kecilnya yang selalu membutuhkan dirinya untuk bisa membantunya.
"Capek?" tanya Reno dengan nada lembut, penuh perhatian. Tangan Reno perlahan terulur untuk ikut membantu Savana dalam menghapus sedikit keringat yang ada di dahi gadis itu.
Savana mengangguk kecil. Anggukan itu yang mampu membuat Reno dan juga Aldi menjadi gemas sendiri di tempatnya.
"Aduh-aduh, ini bayi dari mana sih?! Gemes banget gue lihatnya," seru Aldi menatap Savana seperti ingin menguyel-uyel pipi gembul gadis itu. "Ah fiks ini sih! Dia bakalan jadi dede gemes gue!" lanjutnya lagi yang langsung di hadiahi Reno dengan toyoran gratis di dahi Aldi. Reno menoyor Aldi dengan tangan satunya yang bebas. Sedangkan yang satu lagi, masih setia mengusap dahi Savana. Padahal, tangan Savana sudah berhenti mengusap dahinya sendiri. Ya, itu sih karena di dahi Savana sebenarnya sudah tak lagi terdapat bulir-bulir keringat.
Tapi tak dapat Savana sangkal, gadis itu merasa sangat nyaman ketika tangan Reno tak berhenti mengusap dahinya dengan lembut. Savana suka ketika Reno memperlakukannya dengan begitu baik seperti ini. Selama ini, Savana tak pernah dapat merasakan hal seperti ini dari seorang laki-laki, hanya dengan Reno lah, dia dapat merasakan hal-hal seperti. Dan sesekali dari Papa cowok itu. Karena Papa Reno memang juga jarang berada di rumah. Jadi, Savana kurang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Papanya Reno.
Namun, ketika Papanya Reno pulang, Savana pasti akan mendapatkan perlakuan penuh seperti itu. Papanya Reno selalu memperlakukan Savana seperti anaknya sendiri. Sama seperti Mamanya Reno.
Bahkan dibanding dengan Mamanya sendiri, Savana jauh lebih merasa diperlakukan layaknya anak oleh Mamanya Reno. Savana dapat dengan jelas mengetahui itu. Karena dia, memang mengatakan hal yang selama ini dia rasakan.
Ketika Aldi hendak protes pada Reno, tiba-tiba terdengar suara bariton tegas yang membuat Aldi mendadak membatalkan niatnya untuk protes.
"Lapangan bukan tempat untuk pacaran!" suara bariton yang sangat tegas itu keluar dari mulut seorang Geovano Aditya. Cowok itu saat ini sedang berdiri tegak di depan Reno, Aldi dan Savana yang sedang duduk santai itu.
Mendengar suara dari Geo itu, Reno dengan refleks langsung menjauhkan tangannya dari dahi Savana. Terkejut. Itu yang Reno rasakan saat mendengar suara dari Geo.
Kenapa Geo tiba-tiba datang?