CHAPTER 6

1467 Words
Reno saat ini sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu miliknya. Cowok itu memijit pelipisnya karena merasa pusing. Reno tak pernah merasa sepusing ini untuk menghadapi apa yang akan Savana lalui kedepannya. Savana bukan tipe gadis yang suka mencari masalah. Savana hanya gadis polos dan lucu yang sangat ceria dan juga imut. Savana selalu tersenyum, meski Reno tahu Savana sebenarnya cukup kerap merasakan sakit mengingat ayahnya yang pergi meninggalkan dia berdua dengan ibunya. Dia harus sendirian di rumah tanpa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya karena ibunya yang sibuk bekerja untuk memberikan Savana uang yang bisa gadis itu gunakan semaunya. Tapi bukan itu yang Savana inginkan, Savana ingin kasih sayang. Bukan hanya materi. Namun, Reno sangat tahu Savana mulai memaklumi ibunya yang memang harus mengurus pekerjaannya. Savana mencoba berpikir positif dengan, apabila gadis itu memaksa ibunya untuk lebih memperhatikannya, bagaimana nasib perusahaan dan butik milik ibunya? Bagaimana nasib orang-orang yang bekerja disana? Savana terlalu memikirkan orang lain sampai rela mengorbankan dirinya sendiri. Reno, cowok itu tentu saja tak akan tinggal diam jika sampai Geo, salah satu sahabatnya itu akan melukai Savana. Gadis itu terlalu rapuh. Dia hanya punya Reno dan keluarganya sebagai tempat bersandar. Hatinya sudah hancur dari lama. Lalu, saat hati Savana mulai kembali utuh karena kehadiran Geo, apa Reno akan rela membiarkan salah satu sahabatnya berniat merusak hati sahabatnya yang lain? Tidak. Tentu saja tidak. Reno tak akan rela Geo melakukan itu pada Savana. Rasa sakit yang akan Savana rasakan jika Geo yang mematahkan hatinya akan terasa berkali-kali sakit. Karena apa? Tentu saja karena orang yang mematahkannya adalah orang yang Savana harapkan untuk memperbaiki. Reno berjanji, sekuat tenaga dia akan coba melindungi Savana dari Geo. Setidaknya, jika Reno gagal melindungi hati Savana, Reno akan mencoba melindungi fisik gadis itu. Karena Reno tahu, dia tak sehebat itu untuk bisa mengendalikan lidah Geo. Lidah Geo yang berpotensi besar untuk menyakiti hati Savana. Namun, Reno yakin dia bisa setidaknya melindungi Savana dari serangan fisik Geo. Geo itu gila. Dia bisa melakukan apapun untuk menghancurkan orang yang dia anggap mengganggu ketenangan hidupnya. Tak peduli itu seorang gadis sekalipun. Reno tahu, mungkin Geo akan dengan mudahnya menyakiti hati dan fisik Savana. Tapi Geo tak akan mudah menyakiti fisiknya. Dia sahabatnya, dan Geo sangat menyayangi sahabatnya lebih dari apapun. Dia bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi sahabatnya, ataupun keluarganya. Geo memang gila, Geo memang kejam. Tapi terlepas dari itu semua, cowok itu sebenarnya juga baik. Pada orang tertentu. Oleh karena Reno yakin Geo tak akan melukai fisiknya, Reno berjanji, dia akan selalu bersedia menjadi tameng untuk Savana. "Reno, kamu kenapa nak?" tanya Mama Sania tiba-tiba datang dan duduk di sofa yang bersebrangan dengan anaknya itu. "Kenapa ngelamun hm? Ada masalah di sekolah? Atau lagi mikirin Savana?" tanyanya kemudian. Reno yang semula sedang melamunkan kemungkinan-kemungkinan itu tersentak kaget mendengar suara Mamanya. "Ah enggak Ma, gak apa-apa," balas Reno kemudian. "Reno cuma lagi sedikit pusing aja," lanjutnya. "Yaudah, kamu naik ke atas gih, istirahat, tidur. Gak usah banyak mikir juga, nanti tambah pusing," pesan Mama Sania. "Soal urusan pembullyan Sava, kamu bisa urus besok aja. Atau mau Mama aja yang urusin?" tawarnya kemudian yang langsung disambut dengan gelengan keras dari Reno. "Enggak Ma. Biar Reno aja yang urus," tolak Reno cepat. "Urusan nenek lampir yang bully Sava itu urusan kecil buat Reno. Reno bisa atasi itu sendiri kok." Mama Sania tersenyum paham. "Iya-iya, kamu aja yang urus," ujarnya. "Udah, sekarang kamu naik ke atas, istirahat. Jangan kebanyakan mikir, kalau kamu makin pusing, nanti siapa yang ngurusin nenek lampir yang udah bully Sava?" Reno mengangguk. "Iya Ma. Kalau gitu, Reno naik duluan ya. Siang Ma," pamitnya pada Mama Saniq seraya berdiri, lalu cowok itu berlalu menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar yang tadi di tempati Savana. Lain halnya dengan Reno yang pusing memikirkan bagaimana caranya dia melindungi Savana dari Geo. Lain juga dengan Geo yang malah pusing memikirkan bagaimana cara agar dia bisa menyingkirkan Savana dari kehidupannya. Savana itu akan menjadi bebannya kelak menurut Geo. Maka dari itu, sebelum Savana berhasil menjadi beban untuk kehidupannya, Geo akan lebih dulu menyingkirkan gadis itu dari kehidupannya. Bagaimanapun caranya, Geo akan menyingkirkan Savana. Entah Reno sahabatnya itu suka atau tidak, Geo tak peduli. Yang paling penting menurutnya, Geo tak akan memiliki beban jika Savana menyingkir dari kehidupannya. Lagipula, Geo yakin, apa yang dia lakukan adalah yang terbaik. Geo juga hanya tak mau Reno sahabatnya itu terus merasa terbebani oleh Savana. Geo yakin, selama ini Savana pasti sudah banyak menyusahkan Reno, membuat kehidupan sahabatnya itu rumit. Mungkin juga, itu alasan kenapa Reno tak kunjung memiliki pacar sampai sekarang. Pasti karena Reno terlalu sibuk mengurusi Savana. Gadis itu benar-benar akan menjadi beban. Tak lagi hanya kepada Reno, tapi juga kepadanya, atau bahkan Aldi sekalipun. "s**t! Gimanapun caranya, gue akan singkirin lo, dari hidup gue dan temen-temen gue hama," tukas Geo menatap jalanan yang ada di depannya dengan tajam. *** Malam hari sudah tiba. Savana sudah kembali kerumahnya sendiri sejak sore pukul 5 tadi. Sekarang, jam menunjukkan pukul 12 malam. Namun mata Reno masih saja terjaga. Seakan enggan tertutup. Mungkin biasanya saat jam segini Reno memang masih terjaga. Hanya saja, biasanya hati cowok itu tenang seperti tak ada beban sama sekali yang sedang dia pikul dan pikirkan. Berbeda dengan kali ini, rasanya Reno memiliki banyak pikiran dan beban yang berat. Bukan. Bukan Savana yang menjadi beban Reno. Selama 10 tahun Reno menjaga Savana, tak pernah sekalipun Reno merasa Savana membebaninya. Tapi saat ini, karena pertemuan yang tak seharusnya ada di antara Savana dan Geo membuat Reno harus selalu waspada tentang Savana. Cowok itu harus lebih ekstra dalam menjaga Savana. Mengingat, Reno tahu betul bagaimana tabiat Geo. Sahabatnya itu hanya kalem di luar namun garang di dalam. "Gimana ya caranya supaya Geo gak ganggu Savana? Itu anak iblis banget kalo sama cewek. Gue takut Savana kenapa-kenapa gara-gara Geo," ujar Reno seraya bangkit dari baringnya, cowok itu saat ini sedang duduk di kasur king size miliknya. Lalu tak lama setelah itu, Reno berdiri kemudian membuka pintu balkon kamarnya. Sepertinya suasana sepinya malam akan bisa membantu Reno untuk berpikir. "Bertahun-tahun gue jadi sahabatnya Geo, gue belum pernah sekalipun lihat Geo lepasin mangsanya cuma-cuma," lanjut Reno bergumam seraya tangannya memegang pagar balkon kamarnya. Balkon kamar Reno sendiri langsung menghadap ke balkon kamar Savana. Reno menatap sendu kamar yang ada di sebrangnya. Pintu balkon kamar itu tertutup. Namun mata Reno seakan bisa menembus pintu itu untuk melihat wajah polos Savana saat tertidur. "Kamu gadis spesial Sava. Harusnya aku yakin kamu bisa buat Geo bertekuk lutut dan takluk sama kamu," ujar Reno pelan. "Tapi jujur gue sedikit ragu. Geo terlalu keras. Dia terlalu kejam. Rintangan yang harus Sava lewati begitu besar. Sava gak harus kuat fisik, tapi juga mental," Reno menunduk menatap lantai balkon yang saat ini dia pijak. "Gue harus gimana? Di satu sisi gue gak bisa cegah Sava. Tapi disisi lain gue juga gak sanggup cegah Geo," lanjut Reno melirih. "Sava mungkin masih akan menampilkan senyumnya saat nanti Geo menyakiti hatinya. Tapi, gue jelas tahu Sava sebenernya sedang gak baik-baik aja." "Lalu? Gue jelas gak akan tinggal diem kalo sampai Sava bener-bener tersakiti. Tapi gue ini bisa apa? Gue gak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama Geo. Belum lagi nanti pasti Sava ngelarang gue buat ngelawan Geo. Pasti ntar Sava gak mau gue sakiti cowok yang dia sukai. Sava pasti juga gak mau lihat gue luka-luka," Reno terus berbicara sendiri. Permasalahan kali ini benar-benar rumit. Reno jelas tahu tabiat Savana seperti apa. Gadis itu tak mau orang yang dia sukai terluka. Dia juga tak mau melihat Reno sahabat kesayangannya itu terluka juga. "Sial!" Reno mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa harus Geo sih Va," lanjutnya melirih. Lama Reno merenung sembari melihat kearah kamar Savana. Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari dalam kamar Reno. Mendengar itu, Reno yang tadinya merenung seketika tersadar. Terdengar helaan napas dari Reno sebelum cowok itu melangkah kembali masuk kedalam kamarnya. Reno segera meraih ponsel yang terletak di nakas kamarnya. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Reno terdiam sejenak. Geo? Tanpa ambil pusing dan pikir panjang lagi, Reno segera mengangkat panggilan teleponnya. "Halo Ge, ada apa?" tanya Reno membuka percakapan. "Gak ada. Gue cuma mau ngajak lo nongkrong," balas Geo dari sebrang dengan suara datar. Reno terdiam sejenak. "Mmm gimana ya," ujarnya ragu. "Kenapa? Gak bisa? Gara-gara cewek tadi?" ujar Geo terdengar dingin. "Aldi udah nunggu di rumah gue," lanjutnya kemudian. "Udah malem Ge. Lo tau Mama gue kaya gimana," ujar Reno beralasan. "Tante Sania gak pernah larang lo buat main ke rumah gue," benar. Apa yang Geo katakan memang benar adanya. Mama Sania tak pernah melarang Reno untuk pergi ke rumah Geo. Sekalipun malam sudah larut. "Oke, gue on the way sekarang," putus Reno pada akhirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD